Perdebatan antara Galang dan Shabita seakan tidak ada habisnya, ada saja yang membuat mereka tidak akur. Satu sama lain saling menjahili. Seperti pagi ini di meja makan, Shabita dan Galang berebut selai cokelat padahal bisa gantian.
"Gue duluan!" Galang merebut selai cokelat ditangan Shabita.
"Aku duluan ih!" Shabita tidak mau mengalah, pada akhirnya Mbak Marni membuka selai cokelat yang masih baru. Nah, sarapan mereka pun bisa dilanjut.
"Pa, aku berangkat dulu ya!" pamit Galang pada Bagas.
"Loh, harus bareng Shabita dong." peringat Bagas.
"Dia bisa berangkat sekolah sendiri, Pa." sahut Galang.
"Gak bisa gitu, Kalian harus berangkat dan pulang sekolah bareng, terus pake mobil jangan pake motor!"
Galang menghembuskan napas kasar.
"Cepetan makannya, nanti kesiangan!" ketus Galang pada Shabita.
Di perjanjian pra-nikah mereka akan harmonis didepan para orang tua tapi nyatanya tidak seperti itu. Galang masih bersikap seenaknya pada Shabita walau di depan Bagas.
"Pa, aku berangkat ya!" Shabita mencium tangan Bagas.
Ada rasa haru yang Bagas rasakan, Galang yang anaknya sendiri tidak pernah melakukan itu ketika akan berangkat sekolah.
"Hati-hati, ya!" ucap Bagas.
Di halaman rumah, Galang sudah menunggu di dalam mobil, Shabita masuk ke jok belakang.
"Lu pikir gue sopir lu?" sindir Galang.
"Ya emang apa salahnya sih duduk di belakang?" tanya Shabita.
"Pindah gak, lu?" ancam Galang dengan tatapan tajamnya lewat center mirror.
"Ck!" decih Shabita lalu pindah ke jok depan.
Sepanjang perjalanan tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka, Shabita sibuk dengan ponselnya sedang Galang fokus mengemudi.
"Turun!" titah Galang pada Shabita.
Shabita mengedarkan pandangannya, mereka berada di halte bus terdekat ke sekolah.
"Ini masih jauh, Galang!" Shabita celingak celinguk.
"Terus lu mau anak-anak tau kalo kita berangkat bareng gitu?" tanya Galang.
"Ya tapi gak disini juga dong." timpal Shabita kesal.
"Besok-besok lu gak usah ikut gue lagi!" celetuk Galang.
"Aku juga sebenarnya gak mau bareng kamu cuma kan papa yang maksa."
"Makanya sekarang lu turun disini! Cepetan turun!" paksa Galang.
"Ish!" dengan kesal Shabita membuka seatbelt kemudian turun dari mobil Galang. Tanpa lama lagi Galang segera melajukan mobilnya.
"Dasar Galang reseeeek!" Shabita menghentakkan kaki kesal.
Di parkiran sekolah, Galang disambut oleh Kevin dan Amir.
"Wiidiiih, tumben amat lu bawa mobil?" Kevin menepuk pintu mobil Galang.
"Lagi Males motoran gue!" sahut Galang.
"Takut item rupanya!" ledek Amir.
"Gak gitu juga kali."
"Eh BTW, kemarin kemana lu gak masuk dua hari?" tanya Kevin. Ketiga lelaki tersebut berjalan beriringan.
"Ada acara keluarga gue." kelit Galang.
"Acara apaan dah? Mana barengan lagi sama Shabita." timpal Amir.
"Jangan-jangan lu janjian ya sama Shabita?" tuduh Amir.
"Ngaco, lu. Mana ada kayak gitu!" jawab Galang cepat.
"Eh eh liat tuh Shabita dibonceng sama si Teh!" Kevin menunjuk ke arah Shabita yang sedang dibonceng oleh Rio.
"Wiiihhh makin lengket aja mereka!" timpal Amir.
"Pepet terus!" tambah Kevin.
Galang terpaku dengan tangan mengepal. Tatapan elangnya memancar keluar.
Motor Rio melewati ketiga lelaki tersebut, Shabita dengan sengaja melingkarkan tangannya pada perut Rio.
Beberapa murid yang melihat begitu heboh menggoda mereka berdua, hal itu membuat hati Galang tiba-tiba panas. Untung masih pagi yang cuma didalam saja yang panas, diluar enggak.
Shabita tidak sekalipun memudarkan senyumnya ketika sedang berbicara dengan Rio. Dah lah, perasaan aneh Galang semakin menjalar disekujur tubuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments