MLD - Part 12

“Kamu cantik banget,” puji Abi ketika Athalia selesai di make up dan siap untuk berfoto.

“Terima kasih.” Gadis itu tersenyum terpaksa, tidak mungkin dia hanya diam saja ketika Abi memujinya. “Bisa kita mulai, aku kurang nyaman dengan gaun ini,” keluh Athalia.

“Ayo.”

Ada dua tema foto yang Abi dan Athalia lakukan, glamor dan casual. Saat ini Abi mengenakan setelan jas dan Athalia mengenakan gaun yang membuatnya terlihat seksi. Gadis itu agak canggung saat berpose, bahkan fotografer mengarahkan gaya mereka agar tidak kaku.

Setelah beberapa gaya dan banyak shoot, Abi melihat hasil jepretan kamera di mana dia dan Athalia menjadi bintangnya.

“Bagus, aku suka.”

“Ganti kostum dulu,” ujar wanita yang tadi membantu Athalia make up dan menata rambutnya.

Agak lama Athalia berganti pakaian, dari gaun berganti casual tentu saja harus merubah keseluruhan penampilannya. Namun, dengan gaya kedua ini membuatnya terlihat seperti masih remaja.

“Oke, tahan,” ujar fotografer. “Senyum yang lebih, lebih luwes. Oke tahan dulu.” Beberapa kali jepretan, kemudian fotografer kembali mengarahkan Athalia dan Abi untuk bergaya. Ketika diminta untuk lebih dekat dan agak memeluk, Athalia terlihat kaku dan canggung.

“Mas Abi, jangan dibuat takut dong. Mbak Atha jadi kurang luwes nih.”

“Maklum, masih polos dan orisinil,” sahut Abi membuat beberapa orang yang terlibat tersenyum dan menggoda Athalia.

“Dicek dulu hasilnya, kalau kurang oke kita take lagi.”

“Sayang, kemari!”

Athalia kurang nyaman dengan panggilan Abil untuknya, tapi tetap gadis itu menghampiri Abi.

“Coba dicek, ada yang kurang nggak? Kalau aku sih udah oke, ya.”

Athalia merasa foto sudah diambil sudah cukup dan tidak ingin mengulang kembali adegan bersama Abi. Dirinya belum bisa menerima dengan penuh rencana pertunangan dengan Abi, tapi tidak bisa menolaknya.

“Mau langsung ke lokasi?” tanya Abi.

“Aku ganti baju dulu.”

Setelah berfoto untuk kebutuhan pesta pertunangan, keduanya akan menghadiri pertemuan dua keluarga yang akan membicarakan lebih detail persiapan pertunangan dan pernikahan Abi dan Athalia.

“Kamu ikut aku,” titah Abi ketika sudah berada di parkiran.

“Aku bawa mobil,” ujar Athalia menolak untuk bersama Abi.

Abi mengambil kunci mobil dari tangan Athalia. “Nanti ada yang urus mobil kamu, bagaimana kita mau semakin dekat kalau masih kaku begini. Orangtua kita juga ingin kamu dan aku semakin mesra bukan semakin menjaga jarak,” tutur Abi.

Athalia pun hanya bisa pasrah dan ikut apa saran Abi.

Pertemuan diadakan di restoran Tante Merry. Sudah ada Papa Athalia dan kedua orangtua Abi di sana. Keduanya.

“Wah, ini dia yang ditunggu. Akhirnya datang juga,” seru Ayah Abi.

Athalia tersenyum sambil menyapa satu persatu yang sudah hadir. Lalu duduk berdampingan bersama Abi.

“Kebetulan mereka sudah datang, kita makan dulu lalu lanjutkan bicara masalah tadi.” Bunda menginterupsi.

Akhirnya dua keluarga itu makan siang sambil diselingi candaan menggoda Athalia dan Abi. Perjodohan yang sudah digadang sejak keduanya masih kecil tentu saja sulit untuk dicegah apalagi dibatalkan.

“Waktu itu Abi merengek terus, katanya dia ingin berkunjung lagi ke rumah kamu Athalia. Ada bidadari di sana, aku ingin bertemu lagi dengannya.” Bunda Abi menceritakan sepenggal kisah kecil putranya.

“Ah, Bunda. Jangan diceritakan semuanya, malulah aku,” ungkap Abi.

“Sayang, kamu benar belum ada kekasih?” tanya Bunda Abi.

Pertanyaan itu sukses menjadi perhatian dan saat ini semua atensi mengarah pada Athalia, menunggu jawaban gadis itu. Termasuk Arkan, Papa Athalia. Dia tidak pernah melihat Athalia membawa teman pria apalagi diakui sebagai kekasih.

Athalia menatap satu persatu wajah yang sedang menunggu jawabannya. 

“Hm. Aku tidak ada kekasih,” sahut Athalia dan disambut helaan lega kedua keluarga itu. Athalia memang tidak berbohong, walaupun dia dekat dengan Gibran tapi bukan dalam urusan percintaan meskipun dalam hati masing-masing saling mengagumi.

“Jadi pertunangan akan kita adakan di hotel X, dua minggu dari sekarang. Itu akan menjadi urusanku,” tutur Arkan.

“Undangan dan distribusi  biar aku yang handle,” ungkap Abi.

Athalia hanya diam mendengarkan rencana yang sedang dibicarakan, dia tidak ada usulan apapun.

“Athalia sayang, tugas kita para wanita hanya memastikan penampilan kita oke di acara tersebut. kamu harus sering perawatan agar semakin glowing,” tutur Bunda Abi.

Athalia tersenyum dan mengiyakan ajakan Bunda Abi.

“Athalia tidak perlu perawatan juga sudah cantik maksimal Bun,” bela Abi sambil merangkul pundak Athalia.

Perbincangan masih terus berlanjut, Abi terlihat resah setelah dia membuka ponselnya. Athalia yang berada tepat di sampingnya melihat jelas perbedaan sikap dari pria itu.

“Permisi, ada telepon dari kantor sepertinya penting,” pamit Abi sebelum dia keluar dari ruangan.

Para orangtua kembali melanjutkan pembicaraan mereka, sedangkan Athalia masih memikirkan sikap Abi. Dia sempat melihat nama Selly di layar ponsel Abi.

“Halo, Selly.”

“Dalam setengah jam, kamu harus ada di sini.”

“Selly, jangan begini. Kamu tahu aku ….”

“Terserah. Mulai dari sekarang Abi.”

Selly mengakhiri panggilan telepon, wanita itu merajuk mendengar hari ini memutuskan pertunangan dan tanggal pernikahan Abi dan Athalia.

“Ck, kenapa dia tidak percaya kalau aku tidak akan membuangnya walaupun aku sudah menikah dengan Athalia,” gumam Abi.

“Apa ada masalah?” tanya Athalia sudah berada di belakang Abi.

“Hahh.”

Apa dia mendengar apa yang aku bicarakan tadi, batin Abi.

“Ada sedikit masalah di kantor, sepertinya aku harus ke sana.”

“Hm. Sepertinya Selly yang menghubungimu.”

“I-iya Selly, dia sedang mengatasi tapi tidak bisa. Sepertinya aku harus turun tangan. Aku pamit dulu, mobilmu nanti ada yang antar kesini.”

Abi dan Athalia kembali ke ruangan.

“Seberat apa masalahnya sampai kamu harus meninggalkan acara ini?” tanya Ayah Abi.

“Sudahlah, biarkan dia selesaikan urusannya,” ungkap Arkan. “Kita pun pernah berada di masanya. Bersemangat mengurus bisnis, bahkan terkadang mengabaikan yang namanya hari libur.”

“Pergilah, selesaikan urusanmu jangan sampai menunda masalah,” dukung Bunda.

Abi tersenyum pada Athalia dan mengusap kepala gadis itu sebelum dia pergi.

“Halo sayang, aku dalam perjalanan," ujar Abi saat sudah berada dalam mobil.

Terpopuler

Comments

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

si dj4l4ng mulai bertingkah ...

2024-01-20

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

ayo Atha ... curiga dooonk ...
kamu kan gak mau nikah sama Abi ...
nah .. cari tau tuh hubungan dia sama Selly ... ngapain koq nempel mulu ...
perasaan sekretaris tuh gak gitu2 amat deh ..

2024-01-20

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

halah ... kang tipu !!!

2024-01-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!