12. Portal Suci

Dean kembali mengingat-ingat tentang portal kuil suci, yang seharusnya bisa membantu lelaki itu melintasi antar semesta. Portal tersebut diungkap pada babak final novel "Sang Pangeran Terbuang".

Dalam alur cerita, ketika harus menghadapi tokoh jahat yang mengancam keselamatan kerajaan, Haldir dituntut untuk bisa jadi jauh lebih kuat dalam waktu singkat. Kemudian, Pendeta Agung memberitahukan bahwa ia mendapat wangsit dari Dewi Lileathhof mengenai mantra untuk melintasi semesta. Di semesta lain itulah, Haldir memanfaatkan perbedaan perputaran waktu yang signifikan untuk berlatih melawan si antagonis.

Namun, melintasi portal tersebut dibutuhkan dua syarat. Pertama, adanya benda dari semesta yang akan dituju. Dalam cerita, Haldir menggunakan batu yang diberikan oleh Sang Dewi saat Festival Bulan. Kedua, adanya tetesan darah bangsawan murni.

Tentu saja, hal ini tidak dapat dicapai secara mudah oleh Dean yang seorang manusia. Kuil itu terletak di puncak pegunungan Nautabu. Untuk pergi ke sana sebagai seorang manusia tanpa sihir akan berbahaya. Ia bisa saja dikejar oleh para elf seperti sebelumnya. Selain itu, jelas Dean bukanlah seorang bangsawan.

Aku butuh teman perjalanan. Seseorang yang sihirnya kuat dan merupakan bangsawan. Tapi, di mana aku bisa mencari elf seperti itu?!

Ah! Aku tahu! Liv Themaris!

Kedua mata Dean terbelalak, ketika mengingat sesosok karakter yang ia tahu dapat memenuhi kedua kriteria tersebut.

Padahal, tadi aku kesal dengan para kritikus yang membela si karakter antagonis. Sekarang, malah harus menggantungkan nasib padanya.

Ya, antagonis tersebut adalah Liv Themaris. Haldir akan bertemu dua gadis. Ia dan Liv berteman, tetapi yang ia cintai adalah Melian. Perasaan suka Liv pada sang Pangeran berubah menjadi benci. Lalu, gadis itu menemukan batu manna yang dapat mengubah rasa benci tersebut jadi kekuatan besar berkali-kali lipat. Liv akan berubah menjadi monster yang harus Haldir lawan di penghujung cerita.

Aku harus bisa membujuknya untuk ikut perjalanan ke Gunung Nautabu. Bagaimana caranya? Apa ia akan percaya kalau aku berasal dari dunia lain?

Satu ide terlintas dalam benak Dean. Ia teringat pada kata-kata para kritikus yang tadi menghujatnya.

Haruskah aku mengubah nasib si antagonis itu, sebagai penawaran agar ia bersedia ikut?

Dean memutuskan, ia harus pergi menemui Liv Themaris di tepi danau Moonlite saat purnama tiba. Hanya saat itulah, Liv akan keluar dari kamar untuk bertemu Haldir.

Hmmm, kapan bulan purnama akan terjadi berikutnya?

Dean mengedarkan pandangan ke sekitar. Di sebelahnya, terdapat pria elf tua sedang tidur di atas tanah beralaskan kertas. Tubuhnya kurus kering dan tampak begitu lemas. Pakaian yang dikenakan sampai tidak terlihat lagi warna aslinya. Di depannya, terdapat satu kotak kayu untuk menampung recehan yang diberikan warga sekitar, yang masih kosong meski sudah hampir senja. Pria tua itu tampak tak memiliki tempat tinggal sama sekali.

Akan tetapi, Dean tidak peduli pada semua itu. Dia butuh seseorang untuk bisa memberitahunya kapan purnama akan bersinar.

Dean mendekati pria tersebut, tak lupa ia menutupi seluruh wajah, terutama bagian telinga yang bulat. Dean hanya menyisakan kedua matanya saja yang tidak tertutup kain.

"Pak, saya mau tanya!" ucap Dean. Nadanya terdengar tidak sopan di telinga lawan bicara. Akan tetapi pria tua itu bersikap sabar. Ia bangun sejenak dari tidurnya dan memandangi Dean dengan tatapan lemas.

"Ada apa, Nak?"

"Kapan bulan purnama akan terjadi dalam waktu dekat?" tanya Dean penasaran. Sang pria tua menerawang, berusaha mengingat-ingat.

"Kira-kira satu bulan lagi ... ," jawab pria tersebut.

Dean merasakan udara sekitarnya, lalu mengedarkan pandangan ke pepohonan di sekitar. Daun-daunnya masih tampak hijau, tetapi sebagian sudah berubah menjadi merah. Ini adalah bulan terakhir di musim panas.

"Kapan musim dingin akan tiba?"

Frode menggaruk kepalanya. "Masih empat bulan lagi. Ada apa memangnya, Nak?"

Dean berpikir sejenak. Dean menuliskan dalam novel, bahwa portal kuil hanya dapat dibuka satu kali setahun, yakni hari-hari selama fase bulan baru muncul, di bulan terakhir musim gugur. Itu berarti, tepat tiga bulan dari sekarang.

"Tidak ada apa-apa. Terima kasih." Dean mengangguk sedikit, lalu berniat kembali lagi ke tempat tadi dia duduk. Namun, ternyata tangannya ditahan oleh si pria tua.

"Nak, apa kau bisa menolongku?"

Dean mengernyitkan dahi. "Minta tolong apa?"

"Tolong carikan makanan untukku. Buah-buahan dari hutan Litforest pun tak apa," ucap pria itu, sambil menunjuk hutan dalam kota tempat Dean muncul pertama kali.

Tentu saja Dean ingin menolak, tetapi belum sempat dia mengatakannya, pria tua itu memohon padanya sekali lagi. "Tolonglah, aku belum makan, sudah tiga hari. Tubuh dan sihirku terlalu lemah saat ini untuk bisa mencari makanan sendiri."

Dean menghela napas. Dia tahu, pria itu tidak akan melepaskan sebelum Dean menyanggupi permintaannya. Terlebih lagi, ketika pria tua itu berkata, "Aku akan membalas seluruh kebaikanmu."

Dean pun mulai berpikir. Sepertinya orang ini bisa kumanfaatkan. Mencari partner adalah hal pertama yang harus kulakukan agar bisa selamat dari dunia ini.

"Baiklah, tunggu di sini. Namaku Dean, siapa nama Anda?" tanya Dean. Mereka berdua pun berjabat tangan.

"Kau bisa memanggilku Frode," jawab pria tua itu.

"Akan kulakukan permintaanmu. Sebagai gantinya, sebaiknya kau tepati janjimu nanti untuk membalas jasaku."

Tanpa berbasa-basi lebih lama lagi, Dean segera beranjak pergi ke arah hutan. Rupanya ketiga elf yang mengejarnya tadi sudah tidak ada ketika Dean keluar dari pemukiman Litavenue.

Apa mungkin mereka sudah menyerah? tanya Dean dalam hati. Ia berhati-hati agar tudung kain di kepalanya tidak terlepas. Benda itu seperti nyawa bagi Dean di dunia ini.

Di hutan, Dean tidak begitu kesulitan memanjat pohon-pohon berbuah yang bisa ia temukan. Dean sering memanjat pohon mangga di depan rumahnya di desa. Apel ungu dan pisang merah yang Dean lihat sebelumnya, menjadi incarannya untuk dipetik.

Meskipun belum pernah melihat buah-buahan ini di bumi, tetapi Dean menuliskan kalau semua hasil alam di hutan ini tidak ada yang beracun.

Kain tudung kepala yang Dean ambil dari jemuran warga ternyata cukup panjang untuk bisa menutup kepala dan juga menjadi wadah buah-buahan yang diambil. Ia seperti seorang wanita berkerudung yang baru saja pulang belanja dari pasar. Tak lama, Dean segera kembali ke Litavenue.

Begitu tiba di hadapan Frode, Dean menuangkan buah-buahan tersebut ke tanah. Dean melakukan hal itu agar ia tidak perlu melepas kain tudung dari kepalanya. Frode begitu terkejut ketika Dean berhasil memetik buah sebanyak itu untuknya. Memang, jumlahnya bila dihitung ada sebanyak satu lusin.

"Ini, makanlah sepuasnya," ucap Dean. Frode mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Beliau mempersilakan Dean untuk ikut duduk dan menikmati buah-buahan yang dipetik Dean. "Makanlah. Kamu pasti ketagihan pada hasil alam Legolas ini."

Dean duduk kembali di sebelah pria tua tersebut dan memakan salah satu apel ungu. Rasanya segar luar biasa, setelah tadi dia berlari-larian cukup lama menghindari kejaran. Apel ungu itu memiliki daging buah ungu muda dan cairan manis. Sensasi yang Dean rasakan dalam mulutnya terasa sejuk setelah mengunyah apel tersebut.

Dean heran, kenapa Frode tidak memetik buah-buahan itu sendiri, padahal cukup mudah bahkan bagi Dean memanjat pepohonan di hutan tadi.

"Seperti yang kukatakan tadi, tubuhku terlalu lemah. Aku sakit-sakitan dan tidak punya keluarga. Sihirku juga saat ini tidak sekuat orang-orang lain, untuk bisa memetik buah-buahan ini," jawab Frode begitu Dean bertanya.

Dean mengernyitkan dahi. "Anda tidak mencoba berobat?"

Frode menggeleng. "Pergi ke tabib memerlukan biaya. Bisnisku sudah lama bangkrut. Aku sudah tidak punya apa pun lagi," ucapnya, sambil mengupas pisang merah. Daging buah di dalamnya terlihat berwarna oranye dan mengeluarkan aroma yang sangat harum, tercium hingga ke lubang hidung Dean.

"Mungkin, memang takdirku dari Dewa sudah seperti ini ... ."

"Takdir?" tanya Dean tak mengerti.

***

Terpopuler

Comments

💜Shandy💜

💜Shandy💜

lagi up nya lagi

2023-04-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!