"Pa, Abit gak mau dijodohin apalagi sama cowok resek kaya si Galang itu!" rengek Shabita.
Mereka saat ini sedang berada dalam mobil akan pulang.
"Galang itu baik, Abit. Dia juga anak temen papa, Om Bagas." jawab Yudha.
"Papa gak tau sih gimana aslinya dia!" Shabita mencebikkan bibirnya.
"Ya emang papa gak tau, kamu yang lebih tau kan? Makanya kalian cocok, udah saling mengenal!" sahut Yudha sembari fokus menyetir.
"Enggak, aku gak tau dia!" sangkal Shabita.
"Galang juga temen sekelas kamu kan? Papa akan sangat tenang kalo Galang jagain kamu di sekolah." ungkap Yudha
"Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Gak perlu dijagain!" ketus Shabita.
"Kamu pikir kepindahan kamu kesini bukan tanpa alasan gitu? Itu semua biar kalian makin dekat!" jelas Yudha.
"Tapi gak gini juga, Pa. Ini zaman modern loh, Pa bukan zaman purba yang dijodoh-jodoh!" ucap Shabita masih kesal.
"Di zaman purba gak ada tuh jodoh-jodohan, nerka kawin kawin aja sendiri!" Yudha terkekeh.
"Aish, pokonya aku gak mau dijodohin apalagi sampe nikah muda. Iuuuuuu aku gak mau papa!" Shabita bergidik ngeri membayangkan dirinya harus nikah muda.
"Huuffftt, ini demi kebaikan kamu!" sahut Yudha.
"Sudah. Jangan berdebat terus!" lerai Sandra.
Wajah cantik wanita itu terlihat memucat.
"Please, aku gak mau dijodohin!" rengek Shabita seraya menangkupkan tangannya, kepalanya dia sembulkan ke arah Yudha yang sedang mengemudi.
Yudha mencium pipi Shabita. Putri kecilnya sekarang sudah besar bahkan sebentar lagi akan menikah. Yudha bukan tanpa alasan melakukan perjodohan ini karena mereka yakin ini yang terbaik untuk Shabita. Ada hal lain yang belum bisa Yudha ceritakan pada Shabita. Seiring berjalannya waktu Shabita pasti paham dengan keadaan tersebut.
"Papa udah gak sayang lagi sama aku, hiks!" Shabita membanting tubuhnya ke jok belakang.
"Justru karena papa sayang sama kamu. Kita berdua sayang banget sama anak cantik ini!" karena sedang mengemudi, Yudha tidak bisa mengelus putrinya.
"Ya kalo sayang kenapa maksa aku buat nikah sama si cowok resek itu?" rengek Shabita lagi. Air matanya bukan lagi yang dibuat-buat tapi ini sungguh keluar begitu saja.
"Ini yang terbaik buat kamu. Kita akan tenang jika kamu sudah menikah terlebih jadi menantu Bagas, dia pasti akan menyayangi mu seperti anak sendiri!" jelas Yudha.
Sandra hanya bisa diam. Bagaimana pun ini sudah menjadi kesepakatan bersama, Shabita maupun Galang tidak akan pernah bisa menolak. Terkesan orangtua yang egois memang tapi ini jalan satu-satunya untuk menitipkan Shabita.
"Kalian egoiiiiiiiiiiiiisss! Hiks!" air mata Shabita sudah tidak bisa ditahan lagi.
Hati Sandra dan Yudha begitu sakit mendengar tangisan pilu anak kesayangannya tapi sebisa mungkin mereka tidak goyah dengan rencana ini.
...****************...
Tidak jauh berbeda dengan Shabita, Galang pun protes habis-habisan pada Bagas. Keduanya berdebat di ruang tamu.
"Galang pokonya gak mau, Pa. Cewek preman ini bukan tipe Galang." ungkap Galang.
"Papa liat kalian udah saling kenal, bahkan kayanya udah deket banget, loh!" Bagas sedari tadi menjawab dengan tenang.
"Kan sekelas!" sahut Galang.
Dadanya masih kembang kempis menahan kesal.
"Nah kan itu lebih bagus lagi. Kamu akan lebih mudah jagain Shabita!" timpal Bagas.
"Ogah banget! Preman gak butuh dijagain yang ada dia ngerusuhin!" ucap Galang.
"Hust, jangan ngomong gitu!" tegur Bagas.
"Lagian kenapa sih kamu gak mau? Shabita itu cantik, loh, pinter lagi." tambah Bagas.
"Dih, cantik kalo liatnya pake sedotan dari arah Mars!" sahut Galang seraya berjalan meninggalkan Bagas.
Bagas tertawa mendengarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments