BAB 4 Awal Pertemuan

Begitu sampai rumah, Citra segera memasak dan menyiapkan makan malam, setelah sebelumnya melihat Hans tertidur di kamar Mikayla. Mikayla pun masih tampak pulas sejak siang tadi.

"Terima kasih ya Bunda, untuk makan malamnya. Sudah lama sekali aku tidak makan ayam." Ucap Mikayla yang makan dengan lahapnya. Ucapan Mikayla membuat Hans merasa bersalah karena belum bisa membahagiakan putrinya.

"Sama-sama, sayang. Makan yang banyak ya." Kata Citra sambil mengelus kepalanya. Citra melirik sinis kearah Hans. Hans hanya diam dan mengerti arti lirikan sinis istrinya.

"Lumayan, uang 2,5 juta ku masih utuh. Aku bisa membayar pinjolku yang sudah menunggak banyak." Batin Citra.

Selesai makan malam, Hans segera ke kamarnya. Saat mendengar notifikasi email masuk, mata Hans berbinar melihat pesan dari perusahaan kosmetik itu. Disaat yang bersamaan, Citra masuk ke dalam kamar. Hans langsung memeluk istrinya.

"Sayang, aku mendapat panggilan dari perusahaan itu."

"Syukurlah, Mas." Jawab Citra datar bahkan tidak membalas pelukan suaminya.

"Kamu kok biasa saja sih seperti tidak senang."

"Kan baru panggilan, belum tentu diterima."

"Kamu bukannya mendoakan malah bicara begitu."

"Aku sudah capek berdoa, Mas. Kalau kamu masih stuck disitu saja ya percuma." Ucap Citra seraya berbaring. Andra hanya bisa menatap punggung istrinya dengan memelas. Namun semangat Andra kembali bangkit demi Mikayla. Ia kemudian menyiapkan civi dan baju yang bagus untuk datang ke perusahaan besok. Setelah semuanya siap, Andra pun akhirnya tidur sambil memeluk istrinya dari belakang. Namun tiba-tiba saja, Citra melepaskan pelukan Hans. Dan hal itu membuat Hans sangat kecewa.

"Mas, aku mau tidur bersama Mikayla. Kasihan dia kalau sendirian." Kata Citra seraya bangkit dari atas tempat tidur.

"Ya sudah kalau begitu." Hans hanya bisa pasrah karena Citra masih belum menerimanya. Citra kemudian menuju ke kamar Mikayla, tak lupa ia membawa ponselnya. Melihat putrinya tertidur, membuat Citra merasa kasihan.

"Kamu pasti sembuh sayang." Citra mengecup kening putrinya.

Drrt drrt drrt ponsel Citra bergetar, tanda pesan masuk. Mata Citra membulat saat melihat nama Andra.

<Malam Citra, kamu sudah tidur? Bagaimana putrimu?>~Andra.

<Malam Andra. Aku baru saja mau tidur. Mikayla sudah tertidur. Terima kasih ya sudah membayar semua belanjaanku. Itu jumlahnya tidak sedikit dan akupun tadi sudah membawa uang>~ Citra.

<Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantumu. Putrimu membutuhkan gizi yang cukup untuk masa penyembuhannya. Kamu juga jaga kesehatan ya dan kuatlah untuk putrimu. Kalau butuh bantuan, hubungi saja aku>~ Andra.

<Iya, Ndra. Terima kasih untuk bantuanmu. Kamu juga istirahat. Selamat malam>~ Citra.

<Selamat malam juga, Cit. Tidur yang nyenyak dan jangan memikirkan aku, hehehe>~ Andra. Citra senyum-senyum sendiri mendapati pesan dari Andre. Kembali teringat akan masa-masa indah mereka berdua.

"Citra, sadar! Kamu sudah punya suami. Mas Hans juga tidak kalah tampan dari Andra, hanya saja nasibnya tak seberuntung Andra. Jangan macam-macam, Citra." Batin Citra dalam hati.

Keesokan harinya, Citra menyiapkan sarapan seperti biasa.

"Mikayla, doakan Ayah ya supaya Ayah bisa diterima bekerja di tempat baru."

"Ayah sudah tidak jadi guru lagi?"

"Ayah ingin mencoba hal baru."

"Padahal aku senang dan bangga memiliki Ayah seorang guru. Pasti ini karena Mika ya, Yah? Mika sakit dan Ayah butuh uang banyak."

"Tidak sayang. Sama sekali bukan karena kamu. Gaji guru masih cukup kok untuk membayar biaya pengobatan kamu."

"Mika, profesi guru honorer Ayah kamu tidak menjamin masa depan kita."

"Memang semua itu kan untuk pengabdian, Bunda. Balasannya di akhirat nanti."

"Dunia dan akhirat harus seimbang, Mika. Kamu makan saja, kamu tidak akan mengerti." Kesal Citra.

"Iya Bunda."

"Anak Ayah memang bijak," kata Hans seraya mengelus kepala putri semata wayangnya.

"Ayah, aku mau ke rumah nenek. Boleh kan?"

"Boleh kok. Nanti biar Bunda yang antar."

"Tapi ingat ya, kamu tidak boleh capek-capek dan harus minum obat secara teratur."

"Iya, Ayah."

Selesai sarapan, Hans berangkat dengan langkah penuh keyakinan untuk diterima kerja. Namun ditengah perjalanan, Hans melihat sebuah mobil berhenti dengan asap mengepul. Hans menghentikan motornya dan menghampiri mobil itu. Hans melihat seorang wanita yang sangat cantik. Rambut pirang, kulit putih dan hidung mancung, seperti blesteran.

"Permisi Nona, ada yang bisa saya bantu." Hans menawarkan bantuan. Raina, seketika dibuat terpsona dengan penampilan Hans pagi tu. Tampak segar, fresh, rapi dan tampan. Lengan kemeja yang ia gulung memperlihatkan otot tangannya yang menandakan bahwa Hans adalah sosok pria pekerja keras.

"Ah, iya. Aku tidak tahu kenapa mobilku berasap begini." Ucap Raina.

"Permisi Nona. Sebaiknya anda menepi dulu, biar saya periksa." Ucap Hans. Raina mengangguk dan menuruti perintah Hans. Setelah memeriksa ternyata air radiator mobil Raina habis.

"Maaf Nona, ada air mineral?"

"Untuk apa?"

"Air radiator mobil anda habis."

"Tapi tidak ada. Aku sudah menelepon asistenku tapi dia tidak menjawab panggilanku." Ucap Raina dengan kesal. Hans mengedarkan pandangannya, ia melihat toko kelontong di seberang jalan.

"Nona tunggu disini, saya beli air dulu."

"Eh tung...," belum selesai bicara, Hans sudah menyeberang jalan begitu saja. Tak lama kemudian, Hans pun kembali dan segera mengisikan air radiator pada mobil Raina.

"Sudah beres Nona." Kata Hans seraya menutup kembali kap mesin. Tampak peluh membasahi wajah tampan Hans. Raina lalu mengambil tasnya di dalam mobil dan memberikan beberapa lembar uang warna merah untuk Hans.

"Ini untukmu. Terima kasih."

"Tidak usah, Nona. Saya ikhlas membantu anda."

"Tidak apa, ambil saja. Aku tidak mau merasa balas budi."

"Saya tidak menganggapnya seperti itu. Maaf saya harus buru-buru karena ini adalah wawancara kerja pertama saya. Permisi." Ucapnya seraya berlalu.

"Tunggu!" Langkah kaki Hans terhenti.

"Setidaknya terimalah sapu tangan ini untuk menyeka keringatmu. Tidak mungkin kamu wawancara dengan wajah berkeringat seperti itu." Ucap Raina sambil menyodorkan sebuah sapu tangan. Hans tersenyum dan menerima sapu tangan itu.

"Terima kasih Nona." Hans pun segera pergi.

"Sempurna! Sepertinya dia sangat hangat. Aku menginginkannya." Batin Raina. Raina segera melajukan mobilnya dan menuju sebuah restoran untuk meeting. Wajahnya tampak marah saat melihat Gita berdiri di depan pintu restoran.

"Darimana saja kamu? Dimana ponselmu?" tanya Raina ketus.

"Ma-maaf Nona, ponselku ketinggalan di rumah." Gita tertunduk merasa bersalah.

"Kenapa tidak kepalamu saja yang ketinggalan?"

"Hah? Mati dong saya, Nona." Ceplos Gita. Mata Raina melotot mendengar ucapan Gita.

"Hehehe, maaf Nona. Bercanda." Kata Gita. Raina kemudian berlalu menuju ruang VIP di restoran itu, di ikuti oleh Gita di belakangnya. Selesi rapat dan makan siang, Raina dan Gita kembali ke kantor.

"Nona kenapa tidak memakai jasa supir saja? Kalau ada apa-apa di jalan seperti tadi, sudah ada yang membantu." Ucap Gita sembari tetap fokus menyetir.

"Aku belum butuh. Aku masih bisa melakukannya sendiri." Mendengar jawaban atasannya, Gita hanya bisa mengangguk saja. Karena jawaban Raina masih sama sejak dulu.

Sesampainya di kantor, Raina langsung menuju ruangannya.

"Permisi Nona." Ucap bagian HRD.

"Iya ada apa?"

"Ini berkas pelamar bagian kepala gudang hari ini. Ada beberapa yang lolos seleksi dan tinggal menunggu keputusan dari anda. Dan ini rekaman wawancara hari ini." Ucap Nita bagian HRD sembari menyerahkan dokumen dan flashdisk pada Raina.

"Letakkan saja. Aku akan memeriksanya nanti." Kata Raina.

"Kalau begiru saya permisi." Kata Nita. Raina hanya mengangguk saja. Raina lalu menyandarkan kepalanya pada punggung kursi, ia memejamkan matanya sejenak. Tiba-tiba terlintas bayangan Hans dalam benaknya. Seketika Raina membuka matanya.

"Oh tidak! Kenapa pria itu melintas dalam pikiranku?" gumamnya. Raina kemudian memilih melihat berkas dari HRD. Dan ada satu nama yang membuatnya tersenyum.

"Jadi namanya Hans Dinata. Usianya dua tahun lebih muda dariku. Tapi dia sudah menikah. Dan dia buru-buru mau wawancara diperusahaanku. Aku harus melihat vidio wawancaranya." Setelah melihat vidio wawancaranya, Raina lagi-lagi dibuat terpesona oleh cara bicara Hana yang tenang. Cara Hans public speaking pun sangat bagus.

"Baiklah, tidak apa dia beristri. Aku akan menerimanya." Gumam Raina dengan senyum penuh arti.

Terpopuler

Comments

zee

zee

andra atau hans??

2023-08-31

1

Selena Endut

Selena Endut

dlanjuttt

2023-08-20

0

💗💗oppa Sehun 💗💗💗

💗💗oppa Sehun 💗💗💗

iya nih ini baru aku dukung perselingkuhan lanjut thor semangat

2023-08-19

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Vonis Dokter
2 BAB 2 Mencari Pinjaman
3 BAB 3 Bertemu Mantan
4 BAB 4 Awal Pertemuan
5 BAB 5 Pengkhianatan
6 BAB 6 Kekhilafan
7 BAB 7 Menolong Raina lagi
8 BAB 8 Kegamangan Citra
9 BAB 9 Masa Lalu
10 BAB 10 Suami Psikopat
11 BAB 11 Madam Devil
12 BAB 12 Mencari pinjaman lagi
13 BAB 13 Di tagih rentenir
14 BAB 14 Bulan Pengkhianatan
15 BAB 15 Mencari tahu
16 BAB 16 Jadilah suamiku
17 BAB 17 TTD Kontrak
18 BAB 18 Menawarkan diri
19 BAB 19 Godaan Nona CEO
20 BAB 20 Tidak bisa menolak
21 BAB 21 Hasrat Menggebu
22 BAB 22 Melayani Bos
23 BAB 23 Dan terjadi lagi
24 BAB 24 Selalu Marah-Marah
25 BAB 25 Menyusul ke Bali
26 BAB 26 Takut Kehilangan
27 BAB 27 Pernikahan Kontrak
28 BAB 28 Menikmati Sunset
29 BAB 29 Pengantin Baru
30 BAB 30
31 BAB 31 Kelebihan Hans
32 BAB 32 Cemburu
33 BAB 33 Saling cemburu
34 BAB 34 Terjebak Rasa
35 BAB 35 Pelampiasan Hasrat
36 BAB 36 Mimpi Buruk
37 BAB 37 Rasa egois
38 BAB 38 Merebut Hans
39 BAB 39
40 BAB 40 Suasana Genting
41 BAB 41 Jerman
42 BAB 42 Kehiudpan Raina
43 BAB 43
44 BAB 44 Merindu
45 BAB 45 Rayuan Mantan Istri
46 BAB 46 Virtual
47 BAB 47 Mika Ingin adik???
48 BAB 48 Terbayang Raina
49 BAB 49 Tiba di Jerman
50 BAB 50 Melepas Rindu
51 BAB 51 Menghabiskan waktu bersama
52 BAB 52 Saling menyusul
53 BAB 53 Cinta yang terbagi
54 BAB 54 Gaji pertama untuk Raina
55 BAB 55 Kamu inspirasiku
56 BAB 56 Terima kasih cinta
57 BAB 57 Mengintai
58 BAB 58 CURIGA
59 BAB 59 Kembali ke Tanah Air
60 BAB 60 Manipulatif
61 BAB 61 Tersaingi
62 BAB 62 Proyek Besar
63 BAB 63 Lembur lagi
64 BAB 64 Mencuri Kesempatan
65 BAB 65 Meninjau Proyek
66 BAB 66 Hampir saja!
67 BAB 67 My Support System
68 BAB 68 Fakta Terkuak
69 BAB 69 Penggrebekan
70 BAB 70 Mengembalikan Citra
71 BAB 71 TALAK
72 BAB 72 Pergi dari Rumah
73 BAB 73 Membuka Rahasia
74 BAB 74 Dua Pria Bertemu
75 BAB 75 Mengunjungi Hans
76 BAB 76
77 Bab 77 Perubahan Sikap Mikayla
78 BAB 78 CEMBURU
79 BAB 79 MEMBENTUK TIM
80 BAB 80 Sekelumit masa lalu
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86 Taman Hiburan
87 BAB 87
88 BAB 88
89 BAB 89 Dibuat cemburu
90 BAB 90 Pengakuan!
91 BAB 91
92 BAB 92 Jodoh untuk Albert
93 BAB 93 WAS-WAS
94 BAB 94 Sidang
95 BAB 95 Semangat Hans!
96 BAB 96
97 BAB 97 POSESIF
98 BAB 98 Masih Sama
99 BAB 99 Melepas Rindu
100 BAB 100
101 BAB 101 BOOM!!!!
102 BAB 102 Melepas Dengan Ikhlas
103 Bab 103 Resmi Bercerai
104 BAB 104
105 BAB 105
106 BAB 106 Luka Batin Yang Terkuak
107 BAB 107 Saling Berbagi Luka
108 BAB 108 Syukuran Kantor
109 BAB 109 MENGINAP
110 BAB 110 PERI RAINA
111 BAB 111
112 BAB 112
113 BAB 113
114 BAB 114 Mobil Baru
115 BAB 115
116 BAB 116 Menyatu
117 BAB 117
118 BAB 118 GO PUBLIC!
119 BAB 119 Undangan Pernikahan
120 BAB 120 Merasa Iri
121 BAB 121 Menghadiri Pernikahan Mantan
122 BAB 122
123 BAB 123 Kemenangan Hans
124 BAB 124 Kekalahan Andra
125 BAB 125 SAH!!!!
126 BAB 126
127 BAB 127
128 BAB 128 TEROR
129 BAB 129
130 BAB 130
131 BAB 131
132 BAB 132
133 BAB 133
134 BAB 134
135 BAB 135
136 BAB 136
137 BAB 137
138 BAB 138
139 BAB 139
140 BAB 140
141 BAB 141
142 BAB 142 Bumil Sensitif
143 BAB 143
144 BAB 144
145 BAB 145
146 BAB 146
147 BAB 147
148 BAB 148
149 BAB 149
150 BAB 150
151 BAB 151
152 BAB 152
153 BAB 153
154 BAB 154
155 BAB 155
156 BAB 156
157 BAB 157
158 BAB 158
159 BAB 159
160 BAB 160
161 BAB 161
162 BAB 162
163 BAB 163
164 BAB 164
165 BAB 165
166 BAB 166
167 BAB 167
168 BAB 168
169 BAB 169
170 BAB 170
171 BAB 171
172 BAB 172
173 BAB 173
174 BAB 174
175 BAB 175
176 BAB 176
177 BAB 177
178 BAB 178
179 BAB 179
180 BAB 180
181 BAB 181
182 BAB 182
183 BAB 183
184 BAB 184
185 BAB 185
186 BAB 186
187 BAB 187
188 BAB 188
189 BAB 189
190 BAB 190
191 BAB 191
192 BAB 192
193 BAB 193
194 BAB 194
195 BAB 195
196 BAB 196
197 BAB 197
198 BAB 198
199 BAB 199
200 BAB 200
201 BAB 201
202 BAB 202
203 BAB 203
204 BAB 204
205 BAB 205
206 BAB 206
207 BAB 207
208 BAB 208
209 BAB 209
210 BAB 210
211 BAB 211
212 BAB 212
213 BAB 213
214 BAB 214
215 BAB 215
216 BAB 216
217 BAB 217
218 BAB 218
219 BAB 219
220 BAB 220
221 BAB 221
222 BAB 222
223 BAB 223
224 BAB 224
225 BAB 225
226 BAB 226
227 BAB 227
228 BAB 228
229 BAB 229
230 BAB 230
231 BAB 231
232 BAB 232
233 BAB 233
234 BAB 234
235 BAB 235
236 BAB 236
237 BAB 237
Episodes

Updated 237 Episodes

1
BAB 1 Vonis Dokter
2
BAB 2 Mencari Pinjaman
3
BAB 3 Bertemu Mantan
4
BAB 4 Awal Pertemuan
5
BAB 5 Pengkhianatan
6
BAB 6 Kekhilafan
7
BAB 7 Menolong Raina lagi
8
BAB 8 Kegamangan Citra
9
BAB 9 Masa Lalu
10
BAB 10 Suami Psikopat
11
BAB 11 Madam Devil
12
BAB 12 Mencari pinjaman lagi
13
BAB 13 Di tagih rentenir
14
BAB 14 Bulan Pengkhianatan
15
BAB 15 Mencari tahu
16
BAB 16 Jadilah suamiku
17
BAB 17 TTD Kontrak
18
BAB 18 Menawarkan diri
19
BAB 19 Godaan Nona CEO
20
BAB 20 Tidak bisa menolak
21
BAB 21 Hasrat Menggebu
22
BAB 22 Melayani Bos
23
BAB 23 Dan terjadi lagi
24
BAB 24 Selalu Marah-Marah
25
BAB 25 Menyusul ke Bali
26
BAB 26 Takut Kehilangan
27
BAB 27 Pernikahan Kontrak
28
BAB 28 Menikmati Sunset
29
BAB 29 Pengantin Baru
30
BAB 30
31
BAB 31 Kelebihan Hans
32
BAB 32 Cemburu
33
BAB 33 Saling cemburu
34
BAB 34 Terjebak Rasa
35
BAB 35 Pelampiasan Hasrat
36
BAB 36 Mimpi Buruk
37
BAB 37 Rasa egois
38
BAB 38 Merebut Hans
39
BAB 39
40
BAB 40 Suasana Genting
41
BAB 41 Jerman
42
BAB 42 Kehiudpan Raina
43
BAB 43
44
BAB 44 Merindu
45
BAB 45 Rayuan Mantan Istri
46
BAB 46 Virtual
47
BAB 47 Mika Ingin adik???
48
BAB 48 Terbayang Raina
49
BAB 49 Tiba di Jerman
50
BAB 50 Melepas Rindu
51
BAB 51 Menghabiskan waktu bersama
52
BAB 52 Saling menyusul
53
BAB 53 Cinta yang terbagi
54
BAB 54 Gaji pertama untuk Raina
55
BAB 55 Kamu inspirasiku
56
BAB 56 Terima kasih cinta
57
BAB 57 Mengintai
58
BAB 58 CURIGA
59
BAB 59 Kembali ke Tanah Air
60
BAB 60 Manipulatif
61
BAB 61 Tersaingi
62
BAB 62 Proyek Besar
63
BAB 63 Lembur lagi
64
BAB 64 Mencuri Kesempatan
65
BAB 65 Meninjau Proyek
66
BAB 66 Hampir saja!
67
BAB 67 My Support System
68
BAB 68 Fakta Terkuak
69
BAB 69 Penggrebekan
70
BAB 70 Mengembalikan Citra
71
BAB 71 TALAK
72
BAB 72 Pergi dari Rumah
73
BAB 73 Membuka Rahasia
74
BAB 74 Dua Pria Bertemu
75
BAB 75 Mengunjungi Hans
76
BAB 76
77
Bab 77 Perubahan Sikap Mikayla
78
BAB 78 CEMBURU
79
BAB 79 MEMBENTUK TIM
80
BAB 80 Sekelumit masa lalu
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86 Taman Hiburan
87
BAB 87
88
BAB 88
89
BAB 89 Dibuat cemburu
90
BAB 90 Pengakuan!
91
BAB 91
92
BAB 92 Jodoh untuk Albert
93
BAB 93 WAS-WAS
94
BAB 94 Sidang
95
BAB 95 Semangat Hans!
96
BAB 96
97
BAB 97 POSESIF
98
BAB 98 Masih Sama
99
BAB 99 Melepas Rindu
100
BAB 100
101
BAB 101 BOOM!!!!
102
BAB 102 Melepas Dengan Ikhlas
103
Bab 103 Resmi Bercerai
104
BAB 104
105
BAB 105
106
BAB 106 Luka Batin Yang Terkuak
107
BAB 107 Saling Berbagi Luka
108
BAB 108 Syukuran Kantor
109
BAB 109 MENGINAP
110
BAB 110 PERI RAINA
111
BAB 111
112
BAB 112
113
BAB 113
114
BAB 114 Mobil Baru
115
BAB 115
116
BAB 116 Menyatu
117
BAB 117
118
BAB 118 GO PUBLIC!
119
BAB 119 Undangan Pernikahan
120
BAB 120 Merasa Iri
121
BAB 121 Menghadiri Pernikahan Mantan
122
BAB 122
123
BAB 123 Kemenangan Hans
124
BAB 124 Kekalahan Andra
125
BAB 125 SAH!!!!
126
BAB 126
127
BAB 127
128
BAB 128 TEROR
129
BAB 129
130
BAB 130
131
BAB 131
132
BAB 132
133
BAB 133
134
BAB 134
135
BAB 135
136
BAB 136
137
BAB 137
138
BAB 138
139
BAB 139
140
BAB 140
141
BAB 141
142
BAB 142 Bumil Sensitif
143
BAB 143
144
BAB 144
145
BAB 145
146
BAB 146
147
BAB 147
148
BAB 148
149
BAB 149
150
BAB 150
151
BAB 151
152
BAB 152
153
BAB 153
154
BAB 154
155
BAB 155
156
BAB 156
157
BAB 157
158
BAB 158
159
BAB 159
160
BAB 160
161
BAB 161
162
BAB 162
163
BAB 163
164
BAB 164
165
BAB 165
166
BAB 166
167
BAB 167
168
BAB 168
169
BAB 169
170
BAB 170
171
BAB 171
172
BAB 172
173
BAB 173
174
BAB 174
175
BAB 175
176
BAB 176
177
BAB 177
178
BAB 178
179
BAB 179
180
BAB 180
181
BAB 181
182
BAB 182
183
BAB 183
184
BAB 184
185
BAB 185
186
BAB 186
187
BAB 187
188
BAB 188
189
BAB 189
190
BAB 190
191
BAB 191
192
BAB 192
193
BAB 193
194
BAB 194
195
BAB 195
196
BAB 196
197
BAB 197
198
BAB 198
199
BAB 199
200
BAB 200
201
BAB 201
202
BAB 202
203
BAB 203
204
BAB 204
205
BAB 205
206
BAB 206
207
BAB 207
208
BAB 208
209
BAB 209
210
BAB 210
211
BAB 211
212
BAB 212
213
BAB 213
214
BAB 214
215
BAB 215
216
BAB 216
217
BAB 217
218
BAB 218
219
BAB 219
220
BAB 220
221
BAB 221
222
BAB 222
223
BAB 223
224
BAB 224
225
BAB 225
226
BAB 226
227
BAB 227
228
BAB 228
229
BAB 229
230
BAB 230
231
BAB 231
232
BAB 232
233
BAB 233
234
BAB 234
235
BAB 235
236
BAB 236
237
BAB 237

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!