Rumah sakit xxxxxxx
pusat kota.
Silau cahaya matahari menyeruak masuk melewati kaca jendela di sisi kiri dimana tubuh Wiraditya tergeletak sejak semalam. Laki-laki tersebut tersentak dan terjaga, sadar dari pingsan nya. entah sejak pukul berapa dia pingsan dia tidak tahu. Dia terkejut karena tubuh nya dipasangi selang infus, berusaha untuk berpikir sejenak dan mengingat-ingat soal apa yang terjadi. Tapi tiba-tiba ingatan nya beralih pada ibu yang katanya masuk rumah sakit dan adiknya yang kembali kritis, mencoba bangun dengan cepat dan melepaskan selang infus nya dengan cepat.
"Oo...ooooo... Wiraditya, kau masih belum baik-baik saja" Satu suara mengejutkan dirinya, membuat Wiraditya menghentikan aksinya saat sebuah tangan menahan gerakan nya, dia menoleh.
"Pak Ram?" Laki-laki tersebut terkejut.
"Tapi pak...ibu dan adik saya?"
"Sudah dipindahkan oleh Ibu queen ke ruang VVIP, mereka baik-baik saja" Laki-laki paruh baya tersebut bicara, menepuk-nepuk punggung Wiraditya secara perlahan, menyakinkan Wiraditya jika kedua orang yang dicintainya baik-baik saja.
Mendengarkan apa yang diucapkan oleh pak Ram membuat laki-laki tersebut seketika menarik lega nafasnya, dia berusaha kembali berbaring dan baru merasakan beberapa anggota tubuhnya nyeri dan sakit.
Dipindahkan ke ruang VVIP?. Itu sungguh luar biasa, semudah itu orang kaya melakukan segala hal dengan uang?!.
"Maaf karena bapak terlambat, tidak gampang menghubungi Bu Queen di jam malam-malam seperti itu, kehidupan pribadi nya begitu tersembunyi, kalau bukan orang kepercayaan, tidak bisa mengakses keberadaan dan kehidupan nya, dia menutup diri bahkan dari keluarga nya sendiri" Pak Ram bicara perlahan, memilih kembali duduk di kursi dimana dia tadi berada.
Wiraditya menatap kearah laki-laki dihadapan nya tersebut untuk beberapa waktu, masih ingat semalam dia bicara pada pak Ram dari balik handphone butut nya kala menunggu Arlina.
"Saya masih diperusahaan pak, nunggu Bu Arlina pulang" Kala itu pak Ram ingin membawa nya bertemu dengan beberapa temannya, main bulu tangkis bersama.
"Siapa yang minta?" Pak Ram terlihat khawatir di ujung sana.
"Ibu Arlina yang memaksa" Jawab Wiraditya polos.
"Hati-hati, bapak jadi khawatir ini, dia punya beberapa kasus sebelumnya menggoda beberapa pegawai laki-laki lainnya,tapi mereka suka sama suka nak, kamu jangan terpancing " Pak Ram terus mengingatkan.
Wiraditya masih berbaik sangka pada Arlina.
"Menikah dengan nona Queen jauh lebih terhormat daripada terjebak dengan perempuan istri orang"
Dan mendengar ucapan Pak Ram membuat Wiraditya terdiam, dia sama sekali tidak menjawab ucapan laki-laki tersebut hingga akhirnya Arlina memanggil nama nya, membuat Wiraditya buru-buru memasukkan kembali handphone nya ke kantong bajunya, dia lupa mematikan panggilannya. Mana tahu jika panggilan nya masih di pantau oleh pak Ram di ujung sana.
Saat sadar panggilan masih terhubung setelah dia di jebak dan di gep oleh security dan satu pegawai perusahaan yang datang tiba-tiba.
"Selamatkan saya pak, saya bersedia menerima tawaran pernikahan nya" Dia bicara bergetar dibalik handphone yang dia pegang hingga akhirnya handphone nya direbut oleh polisi dan entahlah dimana handphone nya itu kini.
"Maaf karena merepotkan bapak" Dan Wiraditya menundukkan kepalanya berkali-kali, berterima kasih pada laki-laki yang duduk disamping nya tersebut dengan berbagai macam pemikiran yang berkacamuk menjadi satu.
Mereka pada akhirnya diam, membiarkan suara angin pagi melewati kaca jendela di sisi kiri Wiraditya.
"Apa bapak yang merekomendasikan saya pada Bu Queen?" Hingga akhirnya suara Wiraditya memecah keheningan, dia bertanya sambil menatap kearah laki-laki yang ada disisi kanan nya tersebut.
Laki-laki paruh baya tersebut memilih diam sejenak, menatap bola mata Wiraditya untuk beberapa waktu.
"Ini bagus untuk kalian, Queen butuh seseorang untuk menghentikan berbagai desakan pernikahan dari keluarga nya, dan kamu butuh seseorang yang mampu menyokong dan membantu seluruh keadaan yang menimpa keluarga kamu nak, ini tidak merugikan kalian berdua, kalian hanya dua orang asing yang terjebak pada kesulitan yang berbeda dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya " Pak Ram bicara perlahan.
"Bapak tidak bisa memberikan sembarang laki-laki untuk Queen, meskipun bagaimanapun juga, dia tetap keponakan istri bapak, gadis yang sudah persis seperti putri bapak sendiri, jiwanya tidak baik-baik saja, dia terluka karena sebuah pengkhianatan, bagaimana bisa menikah dengan sembarang laki-laki meskipun hanya lewat selembar perjanjian bukan? akan ada kejahatan yang mungkin terjadi dikemudian hari jika dia salah pilih laki-laki " dan pak Ram terus bicara menyakinkan Wiraditya.
"Bapak percaya saya?" dan Wiraditya bertanya gelisah.
"InsyaAllah, anggap saja ini insting seorang ayah" dan laki-laki tersebut menjawab mantap pertanyaan dari Wiraditya.
Mendengar hal tersebut seketika membuat laki-laki itu diam, dia menatap laki-laki tua paruh baya tersebut untuk beberapa waktu kemudian secara perlahan Wiraditya menoleh kearah jendela disisi kanan nya, menatap langit pagi yang terus bersinar cerah, diiringi angin sepoi-sepoi yang menerpa pepohonan rindang di samping nya dimana beberapa burung gereja meliuk-liuk menampilkan keindahan nya.
Tidak pernah sekalipun terbesit didalam dirinya untuk menikah dengan cara seperti ini, tapi dia bukankah tidak memiliki pilihan lain lagi untuk menyelamatkan harga dirinya, keadaan ibu dan dan juga adik nya?.
Masuk ke keluarga Hillatop bukan impian nya, mimpinya hanya bekerja di perusahaan Hillatop, menggunakan pakaian rapi dengan deadline padat dan gaji besar yang bisa menghidupi adik juga ibunya, membenahi rumah reot mereka dan membelikan Aisyah sebuah motor seken untuk adiknya gunakan pergi ke sekolah jika sembuh dari sakit nya. Cita-cita nya begitu sederhana, tidak muluk-muluk dan berlebihan bukan? bahkan bermimpi meminang gadis baik-baik yang dia cintai dengan mahar yang tidak begitu fantastik sesuai dengan kantong nya sendiri, sibuk dengan persiapan pernikahan, tertawa bersama, bercanda bersama menjadikan pasangan seperti teman, saudara juga istri yang saling menyetarakan dan menghargai antara satu dengan yang lainnya. Berjuang bersama dari O hingga insyaAllah kesuksesan menghantam mereka, memiliki anak-anak yang Soleh juga Solehah dan dia menjadi imam yang baik di dalam rumah tangga mereka.
Kenapa cita-cita semulia itu seolah-olah begitu mahal harganya, sangat sulit diraih bahkan di dapatkan oleh seorang Wiraditya?!.
Queen W, menikahi gadis tersebut seolah-olah menyadarkan dirinya dari mimpi, dia pada akhirnya hanya ada dibawah kekuasaan seorang perempuan, menjadi makmum di atas perempuan dan melakukan sandiwara berdasarkan uang. Begitu rendah rasanya dia ketika menerima kesepakatan, tapi dia tidak memiliki pilihan lagi bukan?!.
"Dia tidak seburuk yang kamu pikirkan" Dan suara pak Ram mengejutkan lamunan nya.
"Kamu hanya belum mengenal nya, dia punya adab di atas gadis rata-rata, anak-anak di keluarga Hillatop di didik dengan keras soal adab istiadat, mereka bukan kaya sembarang kaya yang jika menginginkan sesuatu tinggal memangku tangan dan bebas berlaku seenaknya karena memiliki kekuasaan, itu tidak benar. Dia punya adab yang baik dan tidak akan berperilaku buruk kepada orang lain" Laki-laki paruh baya tersebut kembali bicara, begitu lembut menyakinkan Wiraditya akan kegelisahan nya.
Apa dia boleh percaya?!.
Astaghfirullah hul'adzim, dia sudah berburuk sangka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 153 Episodes
Comments
dementor
itu queen atau ratu sih?? wilhelmina kayak nama ratunya belanda.
2023-05-31
3
Budiwati
👍👍👍👍👍
2023-05-13
0
Diana Susanti
Alhamdulillah yg penting adek dan ibunya wiraditya baik baik saja
2023-04-12
1