Tubuh Shabita terjatuh ke arah depan. Kakinya menginjak tongkat yang dilempar oleh Galang.
"Aw!" ringis Shabita, posisinya masih tengkurap.
"Abit!" teriak Hanin lalu menghampirinya, begitupun guru dan murid lain.
"Abit, lo gak apa-apa?" Hanin membantu Shabita bangkit.
Shabita lalu berdiri, menghiraukan rasa sakit dan malunya. Wajahnya begitu kesal kemudian berjalan cepat ke arah Galang. Tangannya yang mengepal siap melayangkan bogemnya.
"Heh kamu sengaja ya lakuin itu?" bentak Shabita.
Mereka kini sedang berhadap-hadapan. Tangan Shabita mengepal kuat namun masih bisa ditahan supaya tidak lepas kendali, Galang sendiri seperti tidak merasa bersalah, bersikap sok cool dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Jangan nuduh sembarangan!" sangkal Galang.
"Kamu pikir itu tongkat ada sayapnya gitu hingga bisa terbang?!" ucap Shabita kesal.
"Dih, orang tongkatnya lepas sendiri!" sangkal Galang lagi.
"Matamu soek lepas sendiri! Udah lah kamu ngaku aja kalo kamu sengaja kan lempar itu?!" sorot mata Shabita semakin tajam.
"Enggak!" ucap Galang enteng.
"Eeeuuuhhh kamu ya!" Shabita mendekat, menunjuk tepat diwajah Galang.
"Sudah sudah! jangan diperpanjang lagi." lerai guru PJOK.
"Apaan sih bapak, orang si Galang resek ini sengaja lempar tongkatnya ke arah ku!" sahut Shabita masih belum terima.
"Iya iya, bapak tau!" ucap guru.
"Noh, denger sendiri kan? Dasar pengecut, takut banget kalah!" Shabita tersenyum smirk.
"Pak, aku gak sengaja loh lempar tongkatnya!" Galang membela diri.
Belum selesai guru PJOK melerai Galang dan Shabita, ada seorang murid kelas lain yang menghampiri pak guru. Murid tersebut membawa kabar kalau istri sang guru mau melahirkan. Sang guru pun sudah tidak peduli lagi dengan perdebatan Galang-Shabita, lalu pamit pulang.
Beberapa siswa ada yang ikutan panik juga.
"Mau kamu apa sih?" tanya Shabita sambil berkacak pinggang.
Perang mereka masih lanjut.
"Gue mau makan, laper!" Galang hendak pergi tapi kaosnya ditarik dari belakang oleh Shabita.
"Eh enak aja kamu maen pergi pergi! Noh liat lutut ku berdarah, kamu harus tanggung jawab!" Shabita memperlihatkan lututnya yang berdarah.
"Yaelah gitu doang, siram pake air juga sembuh!"
"Matamu picek, gak bisa lah kaya gitu. Pokonya kamu harus bawain kotak p3k komplit buat obatin lutut ku!" pinta Shabita.
"Dih, manja! Lu kan masih bisa jalan, sono aja ke UKS sendiri!"
"Abit, kita ke UKS aja yuks!" ajak Hanin.
"Iya, bit. Takut nanti keburu infeksi!" tambah Kevin.
"Kalo Abit gak bisa jalan, sini Aa Amir yang gendong!" ucap Amir.
"Ini bukan masalah bisa jalan atau enggak tapi ini masalah tanggung jawab. Ketos kalian yang paling terhormat ini harus tanggung jawab karena udah bikin aku celaka!" ucap Shabita penuh penekanan.
"Lah ngapain gue harus tanggung jawab? Lu nya aja yang ceroboh, udah tau ada tongkat segede gaban masih aja diinjek!" Galang masih dengan santainya berucap sedang Shabita semakin kesal.
Simple sih yang Shabita mau, cukup Galang minta maaf dan mengakui kesalahannya tanpa menyangkal terus.
"Heran banget deh, sekolah bagus kaya gini tapi punya ketua OSIS yang gak bertanggung jawab dan tukang bohong!" sindir Shabita.
Galang abai dengan sindiran Shabita. Laki-laki itu membalik badan lalu berjalan meninggalkan Shabita.
Sungguh Shabita tidak terima. Shabita membuka sebelah sepatunya kemudian melemparkannya dengan sangat kencang ke arah Galang.
Bugh!
Sepatu Shabita mendarat tepat di kepala Galang.
"Aw!" ringis Galang sambil memegang kepalanya.
Tanpa menoleh ke arah Shabita, Galang memungut sepatu itu dan melemparkannya kembali tapi bukan ke Shabita melainkan ke arah genteng.
"Ahhh sepatu ku!" teriak Shabita yang melihat sepatunya mendarat di genteng.
"Dasar Galang reseeeeeeeeeeeeeeeek!" teriakan Shabita begitu menggelegar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments