Perlahan namun pasti putri Amatheia bersama Filghofin melanjutkan perjalanannya setelah beristirahat untuk beberapa saat, namun tiba-tiba.
Sreet...creass...
Sebuah tombak kecil hampir saja mengenai tubuh Filghofin andai putri Amatheia tidak segera menangkap tombak yang melesat dengan kecepatan tinggi itu.
"Hei...keluarlah! Siapapun kalian jangan pernah menganggu perjalanan kami, atau Tampakkan wujud kalian," teriak putri Amatheia setelah mengetahui senjata yang di pakai musuh adalah tombak khas milik pasukan hiu.
"Filghofin harusnya kita mulai waspada, bisa saja mereka sudah mengetahui rencana kita untuk datang dan akan menggagalkan rencana pangeran Sharklys." Putri Amatheia berbisik kepada Filghofin tanpa ia sadari bisikan itu menimbulkan tatapan mata Filghofin yang sulit ia cerna.
"Ghofin, ada yang salah?"
"Oh...tidak...tidak..a..aku..hhemm," kelabakan Filghofin menjawab pertanyaan putri Amatheia sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Putri Amatheia yang menyaksikan itu senyum-senyum sambil menyembunyikan semburat merah yang menghiasi wajahnya.
Sedangkan Bargibanti yang terkejut oleh serangan pasukan secara tiba-tiba, ia menggigil di balik gua kecil dan bersembunyi didalamnya,"arrkhh! Dia jahat, aku harus mempertahan putri Amatheia, dan....a..ku akan mencuri kalung itu,aaaa," seringai Bargibanti dengan gigi-gigi runcingnya dengan liur yang menetes sungguh pemandangan yang sangat menjijikkan.
Sreeessshhh....duaar.....
Kembali suara gaduh itu menggelegar, kali ini Filghofin maju dengan penggunaan pedang milik pasukan hiu yang ia temukan, melawan serangan para hiu, namun tiba-tiba.
Sebuah benda lunak dan panjang menjulur membantu Filghofin menghadapi serangan pasukan hiu, dan pada saat yang tepat pasukan hiu itu tersudut dengan cepat makhluk lunak itu menyemburkan cairan hitam pekat, dan!
Aarrhhggg....
Pasukan hiu merasa kesakitan dan menghindar meninggalkan Filghofin yang terpental, karena dorongan maklum panjang itu.
Putri Amatheia yang menyaksikannya bergegas mendekat kedalam gua kecil di balik semak-semak lamut itu.
"Wahai sosok gurita yang baik, keluarlah! saya mengucapkan
Terima kasih yang tidak terhingga atas segala bantuan dan perlindungan mu kepada kami," suara lantang putri Amatheia membuat sosok gurita yang bersembunyi di gua kecil dengan cara memendam dirinya didalam pasir, walaupun putri Amatheia adalah putri mahkota namun sifat sopan dan satun dengan siapapun tidak pernah ia lepaskan dimana dan dengan siapapun itu.
"Yang mulia putri Amatheia, nama hamba Hank mohon maaf atas kelancangan hamba telah mencampuri permasalahan tuanku dengan pasukan hiu yang terlalu arogan menurut hamba," Gurita raksasa yang pernah di tolong oleh Raja Brenton dari serangan nelayan ternyata secara tidak langsung membalas budi segala kebaikan keluarga istana Gkinzerniyu.
Putri Amatheia tersenyum lalu mendekati Hank yang sedikit terluka pada tangannya, dengan usapan tangan putri Amatheia luka sabetan pedang pasukan hiu itu menutup dari robekan, Filghofin yang menyaksikan kedewasaan dan kesantunan pada diri putri Amatheia, semakin menjadi percaya diri bahwa kelak mereka akan mampu membawa pulang sebuah kemenangan.
"Tuan putri Amatheia, bila tidak keberatan apakah hamba boleh mengetahui kemana arah yang akan membawa putri Amatheia bersama tuan pemuda ini akan melakukan perjalanan?"
Senyum putri Amatheia kembali merekah mendengar pertanyaan Hank, "kami akan melakukan perjalanan mènuju laut merah, apakah kau bersedia memberikan petunjuk jalan menuju kesana, Hank."
Hank menatap tajam kearah Putri Amatheia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Filghofin, " ampun tuan putri Amatheia, apakah hamba salah pendengaran? Atau mungkin tuan putri salah mengucapkan kata,"
"Arrhhhhh... Hank!" Tiba-tiba Bargibanti muncul dan menggeram kearah Hank.
'aarrhhgg, dia tidak boleh memberitahu jalan mènuju kesana' Bargibanti dengan sangat mulai mempunyai rencana licik pada putri Amatheia dan Filghofin.
Hank yang mengetahui siapa sebenarnya Bargibanti, dia segera membekap tubuh Bargibanti lalu memasukkan ke dalam gua kecil itu dan menutupinya dengan tubuhnya yang besar, sehingga dia tidak akan mungkin bisa mendengar percakapan mereka.
"Hank, kau tidak salah pendengaran, kami memang akan menuju ke laut merah dan kami akan membebaskan ayahanda Raja Brenton," ucap putri Amatheia dengan semangatnya.
"Tuan putri, apa yang bisa hamba lakukan untuk membantu perjuangan tuan putri bersama tuan pemuda ini," ucap Hank sambil menundukkan kepalanya penuh hormat.
"Wahai sahabatku, Hank. Dengan ikut menjaga ketentraman rakyat Gkinzerniyu, itu sudah sangat mulia daripada seorang pecundang seperti gerombolan pasukan hiu tadi," Filghofin memberikan jawaban kepada Hank di sertai anggukan putri Amatheia.
"Tuan... Perjalanan menuju laut merah tidaklah mudah dan bisa di pastikan akan terjadi seribu kali bahkan rintangan yang akan kalian temui, melalui darat maupun lewat laut. Sebab, pangeran kegelapan jelas tidak akan tinggal diam wilayahnya mendapatkan serangan." Hank berusaha menjelaskan dan mengutarakan rasa was-was khawatir dengan keselamatan mereka berdua.
"Berilah petunjuk arah yang kau ketahui, Hank, kami akan kembali membawa Raja kalian, dan itu adalah janji kami," Ucap Filghofin kembali membuka suara dan menyakinkan terdapat rintangan ataupun tidak, mereka akan tetap melakukan perjalanan menuju laut merah dimana dibalik laut merah itu terdapat kastil Lazurod tempat ayahnya serta Raja Brenton tertawan.
Hank dengan hati-hati dan seksama memberikan petunjuk pada Filghofin, perjalanan bisa di tempuh dengan melalui laut dan di sambung lewat darat untuk mengelabuhi mata-mata kepercayaan pangeran Sharklys.
Menuju laut merah akan memakan waktu dua purnama bila tanpa rintangan, karena rintangan mereka adalah sebuah Kematian bila tidak mampu menghadapinya, atau mampu melewati dan menghadapi rintangan berikutnya.
Hank hanya bisa membantu dengan memberi petunjuk jalan menuju laut merah, Hank memberikan putri Amatheia racun miliknya untuk mengatasi segala rintangan yang jelas akan mereka hadapi kelak, dan berjanji akan menjadi tameng di perbatasan masuk wilayah istana Gkinzerniyu dari incaran pasukan hiu yang akan masuk secara tiba-tiba dan tanpa bisa diprediksi waktunya.
Akhirnya, perpisahan antara mereka pun terjadi dengan segala hormat dan doa Hank sematkan dalam ucapan perpisahan mereka.
"Aarrhggh, lepaskan aku! Tubuhmu terlalu besar di bandingkan diriku, aku tidak bisa bernafas dengan lega, lepaskan!" teriak Bargibanti dalam keputusasaan mendorong tubuh Hank yang teramat besar dan kuat itu, sedikitpun tidak bergeming dari tempat semula.
"Ha...ha...ha..untuk apa kau tergesa-gesa wahai makhluk pengecut, apa yang akan kau lakukan dengan perjalanan putri Amatheia menuju laut marah, apa yang akan kau lakukan kecuali cari mati! Dengan tubuhmu yang lemah tanpa kekuatan apapun kecuali mulutmu yang suka berdusta." Hardik tajam Hank kepada Bargibanti yang hampir saja kehabisan nafas karena berada dalam gua yanag pengap dan tanpa udara yang bisa masuk, karena tertutup oleh tubuh Hank yang sengaja ia jadikan penghalang supaya, bargibanti tidak mendengarkan perkataan mereka lagi.
"Arrhhhhh, kamu menyebalkan hank, huhh aku pergi, aku akan melapor ke pasukan hiu untuk segera melahap mu bulat-bulat dan mencabik-cabik tubuhmu, aarrhggh."
Bargibanti segera berubah pada bentuk dan warna pada tubuhnya agar bisa mengelabuhi Hank untuk melarikan diri lalu mengejar putri Amatheia dengan Filghofin, yang sudah berlalu beberapa saat bahkan bisa jadi Bargibanti kehilangan jejak mereka berdua.
Perjalanan kali ini berubah melalui darat, karena menghindari serangan mata-mata para pengawal pangeran kegelapan Sharklys yang berwujud kepala ikan hiu dengan badan selayaknya manusia.
🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬
To be continued 😉
Beri saya jempol like dan komen 😘 supaya menjadi penyemangat saya untuk melaju berkarya.
Tidak pernah lupa doa ku, sayang dan salam sejahtera untuk kalian semua, love by RR 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
⏤͟͟͞R𝐈𝐍𝐃𝐔ᵇᵃˢᵉ𝕸y💞🍀⃝⃟💙
kan.. bener,
mata2 she bar itu
2023-04-12
0
Keyboard Harapan
Lanjut bestie❤❤❤
2023-03-09
0