Lama sekali Dimas berdiam seorang diri di Ruang tengah membayangkan sosok Nadilla yang mulai masuk ke hatinya, bagaimana bisa dia harus melepaskan wanita itu.
Bahkan sampai Nadilla selesai mandi Dimas belum juga kembali ke kamar.
Nadilla pun di buat penasaran apa yang di lakukan Dimas dan siapa yang datang, ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar, Nadilla yang sudah tampak memakai piyama tidur dengan rambut sedikit basah tergulung handuk di kepala nya pun melangkahkan kaki nya ke arah ruang tengah.
"Siapa yang datang?" tanya Nadilla.
Suara Nadilla sukses menyentakkan Dimas.
"Sayang, kau sudah selesai mandi? tadi Mama yang datang." Jelasnya yang mulai terus memanggil sayang tak henti entah apa yang mendorong itu, kini ia pun menatap Nadilla lekat-lekat, seakan menyiratkan sesuatu hal.
"Mama? kenapa tidak memanggilku, aku akan terlihat sangat tidak sopan?"
"Tidak sayang ,Mama sedang terburu-buru, dia menitipkan salam buat mu."
Nadilla mulai aneh, benarkah ? ada apa sebenarnya kenapa mama datang tapi Dimas Tidak memanggil dia, tapi kenapa raut wajah Dimas seperti memperlihat kan telah terjadi sesuatu.
"Sayang sudah jangan berfikir macam-macam , tidak ada apa-apa." Dimas menarik tangan Nadilla dan menjatuhkan tubuh Nadilla ke pangkuan nya.
Nadilla pasrah karena melihat wajah tidak biasa Dimas, "Sudahlah jangan fikirkan macam-macam" ujar nya pada Nadilla.
Tak ingin mendengar penolakan Nadilla.
Dimas memeluk erat Nadilla seolah wanita itu akan pergi jauh, menghidu lamat-lamat aroma di tubuhnya , Nadilla persis seperti anak bayi di dalam pangkuan Dimas.
Dimas mulai benar-benar telah merasa jatuh hati, jatuh secepat itu, terus memeluknya erat, sesekali mencium puncak kepala Nadilla, tak terasa pun ia mengeluarkan butiran bening di ujung netra nya.
"Sebab nyaman tidak butuh waktu, seketika saja dan entah bagaimana bisa yang jelas aku sudah terjatuh"
...***...
Di tempat lain di sebuah butik yang tidak terlalu besar tapi tampak cukup mewah, Felisha dan Ibu nya terlihat di sana, seperti sedang membahas sebuah rencana.
"Aku takut ma...kebohongan ini bisa mematikan karir model ku!" ujar Felisha dengan wajah gelisah nya.
"Cih, Karir kata mu!, kau lupa berapa penghasilan yang kau dapat dari karir model mu itu? apakah sebanding dengan yg kau dapat Dari Dimas Hadiwinata selama ini?"
"Ma—"
Tidak ingin mendengar bantahan anaknya, wanita itu melangkah dan berputar kecil disana.
"Kau lihat butik ini! kau lihat mobil mu! semua barang branded mu dari mana kau dapatkan?"
Felisha menarik nafasnya susah payah.
"Ya aku tau , Mama memang benar, karena nya aku juga Mendapatkan nama baik, aku juga lebih di Hargai"
"Ya lalu kecerobohan mu menghancurkan semua nya, anak bodoh!"
"Maafkan aku ma ... "
"Jadi sekarang kau harus mendengar kan Perintah Mama! kita akan kembalikan semua, dengan apapun caranya!"
Felisha pun mengiyakan apa yang di inginkan Mamanya, sesungguhnya ia sangat kesulitan tanpa biaya hidup dari Dimas.
...***...
Frans sudah di depan pintu membawa segala Keperluan Dimas dan bersiap berangkat ke Kantor.
Nadilla terlihat sedang memasangkan dasi kepada suami nya, melampirkan bibirnya membentuk setengah lingakaran tidak mepercayai dia melalukan itu kepada pria monster yang di benci nya kemarin.
Dimas menyadari tatapan heran namun bahagia Nadilla kepadanya, ia pun melingkakan tangan nya ke pinggang Nadilla, wajah mereka saling beradu.
"Sayang tetap lah di rumah, hari ini aku Mungkin akan pulang telat, jika kau ingin makan pesan saja di restoran bawah.." ucapnya lembut tak luput memandang wajah cantik Nadilla.
"Ya..baiklah!" Nadilla mengulaz senyuman membuat Dimas mencium kening Nadilla kemudian. lalu memberikan sebuah isyarat menaikan sebuah jari ke bibir seraya menatap Nadilla, Nadilla paham, lalu ia pun mengecup Dimas dengan cepat.
"Hati-hati jangan buka pintu jika bukan orang yang di kenal." pinta nya
"Iya, kau seperti menasehati anak mu saja?"
Dimas tersenyum lalu mengecup bibir Nadilla lagi dengan cepat " Aku menyayangimu!".
Nadilla hanya membalas dengan senyuman sesungguhnya Nadilla belum sepenuhnya percaya dengan sikap Dimas ini terlalu cepat, tapi hati nya tidak bisa menolak dia juga sudah merasakan sedikit perasaan yang sama sebenarnya.
...***...
Dimas sudah sampai di kantornya, duduk di kursi kebesarannya, nenekan tombol intercom di meja kerja nya.
"Tania, percepat jadwal meeting saya sebelum pukul 2 siang!"
"Baik Boos!"
padahal banyak sekali pekerjaan yang akan ia lakukan hari ini namun masalah nya dengan Felisha sangat membuat otaknya kacau dan tak mampu berfikir, sesekali ia memijat pelipisnya, mencari cara ingin membuktikan kebernaran nya.
Tidak lama Tania menelpon lagi.
"Maaf Tuan, Ada nona Felisha ingin bertemu Anda"
"Astaga, wanita ular itu!" Dimas berfikir lama sebelum akhirnya menjawab Ya. "Izinkan dia masuk!"
Tanpa ragu Felisha pun melangkah masuk ke ruangan kebesaran Dimas. "Hay sayang, aku merindukan mu." ujar Felisha dengan tidak malu nya langsung berjalan ke meja kebesaran Dimas seperti biasa.
Dimas tersenyum pelik. "Huh ternyata kau datang sebelum aku mencarimu."
"Kau mencari ku? benar kah apa kau sangat Merindukan ku?"
"Tutup mulut mu!" Pekik Dimas kuat.
"Sayang, turun kan nada bicara mu, anak kita akan sakit mendengar suara mu itu"
Dimas tersenyum jijik, juga untuk menutupi ketakutannya itu jika memang benar Felisha hamil apa yang akan terjadi.
"Haha anak Kita? Wanita ular apa kau bermimpi! apa kau sedang tidur ketika datang ke sini!"
"Benar bukan? kau lupa, apa kau hanya pura-pura lupa dengan malam indah kira di Bali waktu itu?"
Dimas seketika menatap penuh kebencian pada Felisha wajahnya seketika berubah, rahang nya pun menegak sempurna, dia sama sekali tidak ingat, dia juga tidak merasa telah meniduri seseorang.
"Hentikan khayalan mu, katakan saja apa mau mu sebenar nya!" sarkas nya.
Felisha tidak merasa takut dia semakin melangkah, memiliki keberanian lebih melangkah ke kursi kebesaran Dimas. "Aku tidak sedang berkhayal sayang, seperti yang kau tau yang aku mau hanya dirimu bersama ku seperti dulu..."kini ia pun sudah berdiri tepat di sebelah Dimas dan akan menyentuh nya.
Kemarahan Dimas membuncah dia pun bangkit dari kursinya menarik paksa tangan Felisha."Ikuti aku! aku akan memastikan sendiri jika kau sedang berbohong!" kesal Dinas menarik kasar Felisha keluar ruangan membuat beberapa karyawan melihat tapi takut-takut untuk menoleh.
Felisha berubah menjadi sangat ketakutan dan panik, "Lepaskan aku Dimas!" tepisnya tangan Dimas, Namun Dimas tidak memperdulikan itu dia terus menarik kuat tangan wanita itu hingga keluar ruangan.
Tiba-tiba Mama Felisha datang berdiri tepat di depan lift sepertinya mereka sudah merencana kan semuanya.
"Dimas lepaskan tangan Felly!" teriak wanita yang baru datang itu.
Dimas pun menoleh menatap kebencian pada wanita tua yang kini sudah di hadapan nya itu.
"Apa kau mau seseorang mengambil foto mu lalu membuat berita viral ke semua media telah terjadi pertengkaran, pemilik perusahaan Real Estate terkenal ini, menghamili kekasihnya dan tidak mau bertanggung jawab!"
Dimas terdiam bukan itu yang dia takut tapi dia takut Nadilla akan mengetahuinya dan pergi meninggalkannya.
Sebuah helaan berat keluar dari leleki itu, "Pergilah! aku akan menemui kalian nanti." lirihnya berlalu masuk kembali ke ruang kebesarannya dengan wajah yang tampak jelas tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Felisha dan Mama nya tersenyum puas telah berhasil menakut-nakuti Dimas dan segera berlalu meninggalkan lantai atas itu.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Lela Lela
boongan hamil ny
2023-04-26
0
👻Yusuf🦖
dasar uler gatel
2022-10-16
0
Christy Oeki
sabar selalu
2022-08-02
0