Begitu sampai rumah, Citra segera memasak dan menyiapkan makan malam, setelah sebelumnya melihat Hans tertidur di kamar Mikayla. Mikayla pun masih tampak pulas sejak siang tadi.
"Terima kasih ya Bunda, untuk makan malamnya. Sudah lama sekali aku tidak makan ayam." Ucap Mikayla yang makan dengan lahapnya. Ucapan Mikayla membuat Hans merasa bersalah karena belum bisa membahagiakan putrinya.
"Sama-sama, sayang. Makan yang banyak ya." Kata Citra sambil mengelus kepalanya. Citra melirik sinis kearah Hans. Hans hanya diam dan mengerti arti lirikan sinis istrinya.
"Lumayan, uang 2,5 juta ku masih utuh. Aku bisa membayar pinjolku yang sudah menunggak banyak." Batin Citra.
Selesai makan malam, Hans segera ke kamarnya. Saat mendengar notifikasi email masuk, mata Hans berbinar melihat pesan dari perusahaan kosmetik itu. Disaat yang bersamaan, Citra masuk ke dalam kamar. Hans langsung memeluk istrinya.
"Sayang, aku mendapat panggilan dari perusahaan itu."
"Syukurlah, Mas." Jawab Citra datar bahkan tidak membalas pelukan suaminya.
"Kamu kok biasa saja sih seperti tidak senang."
"Kan baru panggilan, belum tentu diterima."
"Kamu bukannya mendoakan malah bicara begitu."
"Aku sudah capek berdoa, Mas. Kalau kamu masih stuck disitu saja ya percuma." Ucap Citra seraya berbaring. Andra hanya bisa menatap punggung istrinya dengan memelas. Namun semangat Andra kembali bangkit demi Mikayla. Ia kemudian menyiapkan civi dan baju yang bagus untuk datang ke perusahaan besok. Setelah semuanya siap, Andra pun akhirnya tidur sambil memeluk istrinya dari belakang. Namun tiba-tiba saja, Citra melepaskan pelukan Hans. Dan hal itu membuat Hans sangat kecewa.
"Mas, aku mau tidur bersama Mikayla. Kasihan dia kalau sendirian." Kata Citra seraya bangkit dari atas tempat tidur.
"Ya sudah kalau begitu." Hans hanya bisa pasrah karena Citra masih belum menerimanya. Citra kemudian menuju ke kamar Mikayla, tak lupa ia membawa ponselnya. Melihat putrinya tertidur, membuat Citra merasa kasihan.
"Kamu pasti sembuh sayang." Citra mengecup kening putrinya.
Drrt drrt drrt ponsel Citra bergetar, tanda pesan masuk. Mata Citra membulat saat melihat nama Andra.
<Malam Citra, kamu sudah tidur? Bagaimana putrimu?>~Andra.
<Malam Andra. Aku baru saja mau tidur. Mikayla sudah tertidur. Terima kasih ya sudah membayar semua belanjaanku. Itu jumlahnya tidak sedikit dan akupun tadi sudah membawa uang>~ Citra.
<Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantumu. Putrimu membutuhkan gizi yang cukup untuk masa penyembuhannya. Kamu juga jaga kesehatan ya dan kuatlah untuk putrimu. Kalau butuh bantuan, hubungi saja aku>~ Andra.
<Iya, Ndra. Terima kasih untuk bantuanmu. Kamu juga istirahat. Selamat malam>~ Citra.
<Selamat malam juga, Cit. Tidur yang nyenyak dan jangan memikirkan aku, hehehe>~ Andra. Citra senyum-senyum sendiri mendapati pesan dari Andre. Kembali teringat akan masa-masa indah mereka berdua.
"Citra, sadar! Kamu sudah punya suami. Mas Hans juga tidak kalah tampan dari Andra, hanya saja nasibnya tak seberuntung Andra. Jangan macam-macam, Citra." Batin Citra dalam hati.
Keesokan harinya, Citra menyiapkan sarapan seperti biasa.
"Mikayla, doakan Ayah ya supaya Ayah bisa diterima bekerja di tempat baru."
"Ayah sudah tidak jadi guru lagi?"
"Ayah ingin mencoba hal baru."
"Padahal aku senang dan bangga memiliki Ayah seorang guru. Pasti ini karena Mika ya, Yah? Mika sakit dan Ayah butuh uang banyak."
"Tidak sayang. Sama sekali bukan karena kamu. Gaji guru masih cukup kok untuk membayar biaya pengobatan kamu."
"Mika, profesi guru honorer Ayah kamu tidak menjamin masa depan kita."
"Memang semua itu kan untuk pengabdian, Bunda. Balasannya di akhirat nanti."
"Dunia dan akhirat harus seimbang, Mika. Kamu makan saja, kamu tidak akan mengerti." Kesal Citra.
"Iya Bunda."
"Anak Ayah memang bijak," kata Hans seraya mengelus kepala putri semata wayangnya.
"Ayah, aku mau ke rumah nenek. Boleh kan?"
"Boleh kok. Nanti biar Bunda yang antar."
"Tapi ingat ya, kamu tidak boleh capek-capek dan harus minum obat secara teratur."
"Iya, Ayah."
Selesai sarapan, Hans berangkat dengan langkah penuh keyakinan untuk diterima kerja. Namun ditengah perjalanan, Hans melihat sebuah mobil berhenti dengan asap mengepul. Hans menghentikan motornya dan menghampiri mobil itu. Hans melihat seorang wanita yang sangat cantik. Rambut pirang, kulit putih dan hidung mancung, seperti blesteran.
"Permisi Nona, ada yang bisa saya bantu." Hans menawarkan bantuan. Raina, seketika dibuat terpsona dengan penampilan Hans pagi tu. Tampak segar, fresh, rapi dan tampan. Lengan kemeja yang ia gulung memperlihatkan otot tangannya yang menandakan bahwa Hans adalah sosok pria pekerja keras.
"Ah, iya. Aku tidak tahu kenapa mobilku berasap begini." Ucap Raina.
"Permisi Nona. Sebaiknya anda menepi dulu, biar saya periksa." Ucap Hans. Raina mengangguk dan menuruti perintah Hans. Setelah memeriksa ternyata air radiator mobil Raina habis.
"Maaf Nona, ada air mineral?"
"Untuk apa?"
"Air radiator mobil anda habis."
"Tapi tidak ada. Aku sudah menelepon asistenku tapi dia tidak menjawab panggilanku." Ucap Raina dengan kesal. Hans mengedarkan pandangannya, ia melihat toko kelontong di seberang jalan.
"Nona tunggu disini, saya beli air dulu."
"Eh tung...," belum selesai bicara, Hans sudah menyeberang jalan begitu saja. Tak lama kemudian, Hans pun kembali dan segera mengisikan air radiator pada mobil Raina.
"Sudah beres Nona." Kata Hans seraya menutup kembali kap mesin. Tampak peluh membasahi wajah tampan Hans. Raina lalu mengambil tasnya di dalam mobil dan memberikan beberapa lembar uang warna merah untuk Hans.
"Ini untukmu. Terima kasih."
"Tidak usah, Nona. Saya ikhlas membantu anda."
"Tidak apa, ambil saja. Aku tidak mau merasa balas budi."
"Saya tidak menganggapnya seperti itu. Maaf saya harus buru-buru karena ini adalah wawancara kerja pertama saya. Permisi." Ucapnya seraya berlalu.
"Tunggu!" Langkah kaki Hans terhenti.
"Setidaknya terimalah sapu tangan ini untuk menyeka keringatmu. Tidak mungkin kamu wawancara dengan wajah berkeringat seperti itu." Ucap Raina sambil menyodorkan sebuah sapu tangan. Hans tersenyum dan menerima sapu tangan itu.
"Terima kasih Nona." Hans pun segera pergi.
"Sempurna! Sepertinya dia sangat hangat. Aku menginginkannya." Batin Raina. Raina segera melajukan mobilnya dan menuju sebuah restoran untuk meeting. Wajahnya tampak marah saat melihat Gita berdiri di depan pintu restoran.
"Darimana saja kamu? Dimana ponselmu?" tanya Raina ketus.
"Ma-maaf Nona, ponselku ketinggalan di rumah." Gita tertunduk merasa bersalah.
"Kenapa tidak kepalamu saja yang ketinggalan?"
"Hah? Mati dong saya, Nona." Ceplos Gita. Mata Raina melotot mendengar ucapan Gita.
"Hehehe, maaf Nona. Bercanda." Kata Gita. Raina kemudian berlalu menuju ruang VIP di restoran itu, di ikuti oleh Gita di belakangnya. Selesi rapat dan makan siang, Raina dan Gita kembali ke kantor.
"Nona kenapa tidak memakai jasa supir saja? Kalau ada apa-apa di jalan seperti tadi, sudah ada yang membantu." Ucap Gita sembari tetap fokus menyetir.
"Aku belum butuh. Aku masih bisa melakukannya sendiri." Mendengar jawaban atasannya, Gita hanya bisa mengangguk saja. Karena jawaban Raina masih sama sejak dulu.
Sesampainya di kantor, Raina langsung menuju ruangannya.
"Permisi Nona." Ucap bagian HRD.
"Iya ada apa?"
"Ini berkas pelamar bagian kepala gudang hari ini. Ada beberapa yang lolos seleksi dan tinggal menunggu keputusan dari anda. Dan ini rekaman wawancara hari ini." Ucap Nita bagian HRD sembari menyerahkan dokumen dan flashdisk pada Raina.
"Letakkan saja. Aku akan memeriksanya nanti." Kata Raina.
"Kalau begiru saya permisi." Kata Nita. Raina hanya mengangguk saja. Raina lalu menyandarkan kepalanya pada punggung kursi, ia memejamkan matanya sejenak. Tiba-tiba terlintas bayangan Hans dalam benaknya. Seketika Raina membuka matanya.
"Oh tidak! Kenapa pria itu melintas dalam pikiranku?" gumamnya. Raina kemudian memilih melihat berkas dari HRD. Dan ada satu nama yang membuatnya tersenyum.
"Jadi namanya Hans Dinata. Usianya dua tahun lebih muda dariku. Tapi dia sudah menikah. Dan dia buru-buru mau wawancara diperusahaanku. Aku harus melihat vidio wawancaranya." Setelah melihat vidio wawancaranya, Raina lagi-lagi dibuat terpesona oleh cara bicara Hana yang tenang. Cara Hans public speaking pun sangat bagus.
"Baiklah, tidak apa dia beristri. Aku akan menerimanya." Gumam Raina dengan senyum penuh arti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
zee
andra atau hans??
2023-08-31
1
Selena Endut
dlanjuttt
2023-08-20
0
💗💗oppa Sehun 💗💗💗
iya nih ini baru aku dukung perselingkuhan lanjut thor semangat
2023-08-19
1