Shabita yang panik karena sepatunya nyangkut di genteng segera mencari cari untuk mengambilnya.
"Ini gimana cara ngambilnya?" Shabita mendongak ke arah genteng.
Mata indah Shabita menelisik setiap sudut, siapa tahu ada jalan.
"Nah itu dia!" Shabita melihat ke arah lantai dua.
"Abit, gak usah naik ih. Minta tolong petugas aja." saran Hanin.
"Gak usah. Itu ada jalan lewat lantai dua. Noh liat, aku bisa manjat lewat situ." Shabita menunjuk ujung kelas lantai dua. Secara kebetulan sepatunya nyangkut di genteng lantai satu yang atasnya tidak ada ruangan. Bisa dibilang itu genteng kantin. Ya pokoknya gitu deh, hehe.
"Bahaya, Abit! Nanti kalo kamu jatuh gimana?"
"Ya kalo jatuh ya jatuh aja!" sahut Shabita cuek.
"Ish nih anak. Ya udah ayo!" ajak Hanin.
Kedua gadis itu berjalan ke lantai dua. Sesampainya ditempat tujuan, Shabita masih mengamati tidak main injek saja tuh genteng, tapi tidak ada rasa takut sedikitpun.
Perlahan Shabita mulai melangkahi pagar pembatas lantai dua, kakinya sedikit hati-hati menginjak genteng.
"Hati-hati, Abit!" peringat Hanin.
Shabita hanya mengacungkan jari jempolnya.
Genteng yang Shabita pijak cukup panas karena terbakar terik matahari namun Shabita masih bisa menahannya. Perlahan-lahan Shabita mulai berjalan ke arah sepatunya berada.
Aksi Shabita tersebut menarik perhatian beberapa orang yang berada di luar kelas, termasuk orang-orang yang ada di kantin. Karena ini masih jam pelajaran jadi tidak terlalu banyak orang.
"Woy woy ada cewek manjat genteng!" teriak salah satu murid ke arah kantin.
"Yuks liat!" beberapa murid berhambur keluar kantin.
"Gak ada kerjaan banget sih tuh orang pake manjat genteng segala!" cibir Kevin.
"Yuks liat!" ajak Amir.
"Lets gooooooo!" sahut Kevin.
Kedua laki-laki tersebut bangkit dari duduknya sedang Galang cuek, masih menikmati soto maduranya.
"Gak penting banget!" ucap Galang cuek.
"Ish ayo, Lang!" ajak Kevin.
"Enggak, gue malesin liat begituan." jawab Galang.
Kevin dan Amir segera bergabung dengan murid lain untuk melihat siapa yang naik genteng.
Beberapa saat kemudian Kevin kembali.
"Lang, itu si Shabita yang naik genteng buat ngambil sepatunya!" teriak Kevin.
Galang berhenti mengunyah. Biar gimanapun, Yudha sudah menitipkan Shabita padanya. Galang lalu bangkit.
Sementara Shabita masih berusaha berjalan ke arah sepatunya, sekitar lima langkah lagi sampai.
Happ!
Shabita berhasil mendapatkan sepatunya lagi.
"Yeaayy, berhasil!" teriak Shabita sambil mengacungkan sepatunya tinggi-tinggi.
Beberapa murid yang melihat di bawah ikut bersorak.
"Hanin, sepatuku udah balik!" teriak Shabita pada Hanin.
"Good jobs, Abit!" Hanin memberikan acungan jempol.
Shabita begitu bahagia karena sudah berhasil mengambil sepatunya. Nah, sekarang Shabita harus balik lagi ke tempat semula, gak mungkin dong dia lompat dari sini, nanti dikira bundir lagi.
Perlahan Shabita mulai menginjak genteng lagi. Kakinya sekarang berasa gemetar padahal tadi tidak takut sama sekali. Rasa panas mulai menembus kaos kaki yang dipakai Shabita.
Hufft!
Shabita menarik nafas untuk menenangkan diri.
"Tenang, ayo Abit pasti bisa balik lagi!" Shabita menyemangati diri sendiri.
"Hati-hati!" teriak beberapa murid di bawah sana.
Satu dua langkah hingga langkah kelima masih aman. Sampai dilangkah ke tujuh tiba-tiba kaki Shabita terpeleset.
"Ahhhhhhhh!" teriak Shabita. Badannya berguling diatas genteng.
"Shabitaaaa!" teriak Hanin panik.
Bugh!
Badan Shabita mendarat tepat dipangkuan seorang laki-laki.
Mata Shabita melotot, menatap intens laki-laki tersebut.
'Pangeran ku!' batin Shabita.
Matanya masih belum berkedip.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Galang tuh pasti..kalo Abit jatoh dan patah salahin Galang..
2024-09-14
0
Qaisaa Nazarudin
Bita lagi 2 hari nikah lho..Ntar patah biar Gilang yg jagain kan itu juga karna ulahnya..😂😂😜
2024-09-14
0