15. Orang Asing

"Beberapa hari lagi, tepat sudah dua bulan aku di dunia ini. Uang sudah terkumpul. Malam ini akan purnama. Saatnya bertemu dengan tokoh fiksi ciptaanku," ucap Dean, sembari bercermin di kaca yang tergantung di ruang penginapan. Ia memperbaiki letak tudung kepala dan merapatkannya, bersiap untuk pergi ke distrik bangsawan.

Sejauh ini, tudung itulah yang menyembunyikan identitas Dean. Tak ada yang mengetahui ia adalah manusia, kecuali Frode. Dana sudah terkumpul. Berikutnya, perjalanan panjang menanti. Dean berharap, semoga Liv Themaris memercayai kata-katanya.

"Kau mau pergi?" tanya Frode ketika berpapasan dengan Dean di koridor penginapan.

Kini, Frode tidak terlihat kurus kering lagi. Rambut biru gelapnya sudah dipotong rapi, begitu pula kumis dan janggut yang tadinya kusut. Pakaian yang dia kenakan pun sudah lebih baik meski masih sederhana.

"Ya, ada urusan penting," jawab Dean sekenanya. Selama ini, Dean menganggap Frode adalah teman sementara di dunia tersebut. Tidak ada untungnya bagi Dean menceritakan permasalahannya pada pria tua itu.

Sudah sering sekali, Frode melihat Dean tampak menyembunyikan suatu rahasia. Akan tetapi, Frode tidak berani mengulik hal tersebut, terlebih lagi pada seseorang yang telah menolongnya untuk bangkit dari jurang kehidupan.

"Apa kau ingin kutemani, Nak? Akan bahaya bila jati dirimu ketahuan oleh warga," ujar Frode khawatir. Namun, Dean mengibaskan tangan. "Tidak usah. Aku akan pergi sendiri saja."

"Memangnya, kau mau ke mana?

" Danau Moonlite. Ada seseorang yang harus kutemui di sana," jawab Dean singkat.

Frode mengernyit heran. Ia pikir, dirinya adalah satu-satunya yang dikenal Dean di dunia ini. Namjn, pria tua itu tak berani menanyakan. Dean selalu bersikap tak acuh. Terkadang, ia berkata dengan ketus ketika Frode melakukan kesalahan. Frode takut akan menyinggungnya kalau bertanya.

"Baiklah, hati-hati, ya," pesan Frode. Dean hanya mengangguk, sebelum akhirnya keluar dari penginapan, hendak pergi ke danau Moonlite di belakang kompleks istana.

Langit tampak cerah tanpa ada awan mendung sama sekali, hingga bintang-bintang terlihat begitu banyaknya. Selama dua bulan terakhir, Dean tidak begitu memperhatikan langit di dunia hasil karangannya ini.

Persis yang Dean selalu bayangkan ketika menuliskannya, terinspirasi dari salah satu gambar langit berbintang di situs pencarian. Dean terperangah ketika kini dia menatapnya langsung di depan mata. Selain bintang-bintang, tak lupa tampak bulan purnama bulat penuh sedang bersinar.

Tak ingin membuang waktu lagi, Dean segera pergi menuju area belakang kompleks istana. Sesuai peta ibu kota Kerajaan Legolas yang pernah dia buat, di sanalah letak danau terkenal itu berada. Ia begitu tidak sabar, apalagi saat dia menyadari bahwa akan bertemu dengan salah satu tokoh buatannya.

Dean berlari-lari kecil, melewati jalanan perumahan distrik menengah. Dirinya tidak sadar, bahwa ketiga elf yang pernah mengejarnya ternyata ada di sekitar.

Gale, Yich, dan Ren memang sering menghabiskan waktu bersama. Mereka adalah tiga pemuda pemalas yang cukup terkenal di ibukota. Bila sedang tidak berada di akademi, ketiga pemuda ini sering terlihat duduk-duduk di pegangan jembatan untuk menggoda para gadis yang melintas.

Dean yang pergi terburu-buru untuk menemui Liv Themaris membuatnya tidak lagi memperhatikan kerapatan tudung kepalanya. Kain itu tertiup angin malam yang berembus, menyingkap rambut hitam Dean.

Kain itu terbang hingga ke tangan Gale, yang kebetulan berada tak jauh dari lokasi Dean. Gale menoleh ke arah sumber dari mana kain itu tertiup. Seketika itu juga dia terbelalak melihat sosok yang dikenalinya sedang berlari menjauh.

"Itu! Makhluk barbar yang kemarin!" teriak Gale. Yich dan Ren segera menoleh dengan antusias. Dean pun jadi ikut menoleh ke arah Gale karena teriakannya kencang.

Kenapa harus bertemu dengan mereka bertiga lagi, sih! Padahal ini malam yang sangat penting!

Situasi yang sama terulang. Dean kembali dikejar-kejar oleh ketiga pemuda elf berambut warna-warni tersebut.

Apa pun yang terjadi, aku harus bisa bertemu dengan Liv Themaris!

Dean berlari sekuat tenaga. Sandalnya sampai lepas sebelah. Sepasang sandal yang dibelikan olrh Frode karena Dean tak memiliki alas kaki sama sekali. Kini, Dean memutuskan untuk membuang satu sandalnya lagi yang tersisa sekalian, dengan cara melemparnya ke salah satu trio elf. Dean membidik, lemparannya mengenai si rambut merah.

"Aaakh! Kurang ajar!!" Si rambut merah berteriak. Dean mengacungkan jari tengah, sebuah simbol yang tak mungkin dimengerti oleh tiga elf tersebut. Meski tak mengerti, entah mengapa Ren merasa amat terhina.

Dean terus berlari, hingga akhirnya dia bisa sampai ke belakang kompleks istana. Dean mengedarkan pandangan ke sekitar. Gadis yang ia cari tampak di depan mata, sedang duduk di tepian danau, bertransformasi.

Kulit gadis itu yang tadinya hitam keunguan, berubah menjadi putih porselen ketika tertimpa cahaya purnama yang baru saja naik ke peraduan. Bagaikan ada kelap-kelip menyelimuti seluruh tubuh sosok tersebut. Dean dibuat termangu sesaat.

Gadis itu adalah Liv Themaris, sang tokoh antagonis, yang Dean buat mengalami nasib tragis selama perjalanan hidupnya. Yang membuat pembaca setia Dean harus berperang melawan para kritikus. Gadis itu belum mengetahui, kalau selama ini nasib hidupnya ditentukan oleh seseorang dari dunia lain.

"Itu dia!!" teriak Ren, seraya melancarkan sihir api ke kaki Dean. Meski ia tahu tidak boleh mengeluarkan sihir serangan apa pun di sekitar Danau Moonlite, tetapi Ren terpaksa. Ia tidak ingin makhluk barabar incarannya kabur lagi.

Namun, lagi-lagi Ren harus kecewa. Manusia memiliki ketangkasan fisik lebih unggul dibanding elf, menurut buku sejarah, meski mereka tak memiliki sihir. Dean segera menyadari serangan sihir Ren, dan segera berguling ke samping. Sihir itu mendarat di tanah dan membuat ledakan. Liv yang sedang duduk-duduk tenang ikut terkejut ketika mendengarnya.

Tak ingin memakan waktu lama, Dean berlari menghampiri, membuat Liv Themaris tampak panik, ketika yang datang menuju ke arahnya bukanlah Pangeran Haldir yang sedang ia tunggu, melainkan orang asing. Begitu tiba tepat di hadapan gadis elf tersebut, Dean langsung bertanya memastikan.

"Kamu! Tunggu! Namamu Liv Themaris, 'kan?"

Liv begitu terkejut ketika ada orang asing yang mengetahui namanya, terlebih lagi ketika ia diajak untuk pergi dari tepi danau tersebut. Tangannya digandeng erat oleh lelaki tersebut, menghindari kejaran tiga elf.

Liv sangat bingung. Gadis itu meronta, ingin melepaskan cengkeraman di pergelangan tangan, tetapi lelaki itu kuat sekali. Liv pun terheran, padahal tidak ada cahaya sihir yang keluar dari tangan orang ini, tapi kenapa genggamannya sekuat ini?

Liv makin tak percaya, ketika Dean mengatakan bahwa ialah pencipta semesta ini.

"Namaku Dean. Aku adalah penulis. Dunia yang kamu tinggali ini dan semua isinya, termasuk kamu, adalah hasil imajinasiku dalam sebuah novel."

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!