MLD - Bab 20

“Shitt, Abi kenapa susah dihubungi sih,” keluh Selly.

Sejak acara pertunangan Abi dan Athalia yang batal, Selly yang langsung kabur dari acara mendadak tidak bisa menghubungi Abi. Bahkan dia juga tidak berani untuk datang ke kantor kalau belum bicara dengan Abi.

Selly melemparkan ponselnya ke atas sofa karena kontak Abi tidak aktif atau bisa jadi dia dia diblokir oleh pria itu.

“Dasar buaya, bilang tidak usah khawatir kalau dia akan selalu ada waktu untukku. Masalah begini aja langsung keok.”

Di tengah emosi Selly, terdengar bell apartemennya.

“Siapa lagi, ganggu aja.”

Selly membuka pintu dan terkejut dengan wanita yang berdiri di depan pintu apartemennya.

...***...

Hari ini Athalia sudah kembali beraktivitas. Sudah siap mendengar ocehan rekan kerjanya yang mungkin saja mengejek karena pertunangannya batal.

Baginya hal itu lebih baik, apalagi dengan batalnya pertunangan dengan Abi membuat hubungannya dengan Gibran semakin jelas.

“Pagi dokter Athalia,” sapa salah satu perawat saat Athalia mengecek jadwal operasi hari ini.

“Pagi,” sahut Athalia dengan senyum di wajahnya.

“Heran deh, pertunangannya batal tapi masih bisa senyam senyum.” Terdengar bisik-bisik tidak jauh darinya.

“Pagi dokter Gibran.”

“Pagi.”

Athalia menoleh, Gibran melewatinya tapi tangan pria itu sempat mengusap kepala Athalia. Sama seperti Athalia, Gibran mengecek jadwal operasi hari ini.

“Ada yang bareng nggak?” tanya Gibran.

“Nope.”

“Baguslah,” sahut Gibran.

“Kok gitu, kejadian sebelumnya tidak akan terulang. Aku janji akan lebih hati-hati dan konsentrasi,” tutur Athalia berusaha meyakinkan Gibran kalau dia bisa bekerja profesional.

“Bukan itu maksudku,” sahut Gibran.

“Apa dong?”

“Kalau kita dipasangkan dalam satu jadwal, khawatir aku yang tidak bisa konsen,” bisik Gibran kemudian berlalu meninggalkan Athalia yang wajahnya merona.

Sedangkan di tempat berbeda, Selly sudah duduk berhadapan dengan Ibu dari Abi. Wanita itu sengaja mendatangi kediaman Selly.

“Hebat juga kamu, bisa tinggal di apartemen mewah ini. Berapa gaji kamu sebagai sekretaris di perusahaan suamiku?”

Selly bungkam, tentu saja apa yang dia rasakan bukan murni dari penghasilannya sebagai sekretaris.

“Sepertinya aku salah bertanya. Berapa gaji kamu melayani Abi?” tanya wanita itu dengan kedua tangan dilipat di dada.

Selly meremmas rok yang dia kenakan, tidak berani mengangkat wajahnya untuk memandang wanita dihadapannya.

“Aku tidak akan lama berada di sini dan tidak minta kamu kembalikan apa yang sudah Abi berikan atau mungkin kamu yang minta segalanya dari Abi. Namun, kamu harus ingat dan hati-hati agar tidak menunjukkan wajah kamu di depan Abi lagi atau … sepertinya aku tidak harus meneruskan dan menjelaskan maksudku.”

Selly menelan saliva mendengar ancaman untuknya.

Nyonya Moreno sudah berdiri dan siap pergi, tapi kembali menatap Selly yang masih menunduk.

“Kamu itu tidak pantas dengan Abi dan jangan berharap bisa bersaing dengan Athalia. Kalaupun Athalia dan Abi tidak bisa bersama, bukan kamu yang aku harapkan menjadi menantuku.”

Deg.

Detak jantung Selly rasanya berdetak cepat begitu cepat mendengar pernyataan yang begitu menohok dari wanita yang melahirkan Abi. Mengira kalau Abi sudah berada dalam genggamannya ternyata Selly salah, posisinya begitu lemah.

“Shittt,” maki Selly ketika Nyonya Moreno sudah meninggalkan apartemen. “Aku harus bertemu Abi, dia harus mempertahankanku bagaimanapun caranya.”

Sudah seminggu berlalu sejak batalnya pertunangan Athalia, gadis itu dan Gibran semakin berani mengumbar kedekatannya. Bahkan Gibran terang-terangan mengakui kalau Athalia adalah kekasihnya di depan rekan sejawatnya.

“Kamu kenapa sih?” tanya Athalia.

Saat ini Gibran sedang berada di kediaman Arkan, menunggu kedatangan pria itu. Athalia sudah mengatakan pada Papanya kalau Gibran rekan kerjanya ingin bertemu.

“Rasanya lebih gugup dari tindakan operasi pertamaku,” sahut Gibran.

Athalia terkekeh.

“Rileks aja kali, Papa baik kok.”

“Aku tahu, hanya takut ditolak. Abi yang jelas-jelas pengusaha saja dihempas apalagi aku yang hanya ….”

“Eh jangan aneh-aneh ya. Kami menolak Abi karena dia brengsekk.”

Tidak lama kemudian Arkan pun tiba, Gibran menarik nafas untuk menghilangkan gugup.

“Selamat malam, Om,” sapa Gibran sambil mengulurkan tangan.

“Malam,” jawab Arkan menyambut jabat tangan Gibran. “Duduklah!” titah Arkan.

Athalia duduk di samping Gibran yang akan mulai bicara.

“Jadi sejak kapan kalian dekat?” tanya Arkan mendahului Gibran yang baru akan membuka mulutnya.

“Ehm, kami dekat sejak bergabung di rumah sakit tapi saya serius menyatakan perasaan saya pada Athalia setelah kejadian malam itu."

“Bagaimana denganmu?” tanya Arkan pada Athalia.  “Mau menerima Gibran?”

Athalia menganggukkan kepalanya.

“Yakin bukan pelarian karena Abi?”

“Bukan Pah, aku memang suka dengan Gibran tapi Papa yang paksa aku dan menjodohkan dengan Abi,” keluh Athalia.

Arkan menghela nafasnya. Dia sudah mencari tahu siapa Gibran setelah Athalia mengatakan pria itu ingin bertemu dengannya. Track record Gibran yang tidak ada cela bahkan background keluarga yang baik, membuat Arkan tidak ada alasan untuk menolaknya.

“Athalia, Papa menyetujui hubunganmu dengan Gibran selama kalian memang saling menyayangi dan menerima kekurangan masing-masing.”

Gibran menghela lega mendengar jawaban Arkan.

“Dalam waktu dekat ini, baiknya kalian berhati-hati karena Abi masih menginginkan perjodohan ini kembali dilaksanakan. Papa hanya khawatir kalian akan mendapatkan kesulitan tapi kalian harus atasi bersama.”

Gibran dan Athalia bersyukur karena Arkan menerima hubungan mereka dan nasihat mengenai Abi tentu saja tidak akan dijadikan angin lalu oleh Gibran.

“Hati-hati ya,” ujar Athalia saat Gibran sudah berada di mobil.

“Hm, jangan segan untuk menyampaikan apapun yang Abi lakukan. Termasuk mengirim pesan atau menelponmu,” titah Gibran.

“Iya.” Athalia melambaikan tanganya saat mobil sudah melaju meninggalkan kediaman Arkan.

“Ternyata mereka semakin dekat, aku sudah curiga dengan kedekatan mereka,” gumam Abi. Dia berada di mobil yang terparkir tidak jauh dari gerbang rumah Arkan dan menyaksikan mobil Gibran keluar dari sana.

“Saat ini kalian boleh menang tapi aku tidak akan tinggal diam. Athalia akan kembali denganku dan pria itu aku akan hancurkan dia karena sudah berani mempermalukanku,” ancam Abi.

Ponsel Abi berdering dan nomor tidak dikenal tertera di layarnya.

“Halo,” ujar Abi.

“Abi, kamu tidak bisa mengabaikanku begitu saja,” ujar seseorang di ujung telepon.” Abi mengernyitkan dahinya lalu menjauhkan ponsel dari telinga dan memandang kembali nomor kontak yang masih dalam panggilan.

“Selly,” gumamnya. 

Terpopuler

Comments

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

wah .... Abi udah tau kalo kmrn itu kerjaan Gibran ...
ada yg mulutnya ember dan silau dgn di iming2 duit nih kek nya ....

2024-01-20

1

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

kalo kek begini barti Selly gak tau malu dan gak tau diri ...

2024-01-20

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

tidak pantas nya krn apa nih ?
* kalo krn si Selly dj4l4ng ... setuju, dia gak pantas
* kalo krn Selly dianggap beda level .. gak setuju ... ini barti mama nya Abi arogan ...

2024-01-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!