Catatan: (2 Apr 2023) Mohon maaf, ada perubahan tulisan dari Bab 7-11, boleh dibaca ulang agar lebih memahami sifat Dean yang arogan. Adegan Dean menelepon ayah diganti dengan menelepon ibu (yang meninggal adl ayah). Namun, alur tetap sama, jadi tidak dibaca ulang juga tak masalah. Terima kasih, selamat membaca.
***
Haldir Legolas, setelah ditemukan oleh adik raja di sebuah desa, dirinya dibawa ke kerajaan dan ditempatkan pada posisi sebagai pengganti raja sebelumnya.
Latar belakang ibunya yang hanya gadis desa membuat Haldir banyak menerima cemoohan sekitar. Namun, Haldir berhasil membuktikan kalau dirinya pantas menjadi raja. Dipimpin oleh Haldir, Kerajaan Legolas banyak menerima berita kemenangan perang melawan kerajaan-kerajaan sekitar. Haldir berhasil memperluas wilayah Kerajaan Legolas dan mengharumkan namanya ke seluruh dunia.
Kisah Haldir Legolas berhasil membuat Dean meraup keuntungan puluhan juta rupiah sejak mulai ditulis. Hingga Delia, adiknya, tidak lagi terkendala biaya untuk menyelesaikan sekolah.
Akan tetapi, dari semua yang berhasil ia ingat, tidak ada satu pun yang menurut Dean bisa digunakan sebagai jalan pulang menuju dunia asalnya.
Tidak! Aku pasti bisa menemukan cara untuk kembali pulang! Kalau memang benar aku telah mengalami transmigrasi, aku pasti bisa kembali! Aku tidak mati! Aku hanya pusing saja di kamar, aku belum mati!
Dean menolak untuk percaya bahwa dirinya telah tiada, hingga jiwanya berpindah dunia seperti yang biasanya ada di cerita-cerita dunia paralel alias isekai.
Dean yakin, ia masih hidup. Masih banyak hal yang belum dia lakukan di dunia asalnya. Terlebih lagi, cerita "Sang Pangeran Terbuang" belum sempat dia tamatkan. Dean juga belum sempat bertemu dengan keluarganya lagi.
Lelaki itu belum sempat mengucapkan selamat pada Delia atas kelulusannya. Ia juga belum sempat melihat adiknya berhasil, jadi orang sukses yang bisa dibanggakan.
Mama ... Delia ... aku menolak untuk mati sebelum bisa bertemu dengan mereka lagi!
"Oh, itu dia!!" Terdengar suara berteriak, mengagetkan Dean. Lelaki itu menoleh. Ren si elf rambut merah sedang berdiri tak jauh dari tempat Dean berada. Ia berhasil menemukan Dean berada di bawah jembatan, di tepi sungai.
Mendapati dirinya berada dalam bahaya kembali, Dean segera beranjak, melompat ke atas. Hampir saja ia terkena sihir Ren yang diarahkan padanya. Sihir itu meleset, malah mengenai permukaan air sungai hingga aliran airnya bergejolak.
Sepertinya si rambut merah itu tidak mahir untuk mengontrol arah tembakan sihir miliknya, ucap Dean dalam hati.
Dean sempat berbalik dan menertawakan, sebelum akhirnya berlari kembali. Ren tentu saja geram diperlakukan seperti itu oleh manusia.
"Si*lan! Gale! Yich! Aku menemukannya!" teriak Ren, memanggil kedua rekannya. Kini lengkap sudah trio warna-warni lampu merah itu, mengejar Dean kembali.
Di tengah itu semua, otak Dean terus berputar mencari solusi. Ia meyakini, bila teori multisemesta ada, dan dirinya sedang berada di semesta lain saat ini, Dean pasti bisa menemukan cara untuk pulang.
Kalau di film-film fiksi sains, biasanya ada pintu portal untuk menyeberang ke semesta lain ... .
Oh, aku ingat! Ya, ya, aku bisa pulang, dengan cara yang dipakai Haldir di bab 67!
Di bab yang Dean tuliskan tersebut, tokoh utamanya itu pergi ke suatu tempat untuk memperkuat diri, sebelum melawan si tokoh jahat yang amat kuat.
Aku tahu harus pergi ke mana sekarang. Kuil suci Lileathhof!
***
"Rasakan ini!" Yich si elf rambut kuning, melancarkan kembali sihirnya. Hanya dalam satu gerakan tangan, awan hitam mini muncul di udara dan menyambar kaki Dean yang tengah berlari dengan petir.
"Akhhh!" Lari Dean menjadi oleng ketika kaki kanannya tersambar. Ya, semenjak masuk ke dunia novel karangannya ini, Dean tidak memakai alas kaki.
Seandainya tadi di kamar aku pakai sandal atau sepatu sebelum berpindah ke dunia ini! keluhnya dalam hati.
Untungnya, Dean tidak begitu kesulitan menapaki jalanan di Kerajaan Legolas ini. Tanahnya subur berwarna cokelat kehitaman dan jarang ada kerikil bertebaran. Semuanya tampak rapi, selayaknya yang Dean tulis sebagai pemukiman warga menengah ibu kota.
Namun, meski lari Dean tidak memiliki kendala berarti, terus-menerus dikejar seperti ini membuatnya tidak bisa berpikir jernih tentang kuil portal suci yang tadi berhasil diingatnya sebagai jalan pulang menuju dunia asal.
Tidak bisa begini terus! Aku harus cari tempat bersembunyi yang cocok untukku berpikir langkah selanjutnya. Tapi ... di mana tempat seperti itu di dunia ini?
Meskipun elf di dunia ini memiliki kekuatan sihir, tetapi fisik dan stamina mereka tidak bisa dibandingkan dengan manusia. Berkebalikan dari manusia, elf cepat lelah bila harus melakukan kegiatan fisik tanpa bantuan sihir sekali pun.
Elf dapat menyihir kendaraan yang mereka tumpangi supaya berjalan cepat, tetapi tidak pada tubuh mereka sendiri. Hal ini terlihat dari jarak yang makin lebar dalam pengejaran antara ketiga elf dan Dean.
"Kenapa larinya cepat sekali, sih!" keluh Gale. Ia berhenti sambil terengah-engah, membungkuk dan menumpukan kedua tangan pada lutut. Tak lama, disusul pula kedua elf lainnya. Mereka benar-benar kehabisan napas.
"Memang benar seperti yang dikatakan dalam sejarah. Manusia itu kuat sekali fisiknya!" seru Ren.
Dean menoleh ke belakang sekilas dan melihat ketiga pemuda elf itu berhenti mengejar. Lelaki itu mengutuki dirinya sendiri, mengapa membuat sejarah dunia tentang peperangan elf dan manusia sebagai latar belakang dunia "Sang Pangeran Terbuang".
Untung saja aku tetap menyelipkan perbedaan stamina dan kekuatan fisik antara elf dan manusia. Kalau tidak, sudah habis nyawaku dari tadi! seru Dean dalam hati.
Di depan Dean sudah terlihat tembok perbatasan kota. Di dekat tembok tersebut, tampak hutan tempat lelaki itu tadi pertama kali memasuki dunia ini. Rupanya, Dean telah berlarian tanpa arah hingga ia tidak sadar sudah kembali ke titik awal.
Hutan tersebut berlokasi di dalam kota, yang terletak dekat benteng pembatas terluar. Dean menuliskannya sebagai tempat yang jarang dikunjungi, kecuali oleh warga kelas bawah yang mengumpulkan kayu bakar.
Itu berarti, di dekat sini ada pemukiman Litavenue!
Dean berhenti sejenak seraya mengambil napas dalam-dalam. Kini, ia sudah tahu akan bersembunyi di mana, sambil menyusun rencana.
Sementara itu, ketiga pemuda elf melihat Dean yang berlari makin menjauh, masuk ke dalam pemukiman kumuh di ibu kota bernama Litavenue.
Tidak semua warga di kota ini memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk bisa tinggal di distrik warga menengah seperti trio elf berambut warna-warni itu. Ada juga strata warga bawah, yang tinggal di pinggiran kota, dekat tembok benteng terluar. Biasanya para warga bawah tersebut bekerja sebagai buruh untuk strata di atasnya.
"Dia berlari ke arah Litavenue!" seru Yich sambil menunjuk ke arah pemukiman padat penduduk di pinggir kota.
Ren berdecak kesal. "Ah! Sial! Kalau sudah masuk ke sana, makhluk itu akan makin susah dicari! Terlalu padat penduduk di distrik itu!"
"Kita tunggu di sini saja. Pasti dia akan kembali kemari cepat atau lambat. Terlebih lagi, tidak mungkin manusia itu akan bertahan di tempat seperti Litavenue."
Dean terus memasuki pemukiman kumuh di ibu kota Kerajaan Legolas. Namanya adalah Litavenue.
Tidak seperti pemukiman pohon di distrik area tembok dalam kota yang ditempati hanya oleh satu keluarga, Litavenue justru sebaliknya. Satu pohon besar di pemukiman kumuh ini bisa ditempati oleh lima sampai enam keluarga sekaligus. Itu pun kalau warganya sanggup membayar pajak, karena Dean melihat ada elf yang tinggal di gubuk-gubuk ranting di pinggir jalan.
Dean mengedarkan pandangan ke sekitar. Dean sangat mengenal Litavenue, maka dari itu kewaspadaannya telah meningkat sejak memasukinya. Dean ingat bahwa ia tidak pernah menuliskan adanya rambut hitam di dunia ini, maka dari itu kepalanya adalah hal pertama yang harus ditutupi terlebih dahulu.
Dean melihat ada jemuran di depan sebuah rumah warga dan mengambil sehelai kain yang berwarna senada dengan kaus yang dia kenakan, lalu memakainya di kepala seperti tudung.
Sekarang, aku terpaksa jadi maling jemuran seperti ini! gerutu lelaki itu dalam hati.
Kemudian, Dean melewati sebuah gang yang di pinggirnya banyak elf-elf miskin mendirikan gubuk yang terbuat dari ranting, karena mereka tak punya rumah.
Mereka tampak berlalu lalang kesana-kemari dengan pakaian yang seadanya. Bahkan ada yang compang-camping, seolah itu hanyalah satu-satunya pakaian yang mereka punya. Beberapa elf memiliki keranjang kayu di punggung, hendak pergi berangkat ke hutan untuk memetik buah-buahan dan hasil alam lainnya.
Dean mengamati keadaan sekitar. Selama ini, ia hanya menuliskan tentang pemukiman kumuh bernama Litavenue. Dean tidak pernah menulis secara rinci apa saja yang dilakukan oleh para warga penghuni pemukiman tersebut dan bagaimana kehidupan mereka.
Kini, semua itu terlihat di depan mata Dean. Terbersit rasa bersalah di hati lelaki itu, karena dialah yang menciptakan dunia novel ini seperti itu.
Tapi ... kalau tidak dituliskan seperti itu, latar belakang dunianya akan terasa hambar. Lagipula, di setiap kota besar pasti punya sisi kelam masing-masing, bukan? ucap Dean dalam hati, berusaha untuk mencari pembelaan dari rasa bersalah yang menghantui.
Dean ikut duduk di pinggir jalan di gang tersebut, bermaksud untuk beristirahat dari kejar-kejaran tadi.
Cih ... ironis sekali, pencipta dunia ini justru harus berakhir duduk di pinggir jalan seperti seorang tunawisma!
Dean duduk bersila di atas tanah. Lelaki itu meraba punggungnya yang tadi terluka. Darahnya sudah mengering. Dean dapat merasakan dengan ujung jari, bahwa yang tersisa hanyalah kulit mengelupas saja. Aneh, padahal tadi darahnya sampai menetes-netes. Jari kakinya yang tadi ikut terserang juga sudah tidak sakit lagi.
Aku tidak pernah menulis kalau ras manusia di dunia ini punya karakteristik cepat sembuh seperti ini ... .
Dean kebingungan. Akan tetapi, pikiran itu dengan cepat dihempaskannya. Ada hal lain yang lebih darurat untuk dipikirkan!
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
marie_shitie💤💤
hahaha lampu lalu lintas dong
2023-05-13
0