MLD - Part 6

Gibran sudah dalam perjalanan pulang. Tidak menduga kalau Athalia dalam masalah yang menyebabkan dia lalai. Walaupun hal itu tidak dibenarkan, tapi manusiawi jika wanita itu terbebani dengan masalah yang dihadapinya.

Apalagi jelas sekali kalau masalah itu terkait masa depan. Walaupun Asti tidak menjelaskan secara detail, hanya menyampaikan kalau perjodohan Athalia akan segera dilaksanakan. Gibran sudah paham dengan pernyataan tersebut.

Sedangkan di tempat berbeda, Athalia sudah berada di kamarnya. Ponselnya memang dia nonaktifkan, karena Abi berkali-kali menghubungi mengatakan ingin bertemu. Seharian ini Abi mengganggu dengan mengirimkan banyak pesan, mulai dari mengingatkan soal makan, ingin menjemput dan hal-hal remeh lainnya. Hal itu dilakukan Abi, dengan tujuan agar mereka semakin dekat dan tumbuh rasa cinta.

“Apa aku bisa menerima Abi?” Athalia bergumam.

Bertekad untuk tidak lagi larut dalam masalahnya yang akan merugikan orang lain, Athalia pun memilih fokus dan menerima apa yang sudah menjadi suratan takdirnya.

...***...

“Siang dok,” sapa perawat yang melihat Gibran berada di ruang observasi.

“Siang, dokter Athalia ada?”

“Ada, baru saja selesai tindakan. Sekarang sedang mengawasi pasiennya. Di sebelah sana,” tunjuk perawat.

Gibran pun menghampiri Athalia. Wanita itu sedang fokus menatap alat medis yang terpasang pada tubuh pasiennya.

“Dokter Atha,” panggil Gibran.

Athalia menoleh, agak terkejut dengan kehadiran Gibran dihadapannya. Selain wanita itu sedang menata hatinya agar melupakan dan menghilangkan perasaan pada Gibran, dia masih merasa bersalah dengan kejadian kemarin di ruang operasi.

“I-iya,” jawab Athalia.

“Jika sudah selesai tolong hubungi aku, sore ini atau malam. Aku tunggu,” pinta Gibran.

Athalia hanya menganggukkan kepalanya. Gibran kemudian berbalik dan meninggalkan Athalia yang masih terkejut dan bingung dengan tujuan Gibran mengajaknya bertemu.

Apa masih ingin bahas kejadian kemarin? Setahuku pasiennya sekarang baik-baik saja, batin Athalia

“Dokter Athalia ada panggilan darurat di line tiga.”

“Lanjutkan olehmu,” titah Athalia pada rekannya.

Sore hari.

Athalia berjalan di koridor rumah sakit masih dengan scrub suits dan alas kaki karet, seharian ini dia bertugas di ruang operasi. Wanita itu menuju doctor lounge untuk beristirahat.

“Ya ampun, Gibran,” ujar Athalia yang mengingat permintaan pria yang tadi pagi menemuinya.

Athalia pun menuju loker miliknya, mengeluarkan tas dan pakaian ganti. Sempat membuka ponsel untuk mengecek panggilan atau pesan yang masuk, lagi-lagi didominasi dengan pesan dan panggilan dari Abi. Setelah mengganti pakaian, Athalia duduk di atas sofa sambil mengenakan sepatunya. Mencoba menghubungi Gibran dan mendengarkan nada tunggu.

Dua kali panggilan tidak terjawab.

“Apa masih sibuk ya?”

Sambil menunggu panggilan atau pesan balik dari Gibran, wanita itu bersandar dan memejamkan matanya. Hampir seharian berdiri membuat tubuhnya cukup lelah.

“Masih ada jadwal?” tanya rekan Athalia.

“Nggak, baru beres.”

Saat ini tempat itu lumayan, di mana para dokter sedang rehat sekedar menunggu jadwal praktek atau baru berakhir tugas. Athalia tidak melihat Gibran di sana dan panggilan tadi belum juga di respon. Malah Abi yang lagi-lagi menghubunginya.

“Hei, ponselmu berdering terus.”

Athalia hanya menjawab lewat pesan.

 [Aku sedang sibuk]

Tidak lama ada pesan balasan dari Abi.

[Bisa kita bertemu?]

Wanita itu mendengus kesal.

“Loh, Gibran,” ujar Athalia membaca pesan yang baru masuk.

[Aku di lobby, bisa ke mari?]

[Otw] balas Athalia.

Sesampainya di lobby, Athalia melihat Gibran yang sedang berbincang dengan petugas keamanan. Sesekali pria itu terlihat tersenyum, membuat penampilannya semakin sempurna.

“Hai,” sapa Gibran saat Athalia sudah berada di dekatnya. Athalia hanya tersenyum.

“Kita bicara di tempat lain,” ajak Gibran. 

Saat ini, pasangan yang berprofesi sebagai dokter dan menyimpan rapat-rapat perasaannya sudah berada di café tidak jauh dari rumah sakit. Keduanya memesan minuman yang sama sebelum mulai bicara.

“Maaf,” ucap Gibran dan Athalia berbarengan.

Gibran menghela nafasnya pelan sedangkan Athalia menundukkan wajahnya.

“Aku minta maaf, karena sudah menegurmu di depan yang lain. Seharusnya aku tahu tempat dan … tahu sendiri kemarin itu beresiko jadi aku sempat emosi,” tutur Gibran.

“Tidak, bukan salahmu tapi aku yang salah. Seharusnya aku tetap fokus, seberat apapun masalahku. Aku janji tidak mengulangi hal itu,” ungkap Athalia.

“Aku tahu apa yang menjadi beban pikiranmu.”

Wanita di hadapan Gibran pun mengangkat pandangannya.

“Kamu tahu?”

“Hm.”

Athalia menghela nafasnya pelan. “Tidak lama lagi aku akan bertunangan dengan Abi, perjodohan kami akan dilanjutkan dan aku akan segera menikah dengannya.”

Gibran melihat kesedihan di wajah Athalia. Jika orang lain akan menyampaikan berita pernikahan dengan begitu gembira, berbeda dengan wanita dihadapannya. Pria itu merasa kalau Athalia terpaksa melakukan dan menerima perjodohannya.

Sepertinya dia tidak bahagia. bagaimana kalau aku perjuangan cintaku, aku akan buat dia menjadi milikku, batin Gibran sambil tersenyum.  

Terpopuler

Comments

Aditya HP/bunda lia

Aditya HP/bunda lia

Iya bagus Gibran ayo berjuanglah

2023-04-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!