Pagi-pagi sekali Nadilla sudah berada di Dapur bersama 2 pelayan rumah tangga keluarga Hadiwinata itu, para pelayan Menyaksikan Nadilla memasak terus-terusan melarang nya.
"Non kembalilah ke kamar non"
"Non ayolah non pergi" ujar mereka takut Nyonya di rumah itu memarahi mereka membiarkan Nadilla melakukan tugas dapur.
"Mak Asih, Mbak Diah kalian membuat ku bingung, tenanglah, aku hanya memasak sarapan biasa saja" ujar Nadilla menenangkan para pelayan-pelayan nya itu.
Yang di takutkan pun terjadi, nyonya mereka terlihat Hadiwinata turun dari kamar nya berjalan ke arah belakang lalu melihat keberadaan Nadilla di sana, dia pun berhenti seketika.
"Astaga Nadilla apa yangg sedang kau lakukan di dapur! kembali lah ke kamar mu Ini masih terlalu pagi!" pekik Nyonya Hadiwinata yang terlihat sudah siap dengan pakaian olah raga nya.
Mak Asih dan Mbak Diah menunduk ketakutan seketika. "Mafkan kami nyonya ..sa.. saya sudah melarang nya nyonya" ujar mbak Diah.
Nadilla berjalan ke arah mertua nya, melihat mertua nya tampak marah atas keberadan nya di dapur."Mama aku hanya memasak nasi goreng Sederhana, bukankah aku adalah seorang istri sesekali aku ingin juga memasak untuk suami ku dan keluarga ku..."jelaskan Nadilla.
Nyonya Hadiwinata dan para pelayan di sana Tersenyum kagum mendengar itu, mana pernah Nyony hadiwinata ke dapur apa lagi Felisha yang bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Dimas dan sering ke sini.
Para pelayan berbisik berbeda sekali dengan Nona Felisha jika datang persis nona besar pemilik rumah, dan memandang kita seperti kotoran.
"Eheemm Ny.Hadiwinata seolah mendengar perbincangan kedua pembantu itu.
"Baiklah lanjutkan, minta Asih dan Diah membantu mu, Mama akan pergi Yoga di taman belakang Instruktur mama sudah datang" ujar Ny.Hadiwinata dan berjalan keluar ke arah pintu belakang.
Setelah selesai membuat sarapan Nadilla berjalan kembali ke kamar nya, bermaksud ingin menggoda suami nya yang masih terlelap di sana.
Nadilla naik ke tempat tidur.
"Sayangg...Sayang sayang" panggil nya mengoyang-goyangkan tubuh suami nya, dengan tangan usil nya menggelitik di perut berotot milik nya.
Dimas pun terbangun."Sayang kau sudah bangun?" Dimas meraih tubuh istri nya dan mencium pipi nya.
Nadilla tidak menjawab, tangan nya mengelus lembut wajah suami nya, dan menarik-narik hidung suami nya, berpindah menarik-narik rambut halus di rangan suami nya itu.
"Auw Saa sakit sayang kau usil sekali!" Dimas Menarik tubuh istri menjatuhkan istri nya di Atas nya.
"Tidak jangan lakukan itu sayang!" Nadilla Bangkit Dldan berlari ke sofa.
"Kau mau kemana, kalau begitu mandikan aku saja" pinta suami nya
"Memandikan mu, Itu sama saja!" Ucap Nadilla mengerucut kan bibir nya
Tidak perduli ucapan Istri nya Dimas menarik Istri nya ke kamar mandi, tapi Nadilla berhasil melepaskan tangan suami nya dan berlari kecil meninggalkan nya.
"Aku tunggu di bawah, pakaian mu di tempat tidur sayang " triak Nadilla meninggalkan suami nya.
Dimas tersenyum di kamar mandi mendapat Kelakuan usil istri nya.
***
Nadilla , Nyonya Hadiwinata , dan Dimas sudah berada di meja makan, pelayan menghidangkan makanan yang di masak Nadilla di sana.
"Papa bahagia kalian ada sini" ucap Tuan Hadiwinata yang melihat Dimas datang
"Segeralah berikan kami cucu yang banyak, itu akan membuat kami lebih bahagia" tambah Nyonya Hadiwinata tersenyum.
"Tenang ma sebentar lagi anak-anak ku akan membuat keramaian di rumah ini" ucap Dimas membusungkan dada nya.
Nadilla Hanya tersenyum tapi hati kecil nya terenyuh lagi "Ya tuhan maafkan aku" Bathin nya merasa bersalah.
Dimas duduk di sebelah Istri nya, mencium cepat pipi istri nya.
Cup
Kedua orang tua itu melihat dan tersenyum.
"Astaga anak nakal kau sungguh tidak tau tempat " ucap Nyonya Hadiwinata tapi hati nya sangat amat bahagia melihat kebahagiaan anak satu-satu nya itu.
Nadilla tampak malu wajah nya memerah, lain dengan Dimas dia hanya tersenyum, Nadilla pun meletakan makanan ke piring suami nya kemudian, Nyinya Hadiwinata melihat yang di lakukan nya.
"Istri mu, pagi sekali sudah memasak Ini semua" ujar nya.
"Benarkah sayang?" tanya Dimas sambil Memasukan sesendok makanan nya ke mulut "Enak sayang" Puji Dimas.
Nadilla Hanya tersenyum, biasa nya Dimas Tidak pernah membiarkan nya memasak, Selain itu mereka juga belum sempat sekali pun pergi berbelanja bahan-bahan dapur, saat tinggal berdua.
Nadila menghantarkan Dimas yg akan segera berangkat, sampai ke depan pintu besar rumah keluarga itu. "Hati-hati sayang", ucap Nadilla
"Hanya itu saja?" ucap Dimas, dengan mata nya mengarahkan Ke Mama yang menghantarkan papa nya yang tidak juah dari mereka.
Nadilla mencium bibir suami nya, sengaja di tahan oleh Dimas lama tengkuk Nadilla menggunakan tangan nya.
Melihat adegan Itu lagi-lagi nyonya Hadiwinata berteriak."Anak nakal, kau sudah tidak waras!" nyonya Hadiwinata masuk menggelengkan dan memijat kepalanya.
Frans sudah biasa melihat bos itu hanya diam, ya memang hanya diam yang bisa di lakukan assisten muda super handal nya itu.
Nadilla semakin malu dan memukul suami nya.
"Kau tidak waras,benar kata mama!" ucap nya dengan wajah yang sudah memerah.
**
Siang hari.
Alex Memasuki gedung perkantoran Dimas, dan berjalan naik ke lantai atas, pria tampan itu berjalan melewati ruangan-ruangan yang setiap ruangan pasti ada mata yang menatap lama dan berdecak kagum untuk nya.
Hingga langkah nya pun berhenti tepat di meja kerja Tania, Tania Menatap sosok tinggi yang datang tepat di hadapan nya.
Sementara Nadilla baru sampai di gedung Itu juga bersama supir keluarga Dimas,
Nadilla Ingin memberi kejutan kepada suami nya datang tanpa memberitahu.
Sejak mereka menikah Ini kali kedua Nadilla datang ke sana, Nadilla tampak sangat cantik dan elegant berjalan naik ke lift.
Tania kaget melihat Alex yang sudah berdiri di hadapan nya."Tu.. Tuan Alex , kau akan bertemu tuan Dimas?" dia ada di tuangan nya"
"Kau seperti melihat setan saja, aku tidak mencari bos mu, tujuan ku kesini untuk mu, untuk membawa mu pergi makan siang bersamaku" ujar lelaki itu
"A.. Aku tidak bisa ,Ini belum jam makan siang!"
"15 menit lagi bukan!" ucap Alex melihat jam di tangan nya.
Ting.
Sampai di lantai atas Nadilla segera akan berjalan menuju ke rangan suami nya, banyak mata yang langsung memandang nya, tapi mereka tidak mengenal siapa dia, Nadilla memang pernah bekerja di perusahaan Itu hanya saja berbeda gedung.
Nadilla melihat seseorang yang dia kenal, Sedang berbicara seorang dengan seorang wanita.
"Alex , kau di sini? kau akan keluar bersama Dimas?" Tanya Nadilla.
Alex membulatkan mata nya.
"Nadila Kau rupa nya!" Alex sangat kaget melihat penampilan Nadilla yg sangat berbeda.
"Tidak,tidak! aku tidak ada janji dengan suami mu, Masuk lah" ujar nya.
Tania terbelalak menatap Nadilla, "Istri Tuan Dimas, bukan kah itu karyawan marketing di gedung sebelah" tanya Tania dalam hati dia yang memang tidak menghadiri pernikahan Dimas karena orang tua nya sakit saat itu.
"Masuk silahkan!" seru Tania
"Terimkasih" ujar Nadilla tersenyum ke arah Tania, berjalan memasuki ruang kerja suami nya.
Frans tampak duduk di sofa membuka laptop nya, sedang Dimas duduk di kursi kebesaran nya, mata nya tidak luput dari layar benda lipat nya.
Seketika pintu terdengar terbuka, Dimas dan Frans melihat ke arah yang sama seketika.
"Sayang, kau datang!" Dimas langsung berdiri mendapat kehadiran istri nya.
"Kenapa kau sangat terkejut sayang, apa kau tidak suka, kedatangan ku?" tanya Nadilla
Dimas tidak menjawab istrinya.
"Frans, katakaan kepada Tania pergilah berasama Tuan Ambrez gantikan aku di tapat Siang nanti, aku akan pulang , ada keperluan mendesak" ujar Dimas sembari memberi kode untuk Frans keluar.
Frans Keluar, menemui Tania, segera menjelakan apa yang di perintah Dimas, Alex yang mendengar mendadaknkesal
"Cih!Dimas sialan merusak rencana ku" Alex pun tidak ada cara lain, ia pun pasrah untuk pergi meninggalkan Tania yang kembali di sibukan oleh tugas mendadak yg di berikan Dimas.
***
Dimas mengarahkan Isrinya duduk di Sofa,
"Sayang aku ingin nakan Nasi pecal" Rengek Nadilla
"Nasi pecal" Dimas memicingkan matanya, "baiklah aku akan perintahkan Frans mencari nya"
"Aaa.. tidak sayang, aku ingin makan langsung di tempatnya" ucap Nadilla merengek lagi.
Mendengar rengekan istri nya Dimas tersenyum."Iya sayang kita akan mencari nya nanti!"
Nadilla berjalan ke arah suami nya dan Memeluknya. "Benar kan, kau janji!" ujar Nadilla mengadah ke wajah suami nya.
Lagi-lagi Dimas tersenyum melihat tingkah manja istrinya, seketika ia pun melesatkan ciuman nya di bibir istrinya, Nadilla tersentak kecil, satu tangan Dimas angsung memegang menahan kuat tengkuk istrinya.
Nadilla melepaskan tangan Dimas menjauh kan bibir nya. "Kenapa kau lepaskan, besok aku akan berangkat, aku akan sangat merindukan bibirmu" ucap Dimas kesal.
"Apa kau fikir kau tak akan kembali, sayang jangan befikir seolah kita tidak akan bersama lagi bersikap lah seperti biasa" ucap Nadilla meninggikan intonasi nya.
Dimas tidak memperdulikan ucapan istri nya, kali ini dia memeluk Nadilla, dan mencium lagi dengan sangat buas, tngan mulai meraba tak terarah, "Astaga sayang kau membuat ku gila"
Nadilla coba melepaskan pelukan Dimas. "Sayang lepaskan aku" pinta nya
Dimas tidak perduli, dia semakin gila, mencium semakin dalam, Nadilla pun terpaksa menggigit bibir Dimas sangat kuat sengaja supaya di Lepaskan.
"Auh Sayang " Dimas melepaskan ciuman nya dan menyentuh bibir nya seketika.
Nadilla melihat gigitan nya membuat luka kecil di bibir Dimas, dia tersenyum puas, "Maafkan aku sayang! kau sih tidak tau tempat"
***
Akhirnya mereka keluar dari gedung perkantoran itu, setelah berkelililing lama, mencari warung pecal, Dimas pum memberhentikan BMW hitam milik nya di warung pinggiran jalan.
"Kau yakin kita akan makan di sini sayang?" Tanya Dimas melihat ke arah keramaian.
Melihat begitu ramai nya warung makan itu di jam makan siang, Nadilla pun mendadak enggan seketika merubah rencana nya.
"Sayang, seperti nya aku ingin ke Mall saja, makan siang di sana, lalu kita pergi nonton, bagaimana!" ujar Nadilla menatap suami nya.
"Itu lebih baik sayang, ayo kita pergi sekarang" jawab Dimas penuh semangat.
***
30 menit perjalanan mobil Dimas pun sampai di Parkiran mall. "Sayang aku terlihat formal dengan oakaian ku" ucap Dimas menatap manik istri nya.
Tanpa di perintah Nadilla pun mengarahkan Dimas untuk membuka jas nya, menyisahkan kemeja lengan panjang nya dan dasi nya,
Nadilla melepaskan Ikatan dasi di leher Dimas, Sekarang meminta Dimas merentangkan tangan nya, lalu melipat lengan baju suami nya sampai ke situ.
Melebarkan senyuman nya menatap ke wajah suami nya. "sekarang sudah tidak terlalu Formal bukan?"
Dimas langsung mengecup bibir Nadilla yang Wajah nya mengadah ke ke hadapan nya.
"Terimakasih..."
Dimas dan Nadilla berencana akan makan di Sebuah restauran timur tengah, memesan beberapa menu handalan resto itu sambil berbicang menceritakan hal-hal apapun yang tengah terjadi, hingga makan yang mereka pesan pun datang, kedua nya menikmati nya, apa lagi Nadilla ia tampak sangat menikmati makan siang nya dengan lahap.
"Sayang, kenapa sesekali aku mendengar papa memanggil mu malliw?" tanya Nadilla.
Dimas pun tersenyum "Kau lupa siapa nama ku sayang?" tanya Dimas sambil terus menyantap makanan nya
"Dimas Malliw Hadiwinata, Oh lord maafkan aku sayang..aku tidak terfikir ke sana"
"Mama adalah keturunan Pakistan dan ayah ku asli Jawa, Mama memberi nama ku Malliw , Waktu usia ku belum 5 tahun aku selalu sakit - sakitan, Dan papa memutuskan Menambah kata Dimas sebagai panggilan nama ku!" Dimas Mencoba menjelaskan.
Nadilla Menatap terpaku suami nya yg sedang menjelaskan.
Setelah makan mereka melanjutkan berjalan lagi, banyak mata wanita melihat ke arah Dimas sepanjang langkah berjalan di Mall itu, Nadilla menyadari itu.
"Sayang, mereka menatap mu tak berkedip" ucap Nadilla nemajukan bibirnya merasa tidak suka
"Kau cemburu sayang?" goda Dimas lalu Menarik tubuh istrinya sangat dekat dengan nya dan berjalan tanpa jarak
Nadilla tersenyum bahagia di Atas perlakuan suami nya, Tibalah mereka tiba di bioskop seperti permintaan Nadilla , Dimas sengaja memilih sebuah film bergenre horor, untuk mengerjai istrinya, Nadilla hanya pasrah
Mereka duduk di kursi yang berbentuk Kasur ukuran Double yg sangat nyaman.
Film telah di putar, Dimas salah mengira jika Nadilla akan ketakutan lalu memeluk nya, Malah sebalik nya Dimas yang terus menutup mata setiap kali ada sdegan kemunculan Dedemit nya membuat Nadilla tertawa melihat nya.
"Sayang kau ketakutan?" Nadilla menggoda nya
"Tidak aku hanya mengantuk " lagi-lagi Nadilla tersenyum, tau suami nya berbohong
Sepanjang mereka menonton Dimas tidak ingin melepaskan pelukan nya dari istri nya sesekali mencium pipi dan puncak kepala istri nya.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Lela Lela
yg lg seneng
2023-04-27
0
Nathasya90
nadillah ganas juga😬
2022-11-08
0
Christy Oeki
trus ceria
2022-08-02
0