Selesai wawancara, Hans pergi sejenak disebuah cafe hanya untuk menikmati secangkir kopi. Melepaskan penat sejenak. Diambilnya sapu tangan dari sakunya untuk menyeka keringatnya. Dan ia teringat si pemilik sapu tangan itu. Sapu tangan itu sangat harum. Aroma parfum musk yang memiliki ciri-ciri perempuan berkarakter mandiri dan tangguh sama seperti Raina.
"Oh ya, bagaimana aku mengembalikan ini? Aku bahkan tidak tahu namanya." Gumam Hans. Sekali lagi, Hans mencium aroma parfum itu.
"Sadar Hans! Jangan gila kamu." Gumamnya. Setelah menghabiskan secangkir kopi, Hans pun segera pulang. Karena sudah waktunya untuk makan siang. Citra pasti sudah menyiapkan makan siang untuknya, begitulah yang ada dalam benak Hans. Begitu sampai rumah, Hans melihat rumah tampak sepi.
"Apa Citra masih di rumah Ibunya?" gumamnya seraya masuk kamar dan berganti pakaian. Tak lama kemudian terdengar suara motor Citra memasuki halaman rumah.
"Kamu baru pulang Cit?"
"I-iya Mas, maaf ya. Oh ya tadi aku beliin kamu soto. Soalnya aku belum sempat masak."
"Ya sudah tidak apa-apa."
"Kamu duduk saja, biar aku siapkan." Ucap Citra seraya berlalu menuju dapur. Tak lama kemudian, Citra membawa mangkok dan nasi untuk Hans. Tak lupa segelas es teh yang begitu pas untuk cuaca yang begitu terik hari ini.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah, tadi makan di rumah Ibu. Mika mau nginap di sana katanya."
"Obatnya sudah kamu bawakan?"
"Sudah semua. Bagaimana hasil wawancara tadi?"
"Semua lancar, doakan saja ya supaya aku bisa lolos."
"Amin." Jawab Citra dengan begitu antusias. Namun Hans merasa aneh pada Citra karena tidak biasanya Citra seramah ini. Tapi sudahlah, bukankah wajah ramah itu yang dinginkan oleh Hans? Disaat yang bersamaan, notifikasi pesan masuk. Mata Hans berbinar, senyumnya merekah seketika.
"Sayang, lihatlah ini." Kata Hans sambil memberikan ponselnya pada Citra. Mata Citra ikut berkaca-kaca melihat isi pesan itu.
"Mas, kamu diterima!" seru Citra.
"Iya sayang. Aku tidak menyangka akan mendapat pemberitahuan secepat ini. Alhamdulillah."
"Selamat ya Mas, aku senang sekali mendengarnya."
"Semua ini berkat doa kamu juga. Jadi kamu tidak usah cari kerja ya. Kamu jaga Mikayla saja di rumah."
"Iya Mas."
"Apa aku boleh meminta sayang?"
"Meminta apa Mas?"
"Meminta pelayanan di atas ranjang. Sudah lama sekali kita tidak melakukannya. Untuk satu bulan sekali pun sudah sangat jarang."
"Karena sudah janji, aku akan menepati janjiku. Selesaikan dulu makanmu, Mas. Aku tunggu di kamar." Ucap Citra dengan senyum lebarnya. Hans mengangguk penuh semangat. Selesai makan, Hans segera menuju kamar. Ia melihat Citra memakai baju seksi yang sudah sangat lama tidak pernah Citra pakai. Citra duduk di depan meja riasnya. Hans mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. Hans kemudian mengecup leher istrinya dengan lembut. Membuat Citra mendesah kecil. Hans lalu memutar tubuh istrinya. Mengangkat dagu Citra dan mengecup bibir Citra dengan lembut. Sejujurnya Citra merasa seperti tidak ada gairah melayani Hans tapi walau bagaimanapun Hans adalah suaminya. Yang ada dalam benak Citra saat ini adalah wajah Andra. Ya, Citra melayani Hans karena membayangkan bahwa Hans adalah Andra.
"Maafkan aku Mas, untuk pertama kalinya aku membayangkan pria lain saat bercinta denganmu." Batin Citra saat junior Hans menghentak kuat rahimnya.
"Sayang, aku merindukanmu. Arrghhh....!" desah Hans dengan nafas memburu sambil terus mengeluar masukkan juniornya.
"Aku juga, Mas. Lebih cepat, Mas." Desah Citra. Hans mempercepat gerakannya dengan meremas kedua bukit kenyal milik Citra yang begitu ia rindukan. Hans menyesapnya, menjilatnya dan memberikan gigitan kecil. Akhirnya mereka berdua sampai pada klimaksnya. Hans pun langsung tergeletak disamping tubuh Citra.
"Terima kasih, sayang." Hans lalu memeluk Citra.
"Sama-sama Mas." Ucap Citra. Chika menatap wajah yang terpejam itu.
"Maafkan aku, Mas." Batin Citra penuh sesal.
##FLASHBACK ON
<Citra, kamu sibuk tidak?> ~ Andra.
<Aku baru saja mengantar Mikayla ke rumah neneknya. Ada apa Andra?>~ Citra.
<Cit, kamu bisa ke rumahku. Aku sedang tidak enak badan>~ Citra.
Citra dibuat terkejut dengan permintaan Andra. Seharusnya Andra tahu kalau dirinya sudah menjadi istri orang lain.
<Maafkan aku, Cit. Tidak seharusnya aku meminta bantuanmu. Aku lupa kalau kamu sudah bersuami>~ Andra.
<Iya aku akan datang. Share lokasi ya>~ Citra.
<Terima kasih ya>~ Andra.
<Sama-sama. Anggap saja aku membalas kebaikanmu kemarin>~ Citra.
Andra senang sekali mendapat balasan dari Citra. Sejak bertemu Citra kemarin, Andra terus terbayang-bayang wajah Citra. Semua kenangan tentang Citra muncul kembali dalam benaknya. Terutama disaat keduanya melakukan ciuman pertama. Setelah mengantar Mikayla ke rumah orang tuanya, tadinya Citra ingin segera pulang namun pesan dari Andra membuatnya mengurungkan niatnya untuk pulang.
Dua puluh menit kemudian, Citra akhirnya sampai di rumah Andra. Rumah yang sangat besar dengan dua lantai. Halaman depannya sangat luas dengan taman buatan disisi kiri, sementara disisi kanan carport yang menuju ke arah garasi rumah. Citra lalu menekan bel pintu rumah Andra. Tentu saja berbeda jauh dengan rumah suaminya. Rumah ini seperti rumah impiannya yang pernah ia ceritakan pada Andra saat keduanya masih pacaran.
Ting tung! Ting Tung! Andra langsung membuka pintu begitu mendengar bel rumahnya. Andra langsung tersenyum melihat Citra sudah ada dihadapannya.
"Terima kasih sudah mau datang. Masuk Cit." Kata Andra.
"Wajah kamu pucat, Ndra." Ucapnya mengikuti langkah Andra menuju ruang tengah.
"Iya. Aku ijin sakit. Semalam aku demam."
"Kamu sendirian?"
"Iya, sama siapa lagi. Duduklah! Aku akan membuatkanmu minuman."
"Tidak usah repot-repot, Ndra. Kamu duduk saja. Apa yang bisa aku bantu?"
"Dulu saat aku demam, kamu sering membuatkan ku bubur ayam. Kamu bisa tidak membuatkan ku sekarang. Aku belum makan sampai sekarang."
"Ini sudah jam berapa kamu kok belum makan?"
"Beginilah nasib duda yang merana, Cit." Kata Andra terkekeh.
"Makanya nikah, Ndra. Ya sudah aku buatkan sebentar ya."
"Iya, langsung ke dapur saja." Kata Andra. Begitu masuk ke rumah Andra, Citra tidak merasa asing dengan desain interior rumah itu. Dulu saat masih pacaran, Andra dan Citra sedang berkhayal tentang rumah impian mereka setelah menikah nanti. Citra lalu menggambarkan rumah impiannya dan menunjukkannya pada Andra. Dan bagian yang paling penting adalah dapur. Dari dulu Citra ingin sekali memiliki dapur cantik. Karena ia suka memasak jadi ia ingin betah saat berada di dapur. Dan dapur Andra, sama persis dengan yang ia inginkan. Citra tersenyum sendiri mengingat itu semua. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggang Citra dari belakang. Aroma parfum Andra sejak dulu tidak pernah berubah. Citra dibuat terkejut dengan sikap Andra.
"Andra, apa yang kamu lakukan?"
"Lakukan saja pekerjaanmu, Citra. Aku merindukanmu dan ingin memelukmu. Kamu pasti sedang bingung dengan rumah ini kan? Desain rumah ini seperti rumah impianmu dulu. Aku bahkan masih menyimpannya dengan rapi. Perkenalanku dengan Adel sangatlah singkat karena sejujurnya saat mendengar kamu menikah, aku kecewa. Namun keputusanku menikah buru-buru juga salah. Adel tidak sebaik yang aku pikirkan. Aku sangat terluka saat itu. Adel bersahabat dengan dunia malam. Dan kerap kali pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Sungguh berbeda dengan dirimu yang lembut dan penyayang. Saat itu aku berharap bisa membuka lembaran baru bersama Adel namun ternyata aku salah. Aku kecewa dan terluka untuk kedua kalinya. Meskipun aku sudah memberikannya seorang anak tapi aku tidak tahu entah itu anak biologis ku atau tidak. Karena sebelum menikah, Adel mengaku sudah tidak perawan karena dia pernah di lecehkan. Aku Pun menerima semua kekurangannya tapi balasan Adel malah menyakitkan." Mendengar semua cerita Andra, membuat Citra merasa sedih. Hati Andra pasti sangat sakit. Citra lalu memutar tubuhnya, melihat mata Andra sudah basah.
"Andra, kamu pria yang baik. Kamu akan mendapatkan yang baik juga. Kamu sudah sukses sekarang. Sebaiknya kamu duduk dan aku akan melanjutkan membuatkan bubur untukmu."
"Citra," lirih Andra.
"Ya...," Andra meraih dagu Citra dan mendaratkan bibirnya pada bibir Citra. Mata Citra terbelalak mendapat ciuman dari Andra. Andra meraih tengkuk Citra dan memperdalam ciumannya sampai akhirnya Citra membalas ******* Andra. Entah setan apa yang merasuki Citra, membuatnya mengalungkan kedua tangannya pada leher Andra. Citra merasakan tubuh Andra masih hangat. Ciuman keduanya semakin dalam dan intens. Lidah Andra mencoba menerobos masuk ke rongga mulut Citra. Citra membukanya dengan suka rela hingga akhirnya lidah keduanya saling berdansa di dalam sana. Nafas keduanya memburu terbawa nafsu. Sudah lama sekali Citra tidak merasakan ciuman sehangat ini. Masalah berat dalam hidupnya, membuat Citra malas untuk bersentuhan dengan suaminya. Lima menit sudah mereka saling berpagut. Citra perlahan melepaskan diri pagutan Andra.
"Maaf Andra, tidak seharusnya aku melakukan ini. Aku akan membuatkanmu bubur dan mmphhhh,,,," Andra kembali ******* bibir Citra. Andra meraih pinggang Citra, lalu mengangkat tubuh Citra di atas meja dapur berlapis marmer itu. Menduda selama dua tahun membuat Andra merindukan sentuhan wanita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Dewi Soraya
waduh....
2023-08-24
0
Devi Handayani
tuh benerkan setan jahanam👹👹👹👹
2023-08-22
1
Devi Handayani
wallaahh godaan syaitan yg terkutuk ini mahhh😓😓😓😓😓
2023-08-22
1