Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Hari yang selalu dinanti oleh Raina. Bertemu dengan pria idamannya, Hans.
"Permisi, Madam." Hans mengetuk pintu.
"Masuk!" sahut Raina. Raina memperhatikan beberapa hari ini wajah Hans tampak suntuk.
"Ini laporannya." Ucap Hans seraya menyerahkan laporan itu diatas meja Raina. Raina menerima lalu mengeceknya. Hans masih berdiri sambil meremat tangannya sendiri. Namun kali ini pandangannya kosong, ia kembali teringat rentetan hutang dan biaya pengobatan putrinya yang semakin besar.
"Hans, kamu masih mau bekerja dengan ku?" suara berat Raina, membuyarkan lamunan Hans.
"A...a i-iya Madam," Hans tergagap. Raina lalu melemparkan laporan itu pada Hans. Hans terkejut!
"Kenapa akhir-akhir ini pekerjaanmu tidak beres?" ucap Raina dengan suara meninggi. Raina beranjak dari duduknya, kemudian berdiri tepat di depan Hans. Tatapan mata Raina tampak nyalang. Sementara Hans hanya bisa menunduk.
"Ma-maaf madam."
"Sebaiknya kamu berhenti kerja saja." Ucapan Raina kali ini bagaikan sambaran petir di siang bolong.
"Madam, tolong jangan pecat saya." Hans memohon dengan suara bergetar.
"Tapi lihat pekerjaanmu tidak ada yang beres. Penjumlahanmu semuanya salah. Kamu tidak bisa berhitung? Atau mau aku ajari?" suara Raina semakin meninggi.
"Maaf Madam. Saya akan segera membenahi laporannya."
"Hans, aku tidak mau urusan pekerjaan di campur adukkan dengan urusan yang lain. Aku tidak peduli kamu punya masalah apa, yang aku mau pekerjaanmu sempurna. Sekali lagi kamu buat masalah, aku akan memecatmu detik itu juga."
"I-iya Madam, saya janji hal ini tidak akan terulang."
"Kembali ke ruanganmu dan benahi semuanya." Bentak Raina. Hans lalu memungut berkas yang jatuh lalu pergi.
"Permisi Madam."
Raina menghela nafas panjang. "Sepertinya dia sedang dalam masalah. ****, baru kali ini aku tidak bisa bersikap kejam." Raina kembali ke kursi kebesarannya, ia lalu memanggil Gita melalui sambungan interkom.
"Gita, keruanganku."
"Oke Nona." Tak lama kemudian Gita pun datang dan langsung duduk berhadapan dengan Raina.
"Ada tugas untuk saya Nona?"
"Hmmm. Cari tahu tentang Hans Dinata."
"Hah? Hans Dinata? Bukankah dia pria di mall waktu itu dan dia juga kepala gudang disini?" Gita tentu saja terkejut dengan perintah atasannya.
"Iya. Aku yang memilihnya untuk menjadi kepala gudang."
Gita tersenyum. "Nona jatuh cinta ya?"
"Menurutmu?"
"Jadi Nona serius?"
"Mana pernah aku main-main, Git. Beberapa hari ini dia tidak fokus kerja, pekerjaannya tidak ada yang beres. Tapi aku menangkap, sepertinya dia sedang ada masalah. Cari tahu semua tentang dia bahkan dari hal terkecil, termasuk siapa istri dan anaknya."
"Baiklah Nona, siap laksanakan."
"Pastikan infonya valid."
"Kalau masalah valid, Nona tenang saja. Saya tidak pernah main-main, hehehe."
"Ya sudah, kembali ke ruanganmu."
"Baik Nona, permisi." Gita pun pergi dari ruangan Raina. Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang. Raina berniat menuju gudang sebelum pulang. Begitu sampai disana, gudang sudah tampak sepi, hanya security yang masih berjaga. Security menyapa Raina.
"Madam, ada yang anda butuhkan?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin melihat saja. Tetap di tempatmu."
"Baik Madam."
Raina masuk seorang diri ke dalam gudang yang sangat besar itu. Sampai detik ini, ia tidak menyangka bisa memiliki perusahaan yang perkembangannya begitu pesat. Raina tersenyum bangga dengan pencapaiannya. Mata Raina kemudian tertuju pada ruangan milik Hans. Sesekali Raina ingin mengontrolnya. Mengingat kepala gudangnya yang lama sudah mengkhianatinya. Raina melangkahkan kakinya ke ruangan itu. Dan saat membuka ruangan itu, Raina dibuat terkejut dengan sosok pria di hadapannya. HANS. Hans tampak bertelanjang dada. Semakin terlihat jelas otot-otot di tubuhnya apalagi perutnya dan dadanya yang bidang. Ditambah rambutnya yang basah, yang belum tersisir, membuat Hans semakin terlihat seksi dan mempesona. Membuat jantung Raina berdegup semakin kencang.
"Ma-madam," Hans gugup dan segera memakai pakaiannya.
"Apa yang kamu lakukan Hans?" selidik Raina.
"Sa-saya habis mandi." Jawab Hans tergagap. Raina menatap Hans dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Madam?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengontrol saja." Ucapnya seraya duduk di kursi yang biasa Hans tempati. Pandangan Raina mengedar, ruangan itu masih sama. Hanya saja lebih rapi dan tertata.
"Apa kamu yang merapikannya?"
"I-iya Madam. Melihat sesuatu yang rapi rasanya lebih lega." Hans masih berdiri berjarak dua meter dari Raina.
"Good!" Raina lalu beranjak dari duduknya dan keluar. Namun tepat di depan Hans, kaki Raina tidak bersahabat. Lagi, ia terjatuh karena heelsnya. Beruntung Hans menangkapnya, menopang punggung Raina dengan erat.
"Aaaaa....!" Raina berteriak kecil sambil mencengkeram kuat lengan Hans. Raina menghela nafas lega, Hans menangkapnya. Mata keduanya saling bertemu. Namun Hans buru-buru membantu Raina berdiri. Ia tidak ingin dianggap melecehkan bosnya.
"Anda baik-baik saja Madam?"
"I-iya." Kali ini Raina yang menjadi gugup.
"Sebaiknya jangan memakai heels yang terlalu tinggi dan runcing Madam. Pakailah yang nyaman untuk diri anda." Hans memberi saran. Raina menatap tajam Hans. Membuat Hans menjadi serba salah.
"Maaf madam, saya tidak bermaksud."
"Santai saja." Ucap Raina seraya berlalu meninggalkan ruangan Hans. Raina memegangi dadanya, jantungnya berdegup kencang sekali.
"Huft, rasanya sesak berdekatan dengan Hans. Dan ototnya sangat menggoda. Aku tidak sabar ingin memiliknya." Batin Raina dengan segala imajinasinya.
...----------------...
Satu Minggu kemudian....
"Nona, ini semua bukti yang anda minta tentang Pak Hans Dinata." Gita memberikan bukti foto dan informasi yang valid untuk bosnya.
"Seperti perkiraan anda, Pak Hans mengalami masalah. Dulu dia seorang guru honorer. Ia mempunyai seorang putri bernama Mikayla. Anaknya sedang sakit kanker otak stadium 3. Pak Hans terjebak hutang rentenir untuk biaya pengobatan putrinya. Ditambah gaya hidup istrinya yang hedon dan gengsi dengan profesi Pak Hans yang sebelumnya sebagai guru honorer. Dan istrinya juga terjebak pinjaman online tanpa sepengetahuan Pak Hans." Jelas Gita panjang lebar bak seorang detektif. Raina dibuat terkejut dengan foto istrinya Hans.
"Ini istrinya?"
"Iya Nona. Namanya Citra."
"Aku seperti tidak asing dengan wajah ini." Raina berusaha mengingat wajah Citra.
"Oh ya Nona, ada satu foto lagi yang tidak sengaja saya tangkap. Sepertinya foto ini akan menyakitkan bagi Pak Hans."
"Foto apa itu?" tanya Raina. Gita lalu memberikan lima lembar foto pada Raina.
"Foto istri Pak Hans dengan pria lain." Ucapnya. Setelah melihat foto itu, Raina akhirnya ingat dua pasangan mesum di toilet beberapa waktu lalu.
"Saat itu anda meminta saya untuk menemui Miss Natalie di hotel, saya memilih menunggunya di lobi. Dan tidak sengaja, saya melihat istrinya Pak Hans check ini bersama pria lain. Akhirnya saya putuskan untuk mengikuti. Bahkan kami satu lift. Di dalam lift itupun mereka berciuman. Beberapa kali saya memergoki mereka bermesraan seperti dalam foto itu. Sepertinya istrinya memang selingkuh." Jelas Gita. Raina mendengus, setelah mendengar dan melihat fakta yang dibeberkan oleh Gita.
"Wanita murahan! Pasti pria ini lebih banyak uangnya. Aku ingin kamu menyelidiki siapa pria ini."
"Baik Nona. Mmmm... kasihan Pak Hans ya Nona. Saya sebagai wanita saja merasa sakit hati. Apa yang akan anda lakukan setelah ini? Apa anda akan memberitahukan pada Pak Hans kalau istrinya selingkuh?"
"Tidak. Aku tidak akan mengatakan hal itu. Aku ingin membuat dia jadi milikku. Aku akan melunasi semua hutang dan membantu biaya pengobatan putrinya sampai sembuh. Biarkan saja wanita murahan itu bermain-main. Aku yang akan mengajak suaminya bermain." Raina menyeringai.
"Baiklah Nona. Apapun keputusan anda, saya menurut saja, hehehe."
"Ya sudah, kembali sana ke ruanganmu."
"Iya Nona, saya permisi." Gita pun berlalu.
Raina melihat kembali foto-foto Citra dan Andra. Penghianatan Citra, membuatnya teringat akan penghianatan Mike dahulu.
"Pasti Hans akan sangat terluka ketika melihat foto ini. Tapi aku akan menjadi obat bahkan sebelum dirinya terluka." Gumam Raina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Selena Endut
iihhhhh iya iya lanjut
2023-08-21
0
Mul Yanah
baru kali ini aku dukung plakor 🤦
2023-07-25
1
nengkirana
pinteerrrrr
2023-07-12
1