Gino hari ini keluar dari rumah sakit, aku dan Laras datang ke rumah sakit.
"No, lu udah siap kan tanggung jawab atas perbuatan lu?" tanya Laras.
"Siap kok." jawab Gino.
"Yaudah, ayo kita langsung ke tempat itu." kata Laras.
Kemudian kami pergi ke hutan tempat Gino menyembunyikan jasad Fifin.
Kami pun sampai di hutan itu.
"Ini hutannya Ras." kata Gino.
"Yaudah kita turun!" kata Laras.
Kami turun dari mobil.
"Ayo, lu jalan duluan!" kata Laras.
"Ngapa gua?" tanya Gino.
"Ya kan lu yang tau dimana jasad nya Fifin." jawab Laras.
"Oiya." kata Gino.
Gino pun masuk ke hutan duluan, disusul Laras dan aku.
"Dimana sih No? Masih jauh apa?" tanya Laras.
"Sabar udah deket kok." jawab Gino.
"Daritadi ngomongnya begitu, tapi gak nyampe-nyampe." kata Laras.
"Lagian Ras, kita baru masuk loh." kata Gino.
"Iya si, tapi gua udah pegel." kata Laras memegangi lututnya.
"Dih baru jalan semenit udah pegel, gimana naik gunung lu?" kata Gino.
"Iya Ras ayo semangat! Kita kan mau cari jasad Fifin." kata ku.
"Nah nah gaes, ini nih disini gua naro jasadnya Fifin." kata Gino.
"Tapi kok acak-acakan begini ya?" sambung Gino.
"Hah jangan-jangan..." kata Laras.
"Jangan-jangan apa?" tanya ku.
"Jangan-jangan jasad Fifin udah diambil hewan buas lagi." jawab Laras.
"Ih kamu kalo ngomong sembarangan aja! Jangan begitu dong!" kata ku.
"Tau lu Ras! Ayo kita coba cari jasadnya, mungkin masih disekitar sini." kata Gino.
Kami mengorek-ngorek tanah disana, namun tidak ada jasad Fifin sama sekali.
Kami hanya menemukan pacul yang tergeletak di tanah.
"No, ini kok ada pacul disini ya?" tanya ku.
"Iya ya, jangan-jangan ada yang gali tanah ini terus bawa jasad Fifin." jawab Gino.
"Terus gimana dong No? Ini semua salah lu! Coba aja lu gak naro jasad Fifin di hutan begini, pasti jasad Fifin gak bakal ilang!" kata Laras.
"Iya No, sekarang gimana? Kalo kita gak bisa nemuin jasad Fifin, pasti Fifin gak bakal tenang." kata ku.
"Kita coba tanya penduduk sekitar sini, tuh di sebrang jalan ada perkampungan." kata Gino.
"Yaudah kita langsung kesana aja!" kata ku.
Kami pun langsung menuju ke perkampungan itu, disana kami bertemu dua orang yang sedang berbincang di pos ronda.
"Misi mang, kita mau tanya nih." kata Gino.
"Iya silahkan, mau tanya apa?" tanya orang itu.
"Mamang ada nemuin jasad gak di sekitar hutan itu? Atau kalo gak warga disini ada yang nemuin gitu." kata Gino.
"Jasad? Perasaan mah gak ada." kata orang itu.
"Emangnya mas kenapa nyariin jasad?" tanya orang itu.
"Begini mang, temen kita kecelakaan disini, sampai sekarang jasadnya belum ditemukan mang." jawab Gino.
"Iya mang, kalo mamang ngeliat atau ada info tentang mayat di hutan, hubungi kita ya." kata ku.
"Iya neng pasti itu mah, tapi kalo mau hubungi kan harus ada nomor telepon nya atuh." kata orang itu.
"Ah iya mang, ini bisa hubungin ke nomor saya aja ya." kata Gino.
"Tapi saya maunya nomor neng yang itu." kata orang itu.
"Lah kan sama aja mang." kata Gino.
"Udah No gapapa, ini mang nomor saya." kata ku.
"Nah, nanti kalo ada kabar saya telpon ya." kata orang itu.
Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang datang ke pos ronda.
"Assalamualaikum." kata bapak itu.
"Waalaikumsallam, eh pak RT." jawab orang itu.
"Ada apa ini?" tanya pak RT.
"Ini pak ada 3 anak muda yang nanyain soal jasad di hutan." jawab orang itu.
"Hah jasad? Kebetulan semalam saya dan pak Asep nemuin jasad disana." kata pak RT.
"Beneran pak? Sekarang dimana jasad itu pak?" tanya Gino.
"Memangnya jasad itu siapanya kalian?" tanya pak RT.
"Itu jasad teman saya pak." jawab Gino.
"Sekarang jasad itu ada di rumah pak Asep. Ia sedang mengurus jasad itu selayaknya jasad seharusnya." kata pak RT.
Kemudian terdengar suara sirine mobil polisi berbunyi, ternyata memang ada mobil polisi yang datang ke kampung ini.
Mobil itu berhenti tepat di pos ronda.
"Permisi pak, saya mendapat laporan bahwa telah ditemukan jasad di dalam hutan, apa bapak tau dimana rumah pak Ghofur?" tanya polisi.
"Iya pak, kebetulan saya sendiri yang melapor dan saya sendiri yang bernama pak Ghofur." jawab pak RT.
Gino panik karena ada polisi disampingnya.
"Duh polisi lagi, gimana kalau polisi sampe nyelidikin semua ini terus gua ditangkap?" batin Gino.
"No, kamu kenapa?" tanya ku.
"Mmm, gapapa." jawab Gino.
"Si Gino pasti panik karena ada polisi, rasain lu No bentar lagi lu pasti ditahan!" batin Laras.
"Kalau begitu, dimana jasad yang bapak bilang semalam itu?" tanya polisi.
"Jasad itu ada di rumah pak Asep. Kebetulan semalam saya menemukan jasad itu bersama dengan dia." jawab pak RT.
"Kalau begitu, bisa bapak tunjukan kepada kami dimana rumah pak Asep?" tanya polisi.
"Tentu saja pak, mari ikuti saya." jawab pak RT.
Pak RT berjalan menuju rumah pak Asep diikuti mobil polisi yang berjalan pelan dari belakang.
Kami pun ikut bersama pak RT untuk menemui jasad Fifin.
Sesampainya disana, polisi langsung coba melihat kondisi jasad Fifin.
"Ini pak rumahnya, dan jasad itu ada di dalam." kata pak RT.
Pak Asep keluar dari rumah.
"Eh pak RT." kata pak Asep.
"Ini Sep, polisi sudah datang, sekarang tunjukkan dimana jasad itu." kata pak RT.
Pak Asep, pak RT dan polisi itu pun masuk kedalam rumah pak Asep.
Kami menyusul masuk kedalam rumah pak Asep.
"Ini pak jasad yang kami temukan semalam. Istri saya dan ibu-ibu disini sudah merawat jasadnya semalam, sekarang kami rencananya ingin menguburkan jasad ini." kata pak Asep.
"Boleh kami cek kondisi mayat ini?" tanya polisi.
"Boleh pak silahkan saja!" jawab pak Asep.
Polisi pun membuka kain kafan yang menutupi wajah jasad Fifin.
Begitu dibuka, aku dan Laras menangis karena ternyata itu benar jasad Fifin.
Polisi menutup kembali wajah Fifin dan bertanya.
"Apa ada petunjuk yang anda temukan di TKP?" tanya polisi.
"Ada pak, saya menemukan dompet di saku celana jasad ini." jawab pak Asep.
Kemudian, pak Asep memberikan dompet itu kepada polisi.
"Baik terimakasih, saya akan menyelidiki kasus ini." kata polisi.
"Waduh mati gue! Semoga aja polisi gak tau kalo gua yang nabrak Fifin." batin Gino.
"Kalau begitu, kami permisi, terimakasih atas laporannya." kata polisi.
"Tunggu pak." kata Gino.
"Iya ada apa?" tanya polisi.
"Begini pak, kebetulan jasad ini adalah jasad teman saya namanya Fifin pak. Jadi saya tau betul kenapa dia bisa meninggal pak." jawab Gino.
"Baiklah, anda bisa ikut kami ke kantor dan menceritakan semuanya disana." kata polisi.
"Baik pak." kata Gino.
Gino pun ikut ke kantor polisi bersama para polisi itu.
"May, itu seriusan si Gino mau nyeritain semuanya ke polisi?" bisik Laras.
"Itu dia dalam pengaruh Marina." bisik ku.
"Hah, siapa Marina?" tanya Laras.
"Nanti aku ceritain ke kamu." jawab ku.
Kemudian, pak Asep dan yang lainnya ingin menguburkan jasad Fifin.
"Tunggu pak, gimana kalau saya bawa jasad teman saya ini ke Jakarta pak? Soalnya keluarganya ada disana pak." kata ku.
"Oh, kamu kenal dengan keluarga orang ini?" tanya pak RT.
"Iya pak kita kenal, sekarang papah teman saya ini masih mencari-cari dimana anaknya, jadi kasian pak kalau beliau tidak bisa bertemu anaknya untuk yang terakhir kali." kata ku.
"Iya kamu benar, kalau begitu baiklah kamu bisa bawa jasad ini." kata pak RT.
"Tapi, saya bisa minta bantuan bapak gak buat bawa jasad teman saya ke mobil saya di sebrang sana?" tanya ku.
"Ya bisa atuh neng, saya pasti bantu kok." jawab mang Aris.
"Kamu mah Ris Ris, kalau ketemu cewek cantik langsung melek." ledek pak RT.
Lalu, mang Aris dan pak Asep membawa jasad Fifin menuju mobil Laras.
"Terimakasih ya mang, pak. Saya gak tau deh kalau gak ada kalian bakal gimana, pasti sampai sekarang jasad teman kami belum bisa ditemukan." kata ku.
"Ah pake terimakasih segala, tenang aja sama aa mah neng." jawab mang Aris.
"Dasar kamu Ris! Gabisa liat cewek cakep dikit, neng jangan di dengerin omongan dia mah." kata pak Asep.
"Iya pak, makasih ya." kata ku.
"Sama-sama neng, saya juga seneng bisa ngebantu." kata pak Asep.
"Iya pak saya juga ucapin terima kasih." kata Laras.
"Iya neng, kalo gitu saya permisi dulu ya." kata pak Asep.
"Neng, nanti aa SMS ya." kata mang Aris.
"Iya mang." kata ku.
"Udah ayo gausah genit sama cewek!" kata pak Asep.
"Hahaha, May May, sekarang lu bukan digodain sama Gino lagi, tapi udah sama mamang-mamang." kata Laras.
"Terus aja terus tawa terus!" kata ku.
Aku langsung masuk ke mobil.
"Dih ngambek!" kata Laras.
Laras juga menyusul masuk ke mobil dan langsung menjalankan mobilnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments