Athalia duduk termenung memeluk kedua lututnya, padahal saat ini sudah lewat tengah malam tapi dia belum bisa memejamkan mata masih memikirkan rencana pertunangannya. Bagaimana tidak menjadi beban pikiran kalau dia akan menikah dan hidup dengan pria yang tidak dia cinta.
Rencana mengakhiri pertunangan dengan membujuk Abi untuk mengakhiri semua malah bertolak belakang dengan rencana Abi yang ingin tetap melanjutkan rencana perjodohan mereka.
“Aku harus bagaimana?”
Athalia berbaring menatap langit-langit kamarnya. Kalau dalam hatinya tidak ada sosok Gibran mungkin dia tidak akan serisau sekarang dan bisa saja dia menerima Abi lalu mencintainya seiring berjalannya waktu. Namun, perasaan dan cinta memang tidak bisa dipaksa.
Entah jam berapa Athalia baru bisa memejamkan matanya, bahkan saat alarm berbunyi kedua matanya seperti lengket sulit untuk mengerjap.
“Hufffttt.”
Gadis itu menghembuskan nafas lalu perlahan beranjak pelan dari ranjangnya. Setelah ritual pagi dengan sulitnya bangun, Athalia pun akhirnya tiba di rumah sakit. Dia sudah mendapatkan jadwal kalau hari ini akan berada di ruang operasi dan lagi-lagi dipasangkan bersama Gibran.
“Hai, wajahmu kenapa?” tanya Gibran saat bertemu Athalia di ruang steril.
“Ada apa dengan wajahku?” tanya Athalia sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
“Cantik,” jawab Gibran sambil tersenyum tapi fokus pada membersihkan kedua tangannya.
“Ck, gombal,” sahut Athalia yang wajahnya merona mendapatkan pujian dari Gibran.
Gibran, Athalia dan rekan tenaga medis lainnya sudah berada di ruang operasi. Hampir dua jam berlalu, akhirnya tindakan pun selesai. Pasien sudah dibawa keluar ruang tindakan untuk diobservasi pasca operasi.
Brak.
Gibran membanting pintu setelah memastikan pasien sudah keluar. Bukan hanya Athalia yang terkejut tapi ketiga perawat yang masih berada di ruangan itu pun sama kagetnya.
“Ada apa denganmu Athalia? Kamu bukan dokter baru pertama kali melakukan operasi. Tindakan kamu tadi, membahayakan pasien. Jelas-jelas nyawa pasien itu ada di tanganmu,” cecar Gibran. Athalia hanya menunduk.
“Maaf, aku tidak konsentrasi,” jawab Athalia.
Saat di ruang operasi, Athalia tidak konsentrasi karena memikirkan masalahnya dan menyebabkan insiden yang bisa membahayakan nyawa pasien. Bukan hanya menyesal karena sudah bersikap bodoh, Athalia juga mendapatkan kemarahan Gibran.
“Dokter tidak apa-apa?” tanya salah satu perawat saat Gibran sudah meninggalkan mereka.
Athalia hanya mengangguk pelan, “Terima kasih sudah melakukan yang terbaik,” ujar Athalia lalu meninggalkan ruang operasi.
Wanita itu mengurungkan niatnya menuju doctor lounge untuk sekedar beristirahat, karena akan bertemu Gibran di sana. Athalia memilih menuju kantin rumah sakit, menikmati kopi dan makan siang sambil menunggu waktu untuk bertugas berikutnya.
Sedangkan di tempat berbeda, Gibran malah berada di ruang kerjanya. Duduk bersandar dan memejamkan mata berusaha meredakan emosinya. Nyawa pasien tadi hampir melayang karena ulah tim yang tidak kompak, karena Athalia.
Bahkan dia sudah menegur dan menghardik wanita itu. Namun, Gibran ada penyesalan karena membentak Athalia di depan rekan sejawat lainnya.
“Ahh, kenapa juga dia bisa ceroboh. Prestasinya bagus, kenapa bisa dia sebodoh itu,” gumam Gibran.
Ponsel Gibran berdering, ternyata panggilan dari UGD yang mengatakan ada kecelakaan dan pasien darurat yang harus mendapatkan penanganan darinya. Gibran pun bergegas dan melupakan sejenak urusannya dengan Athalia, berencana menemui wanita itu selepas tugasnya.
Athalia pun mendapatkan panggilan yang sama dan saat ini dia dan Gibran sudah berada di UGD yang agak ricuh karena beberapa pasien korban kecelakaan. Gibran sempat menoleh ke arah Athalia dan melihat wanita itu sedang fokus dan serius melakukan tugasnya.
“Dokter Gibran, pasien ini sudah mendapat persetujuan operasi. Ruang operasi empat dan tim sudah menuju ke sana,” seru petugas UGD. Gibran pun bergegas menuju ruangan yang diinstruksikan bahkan sempat melewati Athalia.
...***...
Hampir jam delapan malam saat Gibran kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil kunci mobil. Berharap Athalia belum pulang, dia pun menuju doctor lounge dan tidak menemukan wanita itu di sana. Menghubungi ponselnya ternyata tidak aktif.
Bahkan Gibran membuka jadwal tindakan operasi yang sedang berlangsung melalui sistem rumah sakit tapi tidak menemukan nama Athalia di sana.
“Ke mana dia, apa sudah pulang,” gumam Gibran.
Tidak menemukan Athalia di manapun yang kemungkinan sudah pulang Gibran pun memutuskan pulang ke apartemennya. Hari ini cukup melelahkan dan dia butuh istirahat segera. Saat di parkiran, Gibran melihat dokter Asti yang mana cukup dekat pula dengan Athalia.
“Asti,” panggil Gibran membuat wanita bernama Asti menoleh.
“Ya, kenapa?”
“Kamu lihat Atha, dicari nggak ada dihubungi juga nggak aktif,” ujar Gibran.
“Udah pulang tadi jam tujuh, setelah beres operasi.”
“Dia ada masalah apa sih, sampai-sampai kerja pun kurang fokus?” tanya Gibran.
“Loh kok malah tanya aku, kamu ‘kan dekat masa nggak tau apa-apa,” sahut Asti.
“Seriuslah, makanya aku tanya kamu.”
Asti menghela nafasnya sebelum menjawab keingintahuan Gibran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Reyhan Dwi
lanjuttt thorrrr
2023-04-02
0
Aditya HP/bunda lia
sabar Gibran
2023-04-01
0