20. Surat Kabar

"Ka-kau ... tahu dari mana---"

"Tadi siang, aku menemui ayahmu. Kau benar adalah putri Themaris, karena kombinasi rambut silver iris mata ungu adalah ciri khas keluarga tersebut. Namun, saat kusinggung soal putrinya yang bernama Melian, ia dengan bangganya menceritakan soal gadis yang berbakat. Berbeda sekali dengan ceritamu selama ini!"

Haldir mendelik tajam pada Liv, meminta penjelasan. Liv tak dapat berkutik, selain mengakui kesalahannya.

"A-aku memang telah berbohong ... Tapi aku tak bermaksud buruk! Aku hanya tak ingin kau memandangku berbeda saat mengatakan kalau namaku adalah Liv ... ."

"Kau tidak percaya padaku? Aku seperti orang bodoh, ketika mencari nama Melian dan Tuan Olrun menunjukkan putrinya yang lain. Dan rupanya kau adalah sang adik!"

"Ma-maaf! Maaf! Aku percaya padamu, tapi di sisi lain aku juga takut kau tak akan menerimaku ... ."

Liv menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Matanya memejam, ia takut tak dapat diterima lagi oleh Haldir sebagai seorang teman. Malah sebenarnya, ia berharap lebih dari skadar status tersebut.

Namun, apa yang terjadi berikutnya di luar ekspektasi Liv. Haldir justru meletakkan sebelah tangan pada kepala Liv, kemudian mengusapnya lembut. Sang Pangeran pun berkata, "Sudahlah. Yang penting sekarang aku sudah tahu yang sebenarnya."

Liv mendongak tak percaya. Tampak di sana, Haldir tersenyum lembut padanya.

"Kau tak marah?"

Haldir menggeleng. "Tadinya ya, tapi setelah aku bertemu dengan kakakmu dan mengobrol banyak tentang dirimu, aku mengerti kenapa kau melakukannya."

"Kau bertemu dengan Kak Melian?"

"Benar," ucap Haldir seraya mengangguk. "Tuan Olrun mengajakku ke rumahnya. Tapi, aku tak bertemu dirimu. Beliau membiarkanku untuk mengobrol dengan Melian. Selanjutnya, kami sama-sama tahu bahwa kau telah melakukan sesuatu. Dan kakakmu itu ... ."

Tanpa dapat dicegah oleh Haldir, rona merah mewarnai pipinya. Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum sendiri. Saat tindakannya itu disadari Liv, ia refleks memalingkan muka.

"Ada apa?"

"A-ah, tidak. Tidak ada apa-apa," jawab lelaki itu terbata-bata.

Akan tetapi, tindakan tersebut sudah cukup bagi Liv untuk tahu diri. Telah banyak lelaki yang bersikap seperti itu ketika berbicara mengenai kakaknya. Liv tak asing dengan rona merah tersebut. Namun, Liv tak menyadari bahwa yang ia rasakan saat ini adalah sakit hati.

Liv melangkah mundur dengan perasaan yang amat tak enak. Rasanya seperti ketika melihat ayahnya hanya menyayangi Melian dan tak mengacuhkan dirinya. Haldir memang tak mengacuhkannya, tetapi hati Liv tetap sakit melihat sang Pangeran tersipu malu seperti itu untuk orang lain dan bukan dirinya.

Liv pun berbalik dan lari dari hadapan Haldir. Meski sang Pangeran telah memanggil-manggil, Liv tak mendengarnya. Ia segera pulang dan kembali ke dalam loteng kesepiannya di wastu Themaris.

***

Sejak hari itu, Liv tak lagi pergi malam-malam menemui Haldir. Meski ia tahu bahwa sang Pangeran tidak akan melaporkan tindakannya itu dalam aturan wanita tak boleh keluar malam, tetap saja Liv merasa tak ada gunanya lagi bertemu dengan lelaki itu. Hati Haldir sudah menjadi milik Melian, persis seperti apa yang dikatakan Dean sebelumnya.

"Apa benar, kalau aku hanyalah seorang antagonis yang akan mati di tangan mereka berdua?"

Tiga hari kemudian, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Liv, lalu memintanya untuk datang ke ruang kerja Olrun Themaris. Seumur hidup, Liv tidak pernah dipanggil untuk berhadapan langsung dengan ayahnya itu. Jantungnya begitu berdebar saat ini.

Apa Ayah tidak lagi membenciku? Aku sangat senang sekali kalau sampai itu terjadi! ucapnya dalam hati. Liv tersenyum seraya menuruni tangga, menuju ruang kerja ayahnya di lantai dua.

Liv mengetuk pintu sebanyak dua kali, sebelum dia dipersilakan masuk. "Ayah memanggilku?"

Liv berharap, bahwa sedikit saja, sang ayah dapat melihatnya, memandangi dirinya seperti seorang putri. Gadis itu selalu merasa iri pada Melian, setiap kali kakaknya itu bisa bercakap-cakap panjang lebar dengan beliau. Liv juga ingin memiliki sosok ayah dalam hidupnya.

Akan tetapi, sampai detik Liv berdiri di hadapan Olrun, pria itu menunduk, sibuk fokus membaca surat kabar di hadapannya. Raut wajah pria paruh baya itu tampak menegang. Liv diliriknya sekilas, sebelum dia bangkit dari kursi.

Kemudian, Olrun melemparkan surat kabar ke arah putri keduanya itu dan berteriak, "Jelaskan padaku, apa maksud dari semua ini!!"

Liv terkejut, lemparan gulungan koran itu mengenai wajah, hingga ia memicingkan mata, lalu jatuh ke lantai. "A-ayah ...? Ada apa---"

"Jelaskan padaku, kenapa gambarmu bisa terpampang di surat kabar!"

Liv mengambil surat kabar tersebut dari lantai. Gadis elf itu membacanya saksama. Hal yang dimaksud ayahnya ada di halaman ketiga. Lukisan dirinya dari sudut pandang belakang tertera di sana. Di bagian kepala berita bertuliskan "Putri Themaris tertangkap basah, keluar sendirian pada malam hari."

Apa? Ini tidak mungkin! Padahal aku sudah berhati-hati, agar tidak ada seorang pun yang melihat, tapi---

"Jawab pertanyaanku!!" hardik Olrun, membuat Liv tersentak dari lamunan. Kedua tangan Liv yang memegangi surat kabar tersebut bergetar saking takutnya.

Ini pertama kalinya, sang ayah menatap dirinya seperti itu. Namun, bukan dengan penuh kasih sayang, melainkan amarah dan kebencian. Gadis itu bahkan tidak berani membalas tatapan mata ayahnya itu.

"A-aku bisa jelaskan, Ayah!"

"Jangan panggil aku Ayah! Setelah kau membuatku istriku tiada, sekarang kau berani mempermalukan nama keluarga yang sudah kujaga susah payah!"

"Ayah! Cukup!!" Dari arah pintu, terdengar teriakan Melian. Gadis itu langsung berlari dan memeluk Liv yang tengah menangis tersedu.

Olrun mendengkus keras. "Untuk apa kau membela anak ini? Sudah jelas dia---"

"Dia tetap adikku! Anak kandungmu juga, Ayah! Titipan Ibu!" balas Melian.

"Dia bukan anakku!"

"Tapi, Ayah---"

"Kakak ... sudah cukup ... sudah ... ," Liv akhirnya angkat suara.

"Liv ... Ayah tidak bermaksud menyakitimu, jangan diambil hati, ya ... ," ucap Melian, tetapi langsung disangkal oleh Olrun.

"Pergilah kau dari rumah ini. Aku tidak sudi melihatmu ada di hadapanku lagi." Olrun kembali duduk di kursi, tanpa melihat Liv sedikit pun.

Melian terbelalak mendengar ucapan ayahnya. Dia langsung maju ke depan meja tulis Olrun. "Apa maksudmu, Ayah? Liv akan tinggal di mana kalau bukan di rumah ini!"

"Aku tidak peduli!" hardik Olrun.

"Ayah, kumohon! Jangan seperti itu pada Liv! Jangan mengusirnya!" Melian masih saja memperjuangkan adiknya, meski Liv sudah memegangi lengan kakaknya itu untuk berhenti berdebat denagn sang ayah.

"Kakak ... sudahlah ... ." Wajah Liv sudah begitu basah oleh tangisan. Kedua matanya sembab karena terlalu banyak air mata yang dikeluarkan. Suaranya sengau saat berkata, "Ayah sudah pernah ingin membunuhku. Diusir bukanlah suatu masalah besar ... ."

"Liv ... ." Melian menyeka air mata adiknya itu. "Tenanglah, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"

Gadis itu berbalik lagi pada ayahnya, "Ayah, kalau kau tetap mengusir Liv, baiklah, aku akan ikut dengannya!"

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!