Arkan membawa Athalia pulang, diantar oleh supirnya. Setelah menghubungi seseorang untuk membereskan masalah di hotel tempat acara yang sudah berantakan. Selama perjalanan Athalia hanya diam, berbeda dengan Arkan yang sempat mengumpat karena hampir saja dia menyerahkan tanggung jawab putrinya pada pria yang salah.
“Papa, tenanglah. Kalau begini, Papa nanti sakit. Ingat hipertensi Papa.”
Arkan menghela nafasnya. Sebenarnya Athalia juga ikut menanggung malu, ada teman-teman seprofesi yang hadir malam itu. yang mungkin hal ini akan menjadi perbincangan seru untuk beberapa waktu ke depan.
Namun, dibalik kesedihan dan penyesalan karena tidak menyangka dengan sosok Abi sebenarnya, ada kelegaan luar biasa yang Athalia rasakan. Dia bisa mengetahui siapa Abi Morena sebenarnya sebelum mereka menikah. Entah bagaimana kelanjutan hidup Athalia kalau dia mengetahui keburukan Abi saat sudah menjadi suami istri. Tidak akan mudah untuk berpisah atau tetap bersama.
Mobil yang membawa Athalia dan Papanya sudah tiba di rumah. Sebelum Arkan menghilang di kamar atau ruang kerjanya, Athalia mengingatkan untuk papanya lebih sabar dan bersyukur karena mengetahui hal ini lebih awal.
“Semua yang hadir paham ini bukan kesalahan kita, kita itu korban. Jadi, papa tidak usah khawatir dan terlalu kecewa.”
Athalia sudah berada di kamarnya, membersihkan dirinya dari segala atribut yang dikenakan untuk acara malam ini. Bahkan dia sudah mengenakan piyama, ponsel dan tas yang tertinggal di kamar hotel sudah ada yang mengantar.
Sengaja dia tidak membuka ponselnya yang pasti sudah ramai dengan pertanyaan atau ucapan duka karena gagalnya pertunangan.
Terdengar ketukan pintu, gadis itu pun beranjak.
“Iya Bik.”
“Ada yang mencari Non Athalia, di depan. Katanya penting,” ujar asisten rumah tangga.
Athalia yang menduga itu adalah Abi, menggelengkan kepalanya dan tidak ingin menerima kedatangan pria itu atau keluarganya.
“Suruh pergi saja Bik, bilang saja aku nggak mau bertemu.”
“Tapi dia maksa Non, katanya dokter Ibran atau siapa gitu. Lupa Bibi, habis terpesona dengan kegantengannya sih.”
“Hah, Gibran?”
“Iya, itu non.
Athalia pun akhirnya keluar, sempat mengintip dari jendela memastikan yang datang adalah benar Gibran bukan Abi.
“Benar Gibran, mau apa ya?” tanya Athalia.
Gibran menunggu di sofa beranda, Athalia pun akhirnya keluar dan menghampiri pria itu.
“Gibran,” panggil Athalia.
Pria itu menoleh, kini keduanya berdiri berhadapan. Walaupun Athalia agak menengadah karena tinggi mereka tidak sama.
“Aku turut berduka dengan kegiatan tadi,” ujar Gibran kemudian terkekeh.
Athalia mengernyitkan dahinya lalu memukul lengan Gibran.
“Ketawain aku yang sudah dibodohi?”
Gibran menggelengkan kepalanya, lalu menunjuk sofa agar Athalia duduk.
“Aku sudah bilang kalau aku sudah mempersiapkan hadiah spesial untukmu.”
“Tapi aku tidak pernah menerimanya dan tidak mau, pertunanganku sudah selesai jadi tidak terima hadiah apapun.”
“Kamu salah, justru hadiahnya sudah kamu terima.” Athalia masih menatap heran pada Gibran. “Video yang diputar tadi adalah hadiahku, sengaja aku menyisipkan video kebejat4n Abi di sana.”
“Hah, maksudnya kamu sudah tahu keburukan Abi?”
“Tahu tapi aku tidak gegabah dengan menyampaikan informasi hanya dari salah satu sudut pandangku saja. Jadi aku harus cari bukti untuk menyampaikannya padamu.”
Tiba-tiba Athalia memeluk Gibran yang memang duduk di samping gadis itu. Gibran tidak menyangka dengan gerakan Athalia, bahkan kedua tangannya belum balas memeluk tapi mengusap pelan punggung Athalia.
“Terima kasih, kalau bukan karena idemu mungkin aku masih dalam perangkap pria itu. Aku tidak bisa membayangkan hidupku nanti akan bagaimana setelah menikah dengan Abi.”
“Aku juga menyukaimu,” ungkap Gibran.
Athalia mengurai pelukannya lalu menatap Gibran dengan dahi berkerut.
“Apa kamu bilang?”
“Ck, sepertinya kamu harus konsul ke THT. Aku bilang aku menyukaimu.”
“Suka maksudnya suka bagaimana?” tanya Athalia memastikan ucapan Gibran. Dia tidak ingin salah persepsi akan perasaan pria itu kepadanya. Apalagi di hati Athalia memang hanya ada Gibran.
“Suka, cinta, sayang, yang jelas aku sudah mencoba menekan perasaan ini. Sama seperti yang sudah kamu lakukan. Perjuanganku mencari tahu siapa Abi adalah dalam rangka melindungi orang yang aku sayang,” tutur Gibran
Athalia kembali tersenyum dan memeluk Gibran.
...***...
Esok hari, baik Arkan dan Athalia masih berada di rumah, tidak melakukan aktivitas kerja seperti biasanya. Keduanya masih cuti dan menenangkan diri. Kalau Arkan menenangkan diri dari rasa marah dan emosi berbeda lagi dengan Athalia yang terlihat senang dengan batalnya pertunangan dan ternyata perasaannya terhadap Gibran tidak bertepuk sebelah tangan.
“Athalia,” panggil Arkan saat keduanya baru saja menyelesaikan sarapan.
Athalia tidak jadi beranjak, dia tetap di kursinya menunggu apa yang akan disampaikan oleh Arkan.
“Kalau pria itu datang, menyampaikan penyesalan dan ingin melanjutkan hubungan ini katakan tidak. Sudah tidak ada jalan untuknya mendapatkanmu, walaupun dia sudah berubah dan menyesali perbuatannya,” tutur Arkan bertitah kepada putrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
so pasti, papa .... don wori bi hepi ... 😁😁
apalagi udah ada gantinya dan udah kasih kepastian ... 🥰🥰🥰
2024-01-20
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
baru ngeh .... mama Atha udah gak ada ya ?
2024-01-20
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
plooooong ... rasanyaaa .....
2024-01-20
0