Jam 9 malam, Hans baru saja sampai di rumah. Ia memilih mencari angkot supaya lebih irit. Rumah tampak sepi. Hans menuju kamar Mikayla dan mendapati Mikayla tidur ditemani oleh Citra. Hans tidak tega membangunkan Citra dan memilih untuk mandi terlebih dahulu. Selesai mandi, ia menuju ruang makan. Namun ternyata meja kosong, sama sekali tidak ada makanan. Untung saja masih ada nasi di magicom. Hans sadar diri, Citra pasti marah karena ia tidak memberinya uang belanja. Untuk mengobati perutnya yang kosong, Hans makan hanya dengan nasi dan kecap saja. Bahkan malam itu Citra tidak menemaninya tidur. Citra tidur bersama Mikayla bahkan sampai pagi.
Keesokan harinya, Citra dengan wajah cemberut masak seadanya. Tahu dan tempe saja.
"Mika, maafkan Ayah ya, hanya bisa memberikan tahu tempe saja."
"Tidak apa-apa Ayah. Ini enak kok."
"Maafkan aku ya Citra."
"Maaf mu tidak akan merubah keadaan kita, Mas. Selama tidak ada motor, kamu yang antar Mika. Biar aku yang menjemputnya."
"Iya, tidak apa-apa." Hans hanya bisa pasrah dengan sikap dingin istrinya.
"Bekalmu sudah aku siapkan. Hanya tahu dan tempe saja."
"Iya tidak apa-apa. Terima kasih sudah mau memasak bekal untukku. Oh ya, aku akan bekerja paruh waktu lagi di restoran. Jadi setelah pulang dari kantor, aku langsung ke restoran. Kamu tidak usah menunggu ku."
"Iya, terserah kamu saja." Ketus Citra. Selesai sarapan, Hans lalu berangkat sekaligus mengantar Mikayla ke sekolah.
"Ayah semangat ya."
"Kamu juga ya. Kalau ada yang sakit, langsung bilang sama Ibu guru ya."
"Iya Ayah. Ayah hati-hati ya." Mikayla memeluk putrinya dan berusaha menahan air matanya. Setelah itu, Hans segera berangkat kerja. Beruntung Hans tidak telat datang ke kantor. Hari ini Hans harus bekerja dengan fokus, jangan sampai membuat Raina marah lagi apalagi Raina sudah mengancam ingin memecatnya. Jam makan siang, Hans pergi ke kantin, membaur dengan teman-temannya dengan membawa kotak makan berisi nasi dan tahu tempe saja. Tidak ada sedikitpun rasa malu, sekalipun jabatannya di sana sebagai kepala gudang.
Jam makan siang, Raina ingin pergi ke kantin. Ingin melihat suasana makan di sana, barangkali bertemu Hans. Ia pergi ke kantin di temani oleh Gita.
"Tumben, Nona mau ke kantin."
"Sedang ingin saja," jawabnya singkat sambil terus melangkahkan kakinya. Sesampainya di kantin, mata Raina langsung bisa mengunci adanya sosok Hans di sana. Semuanya juga langsung menyapa Raina dengan hormat. Raina hanya melempar senyum kecilnya. Ia sengaja melewati Hans. Melirik makanan apa yang dimakan oleh Hans. Karena Hans seperti membawa lunch box.
"Apa makanan di kantin tidak enak?" tanya Raina yang berdiri di belakang Hans. Hans menoleh sedikit kearah Raina.
"Tidak Madam. Kebetulan dibawakan bekal oleh istri."
"Oh... oke." Jawab Raina seraya berlalu. Hati Raina miris sekali, melihat lauk yang di makan oleh Hans. Hanya tahu dan tempe saja.
"Kasihan sekali, Hans. Masih ingat juga istrinya untuk membawakan bekal suaminya." Gumamnya dalam hati.
Hans, merasa lega karena Raina puas dengan laporannya.
"Bagus Hans."
"Terima kasih Madam, permisi."
Setelah selesai bekerja, Hans langsung menuju ke restoran untuk bekerja paruh waktu kembali. Raina memutuskan untuk mengikuti Hans. Raina tidak menyangka bahwa Hans pergi bekerja lagi untuk bisa membayar hutang dan pengobatan putrinya. Akhirnya Raina memutuskan untuk turun sekaligus makan malam di sana. Hans sangat terkejut karena yang ia layani adalah bosnya sendiri.
"Lho, Hans, kamu disini juga?" Raina pura-pura tidak tahu.
"I-iya Madam."
"Apa gajimu sebagai kepala gudang kurang besar Hans? Sampai kamu kerja di tempat lain?" tanya Raina sambil membuka buku menu.
"Ah tidak Madam. Gajinya sangat cukup. Sa-saya masih terikat kontrak part time disini sampai bulan depan." Hans terpaksa berbohong.
"Oh begitu. Kamu tidak capek apa?"
"Sudah biasa Madam. Jadi pesan apa Madam?"
"Aku mau tenderloin steak dan lemon tea saja."
"Baiklah, tunggu sebentar Madam."
"Oke." Hans pun berlalu. Raina menatap kasihan pada Hans.
"Kamu pria yang sangat bertanggung jawab, Hans. Bodoh sekali istrimu." Batin Raina. Tak lama kemudian, pesanan Raina pun datang.
"Silahkan Madam."
"Terima kasih, Hans. Oh ya jam berapa pulangmu?"
"Jam 12 malam, Madam."
"Oh begitu."
"Permisi Madam dan selamat menikmati." Hans pun berlalu. Raina menikmati makan itu dengan lahap. Selesai makan, Raina pun pergi. Namun karena penasaran, Raina ingin mengikuti Hans. Akhirnya malam itu Raina mengikuti Hans sampai rumahnya.
"Oh di sana rumahnya. Dia pria yang jujur. Kenapa istrinya bisa setega itu?" Raina bergumam sendiri. Setelah puas mengikuti Hans, ia pun segera pulang.
Dua hari kemudian saat hendak berangkat sekolah, tiba-tiba Mikayla merasakan sakit kepala hebat di kepalanya.
"Aduh... Ayah-Bunda! Kepala ku sakit." Rintih Mikayla sambil memegangi kepalanya. Hans yang dikamar sedang berganti pakaian dan Citra yang sedang di dapur, segera berlari menuju kamar Mikayla. Namun mereka mendapati Mikayla sudah tak sadarkan diri.
"MIKA!" Histeris Hans.
"Mika, kamu kenapa sayang?" tangis Citra.
"Kita ke rumah sakit, sekarang."
"Iya Mas." Hans dan Citra pun segera membawa Mikayla ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Mikayla segera di tangani oleh dokter.
"Kita mau bayar pakai apa Mas? Mika begini pasti telat untuk kemoterapi? Dan pihak pinjol terus meneleponku, Mas." ucap Citra sesenggukan. Hans lalu merangkul istrinya berusaha menenangkan. Hans hanya bisa terdiam. Ia juga tidak bisa menyalahkan Citra atas pinjaman itu karena 9 tahun bertahan dengan gaji seperti itu tidak cukup. Meskipun seharusnya Citra tetap bisa bergaya hidup sederhana tanpa gengsi.
"Aku akan ke kantor sebentar. Siapa tahu aku bisa mendapatkan pinjaman. Kamu disini saja ya, kalau ada apa-apa hubungi aku."
"Iya Mas."
Hans pun segera pergi ke kantor. Yang seharusnya jam 8 sudah masuk, Hans nekat datang jam 10. Ia pun langsung menuju ruang Raina.
Tok tok tok! Hans mengetuk pintu ruangan Raina.
"Masuk!" Sahut Raina dari dalam.
"Madam, saya....,"
"Jam berapa ini Hans? Sepertinya kamu memang ingin aku pecat." Nada suara Raina yang tegas, ditambah tatapan matanya yang tajam membuat Hans tersudut.
"Maaf Madam. Saya terlambat karena putri saya tiba-tiba pingsan dan saya harus membawanya ke rumah sakit. Saya ingin meminjam uang perusahaan untuk biaya pengobatan putri saya." Hans langsung berterus terang tanpa berbelit-belit lagi. Karena tidak ada waktu lagi untuk basa-basi. Dan hanya ini satu-satunya cara untuk mendapatkan uang.
"Memangnya sakit apa putrimu?"
"Kanker otak stadium 3. Saya sudah tidak punya uang lagi untuk membiayai pengobatannya. Saya sudah tidak tahu harus cari pinjaman kemana Madam. Motor saya pun sudah diambil oleh rentenir karena saya belum bisa membayar uang pinjaman. Saya tidak tahu lagi, Madam." Ucap Hans dengan suara bergetar, matanya pun sudah basah. Jujur saja Raina merasa kasihan dengan Hans tapi tetap Raina tidak boleh menunjukkan sisi lemahnya. Raina lalu beranjak dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Hans.
"Dasar lemah!" Sinis Raina. Hans lalu berlutut dihadapan Raina.
"Saya memang lemah, Madam. Saya memang lemah. Saya suami sekaligus Ayah yang tidak berguna. Bahkan tidak bisa di banggakan. Tapi apapun akan saya lakukan demi kesembuhan putri saya. Saya rela bekerja tidak di gaji seumur hidup saya demi kesembuhan putri saya. Saya akan lakukan apapun Madam."
"Aku akan membantumu tapi kamu yakin akan melakukan apa saja untukku?" Mendengar ucapan Raina serasa mendapat secercah harapan.
"Iya Madam. Apapun itu, sekalipun nyawa saya taruhannya."
"Baiklah. Kalau begitu jadilah suamiku."
"Hah?" Hans amat sangat terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Raina. Hans pikir kalai Raina akan memperkerjakannya tanpa gaji tapi ternyata permintaan Raina sungguh di luar nalarnya.
#Bersambung... Jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Alamsyah Ujang
aku juga mau, wkwkwk
2024-05-29
0
Selena Endut
Eehhhh lanjut
2023-08-22
0
AR Althafunisa
walau dikatakan selingkuh juga Hans, dia lewat menikah dan agar bisa mendapatkan uang buat semua termasuk hutang istrinya. Lah.. istrinya udah selingkuh, punya duit juga pelit hanya buat dirinya sendiri 🤦
2023-08-08
1