Pelabuhan Hongkong
Pria yang akhirnya bisa diidentifikasi sebagai Liem Shu Chen itu dalam kondisi terbius yang bisa dibilang dikomakan. Kini Tama bersama dengan anak buahnya berada di sebuah pondok yang disewa dekat bandara Hongkong. Sudah seminggu ini pesawat yang disewa oleh Luke, sudah siap disana untuk terbang landas menuju Tokyo.
Baru saja mereka meletakkan Shu Chen, Shen memberikan laporan kalau dua orang lagi yang sudah diidentifikasi sebagai Liu Wongyi berada di sebuah hotel di daerah Wan Chai. Tama tidak tahu bagaimana Shen bisa mendapatkan informasi itu tapi jika memang Wongyi dan rekannya ada disana, dia patut memeriksa nya.
"Berangkat YangYang. Bawa pasukan tadi!" perintah Tama. Semenjak Opa Shiki Matsumoto pensiun, Hidetoshi, Shota dan Tama lah yang menjadi andalan Luke. Tapi, semenjak Shota meninggal, Luke belum menunjuk siapa penggantinya dan tetap Hidetoshi serta Tama yang masih menjadi tangan kanannya.
"Apakah kita akan melakukan hal yang sama, Tama?" tanya YangYang.
"Tentu tidak." Tama keluar dari ruang tengah dna memanggil seseorang. "Chisako!"
Seorang gadis cantik berambut hitam panjang dengan tinggi semampai itu datang menghampiri. "Haik, Tama-san?"
"Kamu cosplay menjadi Mai Siranui. Sekarang!" perintah Tama yang membuat Chisako tersenyum smirk.
"Saya harus menyuntik atau ciuman?" tanya gadis itu.
"Suntik saja! Boss pasti tidak mau kamu bersentuhan dengan pembunuh Shota!"
Chisato mengangguk. "Saya bersiap dulu."
Mai Siranui adalah kode yang diberikan Luke kepada anak buahnya yang perempuan untuk menyamar menjadi wanita panggilan high class untuk mendapatkan informasi. Kalau pernah bermain king of fighters, pasti tahu cewek berdada besar dengan kimono merah.
Mai Siranui
***
Distrik Wan Chai, Hongkong.
Chisato berdandan layaknya high class call girl yang dipesan oleh Liu Wongyi dan temannya. Gadis panggilan yang asli diberikan uang ganti rugi oleh Tama dengan jumlah tiga kali lipat dari tarif yang diminta.
Bagi Tama, uang sejumlah itu tidak ada masalah karena yang penting mereka bisa mendapatkan dua orang tersisa. Chisato pun mendatangi kamar Wongyi dan temannya. Gadis pemberani itu yakin keduanya ingin melakukan hubungan s3skual threesome. Diam-diam Chisato sudah memasang dua cincin yang berada di masing-masing jari manis kiri kanannya yang memiliki tombol jika dipencet mata berliannya akan keluar jarum berisikan obat bius yang bisa membuat kuda pingsan.
Setelah memencet bel, pintu kamar hotel itu pun terbuka. Chisato juga memakai softlens yang juga merangkap kamera membuat Tama dan YangYang yang berada di kursi sudut coffe shop hotel, bisa mengawasi semuanya.
Tama mengenali pria bernama Liu Wongyi yang sudah diperiksa oleh Sadawira. YangYang pun mencari nama pria satu lagi dengan face recognition dari MacBooknya dan menemukan nama Eric Gao.
"Catatan kejahatan mereka panjang macam sungai Amazon" gumam YangYang.
"Kalian yang di ambulans, bersiaplah. Chisato sebentar lagi beraksi." Tama memerintahkan anak buahnya yang berjaga - jaga di dekat pintu darurat. Semua CCTV sudah dihack oleh Tama agar tidak terlihat saat mereka membawa Wongyi dan Gao.
Tama dan YangYang menahan nafas saat dua orang jahat itu mulai mengge*raya*ngi tubuh Chisato dengan posisi gadis itu berada diantara pria - pria itu. Dirasa waktu nya tepat, gadis itu memencet kepala berlian di dua cincin yang dipakainya dan dengan gaya mengelus menggoda Wongyi dan Gao, Chisato menusukkan jarum di cincinnya bersamaan di leher Wongyi dan tengkuk Gao.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, kedua pria itu langsung terkapar. "Mayat sudah bisa diangkat" lapor Chisato sambil melepaskan kedua cincin itu dan memasukkan ke dalam kotak khusus.
"Ambil mayatnya." Perintah Tama dan YangYang sambil membawa MacBook dan iPad mereka lalu berjalan menuju pintu lobby hotel dan ke arah parkiran untuk mengambil mobil mereka.
Sementara itu, para anak buahnya masuk dari pintu darurat dan menuju kamar hotel yang sudah dibuka oleh Chisato. Seperti halnya dengan Shu Chen, kedua orang itu langsung diangkut menggunakan kantong mayat dan segera dimasukkan ke dalam mobil Van melalui pintu darurat. Chisato sendiri keluar dari kamar hotel dengan menggunakan kacamata hitam, lalu dengan langkah anggun dirinya keluar hotel menuju mobil yang disetir oleh YangYang. Bersamaan dengan itu, mobil Van yang membawa dua pembunuh Shota juga keluar dari area parkir gedung dan beriringan keluar dari hotal itu menuju pondok.
Tama lalu menghubungi anak buahnya yang disana untuk bersiap menuju pesawat serta menghubungi pihak pilot untuk segera menyalakan mesin.
"Bagaimana dengan Shen?" tanya YangYang.
"Sudah aku suruh ke pondok dan dalam perjalanan. Tentu saja dia kita bawa kan. Boss juga meminta agar bocah sepuluh tahun itu ikut! Dia aset, YangYang."
"Good. Aku khawatir dengan anak itu!"
Tak lama, semua anggota Yakuza Takara sudah berada di dalam pesawat yang disewa oleh Luke Bianchi, termasuk Shen yang akan tinggal bersama dengan keluarga barunya di Jepang. ( Shen nanti akan menjadi asisten Hyde Bianchi, namanya berganti Shohei Kawaguchi ).
***
Intercontinental Barclays Hotel Manhattan New York, kamar Sadawira dan Jayde
Luke Bianchi tampak tersenyum puas mendengar laporan dari Tama jika ketiga orang itu sudah dibawa ke Jepang.
"Bagus Tama. Shen sudah kamu bawa?" tanya Luke.
"Sudah boss. Kita bawa ke markas mana?"
"Akihabara. Empang disana kan sudah lama tidak mendapatkan daging manusia" seringai Luke membuat ketiga adiknya yang mendengar ucapan kakaknya merinding.
"Seriously?" bisik Radeva sambil menepuk jidatnya.
"Baik boss. Mereka semua sedang dikomakan, menunggu anda pulang ke Tokyo" ucap Tama.
"Good job Tama. Aku akan kembali ke Tokyo besok. Siapkan semua orang ke Akihabara, letakkan tiga orang itu di halaman belakang sebelah Empang."
Jayde, Sadawira dan Radeva bisa melihat bagaimana kilat mata Luke penuh dengan amarah.
"Siap boss! Tama out." Tama mematikan panggilannya.
Luke menatap ke ketiga adiknya. "Bisakah kalian ambil cuti dan ikut ke Tokyo? Bilang saja ada proyek dengan AJ Bianchi Corp."
"Aku sih bisa saja bang, lagipula aku belum ambil cuti tahunan aku" jawab Radeva.
"Aku juga" jawab Jayde. "Kamu gimana Wira?"
"Bisa diatur. Toh koas aku sudah selesai tinggal ujian." Sadawira tersenyum smirk. "Apakah aku dan kak Yuri bagian membedah mereka hidup-hidup?"
Luke tersenyum lebar. "Sudah kuduga kamu akan tanggap maksud aku!"
Radeva menggelengkan kepalanya. "Oh astagaaa! Entah akan seperti apa Hyde nanti besarnya..."
"Look Deva, nyawa dibayar nyawa dan aku yakin Shota tidak rela organ tubuh nya dipasang di orang jahat macam Terry Wong. Dengar, aku sudah lama tidak membunuh orang dan perbuatan mereka membangunkan macan tidur aku! Bukan aku yang memulai perang ini ya!" jawab Luke dingin. "Hyde? Setidaknya belum separah daddynya."
Jayde hanya menghela nafas panjang mendengar ucapan Luke.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
agoes Rezha
jay
2024-07-24
0
🥰Siti Hindun
jadi disini awal mula shohei bergabung..
2024-01-04
1
🍭ͪ ͩ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦ꍏꋪꀤ_💜❄
haishhh ngeri2 sedap klo sudah berhadapan sama mafia😁😁😁😁😁
2023-03-14
1