Hari pernikahan Galang dan Shabita tiba. Walaupun terbilang mendadak tapi para orang tua berhasil menyuguhkan pesta akad yang cukup terkesan.
Pernikahan Galang dan Shabita di gelar di salah satu villa keluarga Galang yang berada di kawasan puncak. Tamu yang hadir tidak banyak, hanya keluarga inti dari masing-masing keluarga.
Dari pihak Shabita hanya ada om dan tante nya juga para sepupu saja sedang dari pihak Galang ada nenek juga kakek dari pihak Bagas maupun mama Galang. Ada adik dari Mama Galang juga dua orang. Untuk Mama Galang sendiri sudah meninggal dunia semenjak Galang kelas 6 SD karena penyakit tumor otak.
Galang beserta Bagas juga Yudha serta penghulu dan saksi sudah duduk manis menunggu kedatangan Shabita yang masih siap-siap.
Tangan Galang tampak dingin, raut wajahnya tidak menampilkan senyum sama sekali. Dalam hatinya ingin kabur saja dari tempat ini namun itu semua tidak mungkin. Sekeliling villa sudah dijaga ketat oleh para bodyguard Bagas, cari mati saja kalau Galang sampai kabur.
Dari arah pintu villa keluar Shabita yang didampingi oleh MUA, tidak ada bridemaid. Shabita tampil anggun dengan balutan kebaya khas sunda ditambah hiasan siger yang bertengger sempurna dikepalanya. Semua pasang mata disana terpana melihat penampilan Shabita. Hanya Galang yang enggan menoleh ke belakang.
Dengan sangat hati-hati Shabita duduk di kursi samping Galang, sang MUA segera menutupi setengah kepala Galang dan Shabita dengan kain berwarna putih.
"Sudah siap semua?" tanya sang penghulu.
"Siap! Mari segera dimulai, pak." pinta Bagas.
"Silahkan wali segera menjabat tangan mempelai laki-laki!" titah penghulu.
Yudha mengulurkan tangannya, Galang tidak segera menerima. Ekor mata Galang menangkap tatapan tajam dari Bagas. Buru-buru Galang menjabat tangan Yudha.
"Bismillahirrohmanirrohim, saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Galang Bagaskhara Smith dengan putri saya Shabita Putri Yudha binti Yudha Purnomo, dengan mas kawin seperangkat alat solat serta berlian 24 karat dibayar tunai!" Yudha menghentakkan tangannya.
"Sa-saya terima nikah dan kawinnya Shabita Putri Yudha binti Yudha Purnomo dengan mas kawin tersebut, tunai!" ucap Galang.
Sah!
Sah!
Sah!
Ucap para saksi kompak. Penghulu kemudian memanjatkan doa-doa lalu diakhiri dengan amin.
Hati Shabita tak menentu, sulit sekali menggambarkan perasaannya saat ini, yang jelas sekarang Shabita sudah menjadi istri seorang Galang, laki-laki yang sering berselisih dengannya.
Shabita diminta untuk mencium tangan Galang. Ingin menolak tapi tak mungkin, akhirnya Shabita menurut saja. Bukan mencium tapi menggigit punggung tangan Galang.
"Aw!" ringis Galang sembari menarik tangannya. Terlihat jelas cetakan gigi Shabita pada punggung tangan Galang.
Alih-alih merasa kasihan pada Galang, semua orang disana menganggap itu gurauan untuk menghilangkan gugup padahal niat dari hati Shabita.
Sekarang giliran Galang yang diminta untuk mencium kening Shabita. Galang mencari cara untuk membalas Shabita namun belum ada celah, jadi ya mau tidak mau Galang melakukannya sekilas.
Acara dilanjut dengan tukar cincin, lalu foto-foto semua keluarga. Sungguh tidak ada raut senang tulus dari Galang dan Shabita. Senyum yang mereka tampilkan palsu. Shabita melakukan ini untuk sang mama sedang Galang karena takut pada Bagas.
Setelah acara selesai, Galang dan Shabita digiring ke sebuah kamar yang telah disiapkan khusus untuk mereka.
"Silakan masuk pengantin baru!" ucap tante Galang, mempersilakan mereka masuk.
"Selamat menikmati malam pertama!" goda tante Galang lalu pergi, tidak lupa menutup pintu.
"What the blood, apa-apaan ini?" Galang menatap sekeliling kamar yang sudah disulap sedemikian rupa agar terlihat romantis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Mamanya Galang mana,Kok dari awal gak ada pencerahan ttg mama Galang,Atau saya yg terlepas pandang..
2024-09-14
0
Qaisaa Nazarudin
wkwkwkwk di hari pernikahan aja masih aja jail..🤣🤣🤣
2024-09-14
0