Sementara itu, di dunia yang berbeda. Seorang kurir paket berkali-kali menggedor pintu kayu kamar kontrakan petak yang berlokasi di salah satu gang jalanan kota.
"Permisi, paket!!" teriak si kurir kembali, sudah ke sekian kalinya. Namun, tetap saja tak ada seorang pun yang membukakan pintu. Jangankan pintu yang terbuka, disahut dari dalam saja tidak.
Apa penghuninya masih tidur, ya? Tapi, ini kan sudah jam sepuluh pagi! Si kurir mulai bertanya-tanya dalam hati.
Si kurir mulai lelah. Tangannya juga sudah mulai pegal mengetuk. Si kurir menoleh ke belakang, di mana ia memarkirkan motornya. Masih banyak paket lain yang harus diantarkan. Ia tak bisa berdiam diri di satu tempat saja seperti ini.
"Apa aku tinggal saja paketnya di depan pintu? Tapi ... ." Si kurir mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bangunan kontrakan itu tidak hanya terdiri dari satu kamar saja. Ada sekitar lima ruangan berderet menyamping, dalam satu pekarangan dan pagar yang sama. Si kurir takut apabila paket ditinggal di luar, akan ada yang mencuri nantinya.
Si kurir menatap lagi paket yang ada di tangannya. Bentuknya kotak lebar, dengan lapisan bubble warp menyelimuti permukaannya. Tentu saja, ia tidak tahu isinya. Hanya tertera nama pengirim di belakang, yakni PT Tutulilis, dan nama penerima di depan serta alamatnya, Dean Prayogo. Lalu, terdapat stiker bertuliskan FRAGILE di sebelahnya.
Ya sudah, coba panggil agak keras sekali lagi. Kalau masih enggak ada yang jawab dari dalam, dikembalikan saja ke Hub. Nanti bisa diantar lagi besok, batin si kurir dalam hati.
Si kurir mengambil satu tarikan napas, sebelum akhirnya berteriak, "Permisi, paket!!"
Kali ini, usahanya membuahkan hasil. Ada suara gedebuk dari dalam, seperti ada yang jatuh. Diikuti suara berisik yang mengikuti.
Akhirnya, ada orang! Si kurir memasang badan tegap, seraya menampilkan senyum terbaik di pagi itu. Bagaimanapun menyebalkannya pelanggan, ia selalu ingin melayani dengan baik.
Namun, begitu celah pintu terbuka sedikit, hanya gelap yang terlihat. Bau apek tercium samar-samar, seolah-olah pintu kamar serta ventilasinya tak pernah dibuka sama sekali. Ada rantai yang menghubungkan antara pintu dan tembok di sebelahnya.
Kemudian, dari celah pintu yang gelap tersebut, terlihat sepasang mata bulat kemerahan mengintip dari balik rambut yang acak-acakan.
"S-s-se-se-SETAAANNN!!"
Si kurir langsung melupakan paket di tangannya dan lari tunggang langgang ke arah motor yang diparkirnya. Ia pasti telah memutar setang gas dan memacu laju motornya secepat mungkin, kalau saja seseorang - yang ia panggil dengan julukan setan barusan - tak keluar dari kamar dan mencegahnya pergi.
"Hoi! Kurang ajar! Saya manusia!!" hardik lelaki itu. Ia keluar dari kamar kontrakannya, sembari menutupi sebagian wajah dengan sebelah tangan guna menghalau sinar matahari yang mulai terik. Raut wajahnya begitu galak menatap tajam si kurir.
Kurir paket tersebut melongo, lalu memastikan kedua kaki lelaki yang tertutup celana panjang itu. Rupanya masih menapak tanah. Si kurir melirik kembali jam di tangannya, kemudian menenangkan diri. Oh iya, ini kan masih siang! Mana mungkin ada setan jam segini!
"A-maaf, Kak ... atas nama Dean Prayogo?" tanya si kurir, seraya menyodorkan paket yang sedari tadi berada di tangannya. Lelaki itu mengambil secara kasar kotak paket tersebut.
"Sudah jelas alamatnya benar di sini. Memangnya ada orang lain yang keluar dari kamar ini selain saya?" cerocos si penerima paket.
"Oh iya, Kak, maaf ... Er, kalau begitu, tandatangan di sini, Kak, untuk bukti terima," jawab kurir takut-takut. Ia membatin dalam hati, Ternyata lebih seram dari setan!
Seusai Dean membubuhkan tanda tangan, si kurir segera mengucapkan terima kasih dan bergegas tancap gas motornya. Ia tak ingin berurusan lama-lama dengan orang galak seperti itu.
Dean membaca nama pengirim yang tertera di kotak, sembari berjalan masuk ke kamar dan mendorong pintu di belakangnya pakai kaki hingga tertutup. Ia duduk di tepi ranjang yang penuh tumpukan baju bersih yang baru saja diangkat dari jemuran. Kesibukan Dean membuatnya tak pernah lagi menyetrika dan meletakkan pakaian rapi ke dalam lemari.
"PT. Tutulilis? Oh, pasti bingkisan Beetale, ya?" Dean mengamati kotak tersebut agar lebih jelas. Lalu, ia mencari gunting. Setelah sepuluh menit membongkar-bongkar seluruh buku yang berserakan di atas meja, ia menemukan benda tersebut di bawah piring dengan beberapa tusuk sate ayam sisa di atasnya.
"Hah, ini gunting pakai ngumpet segala!" omel Dean pada benda tak berdosa tersebut. Padahal, jelas ia sendiri yang tak pernah meletakkan barang-barang yang sudah selesai digunakan kembali ke tempatnya.
Dean menggunting lakban yang merekat, menyegel kotak paket. Begitu dapat dibuka, ia melihat ada sebuah plakat akrilik, satu cangkir cantik berwarna biru tua, satu buku tulis, satu tote bag, dan dua lilin aroma terapi. Semua benda tersebut memiliki logo berupa siluet lebah di atas buku, serta tulisan Beetale di bagian bawah.
Beetale adalah sebuah platform menulis daring yang dikelola oleh PT. Tutulilis. Sudah dua tahun lebih, Dean berkecimpung di sana sebagai seorang penulis novel daring bergenre fantasi, dan penghasilannya telah mencapai hampir seratus juta.
Pencapaian Dean membuatnya memasuki peringkat teratas penulis terbaik di platform lebah tersebut, dan kini ia mendapatkan bingkisan sebagai apresiasi. Hanya yang menduduki peringkat top 50 yang bisa mendapatkan bingkisan semacam ini.
Dean mengangkat plakat akrilik bertuliskan namanya tersebut dari dalam kotak dan mengusap tiap ukiran huruf bertinta emasnya penuh sayang. Di sana tertulis ucapan selamat atas keberhasilannya mengumpulkan pembaca terbanyak untuk genre fantasi.
"Hoho! Ini harus kupajang!" seru Dean gembira. Namun, begitu melihat keadaan meja tulisnya yang sangat penuh barang, ia langsung gusar.
"Astaga! Berantakan banget!" Terpaksa, Dean merapikan terlebih dahulu mejanya.
Dean adalah penulis daring ternama dengan ribuan pembaca yang menunggunya mengunggah satu bab terbaru setiap harinya. Mengetik naskah sepanjang hari adalah kehidupan lelaki itu sekarang. Semua ia lakukan demi adanya bab baru yang dibuka kuncinya oleh pembaca, menggunakan koin platform. Nantinya, koin tersebut akan dikonversi menjadi saldo rekening setiap harinya.
"Sudah berapa bulan aku tidak beres-beres kamar, ya?" gumamnya pada diri sendiri, seraya mulai mengangkut barang apa pun yang ia temukan dan meletakkannya di tempat seharusnya.
Ranjang penuh tumpukan baju yang baru saja dijemur, lantai penuh kertas-kertas coretan ide, dan meja penuh buku-buku novel dan nonfiksi koleksinya. Kamar berukuran tiga kali empat itu terlihat sumpek dengan ventilasi yang jarang dibuka. Dean sampai bingung harus mulai merapikan dari mana.
Baru saja Dean hendak memasukkan buku ketiga ke dalam rak yang tergantung di atas meja, ponselnya berdering. Ada nama Delia tertera di layar.
"Ya, Dek?" sapa Dean begitu menekan tombol terima panggilan. Namun, yang menyahut bukanlah suara adik perempuannya seperti biasa, melainkan seorang wanita paruh baya dengan nada lembut.
"Dean, ini Mama, telepon pakai hapenya Delia," sahut ibunya dari seberang sambungan telepon. Dean menghentikan kegiatan beres-beresnya sejenak dan duduk di kursi beroda depan meja.
Sembari menghabiskan satu tusuk sate ayam sisa semalam, ia membalas panggilan tersbeut. "Iya, Ma? Kenapa?"
"Minggu ini, kamu bisa pulang ke rumah?"
"Umm, tunggu sebentar." Dean melihat kalender meja di hadapannya. Berbagai tanda bulatan melingkari beberapa tanggal.
Kemudian, ia menolak secara cepat. "Enggak bisa, Ma. Banyak naskah yang harus selesai bulan ini."
"Kamu selalu sibuk, Nak. Sesekali luangkan waktu untuk pulang," bujuk sang ibu. "Delia sebentar lagi akan wisuda. Dia pengen banget kakaknya bisa hadir di acara besarnya."
Raut wajah kesal segera terbit di wajah Dean. Ia paling tidak suka membahas topik yang satu itu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
marie_shitie💤💤
hahahaha,,,ngocok perut nih kurirnya
2023-05-13
0
Sari Muliyanti
ini masih pria thor
2023-04-04
0