"Citra, aku menginginkamu." Ucap Andra sambil menatap Citra dengan penuh harap.
"Andra, ini tidak benar." Citra berusaha untuk menghindar.
"Aku tahu Citra. Tapi aku sangat membutuhkanmu. Dua tahun menduda, aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Aku merindukan kemesraan kita dulu." Ucapan Andra membuat Citra mengingat kembali gaya pacaran keduanya yang terbilang vulgar. Meskipun Andra dan Citra tidak sampai melakukan hubungan layaknya suami-istri. Karena prinsip Citra, separah-parahnya ia berpacaran, jangan sampai mahkota kesuciannya direnggut pria lain selain suaminya.
"Pasti suami mu sangat beruntung, bisa mendapatkan mahkota kesucianmu." Sambungnya.
"Andra, jangan! Sebaiknya kamu duduk dan aku lanjutkan memasak."
"Cit, aku mohon. Aku ingin yang seperti dulu. Anggap saja ini sebagai obat pelepas rindu. Sekali ini saja, Cit. Aku tidak masalah jika harus berbagi dengan suami mu." Tatapan memelas Andra tidak kuasa membuat Citra menolak ajakannya. Dan Citra pun terbujuk oleh rayuan Andra. Dan kembali, mereka saling memagut. Tangan Andra mulai turun ke area gunung kembar yang tampak menonjol dibalik t-shirt ketat warna pink. Andra memainkan sesuatu dibalik t-shirt itu tanpa melepas pagutannya. Membuat Citra menggeliat nikmat. Tangan Andra kemudian perlahan menaikkan rok plisket selutut milik Citra. Tiba-tiba tangan Citra menahannya.
"Jangan Andra!"
"Ijinkan aku menyentuh dan melihatnya Cit. Meskipun aku bukan yang pertama." Ucap Andra memelas. Lagi, Citra menyetujui permintaan Andra. Andra kembali memagut Citra. Tangan Andra sudah menelusup dibalik t-shirt milik Citra. Ia meraba dan memainkan puncaknya. Sudah lama gairah Citra hilang namun kali ini Andra yang berhasil membangkitkan gairahnya. Nafas Citra naik turun, merasakan suhu tubuhnya sudah terasa sangat panas. Andra langsung membuka t-shirt Citra. Citra menurut. Setelah itu dibukanya pengait bra milik Citra dan tampaklah gunung kembar yang masih kokoh sekalipun Citra sudah memiliki seorang anak.
"Andra, aku malu." Citra menutupnya dengan kedua tangannya.
"Tidak usah malu. Dulu aku juga sudah pernah mencicipinya kecuali yang bawah. Tapi dulu masih kecil dan sekarang makin montok." Goda Andra. Andra lalu melahap bukit kembar itu dengan sangat rakus. Citra mendesis sambil menekan kepala Andra pada gunung kembarnya. Andra yang sudah tidak sabar, menggendong tubuh Citra dan membawa Citra ke kamar tamu yang ada di lantai bawah. Andra kembali memagut bibir Citra sambil mere-mas dua gunung kembar itu dengan sedikit kasar. Andra kali ini telah dikuasai oleh gai-rah. Citra kini sudah tanpa busana. Untuk pertama kalinya, Citra tanpa busana di depan pria yang bukan suaminya.
"Andra, haruskah kita melakukannya?"
"Citra, lebih baik aku melakukannya denganmu daripada dengan wanita lain."
"Tapi ini salah, Ndra. Aku sudah bersuami."
"Dimataku kamu tetap wanita sempurna. Aku lah yang menggodamu. Kalau kita tidak punya hubungan masa lalu, kamu juga pasti akan menolaknya, bukan? Sudah berapa lama kamu tidak bergairah, Citra?" ucapan Andra seolah menjawab apa yang Citra rasakan saat ini.
"Su-sudah sangat lama. Terlalu banyak beban di bahuku yang tidak bisa aku katakan, sampai aku tidak merasakan gairah apapun pada suamiku."
"Hei, jangan menyalahkan dirimu. Aku akan membuatmu kembali ceria seperti dulu. Lepaskan dirimu kali ini, Citra. Luapkan semua emosimu dalam bercinta. Aku jamin, kamu akan merasa lebih lega. Kalau suamimu tidak bisa membuatmu bergairah, aku yang akan membangkitkan gairahmu." Andra kembali memagut bibir Citra. Andra kemudian merebahkan tubuh Citra. Ia menciumi tubuh Citra mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Citra mengeluarkan erangan tanpa ragu. Tangan Andra menyentuh titik sensitif Citra dengan lembut. Andra tersenyum karena milik Citra sudah sangat basah.
"Andra,,,,,"
"Lepaskan semua tanpa ragu, Citra. Kita akan terbang bersama." Andra lalu membuka lebar kaki Citra dan menekuknya. Dan mereka pun melakukan hubungan yang tidak semestinya. Citra akui, ia merasa lebih puas dengan Andra. Andra bisa membuatnya mencapai puncak kenikmatan berkali-kali. Sedangkan Hans, hanya sekali saja membuatnya mencapai puncak dan itupun terasa sulit.
"Aku tahu, aku kesal dan malas dengan suamiku karena ia begitu keras kepala bertahan dengan gaji 600 ribu tapi tidak seharusnya aku melakukan hal seperti. Tapi, Andra, memang luar biasa." Batin Citra setelah melakukan hubungan terlarang itu.
"Citra, kamu nikmat sekali. Terima kasih ya." Nafas keduanya masih tersengal akibat pergulatan hebat itu. Andra lalu memiringkan tubuhnya, ditatapnya Citra yang masih terdiam sambil menatap langit-langit kamar Andra.
"Maafkan aku. Aku sudah tidak tahan lagi, Citra. Aku mencintaimu." Mendengar semua itu, Citra masih terdiam. Sekilas terlintas wajah Hans. Suami yang begitu ia cintai namun karena nafkah yang pas-pasan membuat Citra membencinya. Dan setelah itu terlintas wajah Mikayla. Hasil buah cintanya dengan Hans.
"Aku adalah istri dan ibu yang terkutuk," batinnya merutuki dirinya sendiri.
"Sudah berapa lama suamimu tidak menyentuhmu? Rasanya tadi cukup sempit." Mendengar ucapan Andra, Citra tidak bisa menjawab. Karena selama ini ia yang lebih sering menolak ajakan suaminya. Ia menoleh ke arah Andra sambil tersenyum tipis.
"Ndra, aku mau mandi dulu."
"Kita mandi sama-sama. Sepertinya obat paling manjur adalah dirimu." Ucap Andra. Dan lagi, Citra tidak bisa menolak. Di dalam kamar mandi pun, Andra merayunya hingga keduanya melakukan hubungan terlarang itu kembali. Dua jam sudah mereka saling bergulat, setelah itu Citra kembali membuatkan bubur untuk Andra. Kali ini Andra tidak mengganggunya dan membiarkan Citra untuk memasak karena ia juga sudah lapar. Jam pun sudah menunjukkan pukul 13.00 siang.
"Aku pulang dulu ya. Aku harus menyiapkan makan untuk suamiku."
"Cium aku dulu, Cit." Pinta Andra sambil menyodorkan wajahnya. Citra lalu mengecup pipi Andra.
"Bukan di pipi tapi di sini," ucap Andra sambil mengetuk bibirnya. Citra menurut dan memberikan kecupan sekilas. Namun Andra langsung menahannya dan memagut kembali bibir Citra. Lagi, Citra merasa berdesir dan membalas ciuman Andra. Hampir lima menit keduanya saling berciuman.
"Cukup, Ndra." Citra mendorong pelan tubuh Andra.
"Aku pulang dulu."
"Tunggu!"
"Apalagi?" kata Citra dengan wajah yang sudah tampak lelah karena dua jam di hajar oleh Andra. Andra mengeluarkan 10 lembar uang 100ribuan pada Citra.
"Ini untuk belanjamu hari ini."
Citra mendecih. "Aku bukan pelacur Andra. Kamu habis memakai ku lalu membayarku. Simpan saja uangmu." Citra segera berlalu meninggalkan rumah Andra.
##FLASHBACK OFF
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Alamsyah Ujang
kalau sudah di pakai laki lain, kalau bukan pelacur apa namanya.....
2024-05-29
0
Devi Handayani
ntar klo udah kehilangan hans baru kau rasa citraaa😏😏😏😏
2023-08-22
0
Selena Endut
lamjt lgi ...
2023-08-20
0