Dua bulan sudah, Hans bekerja disana. Namun gaji bulan ini, langsung Hans pakai untuk pengobatan putrinya. Sampai ia lupa kalau batas pembayaran sudah lewat satu minggu. Pagi-pagi sekali Bang Jack dan kedua anak buahnya yang berbadan kekar, menyatroni rumah Hans.
"Hans! Buka pintunya." Suara Bang Jack menggedor pintu rumah Hans. Hans yang hendak berangkat kerja segera membukanya.
"Bbb-Bang Jack," Hans tergagap.
"Angsuran kedua mana? Ini sudah telat satu minggu." Ucap Bang Jack dengan suara meninggi.
"Bang, saya belum ada uang. Uang gajian, sudah saya pakai untuk biaya pengobatan anak saya."
"Aku tidak peduli. Ini tagihanmu bersama bunganya." Bang Jack lalu menunjukkan rincian hutang milik Hans. Mata Hans membulat sempurna melihat nominalnya yang begitu fantastis.
"Bang, ini kok 40 juta lebih?" ucapnya tergagap.
"Matamu buta apa? Kamu tidak bisa baca. Hutang pokokmu 50 juta dengan bunga 50%. Tiap bulan kalau tidak telat, kamu membayar 7,5 juta. Karena kamu telat, jadi bunganya menjadi dua kali lipat perhari. Kamu juga sudah menandatangani kesepakatan itu kan?"
"Ada apa Mas?" suara Citra yang baru pulang dari belanja. Dengan wajah putus asa, Hans memberikan rincian pinjamannya pada Citra.
"Ini pinjaman atau pemerasan Bang?" Citra langsung naik pitam mendapati semua rincian pinjaman itu.
"Suamimu sudah sepakat jadi aku hanya menagih. Bunga naik menjadi dua kali lipat jika telat satu hari. Sedangkan Hans sudah telat satu minggu. Aku akan membawa dua motor kalian ini sebagai jaminan."
"Jangan Bang, ini satu-satunya kendaraan kami." Cegah Hans.
"Aku tidak peduli. Motormu saja kalau aku jual tidak sampai segitu. Ingat ya, dua motor ini cuma membayar 25% dari hutang kalian. Bunganya pun masih terus berjalan kalau sampai kalian tidak bisa membayarnya tepat waktu." Bang Jack memberi kode pada anak buahnya untuk membawa kedua motor Hans.
"Jangan Bang!" Hans memegangi motornya. Namun dua anak buah Bang Jack langsung memberikan bogem mentah pada Hans. Membuat Hans tersungkur ke lantai.
"Ingat ya, jangan sampai telat!" Bang Jack dan kedua anak buahnya pergi setelah berhasil membawa dua motornya. Bukannya membantu Hans bangun, Citra malah marah.
"Semua ini karena kamu, Mas. Sekarang kita naik apa? Hah? Makin menderita hidupku." Marah Citra dengan menumpahkan air mata kekesalannya. Hans bergeming, ia kemudian berusaha bangkit. Dan tiba-tiba datang lagi seseorang, yaitu kurir.
"Maaf Pak, apa benar ini rumah Ibu Citra?" tanya si kurir.
"Oh saya, Mas."
"Ini ada paket." Ucap si kurir.
"Terima kasih." Kurir pun pergi. Citra bingung saat menerima paket beramplop coklat. Citra kemudian langsung membukanya. Iya, itu adalah tagihan dari pinjol. Citra terkejut melihat tagihannya. Melihat Citra terpaku, Hans megambil kertas yang di pegang oleh Citra. Hans semakin terkejut dibuatnya karena tagihan itu menyentuh angka 100 juta. Hans menatap Citra penuh amarah, ia lalu menarik Citra dan membawanya ke kamar.
"Apalagi ini Citra? Ini apa?" tanya Hans dengan suara bergetar menahan tangis. Citra menunduk tidak berani menatap Hans.
"Apa semua uang ini untuk memenuhi gaya hidupmu? Iya?" ucapnya lagi penuh penekanan.
Citra menghela. "Iya. Memangnya kenapa? Selain gaya hidup untuk tambahan belanja juga."
"Tapi kenapa sebanyak ini, Citra? Sedangkan kita makan juga itu-itu saja. Ya ampun, Citra. Sekarang bagaimana cara kita membayarnya. Pihak pinjol akan menempuh jalur hukum. Ini sudah menunggak berapa tahun? Kamu tahu juga kan, kalau pinjol itu tiap hari berbunga? Belum ini rincian belanja mu yang kamu kredit."
"Mas, sekarang kamu pikir. Gaji 600 ribu di tambah 1,5 juta, cukup tidak untuk satu bulan? Anggap saja uang makan kita sehari 30 ribu, kamu kali satu bulan. Ketemu berapa? Belum uang jajan Mika, membayar buku sekolah, uang listrik, air, kebutuhan ku sendiri dan kebutuhan yang tidak bisa di prediksi, kamu pikir itu semua cukup? Kamu pikir aku tetap cantik dan badanku bagus karena apa? Ya, karena uang itu lah. Gajimu tidak bisa merawat tubuhku. Kita bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun karena pinjol juga."
"Tapi kenapa kamu tidak diskusi dengan ku?"
"Memangnya kamu akan membolehkan aku? Tidak kan?"
"Iyalah, aku tidak akan mengijinkan karena pemasukan kita hanya cukup untuk makan. Seharusnya dari awal, kamu jujur saja kalau aku cuma guru honorer dan gaji ku kecil. Untuk apa kamu bohong dan gengsi mengakuinya. Kamu lebih mementingkan gengsi dan gaya hidup dari pada ketenangan hidup."
"Terus saja salahkan aku, Mas. Semua ini salah kamu yang tidak becus mencari nafkah. Aku sudah mengingatkanmu tapi kamu tetap keras kepala. Jual saja rumah mu ini." Kata Citra dengan seenaknya.
"Apa? Enak saja kamu bicara Citra. Ini rumah peninggalan orang tuaku."
"Terus, mau apalagi? Mikayla butuh banyak biaya. Belum juga hutang sama Bang Jack. Pokoknya kamu lunasi semua. Itu semua tanggung jawabmu. Kamu melarang ku untuk kerja juga kan?"
"Citra!" bentak Hans. Untuk pertama kalinya Hans membentak Citra. Mata Citra berkaca-kaca mendengar Hans membentaknya. Ia kemudian keluar kamar dan justru melihat Mikayla berdiri di depan pintu.
"Ayah dan Bunda bertengkar karena aku?" tanya Mikayla dengan mata yang sudah basah. Citra hanya terdiam sambil menatap wajah putrinya. Mendengar suara Mikayla, Hans langsung keluar.
"Ayah, Bunda, aku berhenti berobat saja. Minum obat pereda nyeri juga sudah cukup. Aku tidak mau Ayah dan Bunda bertengkar karena aku." Ucapan Mikayla sungguh menusuk hati Hans. Hans langsung memeluk putrinya.
"Tidak sayang. Apapun akan Ayah lakukan untuk menyembuhkan kamu. Kami bertengkar bukan karena kamu. Percaya sama Ayah ya." Hans mencoba menenangkan putrinya. Sementara Citra langsung berlalu ke dapur begitu saja. Rasanya muak melihat wajah Hans.
"Tapi kenapa Ayah dan Bunda bertengkar? Aku beban ya untuk Ayah dan Bunda?" Mikayla sesenggukan dalam dekapan sang Ayah.
"Kamu bukan beban tapi kamu justru anugerah untuk kami. Sekarang kita sarapan dulu ya."
"Tadi Bang Jack juga marah sama Ayah dan mengambil motor kita. Aku dengar semuanya Ayah." Hans tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa memeluk putrinya sambil menahan air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya.
"Mika, ayo sarapan." Ketus Citra sambil membawa membawa tiga telur ceplok untuk mereka bertiga.
"Nanti kamu antar Mika ke sekolah, Mas. Aku tidak mau kepanasan menunggu angkot." Kata Citra penuh dengan penekanan.
"Iya," singkat Hans. Setelah sarapan, Hans dan Mikayla pun berangkat.
*****
"Madam, kita ada meeting di steak house. Miss Natalie yang sudah anda tunggu kedatangannya."
"Oke, siapkan semuanya Ren."
"Siap Madam."
Raina dan Reno pun berangkat ke steak house tersebut untuk membicarakan masalah kerja sama. Meeting para wanita cantik itupun berjalan lancar. Namun sesekali tampak Miss Natalie mencuri pandang pada Reno.
"Kenapa Miss? Kamu tertarik dengan sekretarisku?" Raina mencoba menggoda Miss Natalie sambil melirik kearah Reno. Reno merasa malu dan hanya menyunggingkan senyum tipisnya.
"Tidak usah malu, Miss. Apalah arti perbedaan usia," sambung Raina.
"Ah, sudahlah. Jangan menggodaku, Raina."
"Baiklah kalau begitu aku ke toilet dulu. Pembicaraan bisnis sudah selesai jadi kalian bisa mengobrol." Kata Raina yang berusaha memberikan waktu pada Natalie untuk berdua dengan Reno. Raina beranjak dari duduknya dan menuju toilet. Toilet tampak sepi namun Raina mendengar suara pria dan wanita di salah satu bilik.
"Citra, aku ingin sekarang."
"Andra, kita selesaikan makan dulu. Kenapa kamu menyusulku kemari? Ada orang di luar."
"Aku tidak peduli." Andra lalu ******* bibir Citra dan meraup kedua gunung kembar milik Citra, sampai suara rintihan manja Citra menyeruak.
"Gila!" Raina mengumpat. Raina lalu mengetuk bilik itu.
"Permisi! Bisakah kalian keluar? Suara kalian sangat mengganggu. Setidaknya teruskanlah di hotel. Daripada aku panggilkan petugas dan menangkap kalian." Mendengar ancaman Raina, Citra dan Andra membeku. Cita segera merapikan kembali pakaiannya, begitu juga Andra. Keduanya kemudian keluar.
"Maaf Nona. Kekasihku ini tidak sabaran." Ucap Citra malu-malu seraya berlalu di ikuti oleh Andra.
Raina menghela. "Tidak sanggup menyewa hotel apa? Sampai bermain di toilet." Gumamnya setelah Citra dan Andra berlalu. Raina tidak tahu jika wanita itu adalah istri Hans.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Selena Endut
edannnnnnn lnajott
2023-08-21
0
Molive(virgo girl)♍
iihhh tuh cewek bikin emosi saja
😤😤😤
2023-07-10
0
Daffa Mukaffa
seru banget
2023-07-05
0