Kembali ke masa kini.
Liv terkesiap mendengar pernyataan Dean. Laki-laki aneh ini mengaku kalau dia yang menciptakan alam, termasuk aku?! Apa maksudnya? tanya Liv dalam hati.
"Kau pasti bingung, ya?" tanya Dean, seperti bisa menebak dengan jelas apa yang saat ini sedang Liv pikirkan. Gadis itu hanya balik menatapnya dengan perasaan campur aduk. Dean mulai tidak sabar.
"Duniamu ini sebenarnya tidak nyata, hanyalah imajinasiku saja. Di dunia tempatku berasal, aku sedang menulis novel berjudul "Sang Pangeran Terbuang". Tokoh utamanya adalah Haldir," jelas Dean.
"Haldir? Maksudmu, Yang Mulia Pangeran Haldir Legolas?" tanya Liv memastikan. Dean mengangguk dan lanjut berkata, "Kisahnya adalah tentang perjalanan hidup Haldir dari seseorang yang bukan siapa-siapa, menjadi raja yang disegani!"
Liv mengernyitkan dahi. Dia makin kebingungan. Baru dua bulan lamanya, Liv mengenal Haldir dan menjadi teman. Persis seperti apa yang dikatakan orang asing di hadapannya ini, Haldir memang bukanlah siapa-siapa sebelum pergi ke ibu kota menggantikan posisi raja. Akan tetapi, yang ia tahu, Haldir adalah temannya yang berwujud nyata, bukan imajinasi seseorang.
"Kau pasti bercanda!" seru Liv, tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh Dean.
Lelaki itu berdecak kesal. "Hei, aku tidak bohong! Aku juga menulis tentang kisahmu di novel tersebut!"
"Apa maksudmu? Kisahku?" tanya Liv makin bingung dan penasaran.
Dean mengangguk. "Kau tahu, kujadikan kau sebagai tokoh jahat di novelku itu. Bahkan, kau adalah karakter terkuat yang akan menjadi lawan Haldir di babak akhir!"
"Jangan sembarangan kalau bicara!" pekik Liv. "Aku dan Yang Mulia adalah teman! Aku tidak akan mungkin bisa melukainya!"
"Tapi---"
"Sudahlah!" teriak Liv, memotong perkataan Dean. Lelaki itu sampai terkejut dibuatnya. "Kau jangan berbohong lagi! Mana mungkin kamu adalah pencipta kami! Kakimu saja menyentuh tanah, sama sepertiku!"
Tanpa berpamitan, Liv segera berlari meninggalkan Dean, tanpa sempat lelaki itu mencegahnya. "Hei, tunggu! Dengarkan aku dulu!"
Teriakan Dean sia-sia, karena Liv sudah makin menjauh. "Tch! Si*lan!" umpat Dean kesal.
Liv berlari pulang. Pikirannya begitu kalut mendengar pernyataan Dean barusan. Apa maksudnya aku akan menyerang Haldir? Dia itu temanku! Tidak mungkin!
Liv terus menyangkal dalam hati, hingga dia tidak bisa berkonsentrasi lagi. Liv lupa, kalau dia harus melewati jalan-jalan kecil sama seperti saat dia berangkat tadi. Liv malah pulang melewati jalan besar, tanpa teringat sama sekali tentang tradisi tak tertulis Legolas bahwa perempuan tidak boleh keluar malam sendirian. Liv tidak sadar, kalau ada dua warga pria yang berpapasan dengannya.
"Eh, kau lihat yang baru saja lewat? Bukankah dia itu perempuan?" tanya salah satu dari mereka, bermaksud memastikan. Elf lain membalasnya dengan anggukan.
"Aku melihatnya. Tapi ... siapa dia?" Mereka berdua terus melihat ke arah mana Liv berlari. Kemudian, pandangan mereka tertuju pada sebuah wastu.
"Ah, bukankah itu adalah wastu keluarga Themaris?"
"Jangan-jangan ... ."
Kini, dua warga pria itu mengetahui rumor besar yang dilakukan oleh seorang putri Themaris. Tinggal masalah waktu saja, sampai hal tersebut terdengar ke telinga sang kepala keluarga, Olrun Themaris.
***
Dean pergi kembali ke penginapan dengan perasaan dongkol. Dia pun terpaksa pulang sambil mengendap-endap, melewati jalanan kecil karena takut diketahui warga memiliki kulit cokelat dan rambut hitam. Kain penutup kepala yang biasa dia pakai sudah menghilang entah kemana, begitu pula sepasang sandal satu-satunya. Dia jalan bertelanjang kaki ke Litavenue, persis seperti pertama kali datang ke dunia elf ini.
Dean berhasil sampai ke depan kamar penginapan. Begitu membuka pintu yang tak terkunci. Ia sedang melihat Frode menyiapkan makan malam di tikar lesehan.
"Kau sudah pulang, Nak?" tanya Frode. "Aku sudah menyiapkan makanan untukmu."
"Aku tidak lapar," ucap Dean singkat, sembari menuju ranjang susun yang ada di sisi ruangan. Ia langsung berbaring dan memejamkan mata, tanpa peduli pada Frode sedikit pun.
Namun, Frode tak menyerah. Ia menghampiri Dean dan duduk di tepi ranjang. "Tapi, tadi siang kau makan sedikit sekali. Setidaknya makanlah sedikit lagi sebelum tidur."
Frode merasa, Dean sepertu putranya sendiri. Lagi pula, lelaki itu memang berjasa di hidupnya. Frode merasa, sudah jadi kewajibannya untuk menjaga kesehatan Dean selama di dunia ini.
"Sedikit saja, Nak, agar kau tidak sakit perut---"
"Aku bilang aku tidak lapar!!" bentak Dean, ia bangkit dari berbaringnya dan melotot pada Frode yang begitu tersentak.
"Kenapa sih, tokoh ciptaanku tidak ada yang mau mendengar perkataanku!! Tadi Liv Themaris, sekarang kau juga! Aku ini pencipta dunia inu, harusnya kalian menurut saja!!"
"Pencipta? Maksudmu ...?" Tampang Frode yang penasaran, mirip sekali seperti Liv tadi.
Dean duduk di tepi kasur. Ia sudah keceplosan. Emosi Dean membongkar semuanya. Ia menatap Frode sejenak, lalu mengambil napas panjang. Ddan mengusap-usap wajahnya. Malam ini sudah terlalu membuatnya pusing. Liv tidak percaya padanya, sementara ia sudah harus tiba di Pegunungan Nautabu sebelum musim dingin.
"Nak, apa kau punya masalah? Apa maksud perkataanmu tentang 'pencipta dunia' tadi?" Frode mencoba bertanya dengan amat hati-hati dan intonasi yang lembut.
Dean menatap Frode sekali lagi, sebelum akhirnya menjelaskan. "Aku adalah penulis novel yang berasal dari dunia lain. Semua yang Pak Frode lihat dan rasakan sekarang ini, aku yang mengarang ceritanya. Aku bahkan yang menuliskan kisah hidupmu yang malang dan sampai bangkrut itu, hingga bisa terdampar di Litavenue. Kau adalah figuran dalam novelku itu. Semua ini tidaklah nyata dan hanya imajinasiku saja!"
Panjang lebar Dean menjelaskan asal usul dirinya. Dia juga menceritakan secara singkat tentang novel "Sang Pangeran Terbuang" dan bagaimana Frode adalah seorang figuran. Frode tertegun mendengarkan semua penjelasan tersebut.
"Jadi, begitulah!" Dean menutup penjelasannya. "Terserah Anda ingin percaya atau tidak, tapi aku tidak berbohong!"
Tiba-tiba, Frode mencengkeram erat kerah Dean. "Jangan pernah berkata kalau istri dan anak-anakku itu tidak nyata! Mungkin aku memang hanyalah figuran dalam ceritamu, tapi bagiku dunia ini adalah kenyataan!"
Frode menyela perkataan Dean, membuat manusia itu terkejut. Belum pernah Frode menaikkan nada bicaranya pada Dean hingga saat ini. Rupanya, bila disinggung tentang keluarga, Frode juga bisa emosi. Namun, Dean tidak peduli. Dia lebih terkejut ketika ternyata Frode memercayai ceritanya.
"Anda percaya pada apa yang kukatakan?!" tanya Dean memastikan. Seulas senyum terbit di wajahnya. Kalau saja Dean berada di posisi para elf itu, dia sendiri berpikir untuk tidak akan memercayai kata-katanya sendiri.
"Aku sebenarnya tidak ingin percaya. Di dunia ini tidak ada lagi manusia, mereka sudah lama punah. Tapi, sejak kamu menunjukkan telinga bulatmu itu, mau tidak mau aku percaya. Ditambah dengan kenyataan kau berasal dari dunia laim, dan sekarang kau adalah pencipta kami. Apa lagi yang tak bisa kuterima?"
Frode memandang Dean dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian, pria tua itu beranjak dari tepi tempat tidur dan melihat pemandangan malam dari jendela, lalu mengembuskan napas panjang.
"Aku sudah menduga bahwa ada satu hal lagi yang unik darimu, selain kau adalah manusia dari dunia lain. Terlihat dari betapa kamu mengenal seluk beluk hutan Litforest yang ternyata bisa berbuah sepanjang tahun. Siapa lagi yang dapat mengetahui hal tersebut, kalau bukan Dewa pencipta dunia ini?"
Dean mengibaskan tangan. "Aku bukan Dewa! Aku justru yang menciptakan Dewa kalian itu. Aku hanya manusia biasa dari dunia lain. Lagi pula, apa Anda tidak marah sama sekali? Aku yang menuliskan takdir Anda seperti itu!"
Tiba-tiba, Frode tertawa kecil. "Sejujurnya, aku amat marah."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
marie_shitie💤💤
be besar hati sekali si frode,,
2023-05-14
0
💜Shandy💜
lanjoot
2023-04-10
0