Setelah mendapati kemarahan istrinya, Hans pun pergi keluar berusaha mencari pinjaman. Sebenarnya pantang bagi Hans untuk hutang atau mencari pinjaman, bukan apa-apa tapi Hans tidak mau semakin menambah susah hidupnya. Namun kali ini Hans tidak punya pilihan lain. Dan pinjaman yang paling mudah ia dapatkan saat ini adalah meminjam Bang Jack. Ia pun lantas pergi menuju kerumah Bang Jack. untuk meminjam uang.
"Sore Bang," sapa Hans yang melihat Bang Jack santai diteras sembari menyeruput secangkir kopi.
"Hans, ada apa? Tumben sekali, ayo duduk." Kata Bang Jack dengan ramah. Tentu saja Bang Jack bisa bersikap ramah, karena Hans adalah mangsa baru baginya.
"Begini Bang, saya langsung saja ya. Saya mau pinjam uang."
"Uang? Bukannya kamu ini PNS dan banyak tunjangannya ya? Kenapa mendadak butuh uang?" Bang Jack pun bahkan sampai mendengar berita yang dikarang oleh istrinya.
Hans tersenyum. "Anak saya sakit, Bang. Jadi butuh tambahan uang."
"Oh begitu. Butuh berapa kamu?"
"Butuh dua puluh juta, Bang."
"Tapi tahu kan bunganya berapa?"
"Berapa Bang memangnya?"
"50%." Ucap Bang Jack dengan tegas.
"APA? 50%?" Hans terkejut bukan kepalang mendengar suku bunga yang begitu besar.
"Bang, besar sekali. Di bank pada umumnya 2% saja. Itu banyak sekali, Bang."
"Aku ini bukan bank ya. Jadi jangan sama kan aku dengan bank. Kalau kamu tidak mau ya sudah. Pergi sana! Mengganggu saja." Bang Jack pun mulai marah.
"Lalu jatuh tempnya kapan Bank?"
"Untuk pinjaman 20 juta, kamu bisa mengangsurnya selama 10x tapi kalau lewat tanggal, kamu harus membayar bunganya dua kali lipat."
GLEG! Hans hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Bang Jack. Sungguh sangat mencekik karena tiap bulannya harus membayar sebesar itu beserta bunganya. Sedangkan gajinya saja tidak mencukupi untuk membayar itu. Tapi bagaimana lagi, Hans sangat membutuhkan uang. Demi Mikayla dan Citra.
"Baiklah Bang, saya bersedia." Ucap Hans dengan terpaksa.
"Oke tunggu sebentar. Setidaknya tanda tangani berkas perjanjian hutangnya. Aku ambilkan uang dan berkasnya dulu." Bang Jack pun lalu masuk ke dalam rumah untuk beberapa saat.
"Ini tanda tangan dulu dan pastikan baca dulu isinya." Kata Bang Jack. Hans mengangguk, lalu membacanya. Kata 'bunga berjalan' sungguh mencekik leher Hans tapi Hans tidak ada pilihan lagi. Mau mencari pinjaman bank, BPKB motornya tidak cukup untuk mendapat pinjaman sebanyak itu. Akhirnya dengan nekat, Hans menandatangani perjanjian hutang piutang itu.
"Sudah Bang."
"Kalau begitu mana BPKB motormu sebagai jaminan awal."
"Pakai jaminan juga Bang?"
"Iyalah. Aku bisa rugi kalau tidak ada jaminan. Kalau selama dua bulan berturut-turut kamu tidak bisa membayar, motormu aku ambil. Jadi pastikan bayar tepat waktu, kalau tidak mau ada masalah di kemudian hari. Sudah bagus motormu itu laku 20 juta denganku. Di bank tidak akan lagu." Ketus Bang Jack.
"Baik Bang, kebetulan ada di dalam bagasi motor. Saya ambilkan." Hans lalu beranjak dari duduknya dan mengambil BPKB yang tersimpan di dalam bagasi motornya.
"Ini Bang."
"Oke. Dan ini uangnya. Hitung dulu sebelum kamu pulang."
"Iya Bang. Sudah pas, terima kasih, Bang." Ucap Hans setelah memastikan uangnya cukup.
"Iya, sama-sama. Jangan lupa jatuh temponya." Pesan Bang Jack sebelum Hans pergi.
"I-iya, Bang." Hans kemudian pulang.
Sesampainya di rumah, ia langsung menuju kamar Mikayla. Ia membelai wajah putirnya yang kini sudah berusia 9 tahun. Hati orang tua mana yang tidak sakit meihat darah dagingnya menderita seperti ini.
"Seandainya bisa, biar Ayah yang menggantikan sakitmu, Nak." Ucap Hans seraya mengecup kening putrinya. Disaat yang bersamaan, Citra masuk ke dalam kamar Mikayla.
"Kamu darimana Mas?" ketus Citra karena Hans pergi tanpa pamit.
"Seperti yang kamu katakan tadi. Kita sebaiknya bicara di kamar. Jangan sampai membuat Mikayla terbangun."
"Baiklah." Citra menurut. Kini keduanya sudah duduk berdua di dalam kamar.
"Aku habis cari pinjaman untuk biaya pengobatan Mikayla." Hans menunjukkan bungkusan amplop warna coklat pada Citra. Mata Citra menghijau melihat uang warna merah itu.
"Sebanyak ini darimana Mas? Hebat juga kamu. Kalau seperti ini, aku tidak akan marah-marah lagi."
"Aku pinjam Bang Jack."
"APA? Bang Jack, rentenir itu?" Citra terbelalak kaget.
"Iya. Mau pinjam siapa lagi? Mau pinjam di bank, mana bisa. Ini bisa diangsur selama 10x dengan bunga 50%."
"Apa? 50%? Gila apa. Ngasih pinjaman atau mau mencekik."
"Aku tidak punya pilihan lain. Setidaknya ini bisa membantu Mikayla untuk sampai 3 sesi kemoterapi dari 12 sesi. Sisanya aku akan memikirkan bagaimana caranya. Kamu doakan supaya aku keterima kerja."
"Maksudnya kamu cari kerjaan lain?"
"Iya dibagian kepala gudang. Gaji dan intensivnya lumayan. AKu tadi memasukkan lewat formulir onilne. Nanti aku akan dikabari lewat email untuk datang keperusahaan sekaligus membawa civi." Mendengar ucapan suaminya, mata Citra berbinar.
"Iya Mas, pasti aku doakan. Akhirnya kamu sadar juga kalau pekerjaanmu 9 tahun itu sia-sia."
"Tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Aku tetap bangga menjadi guru honorer setidaknya aku sudah membagikan ilmu untuk anak-anak didikku."
"Terserah apa katamu, Mas. Yang penting berikan aku uang. Aku mau ke supermarket, belanja keperluan kita. Dua juta ya, Mas."
"Hah? Dua juta? Banyak sekali, Cit."
"Mas, itu untuk beli beras 1 karung, 25kg. Belum lauknya, ikan, daging, ayam, telur dan sayurannya. Minyak goreng habis dan bumbu dapur menipis. Kamu pikir tidak pusing apa. Sedangkan kita harus menyeimbangkan gizi makanan untuk Mikayla. Masa iya tiap hari makan tempe terus." Cerocos Citra dengan segala kekesalannya. Hans mendesah, ia lalu memberikan uang 2 juta pada Citra.
"Tolong ya Cit, kamu harus berhemat. Nanti kalau aku diterima, kita bisa menjalankan kehidupan sesuai yang kamu inginkan dan bantu doa juga."
"Iya-iya. Aku doakan supaya kamu diterima dan kita tidak menderita lagi. Sekarang aku mau belanja, kamu temani Mikayla."
"Iya. Kamu hati-hati."
"Oh ya Mas, minta tambahan 500 ribu lagi."
"Untuk apa?" Hans mengernyitkan dahinya.
"Untuk beli skincare. Skincare ku sudah mulai habis." Lagi, Hans hanya bisa mendesah dan memberikan uang 500 ribu dengan pasrah.
"Kamu sudah cantik tanpa skincare, Citra. Lihatlah, Mikayla saja sangat cantik."
"Iya tapi tetap saja cantik butuh dirawat, Mas. Kalau aku cantik, kamu bangga juga dong jadi suami aku. Aku cantik dan pandai merawat badan aku." Ucap Citra seraya memakai sweater dan make up tipis di wajahnya.
"Citra, setidaknya berikan aku ciuman sebelum kamu pergi. Kita sudah lama tidak melakukannya." Pinta Hans dengan wajah memelas. Citra lalu memberikan kecupan sekilas di pipi Hans.
"Untuk itu nanti saja kalau kamu sudah diterima kerja. Aku pergi dulu." Citra kemudian berlalu begitu saja. Hanya untuk meminta dilayani saja, Citra harus menegosiasi dengan pekerjaan. Hans hanya bisa bersabar dan mencoba memahami istrinya. Hans sendiri juga bukan terlahir dari keluarga kaya. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Rumah yang ia tempati pun adalah rumah peninggalan kedua orang tuanya. Hans membiayai kuliahnya dengan cara bekerja paruh waktu. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama begitu melihat Citra. Gayung pun bersambut. Saat itu Citra kagum dengan pria pekerja keras seperti Hans. Karena dalam benak Citra saat itu, pasti Hans adalah sosok pria yang bertanggung jawab dan setia jadi tidak ada keraguan untuk menambatkan hati pada Hans. Setelah dua tahun pacaran, mereka memutuskan untuk menikah hingga akhirnya tepat satu tahun pernikahan, lahirlah Mikayla Putri Dinata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Nur Dina Abdilla
hmmmm...
sabar ya Hans...
2023-09-27
0
Turifatul Hasanah
nyimak dulu
2023-08-30
0
Mami Ani Aryani
dasar istri bedebah kau citra
2023-08-25
0