Dua bulan lalu.
"Hei, beri jalan! Si hitam mau lewat!"
"Jangan dekat-dekat, nanti kita bisa ketularan!"
Gelak tawa oleh para putra-putri bangsawan mewarnai sepanjang perjalanan Melian dan Liv ke taman. Sudah berulang kali Liv menolak ajakan si kakak bermain pada siang hari, tetapi Melian memaksa. Katanya, Liv harus menunjukkan kalau dia percaya diri dengan warna kulitnya.
"Jangan merasa rendah diri, atau orang lain akan semakin menghina kamu."
Begitu kata Melian, yang akhirnya disetujui dengan berat hati oleh Liv. Namun, pada kenyataannya hinaan itu tetap saja datang. Malah jadi makin parah, karena sekarang nama Melian juga jadi ikut terbawa-bawa.
"Melian, kamu itu sudah cantik. Untuk apa kamu bawa adikmu yang terkutuk itu sebagai pembanding?"
"Hahaha!"
Rupa Melian yang jelita, berkulit putih dan bertubuh tinggi memang berbanding terbalik dengan keadaan Liv. Gadis itu menunduk seraya melihat tangannya digandeng erat oleh Melian. Kontrasnya warna kulit mereka berdua jelas terlihat di tautan kedua tangan tersebut.
"Kalian benar-benar tidak tahu malu, ya? Menghina orang sampai seperti itu, apa kalian pantas disebut sebagai bangsawan terhormat!"
Perkataan Melian singkat, tetapi menyengat tajam pada mereka yang menghina Liv. Anak-anak itu langsung terdiam. Selain wajah dan tubuh sempurna, reputasi Melian di Kerajaan Legolas juga tidak dapat diragukan. Otak cerdas dan karisma luar biasa selama di akademi, membuat Melian begitu dikagumi dan disegani banyak pihak. Para orang tua ingin putra-putri mereka setidaknya memiliki setengah saja kemampuan Melian.
Akan tetapi, nasib Melian sama sekali tidak menular pada si adik. Liv menutupi kedua telinga dengan tangan, berharap semua cepat berlalu.
Kata-kata hinaan memang tak terdengar lagi, tetapi sesaat kemudian sebuah kerikil dilempar, mendarat tepat di kepala Liv. Selain kerikil, serangan sihir api pun juga menyambar tubuh Liv.
"Oh, Dewa! Liv, kamu tidak apa-apa?" tanya Melian khawatir. Liv hanya diam saja. Gadis itu memejamkan mata erat-erat. Bukan sakit fisik yang Liv rasakan, karena tubuhnya memiliki selimut kabut hitam yang selalu siap menguar, melindunginya dari serangan apa pun. Sakit yang Liv rasakan cenderung kepada mental, karena keberadaannya selalu ditolak oleh semua orang di sekitarnya.
Detik berikutnya, lemparan-lemparan kerikil lain datang secara beruntun. Kedua mata Melian terbelalak melihat semua itu.
"Hentikan kalian!" teriak Melian. Sesaat kemudian, gadis itu terkejut ketika melihat si adik sudah tak berada di sisinya. "Liv!"
Liv berlari pulang. Air mata jatuh berderai membasahi pipi. Panggilan sang kakak tidak lagi dia pedulikan. Melian memang sangat baik hati terhadap Liv selama ini. Kakaknya itu pula yang merawat dan mengajak Liv bermain sejak kecil. Namun, berjalan bersama sosok sempurna tanpa cela seperti Melian hanya akan membuat hinaan terhadap diri Liv semakin parah. Keputusan untuk jalan-jalan di taman bersama sang kakak tidak akan pernah lagi diambil oleh Liv seumur hidup.
Liv masuk ke kamar yang berada di lantai paling atas mansion pohon keluarga Themaris. Gadis itu langsung menutup pintu rapat-rapat dan naik ke atas kasur. Liv merogoh bagian bawah bantal dan mengeluarkan sebuah buku berisi ratusan lembar kertas linen kosong pemberian Melian sewaktu kecil.
"Namanya buku harian. Kalau aku sedang tidak bisa bersamamu, kamu bisa mencurahkan isi hati lewat buku ini. Kamu bahkan bisa memberinya nama!" pesan Melian pada Liv saat itu.
Liv membuka lembaran buku tersebut. Halaman kosongnya sudah hampir habis. Banyak hal yang Liv tuliskan di sana. Tinggal sisa satu halaman terakhir. Buku itu Liv beri nama "Ibu". Meskipun tidak mungkin terkabul, Liv sedikit berharap bahwa semua yang dia tulis di dalam buku itu akan sampai pada ibunya.
"Ibu, aku dihina lagi ... ." Liv menulis menggunakan pena bulu, sambil berderai air mata. "Aku tidak tahu harus bagaimana. Kenapa aku terlahir hanya untuk dihina? Apa salahku? Kenapa bukan aku saja yang pergi? Kenapa harus Ibu?"
Pena bulu di tangannya sampai patah karena ditekan pada kata terakhir. Goresan tintanya menjadi kabur ketika air mata Liv menetes dan merembes ke kertas. Pertanyaan-pertanyaan yang sama tertulis setiap hari, dan tidak akan pernah mendapatkan jawaban.
***
Sementara itu, seorang pelayan bernama Alma menginjakkan kaki di lantai teratas mansion Themaris, sambil membawa sapu dan pengki kayu. Baru sebulan lalu, Alma bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga bangsawan tersebut. Tugasnya meliputi bersih-bersih lantai dan jendela di mansion ini, terutama lantai teratas. Di lantai ini, kebanyakan ruangannya berisi gudang untuk barang-barang tak terpakai, meskipun ada satu kamar yang berbeda. Kamar tersebut ditempati oleh seseorang.
Awalnya, Alma begitu penasaran siapa yang menempati kamar sempit itu. Dia pun tidak pernah bertemu si pemilik kamar. Akan tetapi, rekan-rekan sesama pelayan mengingatkan Alma untuk tidak pernah berurusan dengan kamar tersebut, begitu pesan sang majikan, Olrun Themaris. Alma pun hanya menurut saja. Dia takut kehilangan pekerjaan kalau makin penasaran.
Pelayan lain yang selalu menemani Alma membersihkan lantai teratas adalah Cathe. Usianya sebaya Alma, hanya Cathe bekerja setahun lebih dulu dari pada dirinya. Temannya itu selalu membawakan bahan obrolan berupa gosip terbaru seputar Keluarga Themaris maupun Kerajaan Legolas. Nama pemilik kamar sempit di lantai teratas itu pun diketahui Alma dari Cathe.
Sore ini, Cathe membersihkan deretan kaca jendela dengan raut wajah riang. Hal itu mengundang Alma untuk bertanya, "Kamu kenapa?"
"Hehehe, sedang senang saja!" sahut Cathe cengengesan.
"Senang kenapa? Habis lihat cowok tampan, ya?" Alma menebak, disambut gelak tawa Cathe. Gadis itu melirik pada Alma.
"Kamu tahu saja! Aku memang tadi siang baru lihat cowok tampan di alun-alun kota!" sahut Cathe. Tangannya bergerak mengelap kaca jendela semakin cepat, mengikuti suasana hatinya.
"Siapa?" tanya Alma semakin penasaran, sampai membuat kegiatan menyapunya terhenti.
"Itu, si calon raja baru! Dia, 'kan, baru pulang dari berperang. Tadi siang saat berbelanja, secara tak sengaja aku lihat penyambutannya. Sangat meriah!"
"Dan dia tampan?"
"Tepat! Hehehe!"
"Huuu, dasar!" cibir Alma. Kemudian, dia berkata, "Semua lelaki memang pasti kau bilang tampan!"
"Tapi Pangeran Haldir itu beda! Seolah Dewa mensketsa wajahnya terlebih dahulu sebelum diciptakan!" kilah Cathe.
"Jangan berlebihan!" seru Alma. Dia mulai menyapu semua kotoran ke dalam pengki. "Lagi pula, yang kudengar justru rumor jelek mengenai dirinya!"
"Eh, apa? Elf tampan begitu masih saja ada yang membicarakan jelek-jelek?" Cathe heran seraya mengernyitkan dahi. Alma mengibaskan tangan.
"Ah, kau tidak tahu saja!"
"Soal apa?"
Alma menengok ke kanan dan kiri, menaikkan kewaspadaan. Cathe menyadari gerak-gerik temannya itu dan berjalan mendekat.
"Kenapa? Kamu seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Ada apa?"
"Bukan aku yang memulai pertama kali rumor ini," bisik Alma, "aku mendengarnya dari para pelayan di kompleks istana."
"Rumor apa?" Cathe ikut berbisik. Lap jendela di tangannya sampai kering karena lama tak dibilas, lantaran asyik ditinggal mengobrol.
"Katanya, Pangeran Haldir itu keturunan dari mendiang Raja Aelfric dengan seorang gadis desa!" bisik Alma kembali, membuat Cathe terkesiap.
"Apa! Jangan sembarangan! Kita bisa ditangkap kalau sampai terdengar mencemarkan nama baik keluarga kerajaan!" sergah Cathe.
"Aku tidak sedang bercanda, aku mendengarnya sendiri! Para pelayan istana yang berkata demikian!"
"Kalau sampai benar begitu, berarti benar, ya, gosip yang bilang kalau ratu itu mandul---"
"Hush, jangan kencang-kencang!" Alma mencegah perkataan Cathe lebih lanjut dengan menekan telunjuk ke bibir temannya itu. Cathe langsung mengatupkan mulut.
"Yang jelas, itu berarti Pangeran Haldir bisa jadi tidak sah untuk menjadi raja. Karena ada kemungkinan, sang pangeran lahir terlebih dahulu sebelum hubungan raja dan si gadis desa disahkan!"
***
Rumor yang dibicarakan antara kedua pelayan Cathe dan Alma terus berlanjut. Mereka tidak menyadari bahwa ada Liv yang menguping obrolan mereka dari balik pintu salah satu kamar di sana. Meskipun jarang keluar rumah di siang hari, Liv tetap mengetahui kabar dan gosip terbaru dari kedua pelayan tersebut. Jadi, Liv juga mengetahui siapa itu Pangeran Haldir.
Haldir Legolas, itulah nama sang pangeran. Sesuai tradisi Legolas, siapa pun keturunan langsung raja berhak mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin melalui masa percobaan. Para kandidat raja diberi waktu satu tahun untuk menyelesaikan pelatihan tersebut. Kandidat yang paling memenuhi kriteria akan benar-benar mendapatkan gelar raja berikutnya.
Maka dari itu, Pangeran Haldir sering menghabiskan waktunya bepergian ke luar wilayah Legolas untuk berbagai urusan politik dan perdagangan. Bahkan, sesekali pangeran pergi berperang mempertahankan wilayah dari kerajaan musuh. Semua urusan raja sebelumnya yang belum selesai harus ditangani oleh Pangeran Haldir. Tak heran, banyak warga yang belum mengenali wajah calon raja baru mereka ini.
Mendengarkan gosip barusan, membuat Liv sedikit melupakan kesedihannya. Dia malah jadi ikut penasaran pada si calon raja itu.
"Pangeran Haldir, ya? Seperti apa, ya, wajahnya, sampai dipuji-puji seperti itu?"
Namun, Liv menggeleng cepat setelahnya. "Untuk apa aku memikirkan orang lain, kalau nasibku sendiri saja sudah suram!" Meskipun pangeran digosipkan sebagai anak dari seorang wanita desa, tetap saja hidupnya masih jauh lebih beruntung dari pada Liv.
Liv menatap buku hariannya. Habis sudah lembaran kosong dalam buku tersebut. "Mungkin Kak Melian masih punya buku lagi. Aku akan minta padanya nanti malam."
Matahari terbenam pun tiba. Liv sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Gadis itu memutuskan untuk beranjak keluar kamar. Dia ingin pergi menemui Melian, guna meminta buku tulis baru. Jaraknya dua lantai di bawah kamar Liv. Untuk pergi ke arah sana, Liv harus melewati lobi tempat keluarganya bersantai, ruangan yang sama sekali belum pernah dimasuki oleh gadis itu. Ayahnya tak pernah mengizinkan Liv untuk pergi ke tempat-tempat yang berpotensi dimasuki para tamu di mansion tersebut.
Liv berusaha untuk jalan lurus terus tanpa penasaran pada isi ruangan lobi. Akan tetapi, kakinya terhenti saat daun pintu ruangan tersebut terbuka sedikit. Liv mengintip, hatinya berdebar. Dia berjanji pada diri sendiri hanya ingin melihat-lihat sebentar. Namun, untung saja tubuhnya tidak masuk sepenuhnya ke lobi itu, karena ternyata di dalam ada Melian dan Olrun sedang berbincang-bincang. Liv makin penasaran dan menguping. Gadis itu terkesiap ketika mendengar namanya disebut-sebut oleh ayah dan kakaknya itu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ailen
jahat banget
2023-07-13
0
Ig : @smiling_srn27 🎀
iseng baca buat dongengin si utun 😅
2023-06-15
2
SoVay
sudah aq ksih kopi
2023-03-28
1