Nadilla dan Dimas sedang menikmati makan Malam yang di hantarkan oleh Resto villa Ke kamar mereka, Hari ini angin di pulau bertiup sangat kencang, dan di luar juga sedikit hujan, mereka memutuskan untuk tidak Keluar malam ini.
Dimas meminta Nadilla menyuapinya, dia akan memeriksa beberapa pekerjaan yang tinggalnya.
"Buka mulut mu sayang!" titah Nadilla di hadapan nya.
Sembari menikmati makan Dimas terus berkutik di depan laptop memeriksa Laporan-aporan yang di kirimkan asisitennya.
Entah apa yang muncul di dalam laporan perusahaan itu, mungkin Dimas membaca sebuah nama seseorang dengan gelar nya yang cukup panjang, dia langsung ingat istri nya.
"Sayang, apa yg akan kau lakukan setelah Program Magister mu selesai?" Tanya nya
"Aku rasa aku ingin sekolah lagi aku ingin jadi seorang Dosen psikologi hebat, atau seorang Consular, aku juga ingin melanjutkan sekolah di luar negri, aku ingin jadi seorang guru konseling hebat..." Jawab Nadilla sangat yakin.
Dimas seketika diam, menarik nafas nya lagi. "Kau ingin sekolah di luar negri? tdak Aku tidak mengizinkan!"
"Aku sudah tau, kau akan katakan itu sayang" Nadila mengerucutkan bibir nya, "Dan kau tau?itu memang tujuan awal ku," tambah nadilla lagi
"Astaga tidak, titik!"
Nadilla memflashback bagaimana orang tua nya memperjuangkan impian nya untuk menjadi seorang Dosen psikolog hebat, bekerja di perkantoran di sekolah atau menjadi seorang Consuler, orang tua nya bekerja siang malam untuk menguliahkan nya, sering Nadilla yang tidak malu-malu membawa dagangan gorengan ibu nya ke kampus untuk dapat tambahan bayar uang semester.
Nadilla Meletakan kembali makanan nya ke baki."Sayang , apa kau tau Itu adalah cita-cita ku, dan kau tau sayang, aku bersusah payah untuk semua itu..... " urai Nadilla menjelaskan
"Cita-cita benarkah, memahami orang lain oh shit untuk apa! Sekarang kau sudah menikah, Aku hanya ingin kau untuk ku dan anak ku" ujar Dimas menegaskan kalimat nya.
Lagi-lagi Nadilla tersenyum.
"Sayang, semua itu bukan sekedar cita-cita, Tapi juga penghargaan atas segala pengorbanan yang sudah orang tua ku lakukan untuk ku, ingin selalu untuk mu, katamu? sayang, jadi istri yang selalu untuk suami dan anak itu pasti, tapi cita-cita juga harus!"
Dimas menghela nafasnya
Kali ini Dimas pasrah tidak bisa membantah jika sudah menyangkut orang tua Nadilla dan lagi pula yang di katakan istri nya memang benar.
Dimas terdiam walaupun ada sedikit rasa tidak terima di hatinya.
***
Nadilla mengangkat Ponsel nya yang berdering tertulis di kontak itu Dimas Mom.
"Assalamualaikum Mama"
"Walaikum salam sayang, Mama merindukan Kalian, Kapan kalian pulang?"
"Lusa ma, Mama baik-baik saja bukan?
"Iya Sayang, Katakan pada suami mu, Mama Akan membuat sedikit syukuran untuk kalian, Baiklah nanti kita sambung lagi sayang"
"Baik ma! Tut....tut...
***
Nadilla keluar dari toilet langsung naik ke atas tempat tidur lengkap sudah mengganti pakaian nya dengan piyama tidur, sementara Dimas kembali lagi berkutik di laptop nya seperti tadi.
"Sayang, apa yang Mama katakan di telepon tadi, apakah dia menyuruh kita pulang?" tanya Dimas
"Tidak sayang, Mama mengatakan akan membuat syukuran kecil untuk kita "
"Oh yaa?" ujar nya sekilas dan mengembalikan lagi fokus nya ke laptop milik nya.
Nadilla masih di atas kasur, menarik selimut tebal beranjak akan segera pergi tidur, ia pun mulai memejamkan matanya, beberapa menit kemudian ia membalik kan tubuhnya ke kiri, lalu tidak lama ke kanan, lalu berpindah sedikit ke atas, ia begitu gelisah.
Mulai menarik bantalnya, beberapa menit kemudian menarik selimut lagi, entah kenapa semua itu tetap tidak membuat nya terpejam.
Dimas tidak sadar atas kegelisahan istri, dia tampak sangat sibuk dengan laptop nya.
"Huh astaga bahkan aku tidak bisa tidur jika tidak di pelukannya...." ujar Nadilla dalam hati mulai menatap ke wajah tampan yang sedang sangat sibuk dan bahkan tidak memperdulikan kegelisahan nya sama sekali.
Akhirnya Nadilla memutuskan untuk turun dari tempat tidur, dan memutuskan untuk duduk di sebelah suami nya.
"Sayang, kau belum tidur?" ujar Dimas terkesiap melihat Nadilla yang entah sejak kapan sudah di samping nya.
"Hem, Aku tidak bisa tidur..."
Mana mungkin aku katakan tidak bisa tidur karena kau tidak memelukku, bisa besar kepala kau nanti.
"Sebentar sayang, Ini sudah akan siap," ujar Dimas tak menatap.
Nadilla masih enunggu, mata nya sesekali memperhatikan televisi yang masih menyala tanpa suara.
Nadilla menggeser duduk nya, tidak begitu lama menggeser nya lagi, lalu sekarang menggeser nya lagi tepat dipunggung suami nya, benar-benar gelisah menahan kantuk tapi tak juga bisa memejam.
Sekarang ia pun semakin dekat di pundak suaminya, mulai sesekali mencium di pundak, menghirup aroma maskulinnya, sesekali menyandarkan wajah sesekali mencubit atau pun menggigiti kecil, seperti itu lah dia saat suami nya sibuk dan tak memperhatikan dia.
Dimas masih sadar melihat kegelisahan dan tingkah usil istri nya, sesekali dia tersenyum, tanpa melihat nya.
Tidak lama Dimas kembali sangat serius dengan laptop nya, hingga beberapa menit kemudian dia tidak menyadari entah sejak kapan Nadilla sudah benar-benar menyandarkan tubuh nya dan sudah benar-benar tertidur pulas di punggung nya.
"Astaga sayang!!" Dimas menutup laptop nya seketika dan segera mengangkat istrinya ke tempat tidur, melirik pada waktu sudah pukul 21 malam, ia pun merebahkan tubuh tubuh nya di sebalah Nadilla memiringkan tubuh untuk menatap erat wajah cantik itu.
"Anak Nakal! " kecam Dimas mulai menciumi gemas pipi Nadilla , Dimas lagi-lagi tersenyum mengingat kelakuan usil dan kekanakan nya tadi.
"Aku bahagia bisa bertemu dengan mu Nadilla , di waktu yang tepat, meski dengan cara yang salah" Dimas mengusap-usap rambut istri nya dan tidak lama akhirnya ikut terlelap juga
***
Pagi ini Dimas tampak bangun lebih awal, berdiri keluar ruangan, Menghirup udara segar di depan kamar mereka sesekali merenggangkan lengan-lengan nya yang terasa pegal.
Nadilla memandang suami nya dari kejauhan, Pria tampan dengan tubuh kekar nya, hidung mancung dantubuh atletis nya, membuat nya tidak tahan Ingin memeluknya.
Nadilla pun turun dari tempat tidur nya, tidak di sadari Dimas suara langkah kaki nya yang sudah mendekat, Nadilla seketika memeluk Dimaa dari belakang.
"Sayang.." Panggil Nadilla lembut
"Kau sudah bangun sayang?" Dimas berbalik merengkuh pinggang istri nya dan perlahan memeluk nya.
"Aku ingin berenang sayang" pinta Nadilla
"Ayo, seperti nya menyenangkan"
Nadilla pun masuk ke dalam kamar membersihkan diri dan memakai baju renang yang sudah di bawa Frans untuk nya, namun Dimas tetap kembali memeriksa laptop nya.
"Sayang, apa ini cocok untuk ku" tanya Nadilla keluar dari walk in closet sudah dan memakai Swimingsuit nya.
"Tunggu sebentar..." Dimas mengakat Panggilan telepon dari kantor nya.
Nadilla menunggu dengan sabar suami nya yang terlihat sangat sibuk di telepon.
Nadilla mengusir kejengahan melangkah ke jendela ,memandang pantai dari jauh, deburan ombak yang terdengar sampai ke kamar nya, tak begitu lama Dimas telah selesai dan meletakan ponsel nya.
Dimas sudah selai dengan kesibukan nya ia pun mengayunkan langkah ke arah istri nya.
"Sayang maafkan aku, pekerjaan ku terus menggangu bulan Madu kita ..." Dimas lirih merasa bersalah.
"Iya aku mengerti," Nadilla pun memeluk suami nya.
Akhir-akhir ini perusahaan sedang sangat naik pesat, padahal perusahaan yang Dimas pegang adalah anak perusahaan milik orang tuanya tapi bahkan setelah Dimas kelola tumbuh menjadi lebih besar dan neluas melebihi perusahaan induk milik orang tua nya itu.
Lagi-lagi ponsel Dimas berdering, dia tampak ragu mengangkat nya, menatap ke wajah istri nya.
"Sayang angkat lah..." ujar Nadilla meyakinkan jika dia tidak masalah.
Dimas mengkat nya, namun kali ini benar-benar sedikit lebih serius dan sangat lama sudah 45 menit. dia di panggilan nya.
Nadila yang sudah memakai swimsuit pun kembali naik ke kasur memperhatikan suami nya yang sedang berbicara di sana, Dimas kembali menutup ponsel nya, Kali ini wajah nya mulai berubah
"Sayang" Panggil nya.
"Hemm."
"Hanya Hem , Kali ini aku tau kau benar marah bukan?" tanya Dimas lagi
"Tidak sayang, aku cukup mengerti, apa ada yang ingin kau katakan Sayang?" ujar nya seolah mengerti.
Dimas ragu akan mengatakan nya, namun keadaan sangat mendesak nya.
"Sayang katakan lah!" Nadilla melingkarkan tangan nya ke tubuh Dimas yang sudah berada di depan nya.
Dimas Membalas meletakan tangan nya di Leher istrinya dan menatap nya lamat-lamat
"Sayang, seorang client ku datang dari Autralia sore ini, dia Ingin bertemu dengan ku membahas pengembangan hotel kita yang di Labuan Bajo, besok pagi dia akan kembali ke Autralia lagi"
"Semendadak ini?" masih saling tatapan.
Dimas hanya mengangguk ragu, menatap manik nya penuh keraguan takut Nadilla akan menjadi sangat kecewa.
"Hem,baiklah, tidak masalah kita bisa pergi bulan madu lain kali bukan?" ucap nya santai walaupun sebenar nya dia sangat kesal.
"Sayang.. maafkan suami mu.." Dimas merasa sangat bersalah.
Nadilla melepaskan tangan nya, lalu menarik hidung mancung suami nya,"Iya, aku tidak masalah tenanglah... "
Dimas meraih tubuh istri nya mendekap erat tubuh nya di dalam dadanya. "Sayang aku janji aku akan membawamu berkeliling dunia nanti " ucap Dimas mengelus rambut istrinya, Nadilla pun mengiyakannya saja, enggan berkonfrontasi.
TBC
Vote dan Like nya sayang 💖
💖
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Indah hutagalung
keliling dunia impianku ajak aku dimas wkwkwk
2025-01-31
0
Bu Upik
nabila memang istri yg baik..
2022-08-23
2
Christy Oeki
trus berkarya
2022-08-02
0