Aku dan Laras membawa jasad Fifin ke rumahnya.
Aku bertemu dengan papih Fifin dan menceritakan semua yang terjadi, ia menangis lalu menghampiri jasad Fifin dan memeluk nya.
Kemudian, Fifin datang. Ia ikut menangis melihat papih nya menangis.
"Fin, kamu sabar ya, sebentar lagi jasad kamu akan dikuburkan dengan layak." kata ku.
"Iya May, makasih. May, aku boleh minta satu permintaan gak?" tanya Fifin.
"Apa itu Fin?" tanya ku.
"Aku mau meminjam tubuhmu sebentar, aku ingin berbicara dengan papih." jawab Fifin.
"Baik Fin, tentu saja boleh." kata ku.
Fifin memasuki tubuh ku dan menyapa papih nya.
"Hai pih, ini aku, Fifin."
Papih Fifin yang sedang menangis, kaget mendengar suara anaknya.
Bukan hanya papih Fifin yang kaget, Laras yang ada disamping ku pun ikut kaget.
Lalu, papih Fifin menengok kebelakang dan bertanya.
"Apa benar kamu Fifin?"
"Iya pih, ini aku Fifin. Aku meminjam tubuh Maya pih." jawab Fifin.
"Fifin, papih kangen sama kamu!" kata papih Fifin.
Papih Fifin langsung berlari dan memeluk tubuhku yang didalamnya ada roh Fifin.
"Iya pih, aku juga kangen dipeluk sama papih seperti ini." kata Fifin.
"Papih minta maaf, selama kamu hidup papih jarang ada waktu buat kamu, papih terlalu sibuk dengan kerjaan papih, sampai papih lupa memperhatikan kamu nak." kata papih Fifin.
"Iya pih gapapa, justru aku yang harus minta maaf sama papih. Aku selama ini selalu melawan papih, dan tidak pernah mendengarkan perkataan papih." kata Fifin.
"Tidak nak, kamu seperti itu karena papih. Papih telah gagal dalam mendidik anak. Papih minta maaf tidak bisa menjadi orangtua yang baik buat kamu nak." kata papih Fifin.
"Pih, setelah jasad ku dikuburkan, aku akan tenang di alam sana. Aku tidak bisa lagi menemui papih seperti ini, aku pasti akan kangen sekali sama papih." kata Fifin lalu air mata keluar dari matanya.
"Satu lagi pih, aku harus keluar dari tubuh Maya sekarang. Aku tidak mau Maya kehabisan energi, terimakasih pih sudah mau berbicara dengan ku." lanjut Fifin.
"Tunggu nak, sebelum kamu pergi ada sesuatu yang ingin papih perlihatkan kepadamu." kata papih Fifin.
Papih Fifin lalu merogoh saku celananya dan mengambil sebuah barang kecil.
Lalu ia membuka barang itu dan terlihat sebuah kalung dengan wajah Fifin, ibunya dan papihnya di dalamnya.
"Ini adalah kado ulang tahun yang akan papih berikan ke kamu, tapi sayang kamu tidak hadir di acara yang sudah papih buat nak."
"Pih, ini indah sekali. Aku baru tau mamih ternyata begitu cantik. Terimakasih pih atas kadonya." kata Fifin.
"Sama-sama nak, papih harap kamu bisa tenang disana setelah melihat wajah mamih kamu." kata papih Fifin.
Fifin kembali menangis, namun ia mengusap air matanya dan tersenyum lalu berkata.
"Pih, udah ya aku harus keluar sekarang. Papih jaga diri baik-baik ya, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa makan, aku gak mau papih jatuh sakit nantinya."
"Iya nak, pasti papih akan selalu mengingat pesan kamu." kata papih Fifin.
"Sampai jumpa pih, aku harap kita bisa bertemu lagi di alam sana. Aku pamit." kata Fifin.
"Iya nak." kata papih Fifin.
Papih Fifin tersungkur di tanah dan menangis.
Laras yang melihat itu menjadi semakin sedih lalu juga ikut menangis.
Aku merasa Fifin telah keluar dari tubuhku, namun ia masih ada di sampingku sambil menangis.
Aku menyapanya.
"Fin, kamu itu anak yang baik dan juga Sholehah. Semoga Allah menempatkan kamu di surganya."
"Terimakasih May. Aku permisi, maaf kalau aku sudah merepotkan kamu selama ini." kata Fifin.
"Tentu enggak Fin, Aku seneng kok bantu kamu." kata ku.
"Oiya, tolong bilangin ke Laras, jangan lupa datang ke konser STB November nanti!" kata Fifin.
"Iya Fin nanti aku bilangin." kata ku.
"Aku permisi ya, jaga diri kamu baik-baik! Aku titip papih aku sama kamu ya, tolong jaga dia." kata Fifin.
"Iya Fin, pasti aku bakal jaga papih kamu." kata ku.
"May, tolong bilangin ke Fifin dong, gua kangen sama dia." teriak Laras.
"Iya Ras. Tuh Fin, kamu denger kan kata Laras." kata ku.
"Iya May aku denger. Sampaikan juga ke Laras, kalo aku juga kangen sama dia." kata Fifin.
"Iya Fin." kata ku sambil tersenyum.
Fifin melambaikan tangannya lalu tersenyum.
Ia pun menghilang dari sini.
***************
Setelah selesai dimakamkan, para pelayat pergi ke rumah masing-masing.
Sedangkan papih Fifin masih menangis diatas kuburan Fifin sambil memeluk nisan nya.
"Papih gak nyangka kalau kamu akan pergi secepat ini Fin." kata papih Fifin.
Aku pun menghampirinya dan coba membujuknya.
"Om, om yang sabar ya! Jangan ditangisin terus Fifin nya, nanti Fifin gak tenang disana. Lagian Fifin kan pesan supaya om selalu bahagia."
"Bagaimana om bisa bahagia Maya? Anak om satu-satunya pergi meninggalkan om untuk selamanya." kata papih Fifin.
Tiba-tiba terdengar suara orang minta tolong.
"Tolong.. tolong!"
Aku dan Laras bingung darimana asal suara itu, kami mencari-cari ke seluruh sudut pemakaman ini, namun tak kunjung menemukan asal suara itu.
"Ih May serem banget! Kita langsung pulang yuk, gua takut lama-lama disini." kata Laras.
"Tar dulu, kita tenangin papih Fifin dulu." kata ku.
Aku kembali menghampiri papih Fifin.
"Om, udah yuk kita pulang! Ini udah mau Maghrib om." kata ku.
"Hiks hiks. Iya nak Maya, ayo kita pulang!" kata papih Fifin.
Saat kami ingin berjalan, tiba-tiba seseorang terjatuh dihadapan kami.
"Tolong saya!" orang itu berbicara pelan.
Aku merasa kasian dengan orang itu, karena kondisi tubuhnya benar-benar buruk.
Darah terdapat di seluruh badannya, wajahnya pun juga dipenuhi oleh darah.
Namun, papih Fifin melarang ku mendekati orang itu, ia justru menarik ku ke arah mobil.
"Kamu jangan pedulikan orang tadi, bisa aja itu bukan manusia!" kata papih Fifin.
"Iya May, lu liat sendiri kan tubuhnya gimana, gua si gak yakin dia manusia." kata Laras.
"Tapi Om, Ras. Kasian dong dia, kalau dia manusia gimana?" tanya ku.
"Ya paling nanti di tolong sama penjaga kuburan. Udah ah ayo pulang! Udah Maghrib nih, gua merinding." jawab Laras.
"Aku jadi penasaran sama orang tadi, sebenarnya dia siapa? Apa yang terjadi sama dia?" batin ku.
"Yasudah, om pulang duluan ya! Kalian hati-hati!" kata papih Fifin.
"Iya om tenang aja." kata Laras.
"Ayo May kita balik!" sambung Laras.
"Enggak Ras, kita harus kembali kesana." kata ku.
"Dih lu gila ya? Gua gak mau ah kesana lagi! Serem tau May!" kata Laras.
"Yaudah kalo kamu gak mau, aku bisa kesana sendiri kok." kata ku.
Aku pergi menuju ke kuburan Fifin lagi, sedangkan Laras masih kebingungan di depan mobil.
"Duh gimana ya? Masa gua tinggal si Maya sendirian disini. Tapi kalo gua ikut kesana, gua takut." kata Laras.
"Ah udah lah, gua ikutin aja si Maya." sambung Laras.
Laras pun mengejar ku dan berteriak.
"May, tunggu!"
Aku berhenti dan menoleh.
"Gua ikut sama lu deh." kata Laras sambil ngos-ngosan.
"Yaudah ayo, kita cek kondisi orang itu." kata ku.
Aku dan Laras berjalan menuju tempat orang itu terbaring tadi. Di setiap perjalanan, Laras selalu berpegangan pada tangan ku dan mengumpet di balik tubuh ku.
"Ras, apaansi lepas ah!" kata ku.
"Enggak ah May, takut tau!" kata Laras.
"Ih lebay banget si kamu! Gak ada apa-apa kok!" kata ku.
"Tetep aja gua takut, ini kan kuburan!" kata Laras.
Akhirnya kami sampai di tempat orang tadi tergeletak, dia masih berada disana tak berdaya.
"Ras, itu orangnya masih disitu, berarti bener dia orang. Ayo kita samperin!" kata ku.
"Enggak ah lu aja!" kata Laras.
"Yaudah kamu berani disini sendiri?" tanya ku.
"Ya enggak sih, yaudah gua ikut lu dah." jawab Laras.
Kemudian kami menghampiri orang itu.
"May, kok gua kayak kenal ya sama dia." kata Laras.
"Iya aku juga kayak pernah ngeliat wajahnya." kata ku.
Lalu orang itu bergerak dan berbicara pelan.
"Maya, Laras, tolong aku!"
Kami sontak kaget dan saling bertatapan satu sama lain.
"Hah Gino?" teriak kami serentak.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments