"Fin, dengerin dulu! Aku tuh baru mau bicara sama kamu." kata ku.
"Terserah May, intinya aku gak mau berdamai sama dia! Aku harus bunuh dia secara perlahan-lahan, agar dia merasakan apa yang aku rasakan." kata Fifin.
"Kalo kamu gak mau bantu aku gapapa, aku bisa ngelakuin itu sendiri." lanjut Fifin.
"Fin, Aku bakal bantu kamu kok, Aku kan sahabat kamu." kata ku.
"Terus apa maksud kamu ingin membantu Gino?" tanya Fifin.
"Itu cuma cara biar kamu bisa nemuin jasad kamu Fin, kan sampai sekarang kamu masih cari tau dimana jasad kamu." jawab ku.
"Itu tidak perlu May! Aku bisa nemuin jasad ku tanpa bekerjasama dengan nya." kata Fifin.
"Baik Fin, kalo emang kamu maunya begitu Aku ikut kamu saja." kata ku.
Fifin pergi dari kamar Laras.
"May, apa kata Fifin?" tanya Laras.
"Dia bilang dia gak mau kerjasama sama Gino, dia mau Gino tersiksa." jawab ku.
"Yaudah kalo gitu kita langsung jalanin rencana awal aja." kata Laras.
"Iya Ras, tapi hatiku kaya ada yang janggal." kata ku.
"Kenapa? Lu gak mau lakuin ini? Apa jangan-jangan Lu suka beneran ya sama Gino." kata Laras.
"Enggak lah bukan gitu! Aku gak mau aja kalo harus ada yang terbunuh lagi, kita kan udah kehilangan 3 teman kita." kata ku.
"Nih May, mereka meninggal itu karena Gino, jadi Gino harus tanggung jawab!" kata Laras.
"Iya Ras, Gino juga udah mau tanggung jawab kok, jadi harusnya kita udahin aja semua ini" kata ku.
"Tapi lu kan denger sendiri Fifin gak setuju." kata Laras.
"Iya sekarang kita jalanin aja rencana itu." kata ku.
Aku dan Laras pergi ke rumah sakit tempat Gino dirawat.
**************
Di rumah sakit, Gino sedang tertidur sendiri di ruangannya.
Fifin mendatangi Gino dan mendekati nya, lalu ia memanggil nama Gino.
"Gino, Gino bangun Gino."
Gino merasa tidak tenang, ia membuka matanya dan terkejut melihat ada Fifin disampingnya.
Fifin melotot ke arah Gino, dia membawa bantal.
"Hah, Fin kamu mau apa dengan bantal itu?" tanya Gino.
Fifin terus menghampiri Gino secara perlahan, wajahnya terlihat sangat marah.
"Jangan mendekat! Sana pergi!" kata Gino.
Aku dan Laras telah sampai di rumah sakit, kami langsung menuju ruangan Gino.
Fifin mematikan lampu di ruangan Gino, Gino semakin ketakutan karena mata Fifin tiba-tiba memerah.
Kemudian Fifin menutup wajah Gino dengan bantal, Gino coba memberontak namun tenaga Fifin lebih kuat.
"Mati kau Gino!" kata Fifin.
Aku dan Laras membuka pintu ruangan Gino, kami melihat wajah Gino tertutup bantal.
Aku melihat Fifin menekan bantal itu, Fifin menoleh ke arahku.
"Fin cukup! Jangan sampai dia mati karena kehabisan nafas!" kata ku.
"Kenapa? Kamu mau bela dia?" tanya Fifin.
"Enggak Fin, aku cuma ingetin aja kamu mau siksa dia dulu kan, jadi lepasin sekarang! Lagian kamu belum berhasil nemuin jasad kamu." jawab ku.
Fifin melepaskan bantalnya. Nafas Gino terengah-engah, ia hampir kehabisan nafas.
Fifin pergi dari ruangan Gino, lampu kamarnya pun kembali nyala.
"Sebenarnya apa yang terjadi May?" tanya Laras.
"Enggak terjadi apa-apa kok." jawab ku.
"May, terimakasih ya." kata Gino pelan.
"Sama-sama." kata ku.
"Aku takut May, ini udah kelima kalinya aku diteror. Bahkan aku masih di rumah sakit dia tetap neror aku." kata Gino.
"Itu karena kesalahan lu sendiri No! Ini semua gak bakal terjadi kalo lu gak selingkuh sama Rosa!" kata Laras.
"Udah Ras apaansi." Kata ku.
"Gapapa May, bener kata Laras. Ini semua salah aku." kata Gino.
"Nah itu nyadar!" kata Laras.
"Ras!" kata ku.
"May, jadinya gimana kamu udah bicara sama Fifin?" tanya Gino.
"Udah No, tapi Fifin gak mau berdamai sama kamu." jawab ku.
"Yah berarti aku bakal terus diteror dong." kata Gino.
"Ya gitu, tapi kamu coba aja kuburin dulu jasad Fifin." kata ku.
"Iya May, aku bakal ke tempat aku sembunyiin jasad Fifin, terus aku kuburin jasadnya di tempat yang layak." kata Gino.
"Emangnya lu taro jasad Fifin dimana?" tanya Laras.
"Di hutan tempat gua kecelakaan Ras." jawab Gino.
"Apa? Di hutan? Lu gila ya No! Masa jasad Fifin lu taro di hutan, terus kalo dimakan sama hewan gimana?" kata Laras.
"Lu tenang aja, gua udah tutupin jasadnya pake tanah dan gua kasih daun pisang di atasnya." kata Gino.
"Yaudah besok kita kesana!" kata ku.
"Oke." kata Gino.
*****************
Malam harinya, lampu kamarku tiba-tiba mati.
"Ini kenapa ya kok mati sendiri sih?" batin ku.
"Maya, Maya."
"Suara apaan tuh? Tunjukin diri kamu dong!" teriak ku.
"Aku disini May!" suara itu terdengar lagi.
Aku menoleh dan melihat ada sosok seram di belakangku.
"Siapa kamu?" tanya ku.
"Aku yang selalu menemanimu May." jawab dia.
"Apa maksud kamu? Aku gak kenal sama kamu." kata ku.
"Kamu gausah takut May, aku teman kamu, aku akan selalu menjaga kamu." kata dia.
"Jadi kamu yang selama ini SMS aku?" tanya ku.
"Iya bener May, aku peringatkan kamu melalui pesan itu." jawab dia.
"Tapi, kok bisa hantu kirim SMS?" tanya ku.
"Gak tau, aku juga heran kenapa bisa. Aku coba-coba aja, eh taunya bisa." jawab dia.
"Haha kamu lucu deh." kata ku.
"Tapi, nama kamu siapa?" tanya ku.
"Aku Marina May." jawab dia.
"Oh itu nama kamu, berarti kamu juga ya yang selalu ngawasin aku, terus merhatiin aku dibalik lemari ini." kata ku.
"Iya May, maaf ya aku gak berani bicara langsung sama kamu sebelumnya, aku takut kamu jadi ketakutan." kata dia.
"Aku udah biasa kali komunikasi sama makhluk sejenis kamu." kata ku sambil tertawa.
"Eh, kamu selalu bilang minta tolong, minta tolong buat apa?" tanya ku.
"Aku sebenarnya juga dendam sama Gino, temen kamu itu May." jawab Marina.
"Kenapa kamu bisa dendam sama Gino?" tanya ku.
"Dia udah membunuh adikku." jawab Marina.
"Gimana ceritanya tuh?" tanya ku.
"Maaf May, bukannya aku gak mau cerita, tapi aku suka sedih kalo mengingat itu." jawab Marina.
"Oh, iya gapapa. Terus, kamu mau minta tolong ke aku supaya aku bantu kamu balas dendam ke Gino?" tanya ku.
"Iya May, tapi setelah aku bertemu Fifin, temen kamu juga. Aku memilih bekerjasama dengannya, karena tujuan kita sama." jawab Marina.
"Oh, berarti sosok seram di rumah Rosa yang Fifin bilang itu kamu dong." kata ku.
"Iya bener May, saat itu aku belum berani mengajak dia bekerjasama. Tapi setelah aku mengetahui tujuan dia, aku semakin yakin untuk bekerjasama dengan dia." kata Marina.
"Oh yaudah, semoga tujuan kalian berhasil deh. Aku tidur dulu ya ngantuk, kamu jangan disini terus yang ada aku gabisa tidur karena ngeliat kamu." kata ku.
"Iya May, aku pergi kok. Selamat malam." kata Marina.
"Malam juga." kata ku.
Marina pergi dari kamarku, lalu aku berbaring dan memikirkan bagaimana Marina bisa bersama ku.
"Kenapa dia bisa ngikutin aku dan ngelindungin aku ya? Emangnya aku siapanya dia?" tanya ku dalam hati.
•
•
*di hutan*
"Bau apaan nih pak? Nyengat banget." kata seorang warga.
"Gak tau, udah kita lanjutin aja bawa singkong nya." jawab pak Ghofur.
"Baik pak." kata seorang warga.
Mereka melanjutkan perjalanan.
"Pak, asal baunya dari sini pak." kata seorang warga.
Dia menunjuk ke tumpukan daun pisang.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments