Sepenuh hati dengan rasa cinta dan tulus, Caillani mencari akar cabomba di dalam gua yang berada di perbatasan yang tidak lain adalah tempat gurita raksasa bernama Hank berada, dan sebagai penjaga perbatasan kawasan mereka.
"Wahai penghuni gua dan sekitarnya, saya adalah Caillani utusan tabib Wlyrus datang kemari untuk memohon sekiranya mengijinkan saya untuk memetik beberapa akar cabomba dan rempah lainya untuk keperluan keluarga istana Gkinzerniyu." Belum selesai Caillani meminta ijin kepada Hank, tiba-tiba saja terdengar kegaduhan dan dentuman keras di balik gua yang tersembunyi.
Segerombolan pasukan hiu rupanya telah melakukan penuntutan balas atas kekalahan mereka beberapa hari yang lalu, Hank yang melakukan perlawanan seorang diri, rupanya mengalami luka pada salah satu kakinya dan itu membuatnya sedikit terpojok.
Caillani mengintip dari balik semak, lalu ia membidikkan beberapa senjata hasil rakitannya yang terdiri dari senyawa yang berbahaya dan berfungsi untuk melindunginya dari serangan musuh yang tidak ia harapkan.
Bluarr....bluarr...duaarrr....
Pasukan hiu yang tidak menyadari adanya serangan mendadak, dan tidak sempat melarikan diri seketika lari tunggang-langgang dan sebagian tubuhnya hancur daging mereka berhamburan menjadi santapan ikan-ikan kecil.
Hank pun terkejut, matanya menyapu di setiap sudut area mencari siapa yang telah membantunya melemahkan serangan pasukan hiu.
"Wahai pemuda duyung, kenapa kau mendekatkan dirimu dengan permasalahan, ini sangat membahayakan keselamatanmu bila mereka tau, bahwa kaulah yang mengakibatkan pasukan mereka mati dan lari bercerai berai." Hank menegur Caillani karena telah melakukan penyerangan kepada pasukan hiu.
"Perkenalkan saya adalah Caillani putra tabib Wlyrus dari istana Gkinzerniyu, saya mohon maaf atas kelancangan saya, akan tetapi saya tidak akan bisa tinggal diam ketika ada sesama saya dalam posisi tertindas dan terpojok, apakah itu sebuah kesalahan? Kurasa bukan."
Hank terdiam, jauh menelisik Caillani yang mengaku anak tabib Wlyrus menatanya tidak percaya. Seorang tabib Wlyrus mempunyai anak duyung laki-laki, akan tetapi tidak mempunyai alasan memarahi Caillani, tidak bisa di pungkiri bahwa sebenarnya dia memang sedang terjepit, dan Caillani datang tepat pada waktunya.
"Katakan padaku, apa maksud kedatangan mu ketempat hunianku, apakah kau tersesat juga?" Tanya Hank sembari merangkak mendekati Caillani lalu menghempaskan tubuhnya yang kelelahan di dekat bebatuan.
"hei kenapa kau memandangku sebegitu teliti? apakah kau tidak percaya bahwa aku putra tabib Wlyrus? he he he agak aneh ya? tapi memang itu kenyataannya." Caillani mulai duduk di sisi batu karang yang besar itu.
Caillani menceritakan maksud kedatangannya karena memenuhi utusan sang ayah yang memerlukan akar cabomba sebagai kebutuhan obat di Istana Gkinzerniyu.
"Berikan kakimu yang terluka, aku akan mencoba mengobatinya." Tangan Caillani meraih kaki Hank yang terluka dan membubuhkan ramuan dari dedaunan yang terdapat di sekitar gua tempat tinggal Hank.
"Terimakasih, kalau tidak ada kau datang menolong ku mungkin aku akan mati dan menjadi sate gurita, dengan bumbu kecap bagi pasukan hiu tadi, he...he...he..." Kekeh Hank mengingat kebodohannya melayani serangan yang tidak seimbang tadi.
"Anggap saja itu sebagai awal persahabatan kita, sudah sewajarnya kita saling membantu dan saat ini aku membutuhkan bantuan mu." Caillani berbicara sambil memetik tumbuhan yang di butuhkan sebagai obat-obatan.
"Katakan apa yang bisa aku berikan padamu Caillani, dan segeralah pulang malam purnama tidak lama lagi, serangan dan permintaan tumbal bagi persembahan pangeran kegelapan tentu akan menjadi persiapan bagi mereka. Aku akan menjaga perbatasan untuk keamanan istana Gkinzerniyu," ucap Hank mengingatkan Caillani.
"Keamanan perbatasan akan menjadi tanggung jawabku, sampaikan salam hormatku kepada Ratu Sinnan dan tabib Wlyrus, segala kebutuhan obat jangan sungkan-sungkan untuk datang kesini dan memetik apa yang kalian butuhkan." Hank membekali Caillani dengan segala tumbuhan yang memang sangat di butuhkan untuk persiapan di dalam istana.
🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬
Pasukan hiu yang lari tunggang langgang menyusuri laut menuju markas mereka, beberapa pasukan yang terluka dan tidak sedikit juga yang harus mereka tinggalkan karena luka yang parah mendekati ajal mereka.
Melakukan estafet menuju laut merah untuk melaporkan berita kekalahan mereka, juga memerlukan waktu yang sangat panjang. Mereka melaporkan akan kekalahan mereka kepada panglima hiu yang bernama Chimorpopha, yang berada di perbatasan laut merah.
Kemarahan dan kegeraman sang panglima mengakibatkan gelombang air laut yang tinggi dan mampu memecahkan batu karang di dasar laut merah, dan menjadikan gempa berkekuatan stunami.
Kekecewaan dan kemarahan atas kegagalan itu membuat mereka harus berani menanggung kemurkaan pangeran kegelapan Sharklys.
"Yang mulia pangeran kegelapan di atas segala kegelapan, hamba melaporkan pasukan hamba di perbatasan telah mengalami kekalahan." lapor panglima Chimorpopha seraya menunjukkan kepalanya.
Merah padam wajah pangeran Sharklys demi mendengar penjelasan yang baru saja di bawa panglimanya menghadap.
"Aku tidak pernah menduga mereka berani membangkang sepertinya, peperangan harus segara kita mulai! aku akan memberikan pelajaran bagi mereka, kerahkan semua kekuatan untuk menggempur darat dan laut dimana Istana Gkinzerniyu berada," perintah pangeran Sharklys dengan suara menggelegar memenuhi angkasa, mendung hitam dengan angin dan guntur semakin membuat suasana mencekam, bumi pun seakan bergejolak dengan gempa yang mengerikan.
Segala mantra dan kutukan terlontar bersama amarah Pangeran Sharklys, matanya tertuju pada penglihatannya yang mengarah pada istana Gkinzerniyu melalui cermin ajaibnya, kekuatan Ratu Sinnan ternyata tidak mudah untuk ia taklukan, walaupun ia tau saat ini Ratu Sinnan dalam posisi terluka oleh serangan ilmu hitam yang ia kirimkan saat pesta purnama waktu itu.
"Kerahkan segala kutukan kepada mereka, pada saat malam purnama mendatang! aku menginginkan istana Gkinzerniyu takluk pada perintahku, dan aku segera menikah dengan putri Amatheia tanpa harus menunggu tujuh purnama lagi, ha...ha..ha..." Tawa pangeran Sharklys kembali terdengar sangat mengerikan.
Seluruh jajaran para pasukan dan panglima hiu semua menunduk dan patuh akan perintah sang pangeran.
Sedangkan di sisi lain putri Amatheia yang melakukan perjalanan mengarah ke laut merah , sama sekali tidak bisa ia deteksi keberadaannya. Ini semua semakin membuatnya murka.
Sementara di bawah kastil bangunan paling lembab dan sangat minim cahaya matahari menerobos masuk melalui celah yang ada, sebagai tanda kehidupan siang ataupun malam.
Duduk bersila dan melakukan meditasi untuk komunikasi batin dengan alam yang sedang dalam situasi tertekan dan tertindas oleh kecurangan dan kejahatan pangeran Sharklys.
Hanya seekor burung kecil yang selalu memberikan biji-bijian dan membantu Darcassan mencari siasat dan cara untuk keluar dari tempat yang mengerikan itu. Nyanyian kicauannya sebagai berita dari luar mengenai keluarga dan harapan tentang kebebasan.
"Ha...ha...ha... Berita apa yang kau bawa padaku, ceritakan!" Laki-laki tua yang tidak lain adalah Darcassan dari bangsa Elf, yang seharusnya adalah sahabat pangeran Sharklys sebelum ia pengabdian diri kepada kegelapan.
"Ya...ya...ya... Aku tau putraku pasti akan datang menjemput ku, dan akan menerangi kegelapan, itu pasti," Darcassan, walaupun dalam posisi terpenjara namun dia tetap optimis tentang pembebasan dirinya.
Burung itu bahkan terus bercicit seolah menceritakan sebuah perjalanan. "Baiklah, terimakasih semua info yang kau berikan, dan katakan pada mereka! Walaupun seribu tahun lamanya terpenjara, aku tetap pulang! dengan kemenangan dan kita akan menikmati kebersamaan kembali."
"Pergilah ke gunung gordon! hanya Miryan yang bisa membantu, beritahu tempat ini pada Miryan dan dia yang akan menjadi petunjuk jalan bagi anakku."
Usai mendengar kata kata Darcassan, burung kecil itu terbang ke angkasa, di saksikan Darcassan melalui celah kecil untuk menatap birunya langit di atas kastil kegelapan.
🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬
Mampukan mimpi Darcassan terwujud? ikuti terus cerita extraordinary Love ini, yuk...
To be continued 😉
Netizen terkasih 🤗 sambil menunggu karya Rhu up lagi, searching ke karya kawan Rhuji yuk! di jamin mantap👍
jangan lupa like favorit dan komentar membangun, and Salam Sayang Selalu By RR 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Keyboard Harapan
di laut ada kecap juga ya, opa, bisa sate satean, 🤣🤣🤣
2023-03-13
1