Setelah menyelesaikan sesi fitting room pakaian pengantin bersama pada akhirnya Wiraditya dan Queen W bergegas harus kembali ke perusahaan. Nyatanya begitu tiba di area parkiran, laki-laki tersebut terlihat agak bingung, maklum kedatangan nya tadi di antar oleh salah satu pegawai perusahaan dan dia tidak pergi menggunakan vespa butut nya. Lalu kini apakah dia harus pulang naik taxi online? grab atau Maxim?.
"Tidak adakah tarif yang minim? apa sebaiknya aku naik angkot?", Batin Wiraditya pelan, dia sibuk melihat tarif kendaraan online.
Dia mencoba menghitung uang didalam dompet nya dalam diam. Sebenarnya tidak benar-benar mengeluarkan dompetnya, tapi hanya berusaha untuk mengingat-ingat berapa lembar uang yang tersisa didalam sana semalam. Setelah membeli beberapa peralatan dapur dan kamar mandi, memberikan uang sayur untuk ibu nya dan dipotong beberapa pembayaran lainnya.
"Fuhhhhhhhh". Wiraditya menghela kasar nafasnya.
Ditengah rasa galau yang menghantam, tiba-tiba saja suara Queen W mengejutkan dirinya.
"Bisa bawa mobil?", tanya gadis itu pelan dan datar.
Wiraditya buru-buru menoleh kearah gadis tersebut untuk beberapa waktu, demi Allah tidak bisa menahan gemuruh didalam dadanya ketika menatap bola mata indah dari Queen W yang menatap balik dirinya, gadis tersebut menyerahkan kunci mobil pada Wiraditya, menunggu laki-laki tersebut mengambil respon atas pertanyaannya.
"Maha suci makhluk ciptaan Allah." Batin Wiraditya gelisah.
Queen W mengernyitkan dahinya karena Wiraditya tidak kunjung menyahut pertanyaan nya, menerima atau menolak kunci mobil pemberiannya.
"He-em." Gadis tersebut berdeham.
Wiraditya seketika tersadar dari cara memuja dalam diamnya.
"Bisa" Jawabnya pelan, menatap kearah kunci mobil yang diberikan Queen W.
Syarat pertama melamar kerja dulu harus punya sim A, sungguh luar biasa latihan dengan salah satu teman sekolah juga sering membantu tetangga bawa mobil L300 untuk membawa barang ke pusat kota ada gunanya juga. Laki-laki tersebut menerima kunci mobil yang diberikan oleh gadis dihadapannya itu sambil menundukkan kepalanya perlahan, jadi serba salah setiap kali mereka bersama.
"Berhentilah menundukkan kepala mu dihadapan ku, Wiraditya. Aku ini bukan atasanmu melainkan calon istri mu jika diluar," Queen W bicara dengan cepat.
"Orang-orang memperhatikan kita." Lanjut perempuan itu lagi kemudian.
Wiraditya diam, langsung melirik kesisi kiri dan kanan mereka, seperti apa yang diucapkan oleh gadis tersebut, beberapa orang memperhatikan mereka sejak tadi. Laki-laki tersebut menegapkan tubuhnya, mencoba bersikap layaknya calon suami untuk gadis cantik tersebut dengan cepat.
Queen W membuang pandangannya, dia bergerak melewati Wiraditya dan berniat untuk membuka pintu mobil dan masuk kedalam sana, tapi siapa sangka laki-laki tersebut cukup cekatan, bergerak buru-buru mendahuluinya dan membuka pintu mobil tepat disisi sebelah kemudi dengan cepat. Hal tersebut cukup membuat Queen W seketika terkejut, membiarkan ekor matanya menatap sosok Wiraditya yang memperlakukan gadis tersebut sedikit istimewa.
"Keperusahaan atau ke rumah?." Laki-laki tersebut bertanya, menatap netra Queen W begitu dalam.
Percayalah terkadang ingin sekali dia menyelami hati gadis tersebut, ingin lebih mengenalnya jauh, ingin tahu apa yang terjadi pada masa lalu, apakah ada sifat hangat nya yang mungkin tidak pernah dia ketahui namun telah mati karena rasa sakit pada kisah percintaan masa lalu.
"Perusahaan." Begitu datar jawaban gadis tersebut, membuang pandangannya dengan cepat dan memilih untuk naik kedalam mobil tersebut.
******
Butuh waktu panjang melewati jalanan macet pusat kota untuk kembali ke perusahaan di antara teriknya matahari dan suara klakson kendaraan yang terdengar saling sahut menyahut menjadi satu sejak tadi, kota besar selalu seperti itu, kemacetan terjadi dimana-mana ditengah warna-warni lampu lalu lintas yang terus bergerak tanpa rasa. Wiraditya melirik kearah Queen W yang sejak tadi menatap gelisah kearah jalanan, sesekali gadis tersebut memperhatikan jam di tangannya, entah apa yang dikejar gadis tersebut Wiraditya tidak tahu.
"Ini sudah lewat jam makan siang, apa nona---," Wiraditya bicara, berniat bertanya soal makan siang pada gadis tersebut, siapa tahu gadis tersebut ingin singgah untuk melahap makan siang terlebih dahulu guna mengisi perut yang mulai meraung sejak tadi. Tapi belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Queen W memotong ucapannya dengan cepat.
"Berhenti di sisi kiri, mari mendapatkan makan siang terlebih dahulu." Gadis tersebut bicara dengan cepat, membiarkan bola matanya menatap kearah barisan warung nasi padang dan lesehan di sisi kiri mereka.
Wiraditya mengernyitkan dahinya, menatap barisan tempat makan yang dipilih oleh gadis tersebut. Bukankah tempat tersebut terlalu sederhana menurutnya untuk di datangi oleh gadis sekelas putri pemilik Hillatop company?.
"Apakah ini tidak---?," Dia bertanya gelisah.
"Aku tidak membawa tas juga dompet ku karena terburu-buru, bukankah makan di tempat ini tidak begitu mencekik kantong?," Dan gadis tersebut bicara kembali memotong ucapan nya, dia memilih mulai menarik kenop pintu mobil secara perlahan.
"Kamu bisa mentraktir ku hari ini bukan?" Dan Queen W langsung keluar dari mobil tersebut secara perlahan.
Wiraditya membeku untuk beberapa waktu, menatap punggung gadis tersebut yang mulai keluar dari mobil dan menutup pintu mobil secara perlahan. Laki-laki tersebut pada akhirnya mengulum senyumannya tiba-tiba, tidak tahu kenapa rasanya ada yang sedikit aneh dihatinya, alih-alih tersinggung dengan ucapan dan tempat makan pilihan gadis tersebut, dia malah menampilkan ekspresi polos penuh kebahagiaan.
Untuk pertama kalinya gadis tersebut agak banyak bicara dengan nya, untuk pertama kalinya dia berani mentraktir gadis tersebut makan karena harganya jelas sesuai dengan isi kantong nya, dan di sana dia bisa menilai bagaimana sifat gadis datar dan dingin itu yang sebenarnya. Tidak usah di jabarkan, untuk orang-orang pintar pasti sudah paham bagaimana menilai sosok gadis tersebut yang sebenarnya.
Wiraditya masih mengembangkan senyumannya, diiringi suara musik yang masih mengalun lembut dari layar monitor di dashboard mobil tersebut, lagu tembang lawas dari Pance F Pondaag untuk pertama kali membuat jantung nya berdebar-debar sedikit tidak baik-baik saja.
Terlalu dini berkata ini cinta, tapi sejatinya dia mengagumi sosok gadis kaya raya dihadapan nya yang menawarkan serikat pernikahan yang sebenarnya masih belum dia tahu akan berakhir di mana. Bolehkah dia berharap? pernikahan itu bukan sekedar perjanjian, mungkin lebih dari yang dia harapkan, terlalu dini memang tapi Wiraditya pada akhirnya sadar dimana posisi nya dan siapa dirinya.
Bukan masalah hanya pernikahan di atas selembar kertas, tapi ada janji yang sedang dia terapkan didalam hati nya, meninggalkan Queen W ketika gadis tersebut kembali mendapat kebahagiaan nya dan senyuman terbaiknya didalam kehidupan nya atas rasa kecewa di masa lalu yang hingga kini belum ada obatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Kholisotin Kholisotin
obatnya kamu wira
2023-06-06
2
Budiwati
😍😍😍😍
2023-05-13
0
anisa
tak doa in ya Wir...kalian berdua akan saling jatuh cinta, dan pernikahan kalian akan lnggeng selama ny 😁😁
2023-04-12
0