Filghofin Orlando adalah korban pembantaian terencana namun gagal mencapai kematian, dugaan warga yang mengarah kepada kesialan kota mereka. Karena Yaerene ibu dari Filghofin Orlando yang di duga wanita peselingkuh dan melahirkan anak haram dari keturunan bangsa Elf dan membawa sial dimana-mana.
Penduduk pun menyakini Filghofin Orlando adalah pemuda terkutuk yang di kirim oleh dewa kegelapan, dan menjadikan kehidupan penduduk harus menuai hasilnya. Jadi kesepakatan penduduk kota adalah memusnahkan Filghofin dan mengembalikan ruh serta tubuhnya kepada dewa kegelapan di ujung bumi
Warga Desa Sanjeniro harus menerima gagal panen dan itu terjadi sudah kesekian kalinya, penduduk desa yang notabene adalah petani anggur dan bercocok tanam dan sebagian dari mereka mencari nafkah dari hasil laut, harus di hadapkan kegagalan panen, anggur dan hasil bumi lainnya yang siap panen dan mereka bisa mengadakan rasa syukur sambil berpesta namun harus menuai kekecewaan, tanaman mereka perlahan mengalami kekeringan dan rontok akhirnya mati bersama pokok pohon anggur mereka.
"Ikat dia saja! sebagai calon tumbal desa dan biarkan dia mengering atau jadi santapan ikan hiu di tengah laut" teriak beberapa orang penghuni desa itu.
Filghofin Orlando hanya mampu pasrah dengan apa yang telah terjadi, melawan pun bukan menyelesaikan permasalahan dia akan tetap mati di tangan penduduk.
Dengan cara mengikatnya dan menggiring ke atas geladak kapal nelayan yang sudah tidak terpakai, dengan beberapa serbuk TNT dan bara yang perlahan merambat kearah tumpukan drum drum tua.
Seperti bom waktu, kapal yang sudah penuh dengan bahan bakar dan pemantik api yang di tata rapi, dengan mudah dan cara yang tidak manusiawi, agar Filghofin Orlando mati lalu kesejahteraan penduduk kembali normal, setelah kesialan yang mereka duga telah mereka musnahkan.
Namun...nasib berkata lain Filghofin Orlando tersadar tepat pada saat pemantik api mulai merambat kedalam tong besar yang berisi bahan serbuk dinamit.
Dengan susah payah Filghofin berusaha menyelamatkan diri, susah payah ia berusaha melepas ikatan pada tubuhnya yang sudah mulai lemas untuk menaiki papan-papan kayu yang berserak di atas geladak kapal tersebut.
Dentuman keras dan berulang ulang kali, membuat ia terpental kembali kapal kecil itu bagaikan tergulung dengan ombak yang menggila, seolah benar-benar akan menjadikan Filghofin adalah tumbal para penghuni penguasa laut itu dan telah raib bersama kesialan kota yang saat ini melanda.
Penduduk yang menyaksikan menari dengan sukacita demi mendengar suara ledakan kapal tua itu, mereka menduga Filghofin telah hancur dan tenggelam di dasar laut..
Hanya seorang wanita tua yang meratapi kepergian Filghofin, dialah Yaerene seorang ibu yang harus menyaksikan putranya tersiksa dan merasakan kesakitan di tangan masyarakat.
Yaerene wanita misterius yang menyimpan sejuta cerita namun seolah memendam dalam-dalam sebagai saksi terjadinya sebuah peristiwa. Yaerene berlari mengarah ke hutan para elf berada dan menyelamatkan diri dari amukan masyarakat ketika amukan mereka semakin membabi buta. Namun Yaerene tetap mempunyai keyakinan bahwa Filghofin adalah anaknya yang kuat, "aku harus segera mencari bantuan, bertahanlah anakku! Ibu tau, kau adalah putra ibu yang kuat."
Yaerene berlari dengan memakai jubah sakti satu-satunya peninggalan sang suaminya, cinta terlarang mereka dari bangsa Elf di gunung Gordon. Hingga terdengar kembali suara letusan dari tengah laut yang tidak jauh dari balik batu karang dimana tempat dia bersembunyi.
Duaarrr .....duarr.....
Ledakan kembali terjadi membuat tubuh Filghofin tanpa keseimbangan yang berarti, dengan mudahnya terpelanting dan tertimpa papan Balok yang besar, Jangankan untuk merangkak, membuka mata pun sulit bagi dia. Hanya kematian yang ada pada pikirannya, akan tetapi ia tetap dalam usaha untuk menyelamatkan dirinya.
Hingga ombak besar di sertai beberapa ledakan kembali terjadi dan membawa tubuh J
Filghofin yang berhasil mengapung di atas papan Balok sebagai penampung tubuhnya.
Antara sadar dan hilang rasa pada seluruh tubuhnya, Filghofin tetap berusaha bertahan dengan mengikuti arah gelombang air laut membawanya ke berbagai arah.
Malam yang dingin berganti dengan teriknya matahari yang menyengat, membakar tubuhnya yang sudah tidak berdaya, hanya mata saja yang masih mampu berkedip.
'Wahai penguasa alam, ambillah nyawaku bilamana Engkau kehendaki. Agar aku terhindar dari angkara murka dan keserakahan duniaMu.' hanya bisikan hatinya yang mampu berkata dalam setiap sisa nafas yang masih ada, lemah itu semakin menghilangkan kesadarannya.
🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬
Gelombang itu seakan menjadi ganas, menggulung dan menerjang batu karang. Namun tidak dengan putri Amatheia dan Scrully tawa mereka tetap saja ceria. Bahkan sesekali putri Amatheia mengikuti gulungan ombak sambil mengepakkan ekornya yang biru keemasan bila terpancar sinar matahari.
Scrully tiba tiba saja berhenti dan mendekat ke batu karang yang besar, lalu ia menyipitkan pandangan matanya kesebuah benda yang mengapung dan mengarah kepadanya.
"Shuiittt.... Amatheia shuiittt...." Pekik Scrully melengking dengan suitannya. Amatheia menyahut dengan membalas suitannya lalu mendekat.
"Apa yang kau lakukan sehingga wajah panik mu begitu jelas terlihat hingga pucat pasi seperti itu wahai Rully-ku," masih juga Amatheia menanggapi keseriusan Scrully dengan kekonyolannya.
"Ayo-lah putri! Sedikit serius tidak akan mengurangi kecantikanmu, jadi kesini dan lihatlah benda apa yang mengapung itu!"
Putri Amatheia baru menyadari setelah menyipitkan matanya ia melihat ke arah telunjuk tangan Scrully, dengan matanya yang mampu melihat dari kejauhan beberapa mil, sesosok tubuh mengapung di atas papan Balok mengapung.
"Oh...hanya mayat mengapung saja bukan sesuatu yang menakutkan atau pun lebih istimewa, eh...bukan bukan... Tubuh mengapung, tunggu...!" Amatheia yang konyol berkata sendiri dan menjawab sendiri. Namun tiba-tiba begitu saja ia menceburkan dirinya dan bergelung dengan gelombang mencoba mendekati benda yang mengapung itu.
Perlahan ia mengamati sosok mengapung itu ternyata adalah pria tampan, dengan bibir kering dan luka dimana-mana rambutnya yang ikal dan panjang menutupi sebagian wajahnya yang sedikit membiru.
"Benar dugaanku, dia hanya seonggok mayat yang mengapung mencari daratan, Scrully.... shuiittt..."
"Jangan teriak! Aku di belakang mu." Sungut Scrully sambil menatap serius laki-laki yang dikira mati itu.
"Sstt... Rully, lihatlah! Dia laki-laki tampan, tapi sayangnya dia lemah, dia sepertinya korban kekerasan atau mungkin pemilik kapal yang meledak tadi Rully, ah...entahlah."
"Sepertinya, dia belum pantas untuk mati, bawa ke tepi aku akan menolongnya," putri Amatheia menarik tubuh laki-laki tidak berdaya itu dan Scrully mendorong dari sisi lain.
"Rully, sepertinya aku tidak tega meninggalkannya sendiri disini, kalau dia mati sia-sia tentu akan percuma saja masa hidupnya, aku akan menolongnya." Amatheia membawa ke permukaan dan Scrully sembunyi di balik batu karang tidak jauh dari tempat Amatheia.
Amatheia kembali mendekati Scrully dan berpesan sesuatu padanya, "kembalilah ke kerajaan bawah laut, kalaupun ibunda Ratu menanyakan keberadaan ku, katakan aku sedang berada di ruangan ku belajar, ingat ini rahasia!"
"Ini berbahaya putri! kau bahkan tidak tau siapa laki-laki itu dia bisa saja seorang bajak laut dan akan melukaimu, kau juga belum. Pantas untuk mati, kan?" Kembali Scrully membalas gaya bicara putri Amatheia yang kadang lepas kontrol.
"Eemmmm, kau tenang saja aku akan baik baik dan tidak akan ada siapapun yang mampu melukaiku, pemuda itu sepertinya orang baik, mungkin hanya nasib saja yang membuatnya hampir mati, hehehehe..." putri Amatheia begitu saja meninggalkan Scrully dan kembali berenang mendekati Filghofin, pemuda yang mulai sekarat itu.
"Aku akan memberikan sedikit kekuatan untuk nya, dan bila ia sudah siuman aku akan kembali ke dasar laut, pergilah! atau kita akan sama-sama mendapatkan hukuman karena terlambat pulang,"
Dengan berat hati, Scrully pun meninggalkan putri Amatheia sendiri, sebentar-bentar dia harus menoleh kebelakang mengkhawatirkan keselamatan sang putri.
'ahkk....aku yakin dia bisa melindungi dirinya sendiri.' batin Scrully menghibur diri sendiri.
Sepeninggalnya Scrully, putri Amatheia mencoba membawa Filghofin Orlando menuju gua yang tidak jauh dari batu karang itu, dengan sedikit kesaktian yang ia miliki Amatheia memberikan sedikit kehangatan melalui cairan yang ia keluarkan dari sisik-sisik emasnya, yang sebagai pelindung tubuhnya di saat berada si darat, dengan membuat api unggun dan mencarikan ikan ikan kecil sebagai persiapan makannya.
🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬
To be continued baby 😉
mohon dukungan like serta komen membangun, tidak lupa salam sayang selalu by RR 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
⏤͟͟͞R𝐈𝐍𝐃𝐔ᵇᵃˢᵉ𝕸y💞🍀⃝⃟💙
she fil sebenarnya anak siapa?
2023-03-08
0
Buna_Qaya
calon cinta sejati mu tu putri Ama, maaf karena namamu agak bikin lidah ku keseleo, jadi tak singkat bae🤭🤭
2023-03-03
0
🕊️❦Teteh🕊️Reyna༂🕊️
Cieeeeee novel baru udah netes ,semangat yah rhu 👏🤗📢
2023-03-01
5