10. Makhluk Barbar

Mata Dean kembali menyisiri sekitar. Hutan belantara tempatnya berada terasa begitu nyata. Sebisa mungkin, Dean berusaha tidak terpenjara oleh kepanikan yang menyerang sebagian dirinya.

Lelaki itu mencoba mengendalikan kecemasannya dengan kembali menikmati kicauan burung yang bersahut-sahutan dan suara bising serangga yang biasanya hanya muncul saat cuaca panas. Dean sudah memutuskan. Ia harus bergerak selagi matahari masih berada di atas kepala meski tidak terlalu terlihat.

"Setidaknya, aku harus berhasil keluar dari tempat aneh ini sebelum malam." 

Dean pun berusaha mengingat pelajaran yang ia terima saat menjalani kegiatan pecinta alam di sekolahnya dulu. Jika tersesat dalam hutan, sebisa mungkin ia harus mencari aliran sungai. Karena, biasanya selalu ada pemukiman penduduk di sekitar aliran tersebut.

Dean mulai menyusuri hutan sembari memasang pendengarannya baik-baik, berharap mendengar suara gemercik air. Makin berjalan, kerimbunan dedaunan di atas kepala Dean makin berkurang. Jarak antar phonnya juga mulai renggang, hingga matahari dapat menyinari tanah hutan lebih banyak.

Selama menyisiri hutan, Dean diam-diam menyadari bahwa tidak ada satu pun hewan buas berkeliaran di sekitarnya. Ia hanya menemukan hewan-hewan kecil seperti tupai dan burung-burung, yang disyukuri Dean dalam hati.

Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya Dean mendengar suara aliran air. Ia pun berusaha mendekati sumber suara itu secara insting dan mengandalkan pendengarannya.

Benar saja, setelah beberapa saat lamanya mengikuti suara, akhirnya Dean melihat aliran sungai dari sela-sela pepohonan.

Dean mempercepat langkah dengan debar jantung penuh kegirangan. "Kalau ada aliran sungai, itu berarti di dekatnya pasti ada pemukiman!"

Tanpa ragu, Dean membungkuk dan menangkup air sungai yang jernih itu dengan kedua tangan, lalu meminumnya. Kesegaran air tersebut mampu mengusir dahaga yang sejak tadi ia tahan, begitu pula rasa cemasnya. Secercah harapan akan lolosnya ia dari hutan ini pun seketika membuncah dalam dada.

Selesai menenggelamkan dahaga serta mengumpulkan tenaga, Dean melanjutkan perjalanannya dengan menyisiri tepian sungai. Beruntung, hanya beberapa saat lamanya berjalan, ia berhasil menemukan tanah lapang.

Dean berhenti sejenak, kemudian mengembus napas lega sembari mengedarkan pandangan ke sekitar. Senyum kecil menghiasi bibirnya, gembira. "Akhirnya, bisa ke luar dari hutan yang tidak jelas ini!"

Tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat tiga pemuda sedang duduk di tembok pembatas jembatan yang melintas di atas aliran sungai kecil.

Ahh, ada warga lokal yang bisa kuajak bicara! batin Dean gembira, kemudian menghampiri mereka.

Namun, semakin Dean mendekat, ia malah menemukan kejanggalan pada ketiga pemuda itu.

Rambut mereka berwarna-warni —masing-masing merah, kuning, dan hijau— tidak seperti orang Indonesia pada umumnya yang berambut hitam.

Lalu, kulit mereka juga begitu putih. Padahal, seputih-putihnya kulit manusia, pasti ada sedikit kecokelatan atau kemerahan karena pigmen. Bahkan, kulit mereka tampak bercahaya saat terkena sinar matahari.

Lebih anehnya lagi, meski memiliki tinggi dan perawakan layaknya manusia biasa, tetapi daun telinga mereka panjang dengan ujung lancip dan mencuat keluar dari balik rambut. Ketiga warga lokal itu jadi tak terlihat seperti manusia lagi, melainkan makhluk mitologi Eropa bernama elf.

Itu ... tidak mungkin, 'kan? Benarkah mereka elf? Atau jangan-jangan, mereka hanya sedang pakai kostum? 

Dean terheran-heran, sambil terus berjalan mendekat. Ia tetap berpikir optimis. Benar, pasti sedang pakai kostum! Mana ada elf di dunia nyata?

Jarak Dean kini hanya dua meter dari ketiga pemuda itu. Salah satu dari mereka akhirnya menyadari keberadaan Dean. Kedua pemuda yang lain mengikuti arah pandang temannya, lalu menatap Dean.

Kemudian, mereka saling bertukar pandangan satu sama lain seraya memasang raut bingung. Tak berani bergerak lebih dekat lagi, Dean memilih diam di tempat, ketika mereka bertiga menghampiri.

"Siapa kau?" tanya si rambut hijau. Suaranya tak jauh berbeda dari manusia dewasa pada umumnya.

Sebelum Dean sempat menjawab, si rambut kuning ikut bertanya, "Kenapa bajumu aneh sekali, ya?"

Mereka mengamati Dean lebih saksama. Memang, bila dibandingkan dengan pakaian ketiga pemuda itu, penampilan Dean terlihat sangat berbeda. Ia memakai celana kain hitam dan kaus putih berlengan panjang, sementara mereka mengenakan mantel tipis yang menutupi tubuh dari dada hingga kaki—seperti pakaian dalam film-film fantasi.

Apa mereka ini aktor yang baru selesai main film? Kalau begitu, di dekat sini jangan-jangan ada kamera? Dean terus bertanya dalam hati sembari sesekali celingak-celinguk mencari benda yang ia yakini ada di sekitar. Namun, ternyata nihil.

Para pemuda itu mulai geram karena Dean tak kunjung menjawab. "Jangan diam saja!"

Dean tersentak. Ia ingin membalas, tetapi raut wajah para pemuda ini sudah terlanjur kesal dan garang seperti preman pasar. Ia hanya bisa menjawab dengan terbata-bata, "Maaf, saya—"

"Aneh. Warna kulitnya berbeda, lihat!"

Salah seorang dari mereka meraih pergelangan tangan Dean secara kasar dan menariknya ke atas, lalu membandingkan punggung tangan Dean yang cokelat dengan kulit mereka yang seputih porselen.

"Setahuku, di kerajaan ini hanya ada satu orang yang berkulit gelap, yaitu putri dari keluarga Themaris. Apakah kau anggota keluarga mereka?" tanya si rambut merah, sementara Dean melepaskan tangannya dari genggaman pemuda itu

Themaris? Rasanya aku tidak asing dengan nama itu. Tapi, pernah dengar di mana, ya? Dean kembali bertanya dalam hati, sembari menggaruk area rambut di atas telinga yang sebenarnya tidak gatal.

Seketika, si rambut merah terkesiap. "Oh, telinganya bulat!"

"Memangnya kenapa, kalau telinganya bulat?" tanya si rambut hijau dengan polos.

Si rambut kuning langsung menjitak kepala kerabatnya itu. "Apa kau lupa pelajaran sejarah dunia yang kita terima di akademi, Gale? Telinga bulat itu adalah ciri-ciri manusia!"

"Manusia? Makhluk barbar yang sudah lama punah ribuan tahun lalu itu, Yich?" Gale memastikan, yang dibalas oleh anggukan si rambut kuning yang dipanggil Yich.

Dean sangat kebingungan dengan apa yang baru saja dikatakan oleh ketiga pemuda tersebut. Makhluk barbar yang punah? Mirip sekali dengan apa yang kutulis sebagai latar belakang dunia di novelku!

Si rambut merah makin curiga. Pemuda itu mengelilingi tubuh Dean, memerhatikannya secara keseluruhan. "Apa jangan-jangan dia ... benar-benar manusia?"

"Kalau benar seperti itu, Ren, warga bisa gempar karena hal ini!" pekik Gale.

Seketika itu juga, Dean mulai merasa tidak aman. Firasatnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres di sini. Perlahan, Dean melangkah mundur, berusaha menjauh dari ketiga pemuda itu.

"Ah, kalian salah paham! Te-telingaku ini tidak bulat, ta-tapi sedang pakai kostum saja," kilah Dean disusul tawa kecil nan kaku. Tentu saja alasan Dean tidak bisa diterima begitu saja oleh ketiga pemuda bertelinga lancip tersebut.

"Mencurigakan! Tangkap dia, cepat!"

Dean bergerak menghindar sesuai insting, ketika salah satu dari mereka hendak meraih lengannya. Lelaki itu segera kabur dari lokasi, yang tentu saja langsung diikuti oleh ketiga elf tadi. Pikirannya begitu kalut saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa suatu hari akan bertemu makhluk mitologi seperti mereka.

Mimpi apa aku semalam, sampai harus mengalami hal seperti ini!

"Berhenti!!" teriak salah satunya, lalu melancarkan serangan berupa tembakan cahaya ke arah Dean. Untung saja lelaki itu dapat menghindar.

Yang barusan itu ... sihir?!!

Dean makin panik dan terus berlari tak henti, melintasi pemukiman penduduk. Pertama kalinya ia melihat hal gaib yang namanya sihir seperti tadi. Sembari berlari, Dean mengedarkan pandangan ke atas, kiri dan kanan. Tampaklah di depan matanya begitu jelas, pemandangan yang tak akan Dean temui ketika berada di bumi.

Pepohonan menjulang tinggi sampai puluhan meter, berhiaskan atap-atap bergenting yang menempel di bagian batang. Selain atap genting, juga ada balkon, jendela, dan pintu. Rumah-rumah dibangun di dalam batang pohon. Maka tak heran, bila diameter pohon-pohon di sini begitu besar, berbeda dengan yang Dean temui selamadi hutan tadi. Hanya bagian depan seperti pintu dan teras atau balkon yang menonjol keluar.

Di langit, tampak burung-burung besar berpelana sedang melintas, membawa satu atau dua orang pengemudi di atasnya. Ada juga kereta roda kayu yang tenaganya ditarik bukan menggunakan kekuatan kuda, melainkan kadal besar seperti komodo. Jalannya lebih cepat ketimbang delman yang ada di bumi. Ada pula gerobak-gerobak pengangkut barang yang ditarik oleh hewan sejenis sapi bertanduk panjang melingkar.

Ini aneh ... Benar-benar gila! Tapi, kenapa rasanya aku pernah melihat ini semua?

Beberapa elf tampak berada di teras atau balkon, sedang melakukan aktivitas masing-masing. Sebagian ada yang terlihat berjalan-jalan dan bersenda gurau dengan sesamanya. Dean tidak sempat memperhatikan secara keseluruhan. Yang ia tahu mereka semua bertelinga lancip dan berkulit putih porselen.

Laju cepat kedua kaki Dean tidak berhenti. Ketiga elf dibelakangnya berusaha melancarkan sihir mereka seperti tadi, tetapi kerap gagal. Dean cukup beruntung untuk bisa menghindari semua serangan tersebut tanpa ada pertahanan sedikit pun.

"Hei, tunggu! Makhluk barbar! Hei! Berhenti!" teriak Gale, berusaha menghentikan Dean. Orang yang dipaggil tentu saja tidak mau menurut.

"Dia menghilang! Sial!" Ketiga elf itu berhenti di atas sebuah jembatan batu penghubung antara area perumahan dan fasilitas umum yang terpisahkan oleh sungai. Mereka bertiga terengah-engah, kehilangan jejak Dean.

Si rambut hijau dijitak kepalanya oleh si rambut kuning. "Gale bodoh! Jangan berteriak-teriak seperti tadi begitu!"

"Memangnya kenapa, Yich? Apa salahku!" Gale bersungut kesal.

"Di sini banyak orang! Kalau nanti ada orang lain yang menyadari dia itu manusia, lalu membawanya ke istana lebih dulu dari kita, gagal sudah rencana untuk mendapat imbalan besar!" sahut Ren si rambut merah. Gale mengangguk-angguk paham.

"Jadi, kita cari diam-diam saja?"

"Benar! Ayo berpencar!"

Mereka bertiga memutuskan untuk berpisah di tengah jalan, ke arah yang berlawanan. Ketiga elf itu tidak menyadari bahwa Dean mendengarkan semua percakapan mereka dari tepi sungai di bawah jembatan. Lelaki itu terengah-engah kehabisan napas.

Kenapa aku jadi terjebak begini! Apa yang sudah kulakukan sampai harus tersasar kemari!

Dean berusaha menenangkan pernapasannya. Saking sibuknya berlari, dia sampai lupa rasa sakit di punggungnya akibat tersambar sihir tadi. Tak lama, dari atas jembatan tempat lelaki itu bersembunyi, terdengar suara beberapa gadis saling mengobrol sambil melintas.

"Apa kau tahu, bahwa calon raja kita sangat tampan?"

"Ah, aku sudah dengar rumornya! Katanya, mirip sekali dengan mendiang Raja Aelfric sewaktu muda!"

"Iya, kau benar, tapi anehnya, masih ada saja yang mempertanyakan apakah sang pangeran ini benar keturunan Raja Aelfric atau bukan ... ."

"Hmmm, mungkin karena asal-usul ibunya yang hanya gadis desa, sedangkan selama ini, keturunan raja selalu terlahir dari darah bangsawan murni."

"Ah, kasihan sekali calon raja kita, ummm ... aku lupa, siapa namanya?"

"Namanya Haldir. Haldir Legolas."

Dean seketika terperanjat begitu mendengar obrolan para gadis tersebut.

Haldir Legolas! Jadi benar, kalau ini dunia dalam novelku "Sang Pangeran Terbuang"?!

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!