PINTU kamar apartemen, yang berlokasi di Mantikalore Residences yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit di Distrik Timur, itu terbuka. Seorang wanita muda tanpa ekspresi berusia 22 tahun masuk. Dia menyalakan saklar lampu kamar apartemennya.
Tak ada siapapun di sana. Sepi, itulah yang dia rasakan. Hanya suara keramaian kota lah yang menghidupkan ruangan itu.
Iyal lalu melepaskan blazer dan kemeja putih yang dia kenakan. Lekuk tubuhnya pun menampakkan diri di antara cahaya oranye lampu gantung berbentuk oval yang menerangi kamar apartemen mewah itu.
Dia kemudian mengangkat rambut panjangnya ke atas lalu mengikatnya.
Dengan gaya rambut cepol Iyal seolah menampilkan sisi lain yang lebih sederhana dari dirinya. Namun ada yang aneh di punggungnya; ada banyak sekali bekas luka menganga di sana, seperti luka sayatan belati dan cambukan yang panjang seolah membelah punggungnya.
Dia pun pergi menuju bilik air yang letaknya berseberangan dengan kamar tidurnya untuk menyegarkan tubuhnya setelah kembali dari hari-hari yang panjang dan melelahkan.
Hari ini, setelah berbincang dengan pamannya dan Farhan tentang Pemburu, Iyal bersegera pergi menuju ke butik pribadinya yang letaknya cukup jauh dari ITC untuk bertemu beberapa kliennya. Namun karena dia terlalu lelah untuk mengemudi, dia meninggalkan mobilnya di gedung ITC dan memilih untuk diantarkan oleh supir pribadinya.
Sebenarnya Iyal lebih suka menghabiskan seluruh waktunya di luar ruangan. Karena saat dia berada di rumah, perasaan sepi selalu menghantuinya. Dia membenci setiap sudut kamarnya yang seolah mengurungnya dari dunia luar bersama masa lalu yang menyakitkan. Apalagi setiap kali dia datang ke apartemennya, dia selalu teringat dengan ayah dan ibunya. Itu membuatnya semakin sakit.
Kamar apartemen, yang memiliki luas 85 meter persegi, yang berlantaikan pualam itu memang terlalu luas untuk ditinggali seorang wanita lajang yang bahkan belum mencapai kepala tiga. Namun begitu kamar ini penting untuknya. Sebab inilah hadiah terakhir yang ayahnya berikan bahkan sebelum dia layak untuk tinggal dan hidup mandiri.
Ayahnya sudah menyediakan banyak hal untuk diberikan kepada putrinya nanti ketika dia dewasa, dan apartemen inilah salah satunya. Meskipun fasilitas mewah diberikan, namun semua tidak ada artinya tanpa sosok ayah dan ibu di sampingnya.
Dengan ditemani guyuran air hangat shower, air matanya tiba-tiba jatuh bercucuran mengikuti tiap tetes air yang berderai. Dia teringat kembali dengan kedua orang tuanya. Air matanya dipenuhi oleh kerinduan yang dalam. Dia merasa kesepian tanpa siapapun untuk dijadikan tempat mengeluh.
Pak Herman yang merupakan satu-satunya keluarganya pun tak akan mengerti. Paman yang dianggap sebagai ayahnya sendiri itu juga sibuk dengan bisnisnya, sehingga tak punya waktu untuk mendengarkan keluhan seorang gadis yang tenggelam dalam duka bahkan setelah sepuluh tahun berlalu.
Setelah selesai membersihkan diri, Iyal lalu mengenakan bathrobe merahnya yang berbahan microfiber; cukup lembut dan ringan, selembut harapannya saat ini. Dia menuju ke arah jendela apartemennya yang berbingkai kayu oak yang berhadapan langsung dengan pemandangan kota yang indah. Di sebelah jendela, ada meja kaca kecil berbentuk silinder. Dan di atas meja itu telah tersedia sebotol anggur merah dan gelas sampanye.
Dia menuangkan anggurnya perlahan lalu meneguknya sembari menikmati pemandangan kota Tadulako dari kamar apartemennya yang berada di lantai 20. Setiap tegukan anggur yang masuk di kerongkongannya membuatnya sedikit lebih tenang.
Kapan situasi ini akan berakhir? Sebenarnya hidupku sekarang untuk apa? Dendam, kah?
Iyal tenggelam dalam pikiran-pikirannya. Tatapannya kosong. Namun matanya memancarkan aura kesedihan seolah ada luka yang lama menyayat hatinya namun tidak dapat dia keluarkan dan ekspresikan. Padahal jika dia ingat-ingat kembali, dia dahulu dikenal sebagai gadis periang karena selalu tertawa. Namun dirinya saat ini berbeda. Jangankan tawa, senyum pun sulit dia lakukan.
Saat tengah menikmati lampu-lampu kota, tiba-tiba ponselnya berdering.
Dia berjalan ke arah ponsel yang dia letakkan di atas kasur therapediknya. Dia melihat di layar gawai nama kontak si penelepon. Siapa malam-malam begini menelponnya.
"Eh... Rey?"
Dia cukup terkejut. Tidak biasanya pria playboy itu menghubunginya. Rey adalah salah satu anggota Mata Tombak yang dipekerjakan khusus untuk membunuh Para Pemburu yang dinaungi Iskra.
"Ya?"
"Hello, Tuan Putri," sapa Rey dengan penuh keramahan yang selalu membuat Iyal tidak nyaman. Rey memang memanggilnya dengan sebutan tuan putri. Iyal sendiri tidak tahu, apakah panggilan itu pujian atau ejekan.
"Kenapa? Bukannya rapatnya lima hari lagi?"
"Eits, ini bukan tentang rapat, Tuan Putri."
"Terus?"
"Ini tentang beberapa tikus yang menyusup ke tempat kita hehe," jawab Rey dengan nada jenaka namun terdengar dipaksakan.
Bagi Iyal, Rey memang tampak baik dari luar karena sifatnya yang ramah, tetapi dia sebenarnya punya sisi gelap yang jarang orang ketahui.
"Apa hubungannya sama aku?" Balas Iyal dengan nada acuh.
"Tikus-tikus ini bilang kalo mereka lagi ngejar-ngejar kamu, hehe. Tapi tenang, pelayanmu ini udah ngeberesin mereka."
Iyal teringat bahwa dua hari yang lalu terjadi kesalahpahaman antara mereka dan preman-preman mencurigakan di Distrik Utara saat sedang mencari nenek Farhan.
Apa itu mereka?
Tapi bagaimana mereka bisa menemukannya?
"Sekarang, kamu harus datang ke sini. Aku, Dei, dan CEO lagi nunggu di Little Talisse Lodge sekarang," lanjutnya, "Oh! Dan ada sesuatu yang menarik di sini. Kau pasti suka hehe. See ya, Tuan Putri."
Panggilan pun dimatikan.
"Ugh, kapan aku bisa beristirahat!" Keluhnya.
Iyal pun segera bersiap-siap.
...***...
Beberapa menit kemudian.
Little Talisse Lodge atau disingkat LTL berlokasi di sebuah area yang tak jauh dari Pantai Talisse. Salah satu pantai andalan di kota Tadulako. Jarak Little Talisse Lodge kurang lebih 100 meter dari bibir pantai. Sehingga tak heran jika angin laut yang menerpa dan dinginnya malam masih sangat terasa menusuk kulit.
Little Talisse Lodge memang kelihatan seperti sebuah diskotik biasa jika dilihat dari luar. Lampu pinspot yang seolah menembakkan cahayanya ke langit malam dengan diiringi oleh musik breakbeat-nya memberikan kesan seakan kita tengah berada di dunia yang berbeda.
Meskipun diskotik mewah, yang berdiri di atas lahan seluas 22 hektar, ini sangat populer di kalangan anak-anak muda Tadulako untuk merasakan gemerlapnya dunia malam dengan nuansa ajeb-ajeb yang terus terngiang-terngiang di kepala bahkan saat meninggalkan tempat itu, namun tak banyak yang tahu bahwa LTL adalah salah satu markas kelompok mafia Iskra.
Iyal kini berada di pintu masuk LTL. Di sana terdapat dua orang penjaga berseragam lengkap dengan jas dan dasi hitamnya sedang berdiri untuk menyortir para pengunjung yang datang.
Seperti diskotik atau klub malam pada umumnya, tidak semua orang bisa masuk. Sebab penampilan - dan uang - sangat penting di tempat semacam ini.
Dengan mini dress hitamnya yang dilapisi cardigan abu-abu membuat Iyal tampak elegan. Meskipun Iyal bukan wanita yang begitu terikat dengan etika berpakaian, namun dalam situasi tertentu seperti saat ini, dreescode adalah hal yang sangat penting, terkhusus jika ingin menunjukkan status sosial. Ini aturan yang sangat umum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Ummu Kalsum
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
2023-04-14
0
Fadlan
dia uda punya tato luka di punggungnya😂
2023-04-04
0
Rosie🌹
pake tato bunga kecil dikit diblkang tlinga jg bagus tu lebh kren aj sih cewe tmboy gitu
2023-04-04
0