MLD - Part 10

“Dokter Atha belum datang?”

“Masih di jalan,” jawab Gibran yang sudah berada di lobby hotel di mana seminar akan dilaksanakan. Salah satu petinggi rumah sakit di mana mereka praktik, menjadi pemateri di seminar tersebut. beberapa rekan sejawat diminta untuk hadir, termasuk Gibran dan Athalia.

“Ah, itu dia.” Gibran menunjuk Athalia yang baru saja melewati pintu utama.

“Belum mulai ‘kan? Aku terjebak macet,” ujar Athalia bahkan sebelum ditanya oleh kedua rekannya.

“Ya sudah, kita ke ruangan. Sepertinya akan segera dimulai.

Gibran dan Athalia berjalan bersisian.

“Habis ngapain sama Abi, sampe kesiangan,” bisik Gibran menggoda Athalia.

Tentu saja, wanita itu malah mencebik karena alasannya terlambat bukan  karena Abi. mereka serius mengikuti acara, apalagi salah satu pemateri memang atasan mereka di rumah sakit.

Tanpa Athalia ketahui, di salah satu kamar dalam gedung yang sama, Abi bersama Selly sedang berbagi peluh. Dari semalam mereka berada di sana, tentu saja untuk bermesraan.

“Ah … terus Abi.” Selly memohon dengan raut wajah penuh gair@h. tentu saja Abi dengan senang hati memenuhi permintaan Selly. Keduanya bergerak seirama bahkan kamar di mana mereka berada menjadi panas meskipun pendingin udara sudah diatur sedingin mungkin.

Erangan dan dessahan keluar bersahutan dari mulut Abi dan Selly, sampai akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan surga dunia. Abi merebah di samping Selly yang masih mengatur nafasnya.

“Kamu memang luar biasa, sayang,” puji Abi di tengah deru nafas dan mata yang terpejam menikmati sensasi pelepasan ketika bercinta.

“Luar biasa mana dengan tunanganmu?”

“Dia belum pernah aku sentuh, pikirannya terlalu kolot. Hanya akan memberikan hati dan fisiknya pada pria yang dia cintai atau suaminya. Aku jadi penasaran bagaimana rasanya,” keluh Abi.

“Ck, paling nanti lupa sama aku.” Selly merubah posisinya berbaring, dia memunggungi Abi.

“Mana mungkin sayang, buktinya dari semalam aku nggak bosan terus berolahraga di atas tubuhmu.” Abi mengeluarkan rayuannya bahkan memeluk wanita yang sedang merajuk itu dengan sentuhan-sentuhan manja.

“Sekarang kamu bilang begitu, tapi nanti mana ada yang tahu.”

“Kita sudah sepakat untuk tetap bersama. Aku akan berikan apa yang kamu mau dan saat waktunya tiba, aku yakin kita bisa bersatu dalam ikatan pernikahan juga,” bujuk Abi lagi. Pria itu benar-benar sudah candu dengan tubuh Selly, tapi cinta sepertinya tidak. Karena kalau Abi memang mencintai Selly, tentu saja dia akan menolak pertunangan dengan Athalia.

“Ayolah jangan merajuk, kita masih ada waktu dua jam lagi sebelum cek out. Mari kita nikmati waktu yang tersisa,” ujar Abi.

“Hm, tapi setelah ini aku ingin beli tas baru. Ada model yang baru saja keluar dan itu limited edition,” tutur Selly mencoba bernego dengan Abi.

“Oke sayang, apa sih yang tidak untukmu.”

...***...

“Ayo, aku sudah lapar. Tadi pagi belum sempat sarapan,” ujar Athalia mengajak Gibran bergegas untuk makan siang saat acara sedang di break untuk makan siang.

“Kenapa tadi nggak makan dulu waktu coffee break?”

“Hehe, malas.”

Athalia dan Gibran berjalan melewati koridor bersama peserta lain menuju restoran hotel, melewati area lift. Gadis itu melihat sosok yang begitu dia kenal baru saja keluar dari salah satu lift.

“Mas Abi.” Athalia memanggil pria itu.

Abi menoleh dan terkejut melihat ada Athalia tapi tetap berusaha tenang.

“Hai, Athalia. Kamu kok di sini?” tanya Abi sambil tersenyum.

Athalia tidak langsung menjawab, pandangannya mengarah pada wanita yang berdiri di samping Abi.

“Siang, Mbak Athalia,” sapa Selly.

Athalia menjawab dengan senyuman.

“Ada seminar, aku dan Gibran kebetulan peserta,” sahut Athalia.

“Owh.” Abi sebenarnya tidak peduli  dengan Athalia dan Gibran di sana dia hanya khawatir kalau Athalia mencurigai hubungannya dengan Selly.

“Kamu sedang apa di sini?” Athalia balik bertanya.

Abi terlihat gugup, senyum di wajahnya langsung hilang.

“Ada klien Mbak, kami baru bertemu klien,” jawab Selly.

“Iya, ada klien menginap di sini jadi sekalian saja pertemuan di sini. Kalian mau ke mana?” tanya Abi menatap bergantian Athalia dan Gibran.

“Makan siang.” Gibran membuka suaranya.

“Aku harus kembali ke kantor,” sela Abi sambil melirik jam tangannya. “Aku tinggal ya?” tanya Abi pada Athalia.

“Hm. Pergilah.”

Abi mengusap kepala Athalia lalu mengangguk pada Giibran.

“Ayo,” ajak Abi pada Selly yang menganggukkan kepalanya pada Athalia seraya pamit undur diri.

Gibran tidak percaya dengan alasan keduanya yang baru saja bertemu klien, apalagi saat Selly melewatinya pandangan Gibran tertuju pada tanda yang ada leher wanita itu. Walau tidak terlihat jelas karena tertutup blouse yang dikenakan tapi Gibran tau itu jejak percintaan.

Gibran mengekor langkah Athalia yang terlihat biasa saja. Bahkan saat mereka antri mengambil makan, pria itu tidak melihat raut cemburu atau curiga dari Athalia setelah bertemu Abi dan Selly.

“Kita makan di mana? ramai sekali,” gumam Athalia.

“Di sana,” tunjuk Gibran dengan dagunya.

“Ah, iya.”

Athalia makan dengan lahap, bahkan Gibran menegur agar pelan-pelan saja. Walaupun agak ragu, Gibran memberanikan bertanya.

“Kamu tidak cemburu lihat Abi dengan wanita tadi?”

Athalia mengambil gelas di depannya lalu meneguk air karena hampir tersedak akibat makan tergesa.

“Maksudnya Selly?”

Gibran mengangguk.

“Tidak, dia sekretaris Abi. Aku percaya saja, lagipula kalau cemburu yang ada setiap saat aku akan cemburu terus karena Abi lebih banyak bersama Selly dibandingkan denganku.”

“Dokter Gibran,” panggil seseorang.

Gibran dan Athalia menoleh, seorang wanita tanpa diminta dan bertanya langsung duduk di kursi sebelah Gibran.

“Apa kabar kamu?”

“Hei, Manda. Baik, aku baik,” jawab Gibran, keduanya berjabat tangan. Athalia menyaksikan interaksi Gibran dengan wanita itu yang ternyata adalah teman kuliah Gibran.

“Wah, makin sibuk dong. Pantas aja jarang nongol di grup. Lain kali kita makan siang ya, udah lama deh kita nggak ketemu dan ngobrol begini.”

“Boleh,” jawab Gibran sempat melirik pada Athalia yang menatap ke arahnya dengan raut wajah tidak biasa.

“Nanti aku hubungi kamu ya,” ujar wanita itu sebelum beranjak pergi.

Gibran hanya tersenyum pada temannya kemudian menoleh pada Athalia.

“Kenapa?”

“Wanita itu pacarmu?”

Gibran terkekeh mendengar pertanyaan Athalia. Padahal  gadis itu tahu kalau dirinya masih single dan wanita yang sering terlihat bersamanya hanya Athalia.

“Kok malah tertawa. Jadi benar wanita itu yang kamu suka?”

“Kenapa, cemburu?” tanya Gibran.

Athalia berdecak mendengar pertanyaan  Gibran, dia pun tidak bisa mengartikan dirinya yang tidak menyukai interaksi Gibran dengan wanita tadi.

“Masa Abi dengan wanita lain tidak cemburu sedangkan ada teman menyapaku kamu cemburu.” Pernyataan GIbran sukses membuat Athalia salah tingkah dan Gibran kembali terkekeh geli.

“Kok nggak dihabiskan, katanya lapar.”

“Entah, sudah tidak berselera,” jawab Athalia.

 

Terpopuler

Comments

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

oooh ... Selly ini "p3l4cur nego" .... 😅😅😅😅😅

2024-01-20

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

itu bukannya kolot ... tp justru perempuan yg bisa menjaga martabat dan harga dirinya ...
dasar Abi br3ngs3k !!! 😡😡

2024-01-20

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

udah waktunya ketahuankah kelakuan gada akhlak mereka ?

2024-01-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!