Hillatop company
18.45.
Matahari sudah menghilang dari peraduannya, ditelan alam berganti dengan cahaya lampu yang menghiasi bising nya ibu kota, bintang mulai terlihat malu-malu menyeruak keluar dari tempat nya, rembulan masih terlalu malu untuk keluar. Wiraditya tampak gelisah, dia sebenarnya sudah menyelesaikan seluruh pekerjaan nya dengan cepat sejak tadi, acara hajatan dibelakang rumah ba'da magrib akan diselenggarakan, dia yakin ibu nya sudah menunggu sejak tadi dengan harap-harap gelisah. Didalam kegelisahan masih sempat pergi menunaikan kewajiban, berdoa didalam sujud nya semoga bisa kembali sedikit lebih cepat.
Telepon genggam keluaran lama 3-4 tahun yang lalu dengan ukuran layar 4inci berdering berkali-kali sejak tadi, menampilkan layar butut penuh goresan di sekitar layar touchscreen nya, bahkan bagian atas dan bawah sudah terlihat retak yang memanjang dengan layar yang mulai mengabur minta diganti sejak lama namun apalah daya tidak ada uang untuk mengganti nya dengan handphone terbaru meskipun yang harganya tidak lebih dari 1 juta 500 ribu saja,
Berkali-kali Wiraditya menghela nafas nya, menunggu Arlina yang tidak kunjung keluar dari ruangan kerjanya sedangkan para karyawan lain sudah berlalu dan pulang sejak pukul 5 sore.
"Tunggu saya keluar baru pulang, saya tidak bisa mengunci pintu nya, kamu yang bertugas menyelesaikan semuanya setelah para karyawan pulang" Itu pesan perempuan itu pada dirinya tadi.
"Bu bisakah diwakilkan? saya..." maksud hati bisakah security yang membantu dia kali ini, dibawah ada dua orang mungkin salah satu bisa naik membantu, dia benar-benar harus pulang sedikit lebih awal.
Perempuan tersebut menggerak-gerakkan jemari telunjuknya, menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan suaranya, tidak setuju dia pulang lebih dulu tanpa izin dari nya. Apalah daya Wiraditya hanya bawahan yang harus mematuhi atasannya, itu sudah aturannya.
Semua lampu perusahaan dibeberapa ruangan sudah dimatikan, yang tersisa di beberapa bagian termasuk ruang kerja Arlina saja, membuat Wiraditya agak tidak nyaman dibuatnya, duduk seorang diri di bawah pencahayaan menatap barisan komputer yang telah dimatikan oleh masing-masing pemilik nya. Ruangan benar-benar sepi tanpa penghuni.
"Wira..."
Satu suara panggilan menyeruak dari arah ruangan Arlina menggema mengejutkan Wiraditya, dia terlalu polos atau bodoh entahlah, tergesa-gesa mendekati ruangan itu dan menyembulkan kepalanya, penuh kebahagiaan berpikir mungkin ini waktunya pulang, laki-laki tersebut mengembangkan senyuman paling tulus dan tampan nya, membuat Arlina jelas saja terpesona, seperti Zulaikha yang tidak mampu menahan hasrat nya melihat Yusuf dengan ketampanan paripurna nya.
"Kemarilah, bantu saya sebentar" Perempuan tersebut bicara, pura-pura membutuhkan bantuan nya.
Wiraditya mengerutkan keningnya, dia pikir ada apa dengan perempuan tersebut. Memilih masih berdiri didepan pintu,tidak ingin masuk sama sekali kedalam. Bukan mahramnya, ini juga bukan tempat yang baik atau waktu yang baik untuk dirinya berada di ruangan yang sama dengan seorang perempuan, belum lagi perempuan tersebut sudah memiliki seorang suami.
"Maaf bu, apa perlu saya panggil security dibawah? biar sama-sama membantu saya?" Dia pikir cari aman jelas lebih baik, jangan sampai menimbulkan fitnah di antara mereka, dia menjaga Marwah jangan sampai seorang perempuan baik-baik di anggap tidak-tidak.
"Kenapa harus manggil security? ada kamu? saya cuma butuh kamu untuk membantu saya" Perempuan tersebut kembali bicara dengan cepat, tidak suka mendengar apa yang diucapkan oleh Wiraditya.
" tapi Bu..?!" Laki-laki tersebut gelisah.
"Maju kemari, bantu saja bawa tas saya" Arlina kembali memberikan perintah, dia menjulurkan kakinya yang mulus dan sengaja menaikkan rok kerjanya dimana dia bersiap untuk menggunakan sepatu heels nya secara perlahan.
perempuan tersebut sengaja bergerak dan melakukan hal seperti itu untuk menggoda Wiraditya, dia seolah-olah menyimpan rencana untuk menjatuhkan laki-laki tersebut malam ini dibawah kungkungan nya.
Wiraditya bukan nya terpesona, dia cukup takut melihat tingkah perempuan tersebut, melangkah maju membuat nya gelisah, mundur teratur dia takut dipecat dari pekerjaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
Hediana Br Hutagalung
kok perempuan jd gatal amat sih
2023-10-30
0
H A R U K A ~C H A N
ihhhh... ngeri amat yaa perempuan kayak gini😱
2023-09-08
1
Retno Anggiri Milagros Excellent
kasihan wira.. 🤭😂
2023-08-23
0