"Tu-tunggu sebentar! Dari dunia lain? Jadi, ada dunia selain di sini?" Frode masih terperangah tak percaya.
Dean hanya mengiyakan dengan anggukan. Ia tak menjelaskan lebih lanjut kalau dunia yang mereka pijak saat ini adalah karangannya.
Belum saatnya Pak Tua ini tahu, batin Dean.
"Aku tidak mengerti bagaimana bisa sampai kemari. Yang jelas, aku yakin bisa pulang melalui portal semesta yang ada di Kuil Suci," terang Dean.
Meskipun masih tak mengerti, Frode berusaha untuk tidak membebani Dean dengan berbagai pertanyaan. "Baiklah, apa yang bisa kubantu?"
"Aku akan mengumpulkan dana untuk perjalananku, dengan cara berjualan. Tapi, aku tidak bisa ke mana-mana sebagai seorang manusia. Nah, tugas Anda, Pak, adalah menjualkan barang daganganku di pasar. Anda adalah mantan pengusaha, seharusnya tak sulit, bukan?"
"Hmm, baiklah. Tak masalah. Itu tidak terlalu sulit. Tapi, apa yang akan kau jual, Nak?" tanya Frode lagi.
Dean menyeringai. "Hasil alam Litforest ini!"
"Maksudmu, buah-buahan?" Frode mengernyit.
"Benar, tapi sedikit berbeda! Tapi itu masih nanti. Yang penting sekarang, kita pulihkan kesehatanmu dulu!"
***
Selanjutnya, Dean mulai menjalankan rencana. Ia memetik buah-buahan di Litforest, sementara Frode membersihkan dirinya agar pantas untuk menjadi pedagang di pasar, sesuai perintah Dean.
"Mandilah menggunakan buah ini!" Dean menyerahkan satu buah berwarna jingga berbentuk persegi. "Aromanya cocok untuk pengganti minyak wangi."
"Buah apa ini, Nak?"
"Aku lupa namanya. Yang jelas, ini dulu kuciptakan sebagai buah yang wangi. Pakai saja, jangan banyak tanya!" sahut Dean galak.
Frode masih bingung dengan kata 'kuciptakan' yang anak muda di hadapannya itu bilang. Namun, ia enggan untuk bertanya lebih rinci. Beliau menurut saja dan mulai mandi di sungai hutan Litforest menggunakan buah tersebut. Aromanya benar wangi seperti yang dikatakan Dean.
Selama tiga hari, Dean menyiapkan banyak buah untuk dimakan dan dijual. Frode takjub, ketika melihat si lelaki manusia membawakan buah yang belum memasuki musimnya untuk tumbuh.
"Dari mana kau dapatkan semua ini, Nak??"
"Nanti kuberi tahu, bila Anda sudah cukup kuat untuk memanjat sendiri. Sekarang, dengarkan aku. Ini yang harus Anda lakukan."
Dean meminta Frode untuk menjual buah-buahan yang belum musimnya dengan harga dua kali lipat di pasar. Ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut.
Kemudian, hasil penjualan dibelikan keranjang, gunting, piring besar dan mangkuk kecil, pisau, peralatan memasak sederhana, serta beberapa bahan masakan seperti kacang tanah, gula dan lainnya.
"Kalau ada yang bertanya dari mana asal buah yang tidak musim ini, jawab saja ada pedagang dari kerajaan sebelah yang menjualnya pada Anda!" seru Dean.
"Oh, baiklah. Lalu, bagaimana dengan bahan masakan ini?"
"Akhirnya Anda tanyakan itu!" Dean berseru gembira. "Akan kutunjukkan resep bumbu dari duniaku, namanya saus kacang!"
Dean meminta Frode membuatkan api unggun. Kesehatan Frode sudah membaik, jadi ia bisa melancarkan sihir api pada kayu bakar yang telah disiapkan.
Dean mulai menggoreng kacang tanah bersama cabai merah dan bawang putih yang sudah dibeli Frode, sementara pria elf tua itu mencukur kumis dan janggut yang tumbuh liar di wajahnya. Setelah dicukur, rupanya usia Frode tidak terlalu sepuh. Penampilan saja yang membuatnya seperti itu.
Setelah digoreng, Dean menumbuk kacang goreng tersebut setelah menambahkan air dan gula, lalu menggorengnya kembali. Kemudian, ia meminta Frode mencicipinya.
"Oh, ini enak! Rasanya manis dengan sedikit pedas hang menggigit lidah!" ucap si pria tua. Sedangkan, Dean sendiri tak terlalu terkesan dengan saus kacang buatannya itu.
Tidak terlalu enak, karena banyak bahan yang tidak ada di dunia ini. Tapi, kalau Pak Frode bilang enak, berarti ini bisa dijual.
Lalu, Dean mencontohkan Frode untuk memotong buah-buahan Litforest menjadi ukuran kubus satu gigitan, lalu ditusuk menggunakan lidi dan dilumuri saus kacang. Lagi, Dean meminta Frode mencicipi.
"Rasanya segar dan enak sekali dipadukan saus kacang ini!" komentar elf tua itu.
Sebenarnya ini rujak buah yang ditusuk. Tapi, saus kacangnya ini rasanya jauh dari apa yang biasa dipakai untuk rujak. Tapi, cukuplah untuk di dunia ini! batin Dean.
"Ini namanya rujak," ucap Dean, memperkenalkan hasil masakannya. "Bisakah kita menjual yang seperti ini di pasar?"
"Kalau di pasar mungkin tidak. Tapi, aku punya teman lama yang membuka kedai. Akan kutanyakan apakah ia mau dititipkan makanan ini untuk dijual sebagai salah satu menunya," ujar Frode sembari berpikir.
"Kau yakin, dia mau membantu?" tanya Dean lagi.
Frode tersenyum seraya mengiyakan. "Sudah lama sekali ia menawariku bantuan uang agar terlepas dari kemiskinan. Tapi, aku yang terlalu gengsi untuk menerima. Aku tidak ingin dikasihani, lalu menjauh darinya untuk tinggal di Litavenue ini. Sekarang, aku punya benda yang bisa dijual. Dia pasti mau membantu!"
"Bagus. Kalau ia bisa membantu, aku akan membuat satu masakan lain. Tapi, ini sangat membutuhkan kekuatan sihirmu." Dean berpikir sejenak, sembari memandangi hutan Litforest. Di bagian pedalaman ini memang tak pernah dilalui warga. Ia dan Frode bisa hidup tenang dan memetik buah sesukanya di sini.
"Ada masakan lainnya?"
Dean mengangguk. "Namanya sate. Kita akan berburu tupai dan kelinci menggunakan sihirmu."
***
Dua bulan kemudian.
"Frode! Bisakah kau menambah stok makanan unikmu itu? Aku selalu kehabisan dalam beberpaa jam saja, dan para pelangganku mulai mengomel!"
Frode baru saja sampai di kedai temannya yang bernama Elrick, ketika disambut oleh permohonan penambahan stok. Ini sudah kesekian kalinya, Elrick meminta seperti itu.
Para pelanggan kedai memuji rujak dan sate buatan Dean yang terkenal lezat. Setiap pagi, Frode menitipkan barang dagangannya di kedai Elrick, berupa buah-buahan yang telah disajikan dalam tusukan, juga daging-daging yang telah dibakar. Bumbu kacang itu sendiri disajikan dalam tiga stoples kaca besar. Bila ada pesanan, Elrick yang akan menyajikan semuanya dalam piring sesuai arahan Frode.
"Maaf, tidak bisa ditambah lagi. Karena yang membuat hanya dua orang saat ini," tolak Frode. Ini kesekian kalinya pula, ia harus menolak permintaan temannya itu.
"Apa tidak bisa aku menemui temanmu itu? Katamu, dia yang memiliki ide saus kacang ini, bukan? Aku bersedia mempekerjakan karyawan untuk membantunya!" usul Elrick. Namun, lagi-lagi ditolak oleh Frode.
"Maaf. Hal itu sudah kusampaikan. Tapi, dia menolak. Dia, err ... orang yang sangat pemalu."
Frode mengerti alasan kenapa Dean tak ingin menemui siapa pun. Tak boleh ada yang tahu kalau pencetus resep saus kacang adalah seornag manusia.
"Haah! Sayang sekali!" keluh Elrick. "Ngomong-ngomong, di mana kau bertemu dengan temanmu itu? Sepertinya, kehidupanmu membaik setelah bersamanya!"
"Kau benar!" ucap Frode. Senyum terbit di wajahnya, semringah. "Berkatnya, aku bisa tinggal dengan layak lagi, meski masih menyewa kamar di penginapan."
"Padahal, dulu aku menawarimu bantuan, tapi kau menolak!" cibir Elrick. "Kenapa sekarang kamu menerima tawaran orang asing?"
"Karena dia memerlukan jasaku."
Frode enggan menerima bantuan Elrick karena itu hanyalah sepihak saja, Frode jadi merasa dikasihani. Sementara dengan Dean, ada timbal balik yang harus dilakukan, layaknya sebuah transaksi.
Selama mengenal Dean, lelaki manusia itu tak pernah mengasihani kehidupan Frode ataupun berbaik hati dengannya. Justru setiap hari, Frode diharuskan bekerja sampai larut malam, hingga kurang tidur. Bahkan, Frode tak pernah bekerja sampai seperti itu sewaktu masih memiliki pekerjaan.
"Agar cepat kaya dan bisa tinggal layak!" kata Dean.
Kini, mereka berdua tak lagi tinggal di jalanan maupun gua hutan. Dean dan Frode menyewa sebuah kamar dengan dua tempat tidur di penginapan area distrik menengah.
Kesehatan Frode sudah sepenuhnya pulih. Uang hasil penjualan dibelikan obat-obatan, pakaian, serta makanan yang layak. Tak ada lagi Frode yang berpakaian compang-camping seperti dulu. Wajahnya pun kini berseri sepeti muda kembali.
Dean pun telah membeli pakaian berupa mantel panjang seperti yang dikenakan oleh para elf di dunia itu pada umumnya. Meski kemana-mana harus tetap bercadar, setidaknya dengan pakaian tersebut ia tak lagi terlalu mencurigakan seperti waktu mengenakan kaus manusia.
"Kehidupanku yang dulu telah kembali, meski istri dan anak-anakku telah pergi. Tapi, tak apa. Ini adalah permulaan yang baik. Semua ini berkat Dean!" ucap Frode antusias.
"Oh, jadi namanya Dean?" tanya Elrick. "Nama yang aneh, ya."
Frode tersenyum. Dean memang bukan nama yang pas disandang untuk kaum elf. Namun, bagi Frode, Dean seperti seorang utusan Dewa yang datang untuk menolongnya dengan segala kearoganan yang ia punya.
"Oh ya, aku hampir lupa. Ada seorang temanku yang kebetulan mencicipi rujak dan satemu itu. Ia seorang pedagang ternama dari Kota Hartvig, meminta agar kau bisa menemuinya. Apa kau bersedia?" tanya Elrick.
Frode tampak berpikir sejenak, sebelum menjawab, "Hmm, akan kudiskusikan dengan Dean terlebih dahulu."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
marie_shitie💤💤
JD rujak dong nih ya versi dean
2023-05-14
0
💜Shandy💜
Thor kapan up lg
2023-04-09
0