"Orangtuaku tidak pernah menginginkan kehadiran ku. Mereka selalu membenciku, aku tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang dari orang tua ku." kata Gino.
"Apalagi sejak kelahiran adikku, mereka semakin tidak memperdulikan ku. Aku seperti tidak ada diantara mereka." sambung Gino.
"Suatu hari aku sangat merasa iri dengan adikku, aku mencoba mencelakakan nya, aku mendorong sepedanya lalu ia terjatuh dan mengalami luka di lututnya." kata Gino.
"Ibu dan ayahku sangat marah, mereka kemudian mengusirku dari rumah. Saat itu aku masih berumur 8 tahun." sambung Gino.
"Aku sedih, aku berjalan terus tanpa tujuan, hingga satu hari aku bertemu dengan bibiku. Dia membawaku ke rumahnya dan mengizinkan ku tinggal disana." lanjut Gino.
"Aku merasakan kasih sayang walaupun sedikit, lalu saat remaja aku memutuskan pergi dari rumah bibiku dan tinggal di Jakarta." kata Gino.
"Aku tinggal di kost-kostan dan mencoba bekerja sambil bersekolah. Aku membantu di sebuah toko elektronik, dan digaji 50rb sehari." kata Gino.
"Aku berusaha untuk mencukupi segala kebutuhan ku dan mencari pekerjaan lainnya. Akhirnya aku diterima bekerja di restoran sebagai pelayan." lanjut Gino.
"Kasian ya kamu, padahal selama ini aku taunya kamu itu gak pernah punya masalah, karena kamu selalu terlihat riang." kata ku.
"Itu karena aku gak mau orang-orang di dekat ku tau tentang hidup aku." kata Gino.
"Sorry ya aku jadi curhat sama kamu." sambung Gino.
"Iya gapapa kok." jawab ku.
"Ternyata masa lalu Gino menyedihkan, aku jadi kasihan sama dia." kata Fifin.
"Semoga dengan semua cerita karangan gua ini, Maya bisa percaya kalo gua itu orang baik." batin Gino.
"Emmm No, kayaknya aku harus pulang deh. Soalnya udah jam 21 aku takut dicariin papah." kata ku.
"Oke, ayo kita pulang!" kata Gino.
"Aku pikir semua itu benar, ternyata kamu cuma bohong. Dasar Gino kamu emang bener-bener orang jahat!" kata Fifin.
Saat aku dan Gino ingin pergi ke mobilnya, tiba-tiba ada sosok seram di depan kami.

"Hah apa itu?" tanya Gino.
"Itu Kunti No, masa kamu gak tau?" jawab ku.
"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Gino.
"Iya No." kata ku.
Karena ketakutan, aku dan Gino berlari ke arah mobil Gino.
Saat sampai disana, aku dan Gino langsung masuk ke mobil. Gino menjalankan mobilnya dengan cepat.
"No, pelan-pelan dong nanti kalo nabrak gimana!" kata ku.
"Udah kamu tenang aja ya, aku gak bakal nabrak kok! Justru kalo pelan, kita bisa bahaya." kata Gino.
"Bahaya kenapa?" tanya ku.
"Kamu kan liat tadi, kita ketemu Kunti." jawab Gino.
"Terus kenapa?" tanya ku.
"Ya pasti dia mau ngelakuin sesuatu ke kita." jawab Gino.
"Enggak lah, aku udah sering liat begituan dari kecil. Mereka gak apa-apain aku tuh." kata ku.
"Hah? Kamu indigo?" tanya Gino.
"Gak tau." jawab ku.
"Lah gimana si?" tanya Gino.
"Udah sekarang pelanin mobilnya." kata ku.
Tiba-tiba sosok tersebut terbang melintasi mobil kami.
Gino kaget dan mengerem mobilnya.
"Tuh kan May, dia muncul lagi, berarti dia emang ngincer kita." kata Gino.
"Udah gausah di pikirin, kita lanjut aja jalan!" kata ku.
Gino kembali menggas mobilnya.
Lalu, kami sampai di rumahku.
"Makasih ya No, aku masuk dulu." kata ku.
"Iya aku juga langsung balik." kata Gino.
"Hati-hati! Dia marah." kata ku.
"Maksud kamu?" tanya Gino.
Aku tersenyum dan masuk ke rumahku.
Gino menggaruk-garuk kepalanya, ia bingung dengan ucapan ku. Lalu, ia masuk ke mobilnya.
Saat di jalan, Gino merasa merinding.
"Kok gua jadi merinding gini ya." kata Gino sambil memegangi lehernya.
Gino melihat dari spionnya, ia kaget ada sosok dibelakangnya.

Namun, saat ia menoleh sosok itu telah hilang. Gino mengucek-ngucek matanya dan mengira bahwa ia hanya salah melihat.
Saat kembali melihat kedepan, ia melihat sosok yang berdiri di jalan, ia pun membelokkan stir mobil nya ke kiri.
"Aaaaaaaaa." teriak Gino.
Brakkk...
Mobil Gino menabrak pohon di pinggir jalan, kepala Gino terbentur stir mobil dan pingsan.
"Hahahahaha, ahahahahahaha." tawa sosok itu.
"Terimakasih." kata Fifin.
Sosok itu menengok lalu terbang dan meninggalkan Fifin.
*******************
Besok paginya, aku mendapat kabar kalau Gino masuk rumah sakit.
"Kenapa kamu melakukan itu Fin?" tanya ku.
"Aku kesal May, semua yang dia ceritakan ke kamu itu bohong, dia bohong May!" jawab Fifin.
"Apa? Jadi semua itu bohong?" kata ku.
"Iya May, awalnya aku sempat kasihan mendengar itu, tapi setelah aku tau dia bohong, aku benar-benar marah." kata Fifin.
"Tapi, yang semalam aku lihat itu bukan kamu Fin." kata ku.
"Iya itu emang bukan aku, aku bertemu dia di taman semalam, dia mengajakku bekerjasama." kata Fifin.
"Wah hantu juga bisa kerjasama ya." kata ku.
"Bisa dong." kata Fifin.
"Yaudah, sekarang aku ke rumah sakit dulu ya temuin Gino." kata ku.
"Oke." kata Fifin.
*di rumah sakit*
"Maaf sus, saya mau tanya ruangan pasien yang kecelakaan semalam dimana ya?" tanya ku.
"Oh dia ada di IGD, mbaknya belok ke kanan terus lurus aja." jawab suster.
"Oh terimakasih sus." kata ku.
Aku menuju ke ruangan Gino dan masuk kedalam.
"Hai No, gimana kondisi kamu?" tanya ku.
"Aku baik, tapi aku masih merasa takut." jawab Gino.
"Kenapa takut?" tanya ku.
"Sosok itu semalam ada 2, mereka seram-seram dan sepertinya berniat membunuhku." jawab Gino.
"Udah No, kamu mungkin cuma banyak pikiran aja, jadinya kamu ngeliat ada setan, tapi kenyataannya enggak." kata ku.
"Ini bener May, aku gak salah liat. Mungkin ini karma buat aku." kata Gino.
"Kenapa kamu bisa bilang gitu?" tanya ku.
"Maafin aku May, aku mungkin harus cerita ini ke kamu, aku yang udah nabrak Fifin sampai dia meninggal." jawab Gino.
Aku kaget karena ternyata Gino berani bilang gitu ke aku.
"Jadi Fifin udah meninggal? Terus dimana jasadnya sekarang?" tanya ku.
"Iya May, aku minta maaf, mungkin Fifin ingin balas dendam ke aku karena itu." jawab Gino.
"Kamu gak perlu minta maaf ke aku, kamu kasih tau aja dimana jasad Fifin?" kata ku.
"Aku.. Aku sembunyiin jasad Fifin di dalam hutan May." jawab Gino.
"Apa? Kenapa kamu tega ngelakuin itu?" tanya ku.
"Aku gak mau kalian tau kalau aku udah nabrak Fifin." jawab Gino.
"Terus kenapa kamu cerita ke aku sekarang?" tanya ku.
"Aku udah gak sanggup lagi dengan semua ini, aku pengen kamu bantuin aku supaya Fifin mau maafin aku dan gak ganggu aku lagi." jawab Gino.
"Aku bisa aja bantu kamu No, asalkan kamu mau tanggung jawab atas perbuatan kamu itu." kata ku.
"Pasti May, pasti aku bakal tanggung jawab." kata Gino.
"Yaudah, aku akan coba bicara sama Fifin nanti." kata ku.
"Kamu bisa?" tanya Gino.
"Insyaallah, yaudah sekarang aku pamit ya. Ini buahnya aku taro disini ya." jawab ku.
"Iya makasih ya." kata Gino.
Aku keluar dari ruangan Gino dan pergi ke rumah Laras.
"Apa? Si Gino ngaku ke kamu kalo dia udah nabrak Fifin?" tanya Laras.
"Iya Ras, dia bilang dia mau tanggung jawab atas perbuatannya. Terus, dia minta tolong sama aku buat bilang ke Fifin supaya gak ganggu dia lagi." jawab ku.
"Terus, kamu mau bantu dia?" tanya Laras.
"Aku bilang sama Gino, aku mau coba bicara ke Fifin. Tapi aku gak tau Fifin mau apa enggak." jawab ku.
"Yaudah, coba aja dulu bicara sama Fifin." kata Laras.
"Iya, tapi Fifin nya gak ada." kata ku.
Kemudian Fifin datang dengan wajah marah.
"Kalo kamu mau bantu dia, kamu juga bakal aku buat sengsara!"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments