18. Mengubah Takdir

"A-apa ... yang terjadi selanjutnya ...?" tanya Liv, begitu ragu kalau dia ingin mengetahui jawabannya. Dean menghela napas sejenak, sebelum kembali melanjutkan.

"Sihirmu selama ini selalu jadi yang terlemah dibanding para elf lain, padahal energi dalam tubuhmu itu banyak sekali.

Akhirnya, kau menemukan cara untuk bisa melepas semua energi tersebut dan mengubahnya menjadi kekuatan. Dalam sekejap, kau berubah menjadi elf terkuat di dunia ini. Kau menghabisi orang-orang di sekitarmu. Kau---"

"Cukup! Hentikan!!" teriak Liv seraya menutup kedua telinga, berusaha mencegah dirinya untuk terprovokasi lebih lanjut.

Akan tetapi, Dean tetap tidak peduli. "Kau mulai menghilangkan nyawa ayahmu sendiri. Kau mulai menyerang ibu kota, lalu---"

"Tidakkk!! Itu bohong! Aku tidak akan pernah melenyapkan Ayah!"

"Melihat kejadian tersebut, Haldir tidak tinggal diam. Setelah mendapatkan kekuatan dalam waktu singkat, dia mulai menyerangmu. Kalian mulai beradu sihir satu sama lain. Pada akhirnya, kau yang kalah, kemudian---"

"Sudah kubilang, hentikannn!!" Secara tiba-tiba, Liv mengeluarkan sihirnya dari kedua tangan, lalu langsung menyambar Dean, hingga akhirnya lelaki itu terlempar ke belakang.

"Arghhh!!"

"Eh?" Liv jadi bingung sendiri. Pasalnya, dia tahu kalau kekuatan sihirnya itu sangat lemah. Mungkin, setara dengan elf balita. Liv sama sekali tidak menyangka, kalau dia bisa membuat orang lain sampai jatuh terjungkal seperti Dean saat ini.

Liv segera menghampiri Dean, takut terjadi sesuatu pada lelaki tersebut. Namun, begitu ingin mengulurkan tangan, Liv menyadari ada yang berbeda dari tubuh Dean, saat tudung penutup kepala lelaki itu tersingkap. Pemuda itu tidak berkulit putih porselen seperti para elf lain, melainkan cokelat. Daun telinganya bulat dan rambutnya juga hitam. Liv baru menyadari, rambut hitam itu juga dia lihat kemarin malam. Karena saking takutnya ketahuan warga, Liv melupakan hal yang terlihat depan mata.

Dahulu sekali, waktu mulai masuk sekolah, Melian sering membacakan isi buku pelajarannya pada Liv. Salah satunya adalah buku berjudul "Sejarah Dunia: Perang Elf dan Manusia". Bagi Liv yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah, satu-satunya pengetahuan yang dia dapat adalah berasal dari buku-buku pelajaran sang kakak.

*Di buku itu tertulis, kalau ciri-ciri manusia adalah kulit kecokelatan dan telinga bulat, juga rambut putih, pirang, merah, cokelat, dan hitam.

Semua warna tersebut sudah biasa ada di dunia ini, kecuali hitam. Hanya manusia yang bisa memilikinya. Dan, manusia juga memiliki pertahanan sihir yang lemah. Jadi* ....

Liv terkesiap. Tangan yang hendak gadis itu ulurkan untuk menolong Dean, sekarang sedang menutupi mulutnya yang menganga karena terperangah. "Ka-ka-kamu ... manusia?!"

"Ughhh ... ." Dean berusaha kembali bangkit sendiri pada akhirnya, sambil memegangi dada yang kesakitan. Kausnya sampai bolong seperti habis terbakar, tetapi tidak sampai berdarah hebat seperti luka sebelumnya oleh si trio elf. Hanya ada beberapa tetes cairan merah kental, jatuh di permukaan lantai kayu kamar tersebut.

Sudah dua kali pemuda itu tersambar serangan sihir di dunia yang dia sendiri ciptakan ini. Di narasi, Dean hanya menuliskan kalau pertahanan tubuh manusia memang lemah bila terkena serangan sihir. Ternyata, kata 'lemah' tesebut berdampak cukup besar pada dirinya sekarang.

"Iya, aku manusia, seperti yang kau lihat. Tapi aku berasal dari dunia lain. Aku bukan termasuk manusia yang rasnya punah akibat peperangan ribuan tahun lalu," sahut Dean.

"Kamu mengetahui sejarah kami?" tanya Liv. Dean berdecak dan berkata, "Tentu saja! Sudah kubilang, 'kan, akulah yang menulis isi cerita dunia ini!"

"Jadi ... seluruh nasibku yang malang ... kau juga yang menuliskannya?" tanya Liv. Gadis itu mulai percaya pada apa yang Dean katakan. Dean mengangguk dan menjawab, "Sayangnya, iya."

"Kau ... kau tega membuat hidupku hancur berantakan seperti ini ... hanya demi ceritamu itu?" Liv kembali bertanya. Dean menghela napas, dia jadi bingung bagaimana menjelaskannya.

"Mau bagaimana lagi, aku di sini hanya mengarang cerita. Mana aku tahu kalau pada akhirnya, dunia yang kuciptakan jadi hidup seperti ini dan---"

"Kau!!" Liv mendorong tubuh Dean. Tidak terjungkal seperti sebelumnya, Dean tetap bergeming di tempat. Liv tidak menyerangnya menggunakan sihir. Bila hanya serangan fisik, manusia jauh lebih kuat ketimbang elf.

"Kau menghancurkan hidupku! Apa kau tahu, aku dihina dan dirundung sepanjang hari, setiap kali aku pergi keluar rumah! Aku tidak pernah bisa menghirup udara bebas tanpa cacian orang lain!!"

Liv berteriak dan memukul-mukul Dean, yang langsung ditahan oleh kedua tangan pemuda itu. "Aku tahu, tenanglah!"

"Apa kau juga tahu, kalau aku tidak ingin membunuh ibuku! Tapi gara-gara tulisanmu itu, sampai kini bahkan ayahku sendiri membenciku! Sekarang, pada saat akhirnya aku sudah bisa memiliki teman, kau ingin membuatku harus melawannya, hanya sebagai penutup novelmu?!"

Pukulan Liv melemah, suara isak tangisnya mengencang, meninggalkan rasa bersalah yang hebat pada Dean. Akan tetapi, semuanya sudah terjadi. Hal yang tersisa sekarang adalah, bagaimana cara untuk memperbaiki semuanya.

"Aku bisa mengubah takdirmu," ucap Dean. Liv langsung mendongakkan kepala dan bertanya dalam nada tidak percaya. "Sungguh?"

"Iya. Tapi untuk melakukan itu, aku harus bisa kembali pulang ke dunia asalku. Baru setelahnya, aku bisa menyunting naskahku."

Liv menyeka air mata yang masih tersisa di pipi. Dia seperti baru saja mendengar harapan baru untuk kehidupannya. "Ba-bagaimana caranya agar kau bisa pulang ke duniamu itu?" tanya Liv antusias.

"Aku membutuhkan bantuanmu," sahut Dean. Liv mengernyitkan dahi dan bertanya, "Bantuanku?"

"Aku ingin mengajakmu untuk ikut dalam sebuah perjalanan menuju puncak pegunungan Nautabu. Di sana ada kuil suci. Ada portal menuju ke semesta lain di dalamnya."

"Kuil di puncak pegunungan Nautabu? Maksudmu, Lileathhof?" tanya Liv memastikan. Dean mengangguk, "Iya, itu namanya."

Lileathhof adalah kuil yang diciptakan Dean bagi warga Kerajaan Legolas untuk menyembah sang Dewi bulan, Lileath. Di dunia ini, ada banyak Dewa-Dewi yang disembah oleh para elf, tetapi Kerajaan Legolas mendedikasikan diri mereka untuk menjadikan Lileath sebagai Dewi utama untuk dipuja.

Terinspirasi dari Dewi di salah satu gim yang pernah Dean mainkan, Lileath adalah Dewi pemberi ramalan, mimpi, dan keberuntungan. Dia juga dikenal sebagai Gadis Danau, karena dipercaya akan muncul di atas permukaan air danau di pertengahan tahun, saat salah satu malam fase purnama di musim panas tiba.

Sang Dewi hadir untuk memberikan mimpi dan keberuntungan bagi warga, lalu memberikan gambaran akan ramalan tentang Kerajaan Legolas di masa depan, di atas permukaan air. Itu sebabnya diadakan Festival Lunar setahun sekali di tepi danau Moonlite. Para warga dari kota lain pun ingin bisa pergi ke ibu kota untuk menghadiri perayaan besar ini.

Namun, meskipun danau Moonlite adalah tempat diadakannya Festival Lunar, persembahan dilakukan di kuil Lileathhof, di puncak pegunungan Nautabu. Kuil suci ini merupakan tempat kedua terpenting untuk memuja sang Dewi bulan. Para warga mengirimkan donasi sebagai persembahan melalui kuil tersebut sepanjang tahun.

"Di dalam novelku, Haldir pergi ke kuil tersebut untuk memperkuat dirinya agar bisa melawanmu di akhir cerita. Melalui portal yang ada di sana, Haldir bisa pergi melintasi alam semesta."

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!