Hans segera kembali keruangannya untuk memperbaiknya.
"Ternyata dia Nona Raina, madam devil. Tapi saat bertemu dengannya, dia seperti sosok dua orang berbeda. Kemarin terlihat lembut dan tenang tapi sekarang, seperti elang yang ingin menerkam." Gumam Hans dalam hati. Hans pun segera memperbaiki laporannya. Dan setelah semuanya beres, Hans lalu pergi ke ruangan Raina.
"Ini madam, sudah saya perbaiki." Ucap Hans seraya memberikan laporannya pada Raina. Raina langsung mengeceknya.
"Good! Aku harap ini adalah keselahan yang pertama dan terakhir. Dan ingat, setiap hari dan setiap jam 4 sore, laporan ini sudah ada di mejaku. Kamu sendiri yang harus membawanya keruanganku."
"Iya Madam. Sekali lagi saya minta maaf atas keteledoran saya."
"Oke, kamu bisa pergi."
"Iya Madam, permisi." Hans kemudian berlalu meninggalkan ruangan Raina.
Sementara itu Citra dan Mikayla baru saja sampai rumah setelah selesai kemoterapi.
"Bunda, aku lapar."
"Oke. Bunda akan masak untuk kamu."
"Aku tunggu sambil nonton televisi ya, Bun."
"Iya sayang." Citra kemudian segera pergi menuju dapur. Citra memasak telur balado untuk dirinya dan Mikayla. Karena ia juga merasa lapar. Saat ini masakan itulah yang paling cepat daripada mie instan. Setelah siap, Citra lalu mengajak Mikayla untuk makan siang bersama.
"Jadi kangen Ayah, Bun. Biasanya jam segini sudah pulang," celetuk Mikayla sambil mengunyah makanan.
"Iya juga ya. Biasanya jam 2 Ayah sudah di rumah. Ya sudah, kamu habiskan makanannya setelah itu istirahat ya."
"Iya Bun."
Drrtt drrtt drrt ponsel Citra bergetar, tanda pesan masuk.
<Citra, bagaimana kabarmu? Kenapa sejak kemarin kamu tidak menghubungi aku?>~ Andra. Citra mendesah mendapati pesan dari Andra. Citra lalu membalasnya. Citra berniat ingin menyudahi semuanya.
<Aku baik kok. Aku harap kamu juga sudah pulih. Andra, aku rasa semuanya sampai disini saja. Anggap saja apa yang kita lakukan adalah sebuah kekhilafan. Aku mau fokus pada kesehatan Mikayla dan juga aku merasa bersalah pada suamiku. Terima kasih untuk kebaikanmu. Maaf.> Citra. Mendapati pesan dari Citra yang cukup panjang, membuat Andra merasa kecewa. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Meskipun Andra tahu dan sadar, apa yang ia dan Citra lakukan adalah sebuah kesalahan besar.
<Baiklah, kalau itu mau mu. Maafkan aku juga karena lancang merayumu. Satu hal yang harus kamu tahu, saat kamu butuh dan menginginkan aku, datanglah padaku tanpa ragu, Citra. Karena perasaan ku tulus. Terima kasih juga untuk beberapa hari terakhir. Semoga putrimu segera sembuh.>~ Andra. Membaca pesan balasan dari Andra, Citra juga merasakan sedih. Tapi bagaimanapun juga, ia tidak boleh menghianati suaminya. Apalagi sekarang pekerjaan suaminya bisa diandalkan.
Tepat jam 7 malam, Hans sampai di rumah.
"Ayah pulang!" seru Hans.
"Ayah!" Mikayla yang sedang asyik nonton televisi langsung menghambur kepelukan Ayahnya.
"Ayah, Mika kangen."
"Ayah juga kangen sama kamu, sayang. Kamu sudah makan? Apa kepalanya masih sakit?"
"Masih Ayah. Tapi kalau sudah minum obat, sakitnya jadi reda."
"Berarti kamu harus teratur minum obatnya ya."
"Iya Ayah."
"Mas, sini aku bawakan tasmu." Citra menyambut suaminya dengan hangat. Hans tentu saja sangat senang karena istrinya kembali perhatian.
"Terima kasih sayang."
"Mas, aku sudah siapkan makan malam untukmu."
"Iya, aku mandi dulu saja baru makan. Gerah semuanya."
"Ya sudah kalau begitu."
Selesai makan malam, Hans duduk diteras rumah. Memikirkan uang yang sudah habis. Ia tidak tahu lagi, harus mencari uang dimana lagi. Sedangkan masih ada 11 sesi kemoterapi dan biayanya semakin mahal saja.
"Mas, memikirkan apa?" Citra datang menyusul sambil membawa secangkir kopi.
"Uang sudah habis, Cit. Aku pikir 20 juta cukup tapi ternyata masih kurang."
Citra mendesah, wajahnya mulai kesal. "Terus, besok mesti puasa lagi, gitu?"
"Kan masih ada banyak bahan makanan di kulkas."
"Terus Mika bagaimana, Mas? Ini baru dua sesi. Tunggu kamu gajian juga masih lama."
"Ya sudahlah, nanti aku pikirkan lagi."
Keesokan harinya, sebelum berangkat kerja. Hans kembali menemui Bang Jack lagi untuk meminjam uang. Hans terpaksa meminjam uang lagi pada Bang Jack karena sudah tidak ada jalan lain.
"Dari mana kamu Mas?" tanya Citra saat melihat suaminya masuk ke dalam rumah. Hans lalu menarik tangan Citra, mengajaknya bicara di kamar.
"Aku pinjam uang lagi."
"APA? Di Bang Jack lagi?" mata Citra membulat.
"Iya. Aku tidak ada pilihan. Kasihan Mikayla kalau pengobatannya berhenti."
"Kamu pinjam berapa? Aku juga butuh uang, Mas."
"Tiga puluh juta. Kamu butuh uang buat apa?"
"Mas, aku mau ke salon."
"Ya ampun, kamu ini tidak mengerti kondisi sama sekali. Ini uang untuk kita pakai makan biaya pengobatan Mika, Citra."
"Tapi aku juga capek, Mas. Aku butuh refreshing."
"Memangnya untuk ke salon butuh uang berapa?"
"Sini, sebaiknya uangnya aku yang bawa. Aku yang mengatur semuanya." Tanpa persetujuan Hans, Citra merebut amplop coklat dari tangan Hans.
"Sayang, jangan kamu habiskan."
"Sudah, kamu tenang saja. Nggak percayaan banget sama istri," ketus Citra.
"Bukannya nggak percaya, gaji aku sebelumnya juga semua aku berikan sama kamu kan? Aku cuma mau pesan, hati-hati. Karena gajiku bulan depan, sudah aku berikn semua untuk membayar hutang Bang Jack ini. Dua BPKB motor sudah aku jaminkan."
"Ya sudahlah Mas, tidak apa. Yang penting kita punya uang untuk pengobatan Mika dan untuk hidup. Nggak menderita lagi. Aku mau masak dulu, buat sarapan."
Hans, hanya bisa mengalah dengan sikap istrinya. Berharap, Citra benar-benar bisa mengatur keuangan.
Satu bulan pertama, Hans bisa membayar pinjaman dari Bang Jack. Semua gaji Hans, masuk untuk membayar hutang ke Bang Jack.
"Ini Bang, angsuran pertamanya."
"Oke, aku terima ya. Bulan depan jangan sampai telat. Telat sehari, bunganya jadi dua kali lipat."
"I-iya Bang. Terima kasih." Pulang dari Bang Jack, wajah Hans tampak kusut karena uangnya sudah habis. Hans lalu masuk ke kamar Mikayla. Iaa melihat putri kecilnya menangis di depan cermin.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Ayah, lihat ini." Mikayla menunjukkan rambutnya yang rontok pada Ayahnya. Hans langsung memeluk putrinya.
"Ayah, kenapa rambutku seperti ini? Kenapa rontok?"
"Kata dokter, itu efek kemoterapi, sayang. Itu tanda obatnya sudah bekerja." Hans mencoba kuat meskipun ia sendiri sangat terluka.
"Apa benar Yah? Apa rambutku akan habis?"
"Tidak sayang." Jawab Hans dengan suara bergetar.
"Sudah ya, jangan menangis. Sekarang kamu tidur ya. Bunda kamu mana?"
"Bunda keluar sebentar membeli pulsa."
"Ya sudah, kalau begitu Ayah temani kamu ya." Hans kemudian menyeka air mata putrinya. Kini, pikirannya semakin kalut. Uang darimana lagi sekarang? Setelah Mikayla terlelap, Hans mencoba menghibur diri dengan menonton televisi. Ia melirik kearah jam dan sudah tiga puluh menit Citra belum kembali.
"Kemana ini si Citra? Beli pulsa tapi lama sekali." Batin Hans. Tak lama kemudian terdengar suara motot Citra.
"Mika sudah tidur Mas?"
"Sudah. Kamu darimana saja? Katanya beli pulsa kok lama."
"Eee... itu Mas, tadi ketemu sama Rani jadi ngobrol sebentar. Biasalah mahmud." Ucap Citra dengan gugup seraya masuk ke dalam kamar. Hans lalu mematikan televisi dan berlalu menuju kamar menyusul Citra.
"Citra, aku sudah tidak ada uang. Uang kemarin masih kan? Tiga puluh juga bisa untuk tiga sesi lagi. Sedangkan Mika baru mendapat tiga sesi."
"Sudah habis lah, Mas. Kamu pikir, kita tidak butuh makan, minum, bayar air dan listrik apa? Belum lagi kalau ada kebutuhan mendadak. Dan sekarang biaya Mika semakin besar. Obatnya juga lebih mahal dari yang kemarin. Dua kali lipat dari yang kemarin, Mas. Karena dosisnya di naikkan. Pokoknya Mas, aku tidak mau tahu, semuanya tanggung jawab kamu. Karena aku juga tidak kerja. Aku mau mandi dulu, gerah."
"Malam-malam kok mandi? Bukannya sore sudah mandi?"
"Gerah, Mas." Kesal Citra seraya berlalu.
"Huft, bagaimana ini?" gumam Hans dengan segala kegundahannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Kuari Pranata
parah beut sih
2023-07-19
0
si pembaca
hy
2023-07-18
0
Molive(virgo girl)♍
iiissss klo aku yg jadi
suaminya
habisss kau,,,😤
2023-07-10
1