"Aku ditakdirkan tidak memiliki apa pun. Aku ditipu seorang teman, usahaku bangkrut dan aku sakit-sakitan karena stres. Akhirnya, istri dan anak-anakku meninggalkanku, dan aku pindah ke Litavenue ini."
Frode menerawang, mengingat masa lalunya. Dean menelan ludah mendengarkan kisah hidup teman barunya itu.
"Dewa tidak mencintaiku sejak awal, hahaha ... ," tawa Frode, terdengar miris.
Aku yang menuliskan kisah para figuran penghuni Litavenue seperti itu, ucap Dean dalam hati.
Hanya beberapa paragraf, Dean menceritakan tentang para penghuni Litavenue sebagai pelengkap, bahwa di Kerajaan Legolas juga ada pemukiman rakyat kecil. Tidak ada dalam skema novel tersebut yang Dean jadikan resolusi dari kemiskinan para warga.
Bahkan para figuran penghuni Litavenue tidak diberi nama sama sekali, karena memang dimaksudkan untuk dibaca hanya selewat saja. Kini Dean tidak menyangka, bahwa apa yang ditulisnya benar-benar bisa berdampak pada kehidupan seseorang yang nyata seperti ini.
Mau bagaimana lagi. Aku tidak tahu akan begini jadinya. Selama ini aku hanya menulis sesuai plot utama saja. Selebihnya adalah konflik-konflik kecil yang kupikir tidak harus dijelaskan secara rinci.
Figuran tetaplah figuran, tugasnya adalah untuk melengkapi kisah karakter utama!
Lagi-lagi, Dean membela diri sendiri dalam hati. Namun, tidak dapat dipungkiri juga, terbersit rasa bersalah ketika mendengar kisah pria tua itu. Dean beranjak berdiri, saat melihat buah-buahan di hadapan Frode tinggal seperempat dari jumlah semula.
"Aku akan ambilkan lagi. Tunggu di sini!" seru Dean.
"Tapi aku sudah kenyang ... hei!" Tanpa memedulikan panggilan Frode, Dean kembali pergi ke hutan.
Litforest ditulis oleh Dean sebagai hutan kota yang memiliki banyak pepohonan berbuah, itu saja. Para warga tidak mengetahui bahwa ada banyak pohon spesial di hutan ini, karena cukup rumit untuk mereka temukan.
Secara bergantian, pohon-pohonnya terus berbuah mengikuti musim. Ada pula jenis pohon yang buahnya bisa terus dipetik sepanjang tahun. Bahkan ada jenis pohon yang batangnya bisa dimakan.
Litforest sesungguhnya adalah hutan pohon berbuah tanpa batas. Tentunya, Dean tahu semua letak pohon-pohon tersebut karena dialah penulis dunianya.
Kelebihan unik Litforest ini sengaja Dean sediakan, agar Haldir sebagai tokoh utama bisa menggunakannya untuk resolusi dari wabah dan kelaparan yang melanda di Kerajaan Legolas nanti, di sekitar Bab 40. Saat ini, kelaparan itu belum ada. Para warga, termasuk Haldir sendiri, belum ada yang mengetahui keberadaan pepohonan spesial ini.
Akan kugunakan kelebihan Litforest untuk memenuhi kebutuhanku selama di sini. Bagaimanapun, aku harus bisa bertahan hidup!
Dengan cekatan, Dean mencari pohon-pohon yang dimaksud. Caranya adalah bila batang pohonnya terkena cipratan kain basah, maka semburat hijau akan tampak di kulit batang. Ketika semburat hijau itu terlihat, maka beberapa detik kemudian akan muncul secara tiba-tiba buah-buahan tambahan, menggantikan yang telah dipetik, dalam kurun waktu kurang dari dua menit.
Itu sebabnya Dean menyebutkan bahwa Litforest adalah hutan pepohonan buah tanpa batas.
Dean melakukan trik cipratan basah tersebut menggunakan kain tudung yang ia basahi di sungai terdekat. Ketika berhasil, Dean memetik semua buah yang muncul di sana. Setelah dirasa cukup terkumpul dua lusin, lelaki itu kembali ke tempat Frode menunggu.
"Makanlah lagi, sampai kau benar-benar kuat dan sehat. Aku yang akan menyediakan buah-buahan ini!" seru Dean. Frode melongo tak percaya.
"Sebagai gantinya, Anda penuhi janji untuk membalas budi padaku."
"Apa yang kau inginkan, Nak?" tanya Frode penasaran.
Dean melirik sejenak alas kain untuk Frode tidur tadi. Ia bergidik jijik seraya bertanya, "Apa Anda punya tempat tinggal?"
Frode terkekeh. "Aku hanya punya alas kain ini saja."
Dean memutar otak setelah mendengar jawaban tersebut. Untuk pergi ke Kuil Suci, harus melakukan persiapan yang amat matang. Sebeljm menemui Liv Themaris, aku harus sudah punya bekal yang cukup untuk bepergian. Itu berarti, aku butuh uang!
Namun, Dean tahu itu tak mudah. Uang tidak bisa didapat secara singkat. Selama mencari uang, ia pasti juga membutuhkan tempat tinggal. Tadinya, ia berharap bisa menumpang tinggal dengan seorang elf di Litavenue. Akan tetapi, siapa yang mau menerima orang berpenampilan mencurigakan seperti dirinya.
Satu-satunya harapan adalah Frode. Namun, pria itu sama melaratnya dengan Dean saat ini. Meski begitu, Frode adalah seorang elf. Ia memiliki akses lebih banyak ke semua tempat dibanding Dean yang manusia.
"Aku ingin kau bekerja untukku," ucap Dean pada akhirnya. "Tapi, kita tidak bisa bicara di sini. Ikut denganku ke Litforest."
***
Mau apa sesungguhnya anak muda ini? Frode bertanya-tanya dalam hati. Secara tertatih, ia mengikuti langkah kaki pemuda yag menolongnya tersebut keluar dari pemukiman Litavenue, menuju hutan dalam kota yang tak jauh dari sana.
Frode sendiri pernah beberapa kali pergi ke hutan ini untuk mengambil hasil alamnya meski tak seberapa. Ia tak bisa memanjat tanpa bantuan sihir. Jadi, selama ini Frode hanya mengandalkan buah-buahan yang jatuh ke tanah.
Dean terus mengajak Frode melintasi pepohonan Litforest sampai ke pedalaman. Karena sekarang Dean tahu itu adalah dunia ciptaannya, ia tak perlu takut tersasar lagi seperti saat pertama kali datang. Dean sudah tahu ia harus pergi ke arah mana. Sesekali, lelaki itu melambatkan jalan demi menunggu si tua Frode menyusulnya.
"Jalannya jangan lama-lama, Pak! Nanti keburu malam!" hardik Dean. Frode langsung berusaha mempercepat langkah sebisanya, "Maafkan aku, mohon bersabar ... ."
Tempat yang Dean tuju adalah sebuah gua. Di salah satu bab novelnya, Haldir pernah singgah di gua ini sejenak, ketika kakinya terkilir saat mencoba memetik buah.
Frode terkejut ketika penampakan gua mulai terlihat. "I-ini ...?"
"Mulai sekarang, kita tinggal di sini. Sampai uang yang kita punya cukup bagimu menyewa salah satu unit rumah susun," ucap Dean, seraya berkacak pinggang di depan mulut gua.
"Kita?! Kau ingin tinggal bersamaku, Nak?" tanya Frode.
Dean mengangguk. "Aku butuh bantuan Anda. Aku akan melakukan perjalanan jauh, tapi dananya tidak cukup. Aku tidak bisa mencari uang sendiri tanpa bantuanmu. Aku akan memberi Anda beberapa hal untuk dijual di pasar."
"Tentu aku mau menolongmu. Tapi, kenapa kau tidak melakukannya sendiri?"
Ditanya seperti itu, Dean langsung mengajak Frode memasuki gua, menuju lorong yang agak dalam. "Ikutlah."
Ketika Dean merasa bahwa tubuhnya sudah cukup tersembunyi oleh dinding gua, Dean membuka tudung kepala yang sedari tadi menutupi seluruh wajahnya kecuali mata, memperlihatkan warna rambutnya yang hitam. Kemudian, ia menyingkap kedua telinga bulat yang bersembunyi di balik rambut.
Kedua mata Frode langsung terbelalak melihat penampilan Dean yang sebenarnya. Berkali-kali, pria tua itu mengusap mata, agar tak salah lihat. Makhluk yang seharusnya telah punah kini berdiri tegap di hadapannya.
"K-kau adalah manusia??" tunjuk Frode tak percaya.
Dean menatap pria tua itu lekat-lekat, seraya mengiyakan. "Bukan cuma manusia, aku juga berasal dari dunia lain. Dan aku butuh bantuan Anda untuk mengumpulkan dana agar bisa pergi ke Kuil Suci Lileathhof."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
💜Shandy💜
lagi lagi ka
2023-04-06
0