"Mas, ini bekal makan siangmu."
"Terima kasih sayang. Oh ya ini uangnya." Ucap Hans seraya memberikan uang untuk biaya kemoterapi Mikayla.
"Iya Mas."
"Mikayla, nanti kamu ditemani Bunda ya. Hari ini adalah hari pertama Ayah bekerja di tempat baru."
"Iya Ayah. Aku pasti sembuh kan Yah?"
"Pasti sayang. Kamu pasti akan sembuh dan sehat lagi. Percaya sama Ayah dan Bunda." Hans lalu memeluk Mikayla dan mengecup pucuk kepala putrinya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya."
"Iya Mas, hati-hati." Citra mendapat kecupan di keningnya dari Hans. Hari pertama bekerja, Hans begitu semangat karena mendapat semangat dan perhatian kembali dari istrinya.
Sesampainya di kantor, bagian HRD memperkenalkan Hans sebagai kepala gudang yang baru kepada rekan-rekan kerjanya yang lain.
"Perhatian semuanya! Ini adalah kepala gudang kita yang baru, Pak Hans Dinata. Saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan baik." Kata Nita, bagian HRD.
"Siap Bu!" jawab mereka semua dengan kompak.
"Mohon kerja samanya rekan-rekan semua." Ucap Hans dengan senyum ramahnya.
"Iya Pak Hans." Jawab mereka semua dengan kompak.
Setelah berkenalan, Hans langsung bekerja. Mereka semua begitu welcome pada Hans. Disana tidak hanya ada laki-laki tapi juga para wanita, baik yang muda atau yang sudah bisa dibilang ibu-ibu. Raina sendiri tidak mematok kemampuan seseorang dari latar belakang pendidikannya. Bagi Raina mereka harus rajin, jujur dan pekerja keras. Sembari bekerja mereka semua bisa belajar hal baru. Begitulah prinsip Raina. Namun jangan salah, satu kesalahan, Raina bisa dengan mudah memecatnya. Jam istirahat tiba. Hans ikut pergi kekantin dengan bekal yang ia bawa dari rumah.
"Hans!" seru seseorang. Hans merasa tidak asing dengan suara tersebut, menoleh ke arah sumber suara.
"Bayu!" gumam Hans. Ya, Bayu adalah teman SMA Hans.
"Jadi elo kepala gudang yang baru? Keren-keren." Kata Bayu sambil menepuk lengan Hans.
"Elo disini juga?"
"Gue udah dua tahun disini." Ucap Bayu seraya duduk disamping Hans.
"Bukannya elo terakhir kali elo di PEMDA ya?"
"Iya Hans tapi bini gue uring-uringan terus. Apalagi gue yang cuma tamatan SMA, lebih sering jadi helper. Tahu sendirilah gajinya gimana. Keren sih emang pakai seragam dan sepatu gitu tapi luarnya aja. Akhirnya gue keluar dan kerja disini, meskipun cuma staf biasa setidaknya tenaga gue disini lebih ada harganya. Ya, sekarang ekonomi gue sedikit membaik lah dan bini gue makin sayang." Cerita Bayu. Hans pun ikut merasa tersindir dengan cerita Bayu. Karena cerita Bayu mirip dengan keadaan rumah tangganya saat ini.
"Ya syukurlah kalau semuanya membaik." Singkat Hans sembari mengunyah makanannya.
"Elo sendiri bukannya jadi pengajar dan udah PNS ya? Sayang banget Hans kalau elo udah jadi PNS."
Hans tersenyum kecut. Sudah pasti istrinyalah yang mengarang semua cerita itu.
"Hhhh, cerita gue mirip sama elo, Bay. Gue masih honorer. Gue kan emang niatnya buat jadi guru dari hati. Gue bisa berbagi ilmu yang gue punya untuk anak-anak didik gue."
"Jadi elo dari awal nikah sampai sekarang masih honorer juga?"
"Iyalah, Bay. Pemikiran istri gue sama kayak istri elo. Bedanya elo cepet sadarnya dan gue baru sadar kemarin." Selorohnya dengan tertawa kecil.
"Gila, sabar amat istri elo, Hans. Sekarang ya Hans, dipikir secara logika saja, uang segitu mana cukup. Sedangkan gue pinginnya istri gue di rumah jagain anak-anak. Mana anak gue udah dua. Kasihan juga istri gue jadi akhirnya gue lepasin ajalah kerjaan gue itu. Memang sih menjadi PNS itu terjamin masa depan dan hari tua kita. Tapi tahu sendiri, untuk mencapai itu harus bener-bener sabar. Buat kita yang udah berumah tangga susah banget bertahan dengan semua itu. Tapi akhirnya pola pikir gue berubah sekarang. Sekarang, tidak hanya PNS saja yang bisa sukses dan makan, kita juga bisa kok tanpa mengharapkan semua itu. Iya nggak? Lebih ke realistis aja lah bro."
"Iya Bay, bener juga apa yang elo katakan. Gara-gara gue keras kepala, istri gue uring-uringan sampai jatah di ranjang pun ikutan berkurang."
Bayu tertawa mendengar cerita Hans.
"Iyalah Hans, soalnya bini gue juga gitu. Jaman sekarang kita sebagai suami harus realistis juga, Hans. Apa-apa serba mahal dan semua butuh uang. Jaman sekarang cinta aja nggak cukup tapi wanita maunya uang yang cukup. Tidak usah lebih tapi yang penting cukup. Bini gue juga nggak nuntut lebih asalkan semuanya cukup."
"Iya Bay dan gue telat menyadari itu. Oh ya elo dibagian mana?"
"Gue bagian distributor, Hans. Jadi setelah ini gue mau kirim barang ke reseller. Tadi gue denger kalau kepala gudangnya baru, eh setelah tahu itu elo, terkejut sih. Soalnya gue pikir, elo kan jadi guru."
"Memang kepala gudang yang dulu kenapa?"
"Di pecat karena memanipulasi data dan sekarang di penjara. Makanya elo hati-hati. Mata Madam Devil itu tajam banget."
"Madam Devil? Siapa?"
"Bos kita lah. Meskipun wanita tapi jangan pernah meremehkannya. Kekuatannya melebihi pria. Ya udah gue cabut ya. Selamat menjadi kepala gudang. Hati-hati." Ucap Bayu seraya menepuk pundak Hans sebelum berlalu.
"Hati-hati juga, Bay."
"Hmmm memang bagaimana sih madam devil? Apa benar menyeramkan seperti devil?" gumam Hans penuh tanya.
"Madam, ini laporan dari kepala gudang. Laporan harian seperti yang anda minta." Kata Reno, sekretarisnya, seraya menyerahkan berkas pada Raina.
"Letakkan saja, Ren."
"Baiklah, saya permisi Madam."
"Ya." Singkat Raina tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya. Raina lalu mengalihkan pandangannya pada berkas itu. Raina mengambil dan memeriksanya. Raina menaikkan alisnya, melihat kerja pertama Hans. Raina lalu memanggil Reno lewat sambungan interkom.
"Reno, panggilkan kepala gudang yang baru."
"Baik Madam."
Hans yang sibuk di ruangannya, sangat terkejut ketika mendapat panggilan dari atasannya.
"Apa aku berbuat salah ya? Masa iya baru sehari kerja, aku mau dipecat?" batin Hans. Ia sangat gugup dan takut, mengingat cerita Bayu tadi saat makan siang.
"Santai Hans, selama kamu tidak berbuat salah." Hans berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Hans dengan yakin menuju lantai 12, ruangan Raina.
Tok tok tok! Hans mengetuk pintu.
"Masuk!" jawab Raina yang masih duduk membelakangi pintu masuk dengan kursi kebesarannya.
"Saya kepala gudang yang baru, Madam." Jawab Hans menunduk. Begitulah panggilan Raina saat di kantor. Hanya Gita saja yang memanggilnya Nona. Perasaannya berkecamuk. Takut jika ia dipecat, sedangkan ia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan putrinya. Raina lalu berbalik, menatap Hans yang masih menunduk tanpa berani menatapnya. Raina lalu melempar berkas di hadapan Hans.
"Apa laporanmu sudah benar?" suara berat Raina membuat Hans membayangkan kalau bosnya adalah sosok wanita paruh baya yang menyeramkan. Sedikit gemetar, Hans melihat hasil laporannya tanpa berani menatap Raina. Hans, mencoba memeriksanya kembali. Dan Hans menemukan kesalahan. Kesalahan menghitung yang hanya selisih satu angka.
"Apa ada yang salah?" tanya Raina kembali. Hans lalu mengangkat kepalanya dan terkejut melihat siapa wanita dihadapannya. Membuat berkas ditangannya terjatuh.
"No-Nona!" gumam Hans. Raina hanya menaikkan alisnya melihat ekspresi Hans. Hans lalu mengambil berkasnya yang terjatuh.
"Oh, ternyata kamu kepala gudang yang baru?" tanya Raina pura-pura tidak tahu.
"I-iya Nona. Maksud saya madam. Saya akan memperbaiknya. Saya tidak dipecat kan?" tanya Hans dengan gugup.
"Karena kamu masih baru, aku akan memberimu kesempatan. Aku tidak mau ada kesalahan, meskipun itu hanya satu angka."
"Ba-baik Madam. Kalau begitu saya permisi." Hans berlalu dengan langkah terburu. Sorot tajam mata Raina membuat Hans takut, takut jika ia akan di pecat. Selepas Hans pergi, Raina mengehal nafas panjang.
"Wajahnya yang ketakutan, membuatku jadi gemas." Gumam Raina dengan senyum kecilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
puri purihat
seru juga ... jangan kalo bisa Hans menikah saat perselingkuhan istrinya terbongkar aja thor he he he
2023-04-08
11