Athalia bergegas menuju ruang operasi karena pagi ini ada namanya dalam salah satu tindakan operasi. Mencuci kedua tangannya agar steril sebelum memasuki ruangan, tidak menyadari ada Gibran di belakang.
“Ehem, gimana kencan semalam?” tanya Gibran.
Athalia menoleh sambil mengangkat kedua tangan yang sudah dia pastikan steril, mengerucutkan bibirnya karena ejekan Gibran.
“Siapa yang kencan,” sahut gadis itu.
Gibran hanya terkekeh, kemudian melakukan hal yang sama dengan Athalia. Mensterilkan kedua tangannya.
“Tindakan apa?” tanya Gibran sambil fokus pada tangannya.
“SC. Nanti sore free?”
“Hm, belum tahu. Yang jelas gak ada jadwal. Kenapa gitu?”
“Ada cafe baru dekat-dekat sini, katanya lengkap menu nasi gorengnya. Jadi ....”
“Iya,” sela Gibran. “Sana masuk, udah waktunya ‘kan?”
Athalia tersenyum kemudian bergegas menuju ruangan tempatnya bertugas. Gibran sengaja mengusir Athalia karena berlama dekat dengan wanita itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Semakin lama, perasaan yang Gibran miliki semakin besar.
Namun, rasanya tidak rela jika wanita yang dia cintai ternyata diduakan oleh calon jodohnya. Gibran yakin kalau Abi dan wanita yang bersama dengannya kemarin memang ada hubungan, dilihat dari interaksi dan kalimat yang terucap bisa disimpulkan begitu.
“Dokter Gibran, sudah ditunggu,” panggil seorang perawat menyadarkan lamunan Gibran. Setelah memastikan dua tangannya sudah steril, pria itu menarik nafas panjang untuk menenangkan diri dan memusatkan konsentrasinya. Sebagai dokter bedah, kondisi pasien yang sedang dioperasi berada dalam tanggung jawabnya.
...***...
Di sinilah Athalia dan Gibran berada, cafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Bahkan Gibran mengajak Athalia jalan kaki menuju lokasi.
“Tempatnya nyaman,” imbuh Athalia sambil menatap sekeliling. Gibran asyik memandang wajah gadis dihadapannya kemudian berdehem dan menunduk saat Athalia menyadari tatapan dari Gibran.
“Mau pesan apa?” tanya Athalia sambil membuka buku menu.
“Jangan yang berat, nanti malam aku ada tindakan. Perut kenyang malah ngantuk.”
“Hah. Bukannya udah selesai?”
Gibran menggelengkan kepala sambil fokus pada ponselnya sedangkan Athalia menyebutkan pesanan pada pelayan, pesanan untuknya sendiri dan untuk pria dihadapannya.
“Bagaimana kencan semalam? Sudah ada peningkatan nih,” Seru Gibran.
“Aku nggak kencan, Mas Abi ajak ke resto baru tantenya. Peningkatan apa sih?” tanya Athalia sambil mengernyitkan dahinya.
Gibran terkekeh sambil mengedikkan bahunya, yang dia maksud adalah Abi dan Athalia yang saling menautkan jemari tangan saat keluar dari rumah sakit.
Tidak lama kemudian pelayan mengantarkan pesanan, disambut gembira oleh keduanya. Gibran menikmati pesanan sambil mendengarkan Athalia yang mengomentari apa yang ada. Mulai dari rasa makanan sampai suasana cafe.
“Gimana hubunganmu dengan Abi?”
Athalia yang sedang meneguk orange juicenya tersedak dengan pertanyaan Gibran. Dia sendiri bingung menerjemahkan hubungannya dengan Abi. Tidak menyukai apalagi memiliki perasaan dengan pria itu, selain menganggap sebagai teman.
“Pelan-pelan dong,” ujar Gibran. “Segitu terkesimanya mendengar nama Abi.”
“Apaan sih? Boro-boro terkesima yang ada kesal,” sahut Athalia.
Tanpa Atha ketahui, saat ini Papanya bertemu dengan Ayah Abi. Selain urusan kerjasama bisnis, keduanya membicarakan kelanjutan hubungan Athalia dengan Abi.
“Baiknya kita percepat saja pertunangan mereka, menunggu anak-anak kita inisiatif sepertinya akan lama,” seru Ayah Abi.
“Hm, menurutku pun begitu. Umur Athalia pun sudah cukup matang untuk berumah tangga,” seru Arkan Papa Athalia.
Waktu pertunangan Athalia dan Abi pun akhirnya diputuskan tanpa menanyakan pada kedua orang tersebut. Karena kabar ini, Arkan menghubungi putrinya untuk segera pulang. Dia akan menyampaikan langsung pada Athalia rencana kelanjutan perjodohan.
Athalia yang malam itu tidak bertugas sudah tiba di rumah, ternyata Arkan benar-benar menunggunya.
“Duduklah!” titah Arkan yang saat ini berada di ruang keluarga.
“Ada apa sih? Kayaknya serius banget,” ujar Athalia yang sudah duduk bersebrangan dengan Arkan hanya terpisah meja sofa.
Athalia sudah tidak mempunyai Ibu dan perjodohan yang direncanakan Arkan sejak dia masih kecil dengan harapan Athalia mendapatkan pendamping hidup yang baik apalagi mereka sudah sangat mengenal Abi dan keluarganya.
“Hari ini Papa ada pertemuan dengan Ayah Abi.”
Deg.
Athalia menduga ada sesuatu yang berkaitan dengan hubungannya dengan Abi. Berharap Papanya membatalkan rencana menyatukan Abi dan dirinya.
“Kami sepakat mempercepat pertunangan kalian,” ujar Arkan.
“Apa? Papa bercanda ‘kan?” tanya Athalia memastikan apa yang baru saja dia dengar.
“Menurutmu, apa Papa pernah bercanda untuk masalah ini.”
“Tapi, Pah ... kami ....”
“Belum siap?”
Athalia menganggukkan kepalanya.
“Mau kapan tunggu kalian siap. Jangan-jangan kalian memang tidak pernah membicarakan rencana kalian ke depan. Coba kamu ingat, berapa umurmu saat ini?” tanya Arkan.
Athalia menghela nafas, merasa kecewa dengan apa yang disampaikan Papanya. Sore tadi dia merasakan bahagia bersama Gibran walau hanya sekedar makan dan berbincang, harapan untuk bisa bersama dengan pria itu harus pupus karena keputusan Arkan.
Berbeda dengan Abi, yang biasa saja mendengar kabar dari Ayahnya tentang pertunangan yang akan dipercepat. Ada rasa bahagia, karena langkah untuk mendapatkan Athalia semakin dekat. Karena Athalia memang sangat menjaga dirinya dan akan memberikan seluruh hidupnya hanya untuk sang suami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
kesiyan banget Atha dapet kamu yg cuma sampah..
2024-01-20
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
bener2 orang tua egois ya ...
padahal anak2nya yg nanti bakalan menjalani pernikahan itu malah gak dilibatkan...
2024-01-20
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
oooh ... perjodohan bisnis toh ..
2024-01-20
0