Setelah dari rumah Andra, Citra segera pulang dan tak lupa ia menyempatkan membeli makanan untuk suaminya.
"Pasti Mas Hans sudah dirumah. Apa yang baru saja aku lakukan dengan Andra tadi." Gumanya sambil tetap fokus mengendarai motornya. Karena tidak terburu masak, Citra memutuskan untuk membeli soto saja. Begitu sampai rumah, ia melihat Hans keluar dari kamar. Ada rasa bersalah menyeruak saat melihat wajah suaminya. Setelah makan siang, Hans mengajak Citra untuk bercinta karena Hans sudah diterima kerja. Karena sudah janji, Citra pun mengiyakan. Selama berhubungan, justru bayangan bercintanya dengan Andra melintas di kepalanya.
"Mas Hans, memang tidak sehebat Andra. Sudah nafkah kecil, servis tidak memuaskan. Citra sadar, dia suamimu!" batin Citra berontak. Meskipun lelah karena untuk pertama kalinya dalam waktu dua jam, ia bercinta dengan pria lain namun Citra tetap melayani suaminya, meskipun gairahnya tidak sama seperti saat bersama Andra.
"Sayang, nanti sore kita jemput Mikayla. Sekalian, aku mau mengajak kalian jalan-jalan. Ya anggap saja, ini sebagai perayaan kecil aku diterima kerja."
"Kamu serius Mas?" rona wajah bahagia terpancar dari wajah Citra.
"Iya sayang. Kita ke mall."
"Aku senang sekali Mas, mendengarnya. Ya sudah Mas, aku siap-siap dulu ya." Ucap Citra penuh dengan semangat.
"Iya." Jawab Hans. Hans, senang sekali melihat senyum dan keceriaan Citra seperti dulu. Ia berharap bisa memberikan nafkah yang layak untuk istrinya.
"Tidak apalah, aku pakai sedikit uang pinjaman dari Bang Jack untuk menyenangkan istri dan anakku. Toh nanti saat gajian, gajiku masih bisa membayar hutangku pada Bang Jack." Batin Hans.
Setelah menjemput Mikayla, mereka bertiga dengan naik motor segera menuju mall. Selama perjalanan, Citra membayangkan betapa bahagianya jika punya mobil. Kemana-mana tidak kehujanan, kepanasan bahkan aman dari sapuan debu.
"Mas, nanti beli mobil ya. Mika kan makin besar jadi kita butuh mobil supaya bisa pergi kemana-mana bertiga."
"Iya Citra, doakan saja. Sekarang kita fokus pada kesehatan Mika. Doakan Ayah juga ya Mika."
"Pasti Ayah. Aku sudah bersyukur bisa naik motor daripada jalan kaki."
"Anak Ayah memang sangat bijak."
"Hmmm Ayah sama anak saja. Nggak pingin apa jadi orang kaya," gerutu Citra dalam hati.
Sesampainya di mall, Hans lalu menuju toko baju dan sepatu. Ia ingin membelikan semua itu untuk Mikayla. Mikayla senang sekali karena sudah lama Ayahnya tidak membelikannya baju dan sepatu. Setelah urusan Mikayla selesai, kini Citra yang merengek untuk dibelikan baju, tas dan sepatu.
"Sayang, silahkan kalau mau beli. Tapi maaf ya belum bisa memberikan yang branded."
"Tidak apa-apa Mas. Yang penting aku bisa belanja. Sembilan tahun lho Mas, aku menahan untuk tidak belanja seperti ini. Padahal saat masih single dulu, hampir tiap bulan aku beli baju." Ucapan Citra begitu pedas dan menohok. Tapi Hans juga tidak mau membantah karena memang begitulah kenyataannya. Setelah puas berbelanja, Hans mengajak istri dan anaknya untuk makan di restoran yang ada di mall tersebut. Citra begitu semangat dan antusias. Ia seperti burung yang terlepas dari sangkarnya.
"Sayang, kamu pesan saja ya. Aku sama kayak kamu saja. Aku mau ke toilet."
"Iya Mas."
"Mika, sama Bunda dulu ya."
"Iya Ayah."
Hans kemudian beranjak dan pergi menuju toilet untuk buang air kecil. Beberapa menit kemudian ia keluar dari toilet. Toilet pria dan wanita yang bersebelahan dan hanya berjarak 5 meter saja, membuat pandangan Hans tertuju pada seseorang. Seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet. Raina! Ya wanita itu aadalah Raina. Raina tampak kesulitan berjalan dilihat dari tangannya yang merayap pada dinding untuk berpegangan. Sementara tangan kirinya berusaha meraih kakinya namun kesulitan karena mini dress yang ia pakai sangat ketat. Dan terlihat sepatu yang tergeletak di lantai dengan heels yang sudah patah.
"Itu kan wanita kemarin yang sempat aku tolong. Sepertinya dia kesakitan." Gumam Hans. Hans kemudian berjalan mendekati Raina.
"Permisi Nona!" Hans sedikit memiringkan kepalanya, memastikan bahwa itu adalah Raina. Rambut panjang Raina yang tergerai kedepan, membuat Hans agak ragu juga. Ditambah kepala Raina yang menunduk kebawah melihat kearah kakinya. Mendengar suara Hans, Raina mendongak. Ia terkejut karena Hans ada dihadapannya.
"Lho, kam-kamu!"
"Ah, iya Nona. Kebetulan sekali kita bertemu kembali. Ada yang bisa saya bantu? Sepertinya anda kesulitan." Kata Hans.
"Iya. Heels sepatuku patah dan membuat kaki ku terkilir." Kata Raina sambil meringis menahan sakit. Pandangan Hans mengedar, mencoba mencari tempat duduk.
"Kita duduk disana saja Nona. Maaf ya." Hans lalu mengalungkan tangan Raina ke bahunya sementara tangan kirinya meraih pinggang Raina. Raina terkejut untuk pertama kalinya merasakan sentuhan seorang pria yang begitu lembut setelah sekian lama. Raina yang biasanya tidak mudah disentuh pria, tiba-tiba takluk dihadapan Hans. Setelah mendudukkan Raina, Hans melepaskan jaketnya dan meletakkannya di pangkuan Raina. Supaya paha mulus dan seksi Raina tidak terekspose. Ya, Raina dibuat kagum dengan sikap Hans yang sopan dan sangat lembut.
"Nona, maaf. Ijinkan saya untuk melihat kaki Nona."
"I-iya silahkan." Kata Raina. Hans duduk dibawah, di hadapan Raina dengan menekuk satu kakinya. Lalu diangkatnya kaki Raina di pahanya.
"Kakinya sangat mulus dan sangat lembut. Seperti kulit bayi." Batin Hans saat pertama kali menyentuh kaki Raina.
"Tangannya terasa kasar tapi aku suka. Sepertinya dia sosok pria yang pekerja keras. Lihat saja otot tangannya begitu menggoda," batin Raina sambil menatap Hans dalam diam.
"Aahhh, sakit," rintih Raina.
"Tahan ya Nona. Sepertinya hanya terkilir biasa." Ucap Hans sembari memijit kaki Raina.
"Sekarang anda coba putar pergelangan kaki, anda."
"Iya." Raina mencoba memutarnya dan ternyata sudah tidak sakit lagi.
"Wah, kamu hebat ya. Sudah tidak sakit lagi. Terima kasih sekali." Kata Raina dengan senyum lebarnya.
"Sama-sama Nona."
"Nona Raina!" seru Gita seraya berlari kearah Raina.
"Lega rasanya bisa bertemu Nona," Gita terengah. Matanya lalu tertuju pada sosok tampan Hans.
"Heels ku patah dan kaki ku terkilir. Dia menolongku." Jelas Raina pada asprinya.
"Terima kasih Tuan sudah menolong atasan saya." Kata Gita.
"Klien kita sudah datang Nona. Saya panik saat anda tidak kembali dari toilet."
"Maaf, kalau begitu saya permisi. Anak dan istri saya menunggu."
"Iya, terima kasih." Kata Raina.
"Oh ya Nona. Ini sapu tangan milik anda. Sudah saya cuci."
"Tidak usah kamu kembalikan. Ambil saja. Karena aku sudah tidak membutuhkannya." Mendengar ucapan Raina yang terdengar dingin, membuat Hans meremas sapu tangan itu dan memasukkan kembali ke dalam sakunya.
"Baiklah Nona, terima kasih." Hans kemudian berlalu dan segera kembali pada anak dan istrinya. Raina terus menatap Hans, sampai Hans tidak terlihat lagi di pandangannya. Gita menatap heran kearah bosnya.
"Nona, jangan bilang anda menyukainya." Ucap Gita dengan sorot mata penuh rasa penasaran.
"Iya, aku menyukainya. Dia pria yang pertama kali membuatku merasa hangat setelah sekian lama."
"Lalu sapu tangan Nona, kenapa ada padanya?"
"Dia yang menolongku juga tadi saat mobilku mogok."
"WOW, sepertinya takdir ya. Tapi dia sudah punya istri dan anak, Nona."
"Memangnya kenapa? Aku bisa memilikinya tanpa dia harus meninggalkan keluarganya." Ucap Raina dengan senyum menyeringai.
"Ya, terserah Nona. Tapi kita harus kembali karena klien sudah menunggu."
"Tidak lihat sepatuku patah? Belikan sana dulu," ketus Raina.
"I-iya Nona."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Nurasiah
belikan dulu sana
2023-09-02
0
Devi Handayani
wow sepertinya sudah ada program pelakor diotak anda ya raina😏😏😏😏
2023-08-22
1
Selena Endut
ayo raina ,,rebut hans
2023-08-20
0