Ruang rapat
Hillatop company.
Dia terlalu sibuk membersihkan ruangan, fokus pada aroma yang disukai Queen W dan memastikan meja dimana gadis penguasa Hillatop tersebut duduk tampak bersih sempurna, bahkan dia memastikan tidak ada yang kurang di atas meja nya.
Papan tulis di digital di perhatikan dengan baik, memastikan ditiap barisan meja kursi air Aqua sudah tertata dengan rapi, tidak ada sampah yang memenuhi kotak sampah dan memastikan snack sudah tersedia dan disusun sesuai barisan nama anggota rapat sebelum semua orang masuk keruangan tersebut, tidak boleh ada debu yang menempel di seluruh tempat bahkan kaca harus bersih sempurna. Queen W tidak menyukainya.
Setengah tahun lebih belakangan dia mulai memahami apa yang disukai dan tidak disukai oleh gadis tersebut, awalnya sangat sulit sekali bergerak dan bekerja dengan gadis dingin juga datar tersebut, dia bahkan pernah dibentak habis-habisan dan nyaris di pecat oleh Queen W karena pernah salah menyerahkan dokumen atas perintah nona Arlina, untungnya pak Ram sangat bijaksana, membantu nya keluar dari kesulitan, menyelesaikan seluruh persolan hingga mereka tidak harus memecat Wiraditya dari pekerja nya.
"Lain kali lebih berhati-hati saat bekerja" Pesan sederhana pak Ram terus terngiang dibalik telinga nya.
"Nona bukan orang yang ribet sebenarnya, cukup sesuai keinginan nya, rapi, wangi dan tepat waktu itu syarat mutlak bekerja dengan nya" Dan Wiraditya hanya bisa mengangguk-angguk kan kepala nya tanda mengerti.
Ditengah fokus nya dalam bekerja, seketika satu suara mengejutkan dirinya, membuat laki-laki tersebut secepat kilat menoleh karena terkejut. Queen W bergerak masuk kedalam ruangan, sendirian tanpa ditemani oleh sekretaris nya. Hal tersebut membuat Wiraditya gelagapan, dia yang masih memegang sebuah alat pembersih kaca seketika hampir menjatuhkan nya.
Bola mata mereka bertemu diiringi dengan gerakan dari Queen W yang bergerak memasuki ruangan, belum ada penghuni lainnya yang datang kesana sejak tadi. Setelah netra mereka bertemu, Queen W langsung membuang pandangannya membuat Wiraditya sejenak menyadarkan dirinya.
Kata-kata dari gadis tersebut kemarin tiba-tiba menghantam kepalanya.
"Aku memberikan kamu waktu 1 minggu untuk memikirkan nya dengan baik"
Fuhhhhh, Wiraditya menghela pelan nafasnya. Hari ke 2 dia belum menemukan keputusan nya, tidak dipungkiri dia membutuhkan uang nya, adiknya membutuhkan pengobatan, rentenir sudah menagih hutang dan menunggu keputusan nya lusa paling akhir. Menerima nya sama saja meruntuhkan harga dirinya, tidak menerima nya nyatanya dia membutuhkan apa yang ditawarkan oleh gadis tersebut kemarin.
Kehidupan serba berkecukupan dan ada, pengobatan adik dan ibunya, hutang yang lunas dibayar dan pindah ke rumah yang jauh lebih baik dari gubuk mereka ditambah uang konversasi setelah perceraian, Bukankah tawaran nya terlalu menggiurkan?!.
Keheningan terjadi di antara mereka berdua, seperti biasa gadis tersebut bersikap dingin pada siapapun tanpa terkecuali, memilih mulai membuka laptop milik nya dan fokus pada beberapa berkas yang ada dihadapan nya. Wiraditya sejenak menatap gadis tersebut, menelisik wajah cantik yang tidak melihat nya untuk beberapa waktu. Dia pikir kenapa gadis secantik itu tidak benar-benar memikirkan soal pernikahan yang sesungguhnya? kenapa memilih melakukan pernikahan kontrak? menghindari kontak fisik dan menghindari keinginan untuk memiliki anak?!.
Sebesar itukah sakit hati dan trauma yang di alami gadis tersebut atas desa-desus yang dia dengar tentang pengkhianatan yang dilakukan sang mantan kepada gadis secantik itu?!.
Bagaimana bisa gadis tanpa cela dimata nya bisa dikhianati oleh kekasih nya? yang kabarnya laki-laki yang dicintai nya mengkhianati nya, menikah dengan sahabat baiknya sendiri yang selalu ada bersama nya?!.
Entahlah Wiraditya tidak mau terlalu memikirkan nya, mencoba membuang pandangannya ketika tiba-tiba seseorang menyeruak masuk kedalam ruangan tersebut tiba-tiba.
"Sudah siap semua sayang?" Arlina tiba-tiba masuk, menerobos dari arah luar dengan bahasa tidak malu nya, seperti nya tidak menyadari jika ada Queen W yang sudah hadir lebih dulu di ruangan tersebut.
Wiraditya merinding jijik mendengar panggilan Arlina, memundurkan langkahnya agak takut ketika perempuan tersebut mendekati dirinya dan belum menyadari kehadiran Queen W di antara mereka.
Arlina berusaha merapatkan badan, punya niat lain pada Wiraditya, sengaja datang beberapa menit lebih awal agar bisa merayu laki-laki tampan tersebut, terlalu sulit menaklukkan Wiraditya terkadang membuat dia geram dan kesal dibuat nya.
"Sudah bu" Wiraditya bicara, buru-buru menghindari Arlina, memilih mundur begitu jauh, memasang jarak pasti agar Perempuan itu tidak menyentuh dirinya seperti biasanya, berlindung di balik kursi ujung. Persis seperti anak perawan yang akan dilecehkan atasannya.
Mendengar panggilan Arlina pada Wiraditya, membuat Queen W yang sejak tadi fokus pada pekerjaannya mengernyitkan dahi nya, dia mendongakkan kepalanya dengan cepat dan menatap kearah Arlina, memperhatikan gerakan bawahan nya yang cukup agresif dan memperhatikan Wiraditya yang berusaha menghindar dengan cepat dari perempuan tersebut.
"Kau selalu memangkas jarak dengan ku" Perempuan tersebut terlihat kesal.
"Kau sudah datang?" Dan suara Queen W memecah keadaan, membuat Arlina terkejut dibuatnya.
"Nona?" dan Arlina agak tercekat, saat berbalik baru tahu sang pemimpin sudah duduk di atas kursi kebesaran nya, tidak terlihat saat dia masuk karena bagian punggung yang menjulang tinggi pada bagian kursi itu menutup seluruh tubuh gadis cantik tersebut. Dia pikir tumben sang CEO datang jauh lebih dulu daripada dirinya.
Wajah Arlina agak memerah seolah-olah baru saja kepergok mencoba merayu office boy di perusahaan mereka.
"Nona yang tadi..." Perempuan itu bicara, takut kesalahpahaman terjadi di antara mereka tapi Queen W cepat-cepat menyala ucapan nya.
"Pergilah" Dia membuang pandangannya, menatap kearah Wiraditya agar segera pergi dari hadapan mereka.
Laki-laki tersebut masih tercekat, menatap sang CEO yang tidak memiliki ekspresi apapun dalam wajah nya, terlalu datar dan biasa+biasa saja. Wiraditya langsung menundukkan kepalanya, dia bergegas pergi dengan langkah tergesa-gesa.
Entahlah apa yang kemudian di bicarakan kedua orang tersebut Wiraditya tidak tahu, yang dia tahu dia harus segera kabur dari tempat itu kerena dia cukup takut melihat Arlina yang semakin membuat nya merinding karena keadaan.
Didalam sana Queen W tampak tidak mengeluarkan suaranya, memilih mengabaikan Arlina dan sibuk kembali dengan laptop nya setelah Wiraditya pergi dari sana, menunggu para anggota lain hadir untuk rapat yang akan dilangsungkan sebentar lagi.
"He em....soal tadi karena dia tampan aku hanya suka menggoda nya jangan terlalu di anggap serius, nona jangan salah paham" Arlina masih merasa tidak enak, berusaha membela diri atas ucapannya tadi.
alih-alih peduli, Queen W memilih tidak menjawab dan terus mengabaikan Arlina sejak tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Retno Anggiri Milagros Excellent
Quenn bijaksana.. 👍😍
2023-08-23
2
Imas Maslahah
👍👍👍👍
2023-05-31
0
dementor
siti Zulaikha mengoda nabi yusuf.. 👍👍👍
2023-05-31
0