"Kamu gak apa-apa?" pertanyaan laki-laki itu membuyarkan pandangan Shabita.
"I-iya gak apa-apa!" jawab Shabita gugup.
Jantung Shabita berdebar ditatap balik oleh laki-laki itu.
Rio kemudian menurunkan Shabita dari pangkuannya secara perlahan.
"Terimakasih udah nolong aku." ucap Shabita.
"Sama-sama. Lagian aku gak sengaja lewat sini terus tiba-tiba ada suara jatuh, dikira karung beras tau nya bidadari jatuh dari langit!" celetuk laki-laki itu.
Ahhhhhhhh, Shabita semakin tersipu dan meleyot dibuatnya.
"Kamu bisa aja!" Shabita menyampirkan anak rambutnya ke telinga.
"Kenalin, namaku Rio!" laki-laki yang bernama Rio tersebut mengulurkan tangannya.
Tanpa babibu Shabita segera menerima uluran tangan Rio.
"Aku, Shabita!" ucap Shabita malu-malu meong.
Murid yang tadi berada disana berangsur membubarkan diri, membiarkan Shabita dan Rio berbincang.
"Namanya cantik ya, kaya orangnya!" celetuk Rio lagi.
Shabita mendadak salah tingkah dipuji demikian, tanpa sadar Shabita menepuk-nepuk sepatu ke pahanya.
"Aku baru liat kamu, apa kamu murid pindahan?" tanya Rio lagi.
"Iya, aku baru pindah beberapa minggu lalu!" sahut Shabita.
"Kamu kelas mana?" Rio semakin penasaran. Jujur saja, Rio sedikit tertarik dengan Shabita. Selain wajahnya yang cantik, Shabita juga terlihat menggemaskan.
"Aku kelas 11 IPS 1, kalo kamu?"
"Aku dari kelas 11 IPA 1." Rio tersenyum sangat manis.
"Abiiiitt!" teriak Hanin.
"Hah Hah hah" Hanin tampak ngos-ngosan karena berlari dari lantai dua.
"kamu gak apa-apa?" dengan nafas yang masih tersengal Hanin bertanya.
"Aku gak apa-apa, kok!" jawab Shabita.
"Syukurlah! Huuuuh, udah dibilang tadi jangan manjat, masih aja ngeyel!" omel Hanin.
"Hehe, iya iya nanti gak lagi!" Shabita mengapit lengan Hanin.
"Hanin, ini teman kamu?" tanya Rio.
"Ho'oh. Kita bestie!" jawab Hanin.
"Wah bagus nih." ucap Rio antusias.
"Bagus apaan dah? Eh btw, tadi lu yang gendong Shabita?" kepo Hanin.
"Iya. Tadi gue gak sengaja lewat sini, tau-tau ada yang jatuh. Gue kira karung beras, tau nya bidadari!" celetuk Rio.
"Ah bisa ae lu Teh!" Hanin mengotak jidat Rio.
"Hanin, gak boleh kasar gitu ah!" tegur Shabita.
"Dih, sama dia mah gak usah lembut-lembut Entar ngelunjak!" timpal Hanin.
"Eh betewe, Hanin ini sepupu ku!" ucap Rio.
Shabita seakan tidak percaya dengan kebetulan ini.
"Oh ya?" Shabita menutup mulutnya dramatis padahal tidak perlu.
"Iya. Hanin anak om ku!" jelas Rio.
Mereka bertiga lanjut berbincang. Kelas Rio juga kebetulan sedang kosong karena Gurunya sedang ada urusan lain.
Kedekatan Shabita dan Rio ditatap mata elang seorang Galang. Rasanya Galang tidak suka kalau Shabita dekat dengan Rio.
Tadinya Galang sempat khawatir dan merasa bersalah karena membuang sepatu Shabita ke genteng namun melihat itu semua Galang semakin merasa kesal.
"Awas lu, Shabita. Gue aduin ke om Yudha!" ancam Galang dengan gumaman. Tangannya mengepal kuat.
...****************...
"Pa, mama kasian dengan Abit." ucap Sandra.
"Kasian kenapa, ma?" tanya Yudha.
"Shabita masih muda, Pa. Dia masih harus menikmati masa remajanya, lalu meraih semua mimpinya tapi sekarang kita malah meruntuhkannya. Mama gak tega, Pa." ucap Sandra sendu.
"Papa lebih gak tega kalo Shabita hidup sendiri, ma. Papa akan tenang kalo Shabita berada ditangan yang tepat." sahut Yudha.
"Iya sih, Pa. Biar gimana pun, Bagas pasti akan memperlakukan Shabita seperti anaknya sendiri tapi mama gak yakin dengan Galang, Pa. Apa nanti Galang akan sayang dan memperlakukan Shabita dengan baik atau enggak." ungkap Sandra.
"Mama tenang saja! Papa percaya sama mereka." Yudha berusaha menenangkan Sandra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Siapa kah Rio??Apa rivalnya Galang kah?
2024-09-14
0